Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 52》》 KAMU MENCINTAINYA


__ADS_3

Sebelum mentari pagi negeri Jiran menampakkan sinarnya, Arditha sudah selesai bersiap. Sejak berpikir untuk pulang ke tanah air, ia tak sabar menunggu pergantian waktu. Arditha tersenyum lebar saat jam menunjukkan pukul 07.15 waktu setempat. Ia segera keluar dengan menarik kopernya yang besar. Tak ada kardus atau tentengan lainnya. Ia tak memiliki banyak barang selain buku dan bajunya saja. Penghuni flat yang sebagian besar mahasiswa masih belum terlihat saat Arditha keluar. Dengan menggunakan lift akhirnya Arditha tiba di lantai dasar.


Dengan senyum yang tak pernah lengkap dari bibirnya, Arditha menaiki taksi menuju hotel tempatnya bekerja. Jarak antara hotel dan apartemennya tak begitu jauh sehingga ia bisa tiba dengan cepat. Arditha hanya menyerahkan surat pengundurxn dirinya kemudian melanjutkan perjalanan menuju bandara.


Sementara disebuah rumah yang dijaga ketat oleh beberapa pengamanan khas pejabat negara, Abimana sedang merecoki teman baiknya agar segera membantunya mencari keberadaan Arditha. Ia tak mengenal dengan baik negeri Jiran dan visanya hanya beberapa hari, walaupun yang menampungnya adalah wakil negara namun ia tak ingin melanggar aturan negara tersebut.


"Jangan lama-lama, Don." Abimana segera menyelesaikan sarapannya, ia tak sabar untuk mencari Arditha. Semalam Doni sudah meminta ajudan papanya mencari keberadaan gadis yang dicari oleh Abimana. Meskipun diliputi rasa penasaran namun Doni tak ingin mencampuri lebih dalam urusan orang lain.


"Astaga, kita gak perlu kesana kemari mencarinya. Langsung ke apartemennya saja dan masalah selesai," Doni masih menikmati sarapan paginya dengan tenang. Kebiasaan pria muda itu jika makan maka makanannya harus benar-benar hancur baru bisa ditelannya.


Abimana hanya mendengus kasar melihat sikap Doni yang teramat santai. Ingin rasanya ia memindahkan pria itu ke planet lain seandainya saja ia tak membutuhkannya. Benar-benar menguras emosi.


Akhirnya kedua pria itu menuntaskan sarapannya. Seketika Abimana tersenyum lebar dan kembali bersemangat. Ia mendahului Doni keluar rumah dan dalam sekejap sudah duduk manis menikmati di dalam mobil yang sudah siap.


"Aku yakin kamu sangat mencintai gadis itu," Doni duduk dibelakang setir. Ia merasa tak nyaman jika harus diantar oleh supir saat akan bepergian.


Mendengar kata cinta, seketika Abimana merasa aneh entah apa penyebabnya. Darahnya berdesir hebat dan jantungnya berdebar kencang. Untuk pertama kalinya Abimana merasakan hal seperti ini.


"Entahlah yang jelas anak-anak sangat menyayangi gadis itu," Abimana mengatakan apa adanya. Kedua anaknya memang sangat menyayangi gadis itu tanpa syarat semak pertama kali mereka bertemu.

__ADS_1


Mengingat kedua anaknya, rasa rindu Abimana kian tak tertahankan. Entah sebesar apa kedua permata hatinya saat ini. Hanya dengan membawa Arditha, ia bisa kembali berkumpul dengan anak-anaknya.


"Jangan menggunakan ponakanku untuk mengelabui hatimu, apa kamu rela dia bersama pria lain yang memberikan hati dan cintanya ? Tidak semua gadis mencintai pria yang memiliki segalanya termasuk kekayaan." Doni seringkali mendengar wanita ataupun gadis yang saking curhat.


Doni semakin yakin dengan ucapannya. Abimana tak berkelit ataupun membantahnya. Saat ini Abimana hanya ingin segera bertemu dengan Arditha dan membawanya kembali ke tanah air.


Perjalanan mereka berakhir pada sebuah bangunan apartemen yang tak jauh dari sebuah kampus nomor satu di negeri Jiran. Apartemen yang bisa dipastikan sebagian besar penghuninya adalah mahasiswa dan mahasiswi. Doni dan Abimana bergegas keluar dari mobil dan menghampiri sebuah meja ukuran besar. Doni berbicara dan memperlihatkan foto Arditha.


Abimana bersandar pada dinding tak jauh dari meja tersebut manakala mendengar jawaban gadis berhijab itu. Rupanya Tuhan belum mengijinkan dirinya untuk bertemu. Semangat dan harapannya kini hilang tak berbekas.


"Antar aku ke bandara," Abimana tak ingin tinggal lebih lama lagi. Rasa kecewa menguasai hatinya karena yang dicari ternyata entah kemana.


Sekali lagi Abimana tak bisa menjawab, ia bingung dengan perasaannya sendiri. Tak dapat bertemu dengan Arditha membuat sesuatu di dalam hatinya tiba-tiba kosong.


Melihat Abimana diam membisu membuat Doni pun ikut terdiam. Dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju bandara. Doni tak mungkin menahan Abimana untuk tinggal lebih lama. Ia tahu bagaimana sibuknya seorang Abimana.


Mobil yang dikemudikan oleh Doni berhenti dan Abimanapun keluar setelah mengucapkan terima kasih. Wajah Abimana terlihat sangat lelah sehingga membuat Doni enggan untuk mengusili pria itu.


"Thanks atas bantuannya, Don." Abimana menatap Doni sekilas sebelum akhirnya keluar dari mobil.

__ADS_1


"Sama-sama Bro. Kalau ada waktu luang bacalah anak-anak liburan, aku akan jadi guide gratis untuk kalian," Doni terkekeh dengan ucapannya sendiri. Bagaimana bisa ia menjadi pemandu bagi Abimana kalau dirinya saja hanya kebetukan sedang menikmati liburan di negeri Jiran. Aslinya Doni menyelesaikan S3 nya di Inggris.


"Jangan asal berjanji. Ingat janji adalah hutang dan hutang bukanlah mantan yang harus dilupakan." Walaupun sedang bercanda namun nada bicara Abimana tetaplah datar.


"Terserah kamulah. Oh ya, selamat jalan maaf aku gak bisa antar sampai ke dalam." Doni lalu menatap gas meninggalkan Abimana yang menatapnya hingga menghilang dari pandangan.


Abimana menarik napas panjang kemudian melanjutkan langkahnya memasuki ruang tunggu. Pencarian gadis itu harus dimulai dari awal lagi. Rupanya Tuhan masih ingin menguji kesabarannya. Abimana bukankah tipe pria yang gampang putus asa. Dalam hati ia masih ada harapan yang sangat besar untuk bertemu dengan Arditha. Persoalan Arditha memaafkannya atau tidak, nantilah saat mereka bertemu. Yang jelas hingga saat ini gadis itu masih berstatus sebagai istrinya.


Sementara di tanah air, pesawat yang ditumpangi Arditha mendarat sempurna. Dengan langkah ringan, Arditha mengayunkan kakinya yang jenjang terlalu celana jeans dengan atasan overzise. Menghirup udara ibu pertiwi setelah sekian lama membuat Arditha menarik napas dalam-dalam menikmati udara Indonesia.


Menengok ke kanan dan ke kiri mencari taksi setelah tiba diluar. Tanpa harus menunggu lama sebuah taksi berhenti di depannya. Arditha segera menaikkan kopernya di bagasi dengan bantuan pak sopir, lalu Arditha masuk ke dalam taksi dan mengatakan tujuannya. Dengan sigap pak sopir itu perlahan menginjak gas agar mobilnya melaju meninggalkan area bandara.


Arditha sangat menikmati perjalanan kali ini. Setelah meninggalkan tanah air tak ada perubahan yang signifikan. Dimata Arditha semua masih sama seperti saat ia memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan melanjutkan pendidikannya. Melihat Arditha yang begitu asyik memperhatikan gedung-gedung sepanjang jalan, akhirnya pak sopir itupun memilih diam.


🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat sore readers ,,,,


Maaf baru up, selamat menikmati dan jangan lupa dukungannya

__ADS_1


Love you all


__ADS_2