Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 73 》》 NO, HONEY


__ADS_3

Dengan menggandeng Arsheno keluar dari kamar. Pasangan suami istri yang baru saja menikmati indahnya sebuah pernikahan terlihat canggung, lebih tepatnya Arditha. Sedangkan Abimana terlihat sangat bahagia, senyumnya merekah membingkai wajahnya yang tampan dan berseri-seri.


"Bahagia banget, Bi ?!" Mama Kalisha menatap putranya penasaran. Sudah lama pria yang berstatus sebagai putranya itu tak memperlihatkan wajah sebahagia pagi ini.


Abimana mengabaikan pertanyaan sang mama. Ia memilih diam lalu duduk di kursi dan mulai mengisi piringnya. Abimana harus mengembalikan tenaganya yang baru saja terkuras habis. Menjawab pertanyaan sang mama akan semakin membuat perutnya kelaparan.


Mama Kalisha mendelik tajam diabaikan oleh Abimana. Sementara papa Kuncoro mengikuti putranya mengisi piringnya dengan nasi goreng.


"Sini piringnya sayang," Arditha meminta piring Arsheno yang masih kosong sedangkan piring Arbilha sudah terlebih dahulu diisi oleh oma mereka.


"Gak usah ma, mama kan sakit." Arsheno berdiri mengambil makanannya sendiri. Mama Kalisha dan papa Kuncoro menatap horor pria yang sedang makan dengan lahap.


"Sakit ?!" Mama Kalisha dan papa Kuncoro kompak bertanya sehingga membuat wajah Arditha memerah.


"Hari ini gak usah ke kantor, Bi !! Bawa istrimu ke rumah sakit !!" Titah mama Kalisha masih dengan tatapan horornya.


"Gak usah ma, sakitnya wajar-wajar aja kok, nanti juga hilang." Abimana menghentikan makannya sejenak menimpali perkataan sang agar tatapan horornya tidak semakin menjadi-jadi.


"Mana ada sakit seperti itu. Mama gak mau tahu, pokoknya bawa menantu mama le dokter. Kalau ada apa-apa bagaimana ?!" Mama Kalisha masih ngotot dengan perintahnya dan wajah Arditha semakin memerah.


"Oma jangan galak-galak gitu dong. Ayah memang bersalah karena membuat mama sakit." Baru saja senyum Abimana menghiasi wajahnya karena merasa dibelakang oleh anakya namun detik berikutnya senyum itu hilang karena pria kecil itu menyalahkannya.


"Ayah membuat mama sakit ? Apa Ayah memukul mama ?!" Papa Kuncoro menatap dengan wajah serius cucu pertamanya. Ia tak akan memaafkan Abimana jika benar menyakiti menantunya.

__ADS_1


"Bukan gitu oma, mama sakit karena pagi-pagi tidur sama ayah, " Bibir mungil Arsheno dengan lancarnya mengulang perkataan Abimana. Rasanya Arditha ingin menghilang saat itu juga.


Mama Kalisha dan papa Kuncoro saling bertukar pandang sambil tersenyum lebar kemudian menatap putra dan menantunya. Perkataan Arsheno membuat kedua orang tua itu bahagia. Artinya pasangan muda itu sudah saling menerima. Melihat tingkah mertuanya, Arditha semakin menundukkan kepalanya.


"Santai aja honey, merek juga pernah muda seperti kita, " Ucapan Abimana yang terdengar sangat santai membuat Arditha merutuki suaminya.


Selera makan Arditha lenyap seketika. Pembahasan tentang sakitnya berujung pada sesuatu yang belum ia pikirkan sebelumnya. Memiliki anak sama sekali tak ada dalam rencananya untuk beberapa tahun ke depan. Menyadari hal itu membuat Abimana meringis, sebagai seorang suami, ia menginginkan anak yang lahir dari rahim Arditha.


"Pokoknya hari ini kalian libur ! Gak ada acara ke kantor !! Kalian berdua istirahat atau bulan madu sekalian." Mama Kalisha tak ingin dibantah. Wanita paruh baya itu sangat antusias mengetahui kabar yang sangat membahagiakan. Hampir saja mama Kalisha putus asa.


Pasalnya dulu ia sering berusaha menjebak Arditha namun menantunya itu sangat lihai. Sangat berbeda dengan almarhumah Sheila yang dengan gampangnya terjebak.


"Aku gak enak sama Vanya, ma. Kantor kami masih baru dan karyawan pun belum ada, kasihan Vanya jika bekerja sendiri," Arditha tak ingin seharian berada di rumah.


Arditha sangat mengenal Vanya dan ia merasa sahabatnya itu cocok berbanding dengan sang abang. Vanya adalah gadis yang tak suka aneh-aneh dan selalu apa adanya. Mengenai sifat tentu saja mirip dengannya dan akan sangat seru jika ia dan Vanya bisa bersama selamanya sebagai saudara.


Tak ada bantahan dari Arditha. Semua anggota keluarga kembali melanjutkan sarapannya dengan hikmat tanpa ada yang bersuara. Hanya bunyi sendok yang berlaku dengan piring menjadi sebuah irama yang mengiringi sarapan mereka.


Arsheno dan Arbilha kemudian bersiap berangkat ke sekolah setelah menuntaskan sarapan paginya. Arditha pun berdiri dan merapikan seragam keduanya secara bergantian. Abimana tersenyum bahagia melihat ketulusan Arditha pada kedua anaknya. Ingatkan Abimana untuk berterima kasih pada mama mertuanya yang telah melahirkan seorang putri seperti Arditha, baik hati dan cantik.


"Hati-hati ya, belajar yang bener," Arditha mencium pucuk kepala keduanya secara bergantian seraya berpesan agar belajar yang baik layaknya seorang ibu kandung.


"Bye ma, bye ayah, by oma dan opa," Kompak keduanya sebelum masuk ke dalam mobil yang siap mengantar kedua anak kecil itu kemana saja mereka inginkan.

__ADS_1


Mama Kalisha memang menyiapkan mobil dan sopir untuk kedua cucunya. Sehingga kegiatan kumpul-kumpul dengan teman-temannya tak terganggu.


Setelah Arsheno dan Arbilha ke sekolah, suasana kembali sunyi. Tak ada nada protes atau pertanyaan yang terdengar mewarnai rumah mewah tersebut. Tinggallah kini dua pasang suami istri yang duduk saling berhadap-hadapan.


"Ma, jalan yuk. Aku gak terbiasa berdiam diri di rumah," Arditha memberanikan diri mengajak sang mertua keluar rumah. Meskipun hubungan mereka belum bisa dikatakan akrab namun Arditha berusaha untuk mengakrabkan diri. Hanya saja saja Arditha selalu berhati-hati, ia tak ingin mengalami sesuatu yang sering terjadi antara menantu dan mertua.


"No honey, kita di rumah aja. Kamu harus istirahat bukan malah jalan dengan keadaan seperti itu. Lihat cara jalanmu terlihat aneh." Sebenarnya Abimana tak ingin jauh-jauh dari sang istri. Ia sangat mengenal mamanya yang akan lupa waktu jika sudah berada di luar rumah dan Abimana tak ingin Arditha terkontaminasi dengan sang mama.


"Dasar bucin !" Mama Kalisha mencibir dan menatap Abimana dengan sinis. Sepertinya ia harus mencari cara agar bisa menghabiskan waktu bersama menantu kesayangannya.


"Keluarnya sama papa aja, ma. Biarkan mereka berdua di rumah. Jika perlu liburkan para ART." Papa Kuncoro menimpalinya dengan penuh pengertian. Sebagai sesama pria tentu saja Abimana akan selalu meminta haknya mengingat dalam kurun waktu yang lama, pria itu tak pernah menyalurkan hasratnya.


"Jangan pa, jangan liburkan mereka." Sergah Arditha tak sadar. Lagipula apa yang bisa ia lakukan jika para ART di liburkan . Tak mungkin Arditha yang menyapu dan mengepel lantai. Kalau sekedar memasak Arditha tak masalah.


Abimana terkikik geli melihat ekspresi panik sang istri. Wanitanya terlihat sangat lucu jika sedang panik.


🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat malam readers,,,


Maaf beribu maaf baru bisa up


Jangan lupa mampir di ceritaku "MASA LALU YANG TAK USAI "

__ADS_1


__ADS_2