Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 81 》》 SEMOGA SAJA


__ADS_3

Besok adalah hari paling bersejarah dalam hidup Kenan dan Vanya namun hingga jam 22.15, tanda-tanda kedatangan Arditha sama sekali tak ada. Mama Sherly dan mama Kalisha serta papa Kuncoro mulai bertanya-tanya. Apalagi kedua anak yang sangat mencintai mamanya.


"Yah, mama kemana sih, kok gak pernah menemui kami ?!" Arsheno menatap tajam sang ayah.


Kali ini Abimana bagaikan seorang terdakwa. Bagaimana tidak, pria kecil itu bertanya di depan nenek, opa dan omanya serta paman yang sama sekali tak berniat membela adik iparnya.


"Jangan katakan kamu membuat menantu mama menghilang lagi." Tatapan mama Kalisha tak berbeda dengan tatapan cucu laki-lakinya. Tatapan keduanya seolah akan menerkam Abimana.


"Enggak kok ma, mungkin Arditha masih ingin menikmati masa mudanya," Abimana berusaha mencari alasan yang masuk akal.


"Ada kesalahpahaman diantara mereka, tante. Tapi ya sudahlah, tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini." Kenan tersenyum paksa.


Kenan sangat menginginkan adiknya turut merasakan kebahagiaannya namun sepertinya ia harus banyak-banyak berdoa agar keinginannya terkabul.


"Kesalahpahaman ? Maksudnya ?" Kali ini papa Kuncoro yang angkat suara. Pria paruh baya itu kini melayangkan tatapan tajam pada putranya.


Meskipun kesal namun melihat sahabat sekaligus adik iparnya tersebut seperti itu, tak urung Kenan merasa iba juga. Ia tak tega jika adik ipar satu-satunya disalahkan sepenuhnya.


Kenan lalu menceritakan apa yang ia ketahui dari pihak Abimana karena Arditha sama sekali tak bercerita padanya. Adiknya itu hanya berpamitan healing sejenak setelah itu tak ada lagi komunikasi hingga saat ini.


"Itulah akibatnya kalau tidak sabaran. Jadikan sifat pemaksamu itu sebagai pelajaran bahwa tidak semua wanita mau didikte atau dipaksa." Mama Kalisha tetap menyalahkan Abimana. Walau bagaimanapun Kenan berusaha membelanya.


"Gak usah ributin hal itu. Dua-duanya salah dan dua-duanya benar. Mama yakin Ditha pasti pulang. Tidak mungkin ia melewatkan pernikahan abang dan sahabatnya." Mama Sherly tak ingin bersitegang. Hal yang seharusnya tak perlu diributkan. Lagipula tidak enak di dengar oleh keluarga yang lain.

__ADS_1


"Semoga saja," Timpal papa Kuncoro penuh harap. Hampir dua minggu ia tak bertemu dengan menantu kesayangannya dan ternyata ia malah mendengar kabar tak mengenakkan.


Suasana rumah mama Sherly yang sehari-harinya sunyi kini berbanding terbalik. Sanak saudara dari luar kota kini berkumpul untuk meramaikan dan memberikan restu pada pernikahan Kenan dan Vanya. Gadis yang belum pernah mereka lihat.


Sesungguhnya keluarga mama Sherly berharap Kenan memilih salah satu dari anak-anak mereka untuk dijadikan istri. Namun baik Kenan ataupun Arditha tak setuju. Mereka cukup mengenal tabiat keluarga sang mama yang kurang berkenan dihati kedua kakak beradik itu.


"Mbak, Arditha kok gak pernah keliatan sejak kami datang," Tante Marisa yang tak lain adalah sepupu satu kali mama Sherly tiba-tiba ikut nimbrung.


"Dia sibuk tante, maklum kantornya masih baru dan banyak perusahaan besar yang membutuhkan jasanya," Kenan berusaha menutupi keberadaan adiknya.


"Lho, gimana ceritanya, suami dibiarkan sendiri. Benar-benar wanita gak bertanggung jawab sama keluarga." Ucapan tante Marisa sukses membuat emosi Abimana mencapai ubun-ubun. Baru hari ini ia bertemu dengan tante istrinya itu namun mampu menguras emosinya.


"Gak usah pikirkan istriku, tante. Semua yang ia lakukan atas persetujuanku kok. Selama istriku nyaman melakukannya aku gak masalah. Bukan berarti aku gak bisa menghidupi anak istriku akan tetapi istriku hanya ingin mengukur dan mengembangkan potensi yang ia miliki, jadi gak ada masalah bagiku, aku bersyukur memiliki istri yang cerdas seperti Arditha. Jaman sekarang kebanyakan wanita hanya pandai bersolek dan menggoda pria mapan yang tentunya sudah beristri. Menemukan wanita seperti Arditha adalah berkah bagiku. " Meskipun emosi namun Abimana masih berusaha berbicara dengan baik-baik. Bagaimanapun tante Marisa adalah saudara mama mertuanya.


Seketika tante Marisa bungkam. Wajahnya memerah mendengar sindiran Abimana. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Maksud hati ingin menjatuhkan Arditha namun malah dirinya yang kehabisan kata-kata.


"Sudahlah tante, soal Arditha biarlah menjadi urusan suaminya. Lebih baik tante Marisa doakan agar Reny segera bertemu jodohnya," Kenan ikut menimpali dan langsung pada pokok bahasan yang semakin membuat saudara mamanya semakin mengunci bibirnya.


"Bahas yang lain aja, kalau ingin membahas Arditha, tunggu dia datang. Kamu bisa bertanya langsung padanya." Mama Sherly tak enak hati pada besannya mendengar kerabatnya sendiri terkesan memusuhi putri bungsunya.


Saat mereka sedang membicarakan Arditha, seorang wanita cantik tampak keluar dari bandara dan langsung menuju sebuah butik untuk mengambil baju pesanannya. Ya, wanita itu adalah Arditha yang akan mengambil kebaya yang akan ia kenakan besok pada acara ijab qabul sang abang.


"Selamat malam mbak," Arditha menyapa karyawan butik yang sedang berdiri di depan kasir.

__ADS_1


"Malam juga mbak, ada yang bisa saya bantu ?" Karyawan butik tersebut tersenyum ramah.


"Mau ngambil kebaya yang aku pesan atas nama Arditha," Arditha memperlihatkan gambar kebaya berwaarna peach berburu swarosky ia pesan kemarin.


"Tunggu ya mbak," Karyawan butik tersebut bergegas ke dalam sebuah ruangan dan mengambil kebaya yang dimaksud.


Tak lama kemudian karyawan tersebut kembali dengan dua lembar kebaya beserta bawahannya. Ardita pun lalu membayar pada kasir yang bertugas dan segera berlalu dari butik itu setelah menerima kebayanya.


Arditha kembali menggunakan taksi yang sama menuju hotel, malam ini ia harus istirahat yang cukup agar besok terlihat segar. Jika ia memilih pulang ke rumahnya maka sudah bisa dipastikan pria yang berstatus sebagai suaminya itu akan menginterogasinya. Tiga hari Arditha menghilang pasti kemarahan Abimana langsung meledak kala melihat dirinya. Hanya mandi dan tidur obat dari semua masalahnya malam ini.


Akhirnya Arditha tiba dihotel jam menunjukkan pukul 19.30. Arditha langsung memesan kamar dan melesat ke arah lift setelah menerima kunci kamarnya. Badannya sudah lengket dan rasa gerah tak bisa lagi diajak kompromi.


Ting


Lift berhenti pada lantai 5 dimana kamar Arditha berada. Dengan cepat wanita itu keluar dari lift dan mencari kamar 510 agar bisa segera melaksanakan niat awalnya menginap dihotel malam ini. Senyum lebar menghiasi wajah lelahnya kala melihat angka 510. Ia segera menempelkan cardlock untuk membuka pintu kamar.


Tak menunggu lama, Arditha segera meletakkan tas kecil yang berisi beberapa lembar yang ia beli di Bali karena sama sekali tak membawa baju ganti berikut paper bag yang berisi kebaya.


Hampir satu jam Arditha habiskan di kamar mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan memakai baju ala kadarnya karena rasa kantuk sudah menyerangnya dan saat kepalanya bertemu dengan bantal maka alam mimpi sudah terbentang menunggunya.


🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat pagi reader setia ,,,

__ADS_1


Maaf baru bisa up soalnya sudah mulai sibuk jelang Idul Fitri.


Mohon Maaf Lahir Batin ya semuanya 🙏🙏🙏


__ADS_2