Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 25 》》SAH


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 9 saat mobil Abimana dan keluarganya memasuki halaman rumah calon istrinya. Rupanya pria itu dan keluarganya tepat waktu. Mereka datang bersama pak penghulu. Hanya mama Sherly dan Kenan yng menyambut mereka.


"Maaf kami datang apa adanya karena tak menyangka akan secepat ini," Mama Kalisha mewakili suami dan anak serta kedua orang tua almarhumah Sheila.


"Gak apa-apa kok bu, karena kamipun sama menyambut kalian dengan apa adanya," Mama Sherly kemudian mempersilahkan para tamu masuk dan kemudian duduk melantai. Pak penghulu dan Abimana duduk berhadap-hadxpan bersama dengan Kenan sebagai wali Arditha serta papa Kuncoro dan papa Shehzad sebagian saksi.


"Sudah siap nak ?" Pak penghulu bertanya pada Abimana yang duduk dengan tegang di depannya.


"Santai dong, kayak pertama kali aja," Mama Kalisha menatap sinis putranya. Rupanya oma Arsheno dan Arbilha masih menyimpan kesal karena Abimana mempercepat pernikahannya.


Abimana hanya menatap datar sang mama, entah mengapa ia merasa sangat tegang dan gugup. Rasa gugupnya kali ini berbeda dengan saat ijab qabulnya dulu dengan mendiang istri pertamanya.


"Mulai saja pak," Abimana menatap pak penghulu dengan yakin.


Dengan sekali anggukan pak penghuku kemudian mulai melakukan tugasnya setelah Kenan menyerahkan wali nikah adiknya pada pak penghulu.


Kata SAH diiringi doa dan Ucap syukur menandai berakhirnya masa duda Abimana dan masa lajangnya Arditha. Kini keduanya resmi menyandang status baru yaitu suami dan istri.


Mama Sherly lalu berdiri untuk menjemput Arditha yang menurutnya sudah selesai berdandan. Tak ingin ketinggalan mama Kalisha ikut menjemput sang menantu yang baru pertama kali dilihatnya namun sudah mencuri hatinya. Kedua wanita paruh baya itu menaiki anak tangga satu per satu.


Tok tok tok


"Dit ,,, Ditha, mama masuk ya sayang," Teriakan mama Sherly sedikit tertahan karena sedang bersama sang besan. Bagaimanapun ia harus menjaga sikap di depan wanita yang ia kenal lewat teman sekolahnya.


Tok tok tok

__ADS_1


Ketukan berikutnya tetap tak ada jawaban membuat mama Sherly sedikit gelisah. Hal itu tertangkap oleh mata jeli mama Kalisha. Tak ingin lebih lama berdiri akhirnya mama Sherly mendorong pintu kamar putrinya dan matanya membelalak sempurna, pasalnya baju yang seharusnya dikenakan oleh Arditha masih berada di tempatnya sedangkan gadis itu tak terlihat. Tak mungkin pula gadis itu keluar rumah, soalnya pintu masuk hanya satu sedangkan pintu belakang hampir tak pernah terbuka.


Mama Kalisha dan mama Sherly bertukar pandang. Sebagai seorang ibu yang paham akan kebiasaan putrinya, mama Sherly berjalan ke arah kamar mandi dan membuka paksa pintu kamar mandi tersebut.


Braaakkk


"Mamaaaa !!! Ngagetin aja deh !!" Arditha terjingkat kaget sehingga air dalam bathup terpencil keluar. Tidurnya terganggu dengan kedatangan sang mama.


"Cepat keluar, semua orang menunggumu." Mama Sherly benar-benar dongkol, ia kembali menutup pintu dengan kasar.


"Maaf bu, Arditha belum siap. Sebaiknya bu Kalisha turun terlebih dahulu, biar aku yang menemaninya." Lanjut mama Sherly tak enak hati campur malu. Putrinya kali ini benar-benar membuatnya sangat malu.


"Gak apa-apa bu, aku disini aja. Bukan salah Arditha, kalaupun ada yang harus disalahkan maka itu adalah Abimana yang memutuskan sesuatu yang sangat penting dengan tiba-tiba." Mama Kalisha bersikap bijak menghadapi masalah ini. Memang benar Arditha tak dapat di salahkan karena sejak awal putranya selalu mengambil keputusan seenaknya sendiri.


Arditha kini keluar dengan kimono handuk, beruntung ia tidak keramas sehingga tak perlu berlama-lama mengeringkan rambutnya. Dengan senyum kikuk, Arditha mengambil kebaya yang seharusnya sejak tadi ia kenakan.


"Cepetan pakai bajunya, semua sudah menunggu dibawah," Mama Sherly melotot tajam pada putri bungsunya yang benar-benar membuat kepalanya berasap.


Gadis yang kini telah berganti status itu kemudian melipir ke kamar mandi untuk memakai kebayanya, setelahnya ia keluar dan langsung duduk di depan meja riasnya mulai mengaplikasikan make up tipis le wajahnya dan selanjutnya menggulung rambutnya hingga membentuk sebuah sanggup kekinian. Walaupun Arditha tergolong gadis cuek dan apa adanya namun iapun pandai berdandan hanya saja sikap masa bodohnya lebih dominan.


Setengah jam kemudian kedua wanita paruh baya itu menggiring seorang gadis belia menuruni anak tangga menuju ruang tamu dimana para keluarga berkumpul.


"Mamaaaa ,,," Teriakan Arbilha membuat Abimana terhenyak. Untuk pertama kali putri kecilnya itu melihat Arditha dan langsung memanggilnya mama. Sungguh ajaib pesona gadis belia itu. Bukan hanya Abimana yang kaget namun semua yang hadir sama haknya dengan Abimana kecuali penghulu yang memang tak mengerti.


Arditha memperlihatkan senyum manisnya pada gadis kecil itu walau dalam hati menangis. Diusianya yang masih sangat muda harus mengurus dua anak kecil. Ia merasa dirinya sedang diperalat oleh pria yang sedang berdiri menunggunya.

__ADS_1


"Hai gadis kecil, boleh kakak peluk ?" Arditha menghentikan langkahnya dan berjongkok menyamai tingginya dengan gadis imut nan cantik itu. Arsheno pun ikut menghambur ke pelukan Arditha.


"Ayo anak-anak, biarkan ayah sama mama kalian menyelesaikan ritual pernikahan dulu, setelah itu kalian boleh peluk-pelukan sama mama." Mama Kalisha mengusap pelan kepala kedua cucu kesayangannya.


Kedua anak kecil itu memang anak yang sangat pandai dan penurut, hanya sekali saja sang oma berbicara dan keduanya kembali duduk dipangkuan kakek dan neneknya.


Mama Sherly dan mama Kalisha mengantar Arditha mendekat ke arah Abimana yang kini telah menikahinya beberapa saat yang lalu. Wajah Arditha seketika berubah tak enak dipandang namun Abimana seolah tak melihatnya. Tak jauh dari mereka Rani terlihat menitipkan airmata namun langsung diusapnya ag aa r tak ada yang menyadarinya. Rani bukannya tak rela namun ia seolah melihat Sheila dalam diri Arditha. Tak dapat dipungkiri jika gadis itu mirip dengan putrinya yang telah tiada.


'Doakan kebahagiaan suami dan anak-anakmu dari alam sana sayang.' Batin Rani terus memperhatikan Arditha.


"Ulurkan tangan kanan sayang," Mama Kalisha memandu Arditha karena gadis itu tak kunjung mengulurkan tangannya.


Seketika Arditha terbentuk kaget, harapan dan ingatannya tertuju pada seorang pria yang selama ini menghuni hatinya. Prasetyo Herlambang adalah sosok yang selama ini memenuhi hati dan pikirannya.


Perlahan dan penuh keraguan Arditha mengangkat tangannya dan disambut oleh Abimana. Sesaat keduanya terdiam merasakan sesuatu yang aneh saat tangan mereka bersentuhan. Abimana merasakan detak jantungnya berdetak kencang pun begitu halnya dengan Arditha. Abimana merasakan kehangatan yang selama ini tak pernah dirasakan. Tak ingin merasakan sesuatu yang semakin aneh dalam dirinya, Abimana pun segera menyematkan cincin pernikahannya padx jari manis gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya. Arditha pun segera melakukan hal yang sama. Setelah itu Arditha mencium punggung tangan Abimana dengan wajah juteknya.


Dilanjutkan dengan sungkeman memohon doa restu pada orang tua. Kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama. Sungguh acara pernikahan yang sangat amat sederhana. Wajah Arditha hanya terlihat ceria kala bersama dengan sepasang anak kecil itu ataupun saat terlihat oleh pa ra orangtua, kecuali mama Sherly dan Abimana yang akan menikmati wajah judes Arditha.


"Dek, boleh bicara sebentar ?" Kenan menatap lembut sang adik.


"Aku pinjam Arditha sebentar," Lanjut Kenan meminta persetujuan para orang tua.


"Om, jangan ambil mama kami," Arsheno mulai protes dan menunjukkan kepemilikannya terhadap Arditha.


"Jangan khawatir anak-anak, om hanya meminjamnya sebentar, ok ?"

__ADS_1


"Jangan lama-lama," Kali ini suara gadis kecil itu terdengar lucu di telinga semuanya.


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2