
"Nih ponsel yang kamu minta, ingat ceritanya. Aku ke kantin dulu cacing dalam perutku sudah mulai berantakan meminta haknya." Vanya meletakkan ponsel di depan sahabat karibnya kemudian kembali melangkah menuju kantin.
"Salam sama yang lain ya, setelah masa magang selesai aku traktir kalian makan sepuasnya," Arditha berteriak bersamaan dengan keluarnya Abimana dari lift.
"Siapkan aja duitmu !!" Vanya pun membalas teriakan sangat sahabat tanpa memperhatikan orang nomor satu perusahaan yang menatap datar kedua gadis itu.
Langkah kaki Abimana bersama sang sekretaris yang semakin mendekat membuat Arditha mengalihkan perhatiannya.
"Jarak kalian hanya beberapa langkah saja, tapi kenapa harus teriak-teriak ?!" Suara dingin Abimana memberikan efek dengusan kasar dari Arditha yang membalas tatapan datar pria tersebut.
Arditha berjalan mendahului Abimana dan sekretaris Adam. Untungnya Maya sudah terlebih dahulu ngasih ke kantin sehingga Arditha tidak harus bersusah payah berbohong jika Maya bertanya.
"Aku ikut mobil Arditha," Abimana mengikuti arah kemana Arditha melangkahkan kakinya.
"Aku makan ditempat lain aja, boleh kan bos ?"
"Terserah tapi jangan telat kembali ke kantor, " Abimana menghentikan langkahnya sejenak kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya.
Arditha mengernyit mobilnya tetap di samping Abimana. Dan pria itupun langsung duduk dengan manis di bangku depan samping supir. Beberapa pasang mata kaum hawa menatap takjub mobil yang dikendarai oleh Arditha karena bos mereka duduk di depan. Suatu hal yang tak pernah dilakukan oleh pria paling dihormati pada perusahaan PT. Bhi_Lha. Walau sebagian dari mereka tidak ada yang mengenali Arditha karena sebagai mahasiswa magang, tentu saja tak masuk dalam hitungan sebagai karyawan yang harus dipertimbangkan.
"Kemana pak ?!" Arditha bertanya sebelum mobil yang ia supiri keluar dari area perusahaan.
"Restoran XY," Abimana mengeluarkan ponsel Arditha yang disitanya semalam. Selanjutnya Abimana berusaha membuka password ponsel tersebut.
"Kenapa bapak suka kepoin isi ponselku ?!" Arditha melirik sini Abimana yang tampak fokus pada angka-angka dilayar.
"Ini bukan kepo tapi aku harus tahu apa saja yang terjadi dengan istriku selama ini,"
Cekiiittt
__ADS_1
Arditha tiba-tiba menginjak rem mendadak mobil yang sedang melaju ditengah jalan raya. Beruntung mobil baru saja akan keluar dari pintu gerbang perusahaan sehingga tak terjadi insiden.
"Aku jadi istrimu itu baru kemarin, jadi yang harus kamu tahu hanya kegiatanku hanya dimulai dari kemarin. Hari-hari sebelumnya gak perlu, itu adalah privasi aku." Arditha benar-benar jengkel mendengar penuturan sok berkuasanya pria yang kini telah menjadi suaminya.
"Jangan salah paham, aku hanya ingin menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan agar kedua anakku benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu." Abimana dan Arditha benar-benar pasangan yang cocok, keduanya sangat pandai berdebat.
"Oh jangan khawatirkan masalah itu, kedua anak kecil itu akan aku anggap sebagai anakku sendiri dan akupun akan tetap menjalani kegiatan dan kehidupanku selama ini." Pungkas Arditha tak ingin dibatasi layaknya wanita yang memiliki suami yang mencintainya.
Abimana terdiam menatap lurus kedepan seolah sedang memikirkan makna dari kata-kata Arditha. Gadis yang sedang menyetir itu benar-benar sulit untuk diajak berbicara. Ada-ada saja kata yang dimiliki untuk menyanggah setiap ucapannya.
Tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya. Abimana memilih untuk diam dan berusaha membuka password ponsel ditangannya sedangkan Arditha fokus pada jalan di depannya. Hingga akhirnya Arditha membelokkan mobilnya memasuki area parkiran restoran XY. Arditha sengaja memilih parkiran yang agak jauh dari pintu masuk restoran tersebut.
"Jauh banget parkirnya," Abimana mengeluh karena harus berjalan dibawah teriknya matahari siang.
"Jangan manja," Arditha berjalan dengan cepat agar tak terlalu lama terkena matahari. Sesungguhnya Arditha pun tak tahan dengan teriknya matahari yang menggigit kulit namun ia ingin sedikit mengerjai pria itu.
"Maaf mas, reservasi atas nama bapak Kuncoro dan ibu Kalisha," Arditha bertanya dengan senyum manis andalannya.
"Mari saya antar mbak," Pelayan tersebut pun membalas senyuman Arditha sembari menggiringnya ke sebuah ruangan VIP. Tak jauh dari keduanya, Abimana mendengus kasar.
'Dasar gadis pecicilan, ngobrol senyum dimana-mana,' Batin Abimana yang tiba-tiba kesal melihat keduanya saling tersenyum.
Tok tok tok
Pelayan tersebut mengetuk pintu perlahan setelah tiba di depan ruangan bertuliskan VIP. Perlahan Pelayan tersebut mendorong pintu setelah mendengar suara mempersilahkannya masuk.
"Oh ya mas, tolong disiapkan hidangannya ya," Titah mama Kalisha ramah.
Arditha menatap mama mertuanya yang terlihat sangat ramah dan lembut dalam berkata-kata, sangat berbeda dengan putranya yang selalu ketua, jutek dan dingin jangan lupakan wajahnya yang datar.
__ADS_1
"Jangan bengong disana, ayo duduk sini dekat mama, dan kamu duduk dekat papa saja," Mama Kalisha menarik kursi di dekatnya untuk sang menantu. Arditha pun menyalami keduanya secara bergantian kemudian duduk pada kursi dekat sang mama mertua.
"Maaf sudah membuat mama sama papa menunggu," Jujur Arditha merasa tak enak hati.
"Kami juga baru tiba kok,". Papa Kuncoro segera menimpali agar gadis belia itu tak merasa canggung. Papa Kuncoro sangat menyukai menantu barunya yang sopan dan terlihat santai dan ceria.
"Oh ya, anak-anak kok gak dibawa ma ?" Arditha sengaja menanyakan keberadaan kedua manusia kecil yang membuatnya berada pada keadaan yang masih belum bisa ia terima. Terjebak dalam kehidupan duda yang sama sekali tak ia kenal dengan baik.
"Untuk hari ini kami yang akan bersamamu, sayang. Banyak hal yang harus kita bicarakan dan yang paling penting papa dan mama terlebih dahulu akan menyerahkan sebuah hadiah pernikahan sebagai permintaan maaf atas kelakuan putra kami yang menikahimu secara tiba-tiba dan tanpa persiapan sehingga pestanya menyusul." Mama Kalisha menatap dalam-dalam manik mata bening milik Arditha. Mama Kalisha seolah ingin masuk dan menyelami arti tatapan gadis belia nan rupawan dihadapannya.
"Gak perlu ma, Ditha rasa gak perlu diadakan pesta," Penolakan Arditha membuat mama Kalisha dan papa Kuncoro heran sembari menatap putranya yang sejak tadi hanya diam membisu.
"Lho, kok gitu sayang, dimana-mana setiap pernikahan harus ada pesta apalagi suamimu seorang pimpinan perusahaan dan selama ini orang-orang mengenalnya sebagai seorang duda. Mama ingin semua orang tahu status Abimana saat ini." Mama Kalisha tak menerima penolakan. Diam-diam Abimana tersenyum melihat kedua wanita yang jago berdebat.
"Bukan gitu ma, maaf tapi untuk saat ini Ditha rasa belum waktunya. Kami masih dalam tahap penjajakan dan itu tak bisa menjamin hubungan kami ke depannya seperti apa, yang pasti saat ini Ditha hanya akan fokus pada Arsheno dan Arbilha, bukankah mereka membutuhkan kasih sayang seorang ibu, " Ucapan Arditha menyentil hati nurani mama Kalisha. Sebagai seorang wanita mama Kalisha bisa menebak jika gadis yang dinikahi oleh putranya belum bisa menerima pernikahannya.
Pintu ruangan terbuka dan menampilkan dua orang pelayan dengan membawa nampan yang berisi beberapa menu makanan. Tanpa berbasa basi pelayan tersebut menata makanan diatas meja dan langsung keluar setelah tugasnya selesai.
"Silahkan dinikmati bapak dan ibu, jika butuh sesuatu kami ada diluar," Ucap salah pelayan sebelum keluar ruangan.
"Kita makan dulu, bincang-bincangnyq nanti dilanjutkan," Papa Kuncoro segera menengahi pembicaraan yang sepertinya sedikit memanas.
Mama Kalisha mengisi piring papa Kuncoro dengan berbagai lauk kesukaan pria paruh baya itu. Merasa sedang diperhatikan oleh papa mertua, maka Arditha pun berinisiatif mengambilkan makanan untuk Abimana. Arditha sama sekali tak mengetahui makanan apa yang disukai pria jutek itu sehingga ia mengambil apa saja yang terlihat enak dimatanya.
"Aku bukan kuli !" Seperti biasa suara dingin dan wajah jutek pria itu mengganggu pendengar Arditha.
Tak ingin mendapatkan penilaian minum dari sang mertua, Arditha memilih diam dan menikmati makan siangnya dengan santai. Sesekali mama Kalisha mengajaknya bicara. Rupanya mama Kalisha berusaha mengenali sifat dan karakter menantu barunya itu.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1