Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 77 》》 TAK ADA MASALAH


__ADS_3

Selesai acara lamaran Kenan, mereka pun akhirnya pulang. Abimana tak ingin lagi menunda-nunda untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan langganan keluarganya, hingga perdebatan pun kembali terjadi.


"Mas, kenapa harus ke dokter sih. Aku belum ingin hamil." Arditha tak ingin berurusan dengan dokter kandungan.


"Setidaknya kita konsultasi sedikit dengan dokter, mungkin kamu trauma dengan kehamilan," Abimana berusaha membujuk Arditha agar keinginannya tak lagi gagal.


Beberapa kali ia berencana membawa sang istri ke dokter kandungan namun selalu gagal. Abimana sudah pernah berkonsuktasi sebelumnya dengan dokter tentang Arditha. Ia takut jika ada yang salah diantara mereka, karena secara logika tak mungkin Arditha tidak hamil sementara Abimana setiap malam atau pagi ia rutin berkunjung dan menabur benihnya. Tak mungkin pula dirinya yang bermasalah karena Arsheno dan Arbilha adalah bukti nyata dirinya.


"Bukannya akuntrauma tapi memang aku belum ingin hamil dan ternyata Tuhan memang belum mempercayakanku untuk menjadi ibu. Lagipula mas sudah punya Arsenal dan Arbilha, bagiku itu sudah cukup." Arditha masih bersikukuh dengan keinginannya. Entah apa yang ia pikirkan sehingga tak ingin mengandung padahal sejatinya setiap wanita yang telah menikah menginginkan hal itu.


Abimana terus melajukan mobilnya menuju praktek dokter kandungan meskipun disertai dengan perdebatan. Akhirnya mobil yang dikendarai Abimana melambat dan memasuki area parkiran sebuah klinik yang terkenal di ibukota.


Arditha tak bisa lagi menghindar, dengan langkah berat ia mengikuti kemana Abimana akan membawanya. Dengan wajah dibuat sesantai mungkin mereka kemudian memasuki sebuah ruangan dimana seorang dokter wanita menunggu. Cantik dan ramah meskipun usianya mungkin sekitar 40-an. Itulah kesan pertama yang dilihat oleh Arditha.


"Silahkan duduk pa Abi dan ibu," Dokter tersebut mempersilahkan duduk setelah berjabat tangan.

__ADS_1


"Terima kasih dok," Abimana lalu duduk berdampingan dengan Arditha.


"Berhubung pak Abi sudah menceritakan secara singkat, maka kita langsung pemeriksaan aja ya," Dokter cantik itu ingin memastikan masalah dalam rahim Arditha.


Abimana pernah mendatangi dokter Lina dan menceritakan masalahnya dimana sang istri tak kunjung hamil. Abimana mencurigai ada masalah pada rahim sang istri yang sengaja disembunyikan oleh istrinya itu.


Arditha hanya bisa meringis kala dokter Lina mulai melakukan pemeriksaan sementara Abimana dengan setia berdiri disampingnya. Saat menatap layar monitor, dokter Lina terlihat fokus dan menarik napas panjang.


"Tak ada masalah, semua baik-baik saja. Kondisi rahim juga bagus. Sebaiknya ibu periksa darah dan hasilnya bawa kemari, ok ?!" Dokter Lina tak ingin asal menebak. Ia ingin memastikan sebelum berbicara dari hati ke hati dengan Abimana. Pengalamannya sebagai dokter kandungan tak diragukan lagi. Hanya saja ia tak mungkin berbicara tanpa bukti.


Dokter Lina menatap Arditha yang sejak tadi hanya diam saja. Dugaanya semakin kuat namun ia tak mungkin berbicara tanpa adanya bukti.


"Sebaiknya memang begitu pak Abi." Dokter Lina tersenyum lembut namun cukup membuat Arditha gelisah.


"Terima kasih dok, kami permisi," Abimana berdiri dan menyalami dokter Lina begitupula Arditha.

__ADS_1


"Mari dok," Arditha tersenyum kikuk menatap dokter Lina.


Abimana lalu menggandeng mesra tangan Arditha keluar dari ruangan praktek dokter Lina.


'Semoga dugaanku salah,' Batin dokter Lina menarik napas panjang.


Keluar dari ruangan dokter Lina, kini tujuan mereka selanjutnya atau lebih tepatnya tujuan Abimana adalah laboratorium untuk melakukan permintaan dokter Lina. Abimana sendiri merasa terganggu dengan permintaan tersebut. Bukankah dokter Lina mengatakan jika semua baik-baik saja ? Tapi periksa darah tujuannya untuk apa ? Apakah ada sesuatu yang membuat Arditha tak kunjung hamil ? Pikiran Abimana tak tenang mengiringi langkahnya hingga tiba di depan laboratorium.


"Besok aja deh mas, aku takut." Arditha menahan langkahnya. Ia tak ingin melakukannya.


"Gak apa-apa honey, semua akan baik-baik saja. Kalau toh ada masalah, kita hadapi bersama." Abimana tersenyum sembari mengusap lembut pucuk kepala Arditha.


'Justru setelah ini akan ada masalah mas, dan semua akan tidak baik-baik saja,' Batin Arditha gelisah.


Tak ingin berdebat, akhirnya Arditha pasrah mengikuti keinginan Abimana. Keduanya lalu memasuki laboratorium tersebut dan langsung menyerahkan amplop yang berisi keterangan rujukan dari dokter Lina.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2