
Dua hari kemudian Abimana kembali ke klinik untuk menemui dokter Lina sekaligus menyerahkan hasil pemeriksaan darah Arditha. Sesuai permintaan dokter Lina agar ia datang sendiri maka Abimana pun tak menjemput Arditha dikanatornya. Entah mengapa jantung Abimana berdetak kencang. Ada rasa yang tak bisa ia jabarkan dengan kata-kata.
"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu ?" Sapa petugas bernama tag Sophia dengan ramah.
"Hasil pemeriksaan atas nama ibu Arditha." Dingin, datar dan sedikit tak jelas jika saja petugas tersebut tidak cekatan tentu pertanyaan baru akan muncul.
Untungnya Sophia bukan petugas genit yang senang mencari perhatian lawan jenisnya sehingga ia segera melakukan tugasnya. Mencari nama Arditha pada tempat yang seharusnya.
"Ini pak," Sophia memberikan sebuah amplop dan disambut oleh Abimana.
Tak ingin membuang-buang waktu dan diliputi rasa penasaran yang teramat sangat, Abimana bergegas menuju ruangan dokter Lina. Semakin mendekati ruangan sang dokter semakin kencang pula detak jantungnya.
Dengan menarik napas sepenuh dada, Abimana mengetuk pintu ruang praktek dokter Lina dan bergegas masuk kala suster pendamping dokter Lina membuka pintu dan mempersilahkan masuk.
"Silahkan pak, bu dokter sudah menunggu anda."
"Terima kasih suster, "
Melihat wajah teduh dokter Lina sedikit menenangkan perasaan Abimana namun hal itu tidak berlangsung lama manakala sang dokter mulai membuka dan mengamati isi amplop tersebut. Abimana memperhatikan roman wajah dokter Lina yang sedikit meringis.
"Apa istri saya memiliki kelainan, dok ?!" Abimana tak sabar menunggu penjelasan dokter cantik diusianya yang sudah empat puluhan itu.
"Pada dasarnya istri anda sehat jasmani dan rohani. Rahim ibu Arditha pun sehat, hanya saja mungkin sebaiknya anda berbicara dari hati ke hati tentang keinginan anda untuk memiliki buah hati," Dokter Lina menarik napas panjang. Beliau berusaha mencari kata yang tepat agar pria dihadapannya tidak kaget atau murka.
"Maksud dokter ?" Abimana menatap dokter Lina yang masih menatap kertas ditangannya. Seolah takut salah membaca hasil pemeriksaan Arditha.
__ADS_1
"Ibu Arditha melakukan program KB, sepertinya belum ingin hamil, mungkin istri anda memiliki alasan untuk itu." Akhirnya dokter Lina tak punya pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya.
Abimana tak dapat berkata-kata mendengar penjelasan dokter Lina. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Selama ini memang Arditha menolak untuk hamil namun ia tak menyangka jika istrinya itu akan melakukan program KB. Abimana pernah membaca sebuah artikel tentang program KB bagi yang belum pernah hamil bisa berakibat fatal yaitu tak bisa hamil. Entah artikel itu benar atau tidak yang jelas kini perasaan Abimana terganggu bahkan terguncang.
"Saran saya sebaiknya dibicarakan baik-baik dengan istri anda, jangan melibatkan emosi." Dokter Lina tahu perasaan Abimana saat ini, namun memang seperti itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh pria muda dihadapannya.
"Terima kasih atas sarannya dok, saya permisi." Abimana berdiri dan menyalami dokter Lina sebelum keluar ruangan.
Sepanjang jalan melewati koridor rumah sakit, Abimana hanya menatap kosong ke depan. Saking marah ya, Abimana tak sempat menanyakan program KB apa yang digunakan oleh istrinya.
Sebelum mulai menjalankan mobilnya, Abimana menarik napas sepenuh dada agar amarahnya sedikit mereda dan ia bisa mengendarai mobil dengan tenang dan selamat tiba di rumah.
Tak ada semangat bagi pria itu kembali ke kantor. Sejak mereka kembali rujuk, ia sudah melakukan apa saja untuk meyakinkan sang istri jika seluruh cinta bahkan jiwa dan raganya hanya untuk wanita yang mampu membuat dunianya jungkir balik.
Sementara itu di kantor, Arditha gelisah memikirkan hasil labnya yang keluar hari ini. Ia yakin suaminya saat ini pasti suaminya sudah bertemu dengan dokter Lina.
"Kamu kenapa Dith ? Pusing tau liat kamu mondar mandir kayak setrikaan." Vanya menatap kesal calon adik iparnya. Gadis itu tak dapat mendapatkan fokusnya dalam bekerja.
"Ck, aku sedang dalam masalah besar. Kamu sebagai sahabat dan calon kakak ipar gak ada prihatin-prihatinnya," Arditha malah balik mengomeli sahabatnya disertai tatapan tajam yang menghunus pada manik mata gadis yang juga tengah menatapnya.
"Gimana mau prihatin kalau aku gak tau masalahmu apa," Bukannya takut Vanya justru membalasnya dengan mengangkat bahunya cuek.
Seandainya saja yang di depannya adalah orang lain tentu saja Arditha sudah mencabik-cabiknya. Perlahan Arditha mengontrol emosinya namun tatapannya tetap setajam pedang.
"Hari ini hasil pemeriksaan darahku keluar, Vanyaaaa." Arditha terlihat jelas menahan kekesalannya pada gadis yang kini tengah menatapnya penasaran.
__ADS_1
"Lalu masalahnya apa ? Kan hanya pemeriksaan darah. Kamu gak ada penyakit kan ? Lagian untuk apa juga kamu periksa darah segala," Vanya memberondong pertanyaan pada Arditha yang kini mendelik tajam padanya.
"Aku harus menjawab yang mana dulu, pertanyaanmu segitu banyaknya."
"Udah gak usah drama, terserah jawab yang mana saja. Sesuka ya kamu ajalah," Vanya menatap jengah Arditha yang semakin membuatnya penasaran. Kelemahan terbesar seorang Vanya adalah memiliki kekepoan tingkat dewa.
"Aku gak ada penyakit, Vanya. Itupun bukan mauku tapi maunya dokter Lina. Dan yang terpenting dan yang membuatku khawatir adalah hasil pemeriksaan tersebut pasti terlihat kalau aku melakukan program KB."
"Whaaatttt ??!! Kamu gila ya !!" Tanpa sadar Vanya berteriak histeris. Ia tak menyangka Arditha akan melakukan hal itu.
"Ck, gak usah teriak-teriak, ini kantor bukan hutan belantara. Lagian kasih solusi kek, bukannya malah teriak gak jelas, " Arditha semakin kesal karena kaget mendengar teriakan Vanya hingga ia terjungkal beberapa langkah ke belakang, untung tidak ada benda apapun dibelakangnya.
"Lagian kamu juga aneh-aneh sih, salah satu tujuan pernikahan itu memang adalah memiliki keturunan, itu sudah menjadi kodrat kita sebagai wanita untuk melahirkan anak. Lha orang belum nikah aja ada yang hamil bahkan melahirkan anak, masa kamu yang punya suami sah tajir pula tapi malah gak mau dihamilin," Vanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti dengan keputusan gila sahabatnya. Ingin rasanya Vanya menggeplak kepala Arditha namun sayangnya ia tak memiliki keberanian.
Arditha hanya menatap nanar gadis yang menatapnya tajam. Seandainya saja waktu bisa dihentikan, Arditha ingin agar sang penunjuk waktu tak bergeser sehingga ia tak kembali ke rumah.
"Bukannya aku gak mau punya anak, tapi belum siap. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan buatku, Nya." Bukannya Arditha membela diri akan tetapi memang seperti itulah kenyataannya.
Sebuah kejadian yang menorehkan luka yang dalam belum mampu Arditha hilangkan.
🌷🌷🌷🌷
Hai reader setia, maaf ya othor baru nongol soalnya wifi rusak.
Selamat membaca, semoga terhibur.
__ADS_1