
Siang hari merangkak ke sore, Shehzad dan Rani meninggalkan rumah mantan menantunya terlebih dahulu. Papa Kuncoro dan mama Kalisha pun berpamitan pulang ke rumah mereka yang tak terlalu jauh dari rumah Abimana dan Arditha. Disusul Kenan dan mama Sherly.
"Jaga diri baik-baik dek, kalau pria itu menyakitimu hubungi abang," Rupanya Kenan masih belum yakin seratus persen dengan sahabatnya itu. Namun rasa tenang tak dapat ia sembunyikan karena adiknya menikah dengan pria yang ia kenal dengan baik.
"Gak usah diulang-ulang, aku pasti akan menjaga dengan baik istriku," Abimana menatap kesal sahabatnya yang ia tahu hingga kini masih meragukan dirinya dan selalu mengkhawatirkan adiknya.
"Butikan !" Kenan meninggalkan Abimana yang menatapnya datar.
Mobil yang dikendarai oleh Kenan pun akhirnya meninggalkan rumah mewah itu. Arditha masih berdiri menatap mobil sang abang hingga menghilang dari pandangan.
"Kamar kita dan kamar anak-anak di lantai 2, mari aku tunjukkan." Abimana berjalan lebih dulu diikuti Arditha. Keduanya langsung menuju tangga sedangkan anak-anak sudah berada di kamar untuk tidur siang ditemani mbak Mina, pengasuh mereka.
Tiba di lantai 2, pertama-tama Abimana menunjukkan kamar kedua anaknya, kemudian kamar mereka. Akan tetapi ada satu kamar yang tertutup rapat dan dilewati begitu saja oleh Abimana.
"Dan kamar itu ?!" Arditha menunjuk kamar yqng tertutup tersebut, ia tak kuasa menahan rasa ingin tahunya
"Itu kamar yang kupersiapkan jika aku lelah dan tak ingin diganggu," Abimana menjawab dengan sedikit gugup tanpa berniat membuka pintu kamar tersebut membuat tanda tanya besar dalam benak Arditha.
Sebuah kamar yang tampak berbeda dengan kedua kamar yang lain. Dilihat dari pintunya saja yang terlihat lebih bagus dari kamar yang lainnya membuat Arditha merasa jika kamar tersebut sangat istimewa bagi pria itu.
'Ada apa dengan kamar itu ?' Arditha membatin penasaran namun ia segera mengalihkannya agar Abimana tak mencurigainya.
"Aku ingin istirahat." Arditha langsung berbaring di tempat tidur yang berukuran King size. Ia lelah dan mengantuk. Gadis itu memanfaatkan kesempatan tidur siang saat kedua bocah itupun tertidur.
Melihat mata Arditha terpejam, perlahan Abimana keluar kamar dan tak lupa menutup pintu kamar dengan perlahan. Tujuannya adalah kamar yang berhadapan dengan kamarnya bersama Arditha.
Sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya kala membuka pintu kamar tersebut. Pria itu sangat merindukan kamar tersebut. dimana dalam kamar itu foto-fotonya bersama sang istri tergantung dengan rapi bahkan seprei dan sarung banyaknya pun dipesan khusus dengan gambar mendiang istrinya.
"Maaf Yang, aku baru pulang. Gimana kabarmu ?!" Abimana berbicara dengan foto Sheila yang berukuran besar dan membelai wajah cantik yang tampak tersenyum padanya.
Menyadari foto tersebut tak bisa menjawabnya, Abimana kemudian menc**m foto tersebut dan membaringkan badannya. Ia pun lelah dan ingin segera tidur dan bermimpi bertemu dengan mendiang sang istri yang sangat ia rindukan.
__ADS_1
Hingga garis menjelang sore, Arditha terbangun dan sejenak mengedarkan pandangannya menilik kamar yang ia tempati.
"Oh astaga, tidurku terlalu nyenyak." Gumam Arditha sambil melirik jam dinding di kamar barunya. Jam sudah menunjukkan pukul 16.30, ia bergegas membuka lemari untuk mengambil bajunya sebelum masuk ke kamar mandi. Kebiasaan gadis itu mandi sebelum menunaikan shalat asmara jika ia sedang berada di rumah.
Matanya terbelalak saat melihat isi lemari yang dipenuhi baju dengan berbagai warna macam sebuah toko baju. Selanjutnya mata beningnya yang semula membola kini berganti dengan tatapan kesal saat meraih satu baju.
"Diihhh, baju apaan ini." Arditha menatap baju ditangannya dengan rasa kesal. Ia tak menyukai baju terusan seperti ini. Arditha merasa ribet dengan memakai baju panjang dengan ukuran hingga tengah betis.
Gadis itu kemudian mendekati kopernya dan mengambil baju yang sehari-hari ia pakai saat berada di rumahnya yang dulu. Sebuah celana pendek dan atasan press body. Gadis itu langsung menyambar handuk berikut pakaian dalam lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Lima belas menit kemudian Arditha keluar dengan wajah segar. Gadis belia itu kemudian memakai mukanya dan menggelar sejadah lalu melaksanakan kewajibannya empat rakaat. Beruntung kamar barunya itu seperti sebuah hotel yang dilengkapi dengan penunjuk arah kiblat.
Selesai empat rakaat, Arditha kemudian menuruni anak tangga satu per satu. Ia mendengar suara Arsheno dan Arbilha sedang bermain di lantai bawah. Saat melihat Arditha kedua anak sambungnya berlari menghampiri dirinya.
"Ma, kita main yuk, " Arbilha dan Arsheno menarik tangan gadis belia itu ke arah pengasuhnya.
"Mbak Mina istirahat aja, biar aku yang bermain dengan mereka." Arditha sangat memahami bagaimana lelahnya pengasuh itu mengurus Arsheno dan Arbilha yang sedang aktif-aktifnya dan memiliki rasa ingin tahu yang besar.
"Ke depannya Mbak Mina jangan memanggilku bu atau ibu. Panggil nama saja mbak, aku masih sangat muda untuk dipanggil seperti itu." Arditha tersenyum ramah saat berbicara pada mbak Mina. Bagaimanapun pengasuh kedua anak sambungnya itu lebih tua darinya.
"Panggil non aja ya, takut bapak marah dan terdengar tidak sopan." Mbak Mina tetap ngotot tak inmemanggil nama pada istri majikannya.
"Terserah mbak Mina aja deh, asal jangan ibu." Arditha terkikik geli membayangkan kata ibu yang disematkan oleh mbak Mina. Menurutnya wanita yang dipanggil ibu adalah seumuran mamanya dan mama mertuanya atau dosen dikampusnya yang memang sudah dewasa. Sedangkan dirinya masih 20 tahun.
Arditha, mbak Mina dan Arsheno serta Arbilha terlibat permainan seru sehingga tak menyadari sepasang mata yang sejak beberapa menit yang lalu mengawasi mereka yang terlihat sangat kompak dan sangat menikmati permainannya.
Menyadari baju yang dipakai oleh gadis muda itu membuat tatapannya berubah tajam. Abimana sudah menyiapkan baju rumahan yang sopan namun gadis itu malah memakai baju ukuran Arsheno. Beruntung tidak ada pria lain di dalam rumah ini sehingga tak ada mata jelalatan yang ikut menikmati tubuh gadis itu.
"Wah, asyik bener nih mainnya, sampai-sampai ayah gak dicariin," Abimana mendekati kedua anaknya. Melihat sang majikan, mbak Mina segera pamit undur diri. Tak ingin mengganggu kebersamaan keluarga baru itu.
"Maaf non, pak, saya ke belakang dulu, "
__ADS_1
"Ya sudah, mbak Mina istirahat aja dulu. Nanti kalau merek memerlukan mbak Mina pasti aku panggil." Arditha tersenyum ramah sehingga mbak Mina merasa dihargai walaupun hanya seorang pengasuh. Keramahan yng diperlihatkan Arditha mengikuti jarak antara majikannya dan ART.
"Kamu sengaja ingin menggidaku dengan memakai baju kecil seperti itu ?!" Abimana sengaja menatap lekukan tubuh Arditha agar gadis itu merasa risih.
"Jangan mulai perdebatan di depan mereka. Siapa yang ingin menggodamu pak, memikirkannya saja enggak. Jangan kepedean." Arditha tak terima dengan tuduhan duda dua anak itu.
"Lalu kenapa kamu gak memakai baju yang sudah aku siapkan ?!" Abimana merasa gadis itu tak menghargai pemberiannya.
"Maaf ya pak, aku masih muda dan tidak cocok dengan model baju ibu-ibu seperti itu. Memakai baju itu senyamannya kita bukan karena orang lain." Balas Arditha berapi-api. Ia melupakan keberadaan kedua anak yang kini malah memperhatikan perdebatan ayah dan ibu sambungnya.
"Ayah jangan marah-marah sama mama, kalau mama pergi lagi gimana ? Kami gak mau mama baru, " Arsheno menatap tajam ayahnya.
"Iya, kami hanya mau mama yang ini," Arbilha memeluk erat Arditha dan menenggelamkan wajahnya pada d**a gadis itu.
"Hei, ayah gak marah, sayang, ayah hanya memberitahukan mama agar memakai baju yang sopan," Abimana meringis mendapatkan pembelaan kedua anaknya pada gadis muda itu. Entah apa yang dilakukan oleh Arditha sehingga kedua anaknya begitu sangat menyayanginya.
"Kita lanjutkan permainannya lagi, yuk." Arditha melirik Abimana sambil tersenyum mengejek karena mendapatkan dukungan dari kedua anak itu.
Ketiganya kembali bermain tanpa memperdulikan Abimana yang hanya duduk diam menatap mereka. Satu hal yang membuat Abimana gelisah adalah semakin lama ia menatap istri barunya itu semakin membuat jantungnya berdebar kencang dan itu membuatnya tidak tenang.
"Oh ya, besok kakak gak bisa temani bermain karena kakak harus ke kampus mengurus sesuatu mungkin sampai sore. Kalian gak apa-apa kan seharian ditemani mbak Mina ?" Ucapan Arditha membuat Abimana tersentak. Sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat dipelupuk matanya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Hai ,,, hai ,,, hai, readers, Selamat pagi dan selamat beraktivitas
Jangan lupa awali pagi dengan sarapan agar tenaga cukup untuk beraktivitas bukan senyuman yang tidak mengenyangkan 🤭🤭🤭
Jangan lupa untuk selalu bahagia bersama keluarga.
Dan yang paling penting dukungannya buat cerita othor 🤗🤗😊😊😊
__ADS_1