Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 33 》》SEMOGA SAJA, MA.


__ADS_3

Abimana membawa Arditha ke rumahnya dengan diantar oleh Kenan dan mama Sherly. Tiba di rumah ternyata mama Kalisha, papa Kuncoro dan mama Rani beserta Shehzad telah tiba lebih dahulu. Abimana lalu memarkir mobilnya disusul mobil yang dikendarai oleh Kenan. Penumpang kedua mobil itu kemudian turun, Arsheno dan Arbilha berlari ke dalam rumah saat melihat bayangan kakek dan neneknya.


"Bersikaplah normal di depan orang tua kita," Abimana berkata pelan agar Kenan dan mama Sherly tak mendengarnya. Pria itu lalu menggandeng tangan Arditha sambil tersenyum manis. Jantung Abimana kembali berdetak kencang namun ia mengabaikannya.


"Nah, kalau mesra gini kan kita sebagai orang tua bahagia. Kita hanya menunggu kehadiran cucu ketiga," Mata papa Kuncoro berbinar saat mengungkapkan keinginan terbesarnya saat ini.


"Jangan meledek mereka, pa, usia pernikahan mereka masih satu bulan. Lagi mesra-mesranya apalagi keduanya gak pacaran," Mama Kalisha ikut bersuara disambut tawa oleh yang lain kecuali Arditha tentunya. Bukan marah mendengar kelakar mama mertuanya akan tetapi bayangan Pras yang belum sempat ia temui tiba-tiba melintas.


'Kamu sedang apa kak Pras, aku merindukanmu,' Seketika Arditha terlihat panik dan gelisah seolah ketahuan.


Abimana mengeraskan gandengan tangannya agar ekspresi Arditha kembali normal sebelum kedua orang tua dan mantan mertuanya menyadari perubahan wajah Arditha.


"Selamat datang di rumah kalian, semoga di rumah ini keluarga kalian hidup bahagia," Rani memeluk hangat Arditha dan gadis itupun membalas pelukan teman mamanya.


"Makasih tante,"


Rani menarik Arditha sehingga gandengan tangan Abimana terlepas. Rani lalu menuntun Arditha ke halaman samping rumah dengan bahagia. Wanita paruh baya itu sengaja menggiring Arditha sedikit menjauh dari yang lain agar bisa berbicara dengan leluasa. Hal yang selama ini ingin ia lakukan namun tidak adanya kesempatan yang memungkinkan.


"Ke depannya jangan panggil tante lagi, ya ,,, panggil mama aja," Rani mengusap lembut tangan halus Arditha.


"Jadinya aku punya banyak mama dong, kalau lagi ngumpul kayak gini dan memanggil mama otomatis ketiganya menoleh," Arditha terkikk geli membayangkan hal itu.


Rani pun ikut tertawa mendengar ucapan Arditha. Ia menatap dalam-dalam wajah wanita muda di hadapannya. Sepintas wajahnya mirip dengan almarhumah Sheila membuat wanita paruh baya itu menatap langit biru agar airmatanya tak jatuh.


"Boleh mama bicara sesuatu sayang, " Rani kembali menatap wajah Arditha dengan lembut.

__ADS_1


"Tentu saja tan ,,, eh mama." Lidah Arditha masih kaku memanggil wanita yang membuatnya terlibat dalam kehidupan duda arogan itu. Namun Arditha tak marah ataupun dendam pada teman mamanya itu, mungkin ini adalah ujian hidupnya sebelum bersatu dengan Pras.


"Sebelumnya mama minta maaf karena telah membuatmu berada pada posisi sebagai ibu dari cucu-cucuku," Rani terisak perlahan. Rasa bersalahnya pada Arditha sangat besar karena merebut masa mudanya yang mungkin saja telah memiliki kekasih.


"Jangan dipikirkan lagi ma, kita ikuti saja skenario Sang Penulis Takdir." Arditha mencoba menenangkan mama Rani namun gadis itu tak tahu jika wanita paruh baya itu justru memiliki pemikiran berbeda.


Kata-kata Arditha menyiratkan sebuah kepasrahan dan bisa jadi pernikahan mereka tidak seperti yang dilihatnya barusan. Ada nada kecewa yang ditangkap dengan jelas oleh telinga mama Rani.


"Mama tahu jika Abimana sangat mencintai almarhumah istrinya dan mama mohon agar kamu bersabar, suatu saat nanti Abi akan menyadari cinta yang sesungguhnya adalah kamu, sayang." Rani menatap lembut namun dalam tepat pada manik mata bening Arditha.


"Semoga saja ma," Arditha menimpali tanpa ada harapan dalam ucapannya. Ia merasa tak seharusnya memberi harapan palsu pada mama Rani.


Abimana bukanlah pria yang memenuhi kriteria pendamping hidupnya kelak. Walaupun tajir melintir namun Arditha bukan golongan gadis matre. Ia mengandalkan diri sendiri untuk bekerja keras demi mengais rejeki bersama pria impiannya.


Saat keduanya berjalan beriringan, Abimana menatap mereka dengan tatapan tak terbaca. Keakraban keduanya mengingatkannya pada sosok mendiang istri pertamanya.


Beberapa ART yang didatangkan dari rumah mama Rani dan mama Kalisha sibuk menyiapkan makan siang untuk majikan mereka. Walaupun makanan dipesan melalui katering namun mama Kalisha tetap melibatkan para ARTnya untuk menata makanan diatas meja makan.


Suasana hangat sangat terasa di ruang keluarga tersebut. Para wanita seperti pada umumnya sedang berkumpul berbagai topik mereka bahas. Sementara para pria duduk tak jauh dari mereka pun membahas masalah khas pria pebisnis. Sedangkan Arditha bermain bersama kedua anak sambungnya sambil sesekali terlihat mengetik sesuatu di ponselnya. Kelakuan Arditha tak pernah luput dari pandangan Abimana.


Arsheno dan Arbilha terlihat sangat bahagia dan menikmati kebersamaannya dengan Arditha. Karena Keasyikannya bermain dan bercanda sehingga mereka tak memperdulikan sekelilingnya, seolah mereka bertiga sedang berada di dunianya sendiri. Tanpa saling menyadari kelompok pria dan kelompok para wanita tersenyum lebar melihat keakraban yang terjalin. Walaupun terdengar Arditha masih menyebut dirinya kakak dan kedua anak kecil itu tetap memanggilnya mama. Justru terdengar lucu ditelinga yang lain.


"Maaf bu, makan siang sudah siap," Kehadiran mbak Mina mengembalikan kesadaran semuanya.


"Horeee, Ilha maunya disuap sama mama," Gadis kecil itu berlari ke arah meja makan dan duduk di kursi yang kebetulan sudah disiapkan oleh mbak Mina sang pengasuh sejak kelahirannya.

__ADS_1


"Ck, dasar anak kecil." Arsheno mengejek adiknya yang setiap makan selalu saja minta disuap oleh mama mereka.


"Gak apa-apa boy, anak perempuan memang begitu, selalu manja." Kenan mengusap kepala ponakan barunya itu.


Seperti biasa jika sedang berkumpul dan makan bersama, Arditha terlebih dahulu mengisi piring Abimana sebelum melayani gadis kecil yang menggemaskan. Para orang tua terlihat sangat bahagia melihat perlakuan manis Arditha. Mereka tidak tahu saja bagaimana ceritanya jika hanya ada mereka berdua. Benar kata orang-orang bahwa jangan pernah percaya dengan apa yang terlihat karena bisa saja yang terjadi adalah sebaliknya.


"Ma, Sheno juga mau dong diambilin makanan, masa hanya ayah, kan sudah besar ,," Arsheno menatap sinis sang ayah yang tampak cuek dengan perkataan putranya.


"Sabar dong, mau sekalian kakak suap ?!" Arditha tersenyum lembut pada pria kecil yang juga merupakan sumber utama masalahnya. Pun begitu Arditha sama sekali tidak memiliki dendam pada pria kecil yang sok dewasa itu. Sebaliknya ia merasa iba dengan keadaan keduanya yang sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


Papa Kuncoro dan papa Shehzad terkekeh mendengar Arditha menyebut dirinya kakak sementara Arsheno memanggilnya mama. Arditha mengerutkan dahi bingung dengan kedua pria tampan diusianya yang sudah tak lagi muda.


"Gak usah bingung. Papa merasa lucu karena kamu masih menganggap dirimu sebagai kakak bagi mereka sementara mereka memanggilmu mama," Abimana sejak tadi ingin menegur Arditha sehingga ketika merasa ada kesempatan maka ia segera memanfaatkan kesempatan dengan mengatasnamakan papanya.


Arditha hanya cengengesan memperlihatkan giginya yang berbasis rapi. Ia terlihat santai dan tak salah tingkah. Melihat hal itu membuat Abimana mendengus halus. Pria itu berharap gadis itu salah tingkah dan meminta maaf lalu berjanji akan menjadi seorang ibu sesuai harapan kedua anaknya.


'Aku terlalu berharap banyak pada gadis itu,' Batin Abimana kesal.


🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat pagi readers,


Hujan pagi-pagi enaknya baring sambil membaca novel, jangan lupa dukungannya ya. Vote, like (👍), gift (🎁), komen dan Favorit (❤)


^^^Makassar, 4 Januari 2022^^^

__ADS_1


__ADS_2