Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 26 》》 DASAR DUDA NARSIS


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 saat keluarga Abimana pulang termasuk kedua anak sambung Arditha. Kedua anak kecil itu akhirnya ikut pulang setelah dibujuk oleh opa, oma dan kakek neneknya.


Setelah mengantar para tamu yaitu kedua mertua dan kedua orang tua Abimana, Arditha kembali ke kamarnya untuk beristirahat tanpa memperdulikan Abimana yang entah menghilang kemana bersama abangnya. Kini Arditha memiliki dua pasang mertua karena sepertinya Rani dan Shehzad pun menyayangi Arditha layaknya putri sendiri.


Maksud hati ingin istirahat namun melihat ponselnya yang xejak pagi tak disentuhnya menggerakkan tangannya untuk meraih benda pipih tersebut, Godaan ponsel memang sangat luar biasa.


Mata Arditha membelalak kala melihat panggilan tak terjawab dari sang kekasih hati demikian banyaknya. Gadis itu merasa bersalah pada pria yang selama ini memberi warna dalam hidupnya. Masih dalam rasa bimbang antara menelepon balik sang kekasih atau mendiamkannya saja namun tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan ID pemanggilnya MY FUTURE♥️♥️.


Pembicaraan kedua pasangan yang mungkin tak akan pernah bersama dikemudian hari berlangsung sama seperti hari-hari sebelumnya. Arditha dan Pras saling berpendapat gurau seperti biasanya. Arditha melupakan jika dirinya sudah berubah status beberapa jam yang lalu.


Ceklek


Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria yang telah mengubah statusnya dengan tak berperasaan. Mau tak mau Arditha mengakhiri pembicaraannya dengan sang kekasih.


"Sudah dulu Yang, nanti aku telepon lagi, Love you." Arditha mematikan ponselnya sepihak tanpa menunggu balasan kata cinta dari kekasihnya.


Abimana menatap tanpa ekspresi gadis yang ia nikahi pagi tadi. Meskipun tak ada cinta diantara mereka namun sebagai pria yang berstatus sebagai suami tentu saja Abimana tak terima mendengar ungkapan cinta Arditha pada pria lain.


"Enak bener, nikahnya sama siapa ungkapan cintanya sama siapa," Sindir Abimana duduk di kursi meja belajar Arditha.


"Makanya kalau mau nikahi seorang gadis, caritahu dulu gadis itu punya pacar atau enggak. Jangan asal ngelamar aja sejenak jidat." Arditha bukanlah gadis yang akan diam saja jika merasa benar. Arditha tipe gadis yang tak akan kehabisan kata jika sedang berdebat.


"Karena aku menikah demi anak-anakku yang membutuhkan seorang ibu dan kebetulan kamuyqng mereka pilih," Abimana tak sadar akan ucapannya yang kemungkinan besar akan menjadi bambang baginya.


"Kalau gitu, jangan pernah menghalangi kisah cintaku. Anggap saja sebagai kompensasi karena telah berkorban mengurus anak-anak hingga mereka mengerti jika aku bukan ibu mereka. Aku rasa keduanya akan cepat mengerti, mereka anak-anak cerdas." Rasa lelah lahir batin Arditha tiba-tiba menghilang tergantikan dengan semangat membara membahas kisah mereka selanjutnya. Arditha tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Bersemangat sekali !" Abimana tak busa menyembunyikan kekesalannya kali ini. Entah mengapa ia menyesali kata-katanya.

__ADS_1


"Tentu saja, siapa yang mau terjebak dalam pernikahan seperti ini ?" Arditha berucap dengan entengnya. Gadis itu memang memiliki impian sendiri tentang sebuah pernikahan namun semua impiannya terpatahkan dengan kehadiran Abimana bersama anak-anaknya.


Abimana tak menanggapi ucapan Arditha, ia malah berdiri dan berjalan kearah koper yang dibawanya dan mengambil baju dan handuk sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Arditha hanya mendengus kasar melihat kelakuan tak sopan pria itu. Disaat dirinya masih ingin membahas batasan pernikahan mereka namun pria itu sepertinya enggan memberikan respon.


Akhirnya dengan perasaan dongkol hingga ke ubun-ubun, Arditha menghempaskan tubuhnya kembali diatas kasur empuknya. Tidur adalah pilihan yang tepat semoga saja ia bermimpi bertemu dengan kekasih hatinya.


"Ck, dasar bocil," Abimana keluar dari kamar mandi dengan baju rumahan. Ia menggeser tubuh Arditha yang tidur dengan posisi menguasai tempat tidur hingga tak muat untuk tubuhnya yang tinggi besar.


Abimana tak merasa sungkan sedikitpun berbaring di samping Arditha padahal hubungan mereka boleh dikatakan jauh dari kata baik. Bahkan mungkin Arditha menganggapnya sebagai seorang musuh bebuyutan. Tanpa bisa di cegah mata Abimana tertutup rapat dan menyusul Arditha ke alam mimpi. Walaupun mungkin mereka tak akan bertemu karena memiliki alam mimpi yang berbeda.


Entah berapa lama mereka tertidur, hingga akhirnya Arditha berteriak karena sebuah tangan tiba-tiba menimpa perutnya. Kelemahan Arditha jika seorang pria memeluknya pasti akan terjaga walau bagaimanapun pulasnya tidur.


"Aaaaaaa !!! " Teriakan Arditha yang memekakkan telinga memaksa Abimana meraih kesadarannya kembali.


"Ada apa sih, ganggu orang tidur aja," Abimana menatap datar Arditha dengan wajah tak bersalah.


Tukkk


"Aku adalah suamimu, melakukan apapun gak ada yang ngelarang," Abimana menjitak kepala gadis itu. Ia pun kesal tidur nyenyaknya terganggu hanya karena tak sadar memeluk gadis itu.


"Bapak bukan suami yang sesungguhnya melainkan seorang penghancur mimpi orang lain. Entah dosa apa yang keperluan dimasa lalu hingga harus bertemu dengan bapak," Omelan Arditha justru mengundang tawa Abimana. Sangat terdengar lucu di telinga pria dewasa itu. Bagaimana bisa gadis belia itu menyalahkan masa lalunya padahal usianya saja masih 20 atau 21 tahun.


Melihat Abimana tertawa membuat Arditha sedikit terpesona. Ternyata dibalik sikapnya yang menjengkelkan memiliki wajah yang begitu manis jika sedang tertawa.


"Kenapa diam ? Terpesona dengan wajahku ? Jangan katakan iya karena kamu pasti akan kecewa gadis kecil," Abimana sengaja menggoda Arditha yang menatapnya beberapa saat. Sesungguhnya Abimana hanya ingin mengalihkan tatapan mata bening milik gadis itu.


"Diihhh, dasar duda narsis, Aku hanya akan terpesona pada wajah kak Pras, karena dialah satu-satunya pria yang ada didalam hatiku kini dan nanti," Arditha tak ingin kalah dan mengungkapkan sisi hatinya secara terang-terangan. Arditha tak tahu jika dengan perkataannya ada hati yang tak terima.

__ADS_1


Bagi Abimana, pernikahan adalah ikatan suci yang sakral. Bukan untuk dijadikan permainan walau tanpa melibatkan rasa cinta. Anak-anaknya membutuhkan kasih sayang seorang ibu yang meskipun terlambat ia berikan namun tak akan menghilangkan kasih sayang tersebut. Demi anak-anak, ia rela mengenyampingkan perasaannya, lagipula Arditha pun sangat cantik dan cerdas sehingga bisa mengimbangi dirinya.


"Buatkan aku teh manis berikut cemilannya !"


"Aku bukan pembantumu. Tugasku hanya menyayangi kedua anakmu pak," Arditha benar-benar hanya ingin bersama kedua anak kecil yang membutuhkan kasih sayangnya.


"Kita baru saja menikah lho, jangan membunyikan genderang perang. Kita berdamai aja bersama-sama memberikan kasih sayang yang utuh pada Arsheno dan Arbilha. Selain itu layani juga aku sebagai suami sebatas hanya menyiapkan makanan. Aku gak minta yang aneh-aneh kok,"


Arditha berjalan ke meja belajarnya dan mengambil secara kertas kemudian memberikannya pada Abimana. Rupanya gadis itu sudah menyiapkan sebuah aturan tertulis.


"Baiklah, aku setuju tapi lembaran yang ini aku gak akan pernah setuju, " Tanpa perasaan Abimana merobek lembaran kedua yang berisi perjanjian perceraian setelah Arsheno dan Arbilha bisa mengerti posisinya yang hanya sebagai ibu sambung.


Rahang Abimana menjelaskan memang amarah, tatapannya bagaikan singa lapar yang akan menerima mangsanya. Baru saja mereka menikah namun kini gadis itu bahkan sudah memikirkan perceraian. Ibarat kata mereka belum terjun ke medan perangnamun gadis itu sudah menyerah duluan.


"Ck, bapak gak asyik, egois. Hanya memikirkan kebahagiaan anak-anaknya tanpa memikirkan kebahagiaan dan masa depanku. Aku sudah rela mengorbankan masa mudaku tapi kenapa bapak seolah ingin aku mengorbankan diri selamanya ? Apa salahku ?" Arditha berteriak dengan kesal, biarlah bang Kenan mendengarnya asalkan bukan mama tersayang, wanita yang sangat ia hormati.


"Kamu gak salah, hanya saja karena anak-anak menyayangi dan membutuhkanmu hari ini dan selamanya." Abimana tak bisa menatap mata bening yang kini berhiaskan airmata.


Dengan perasaan dongkol Arditha meraih kunci mobil dan ponselnya lalu keluar kamar. Tak lama kemudian terdengar deru mobil meninggalkan halaman rumah dan Abimana meringis menatap mobil Arditha hingga menghilang dari pandangannya.


Mata Abimana tertuju pada ponsel lain yang tergeletak begitu saja. Ponsel yang menurutnya sedikit berbeda dengan ponsel pada umumnya, mirip dengan ponsel miliknya.


'Apakah gadis itu juga ??' Batin Abimana tersenyum tipis menatap ponsel Arditha.


🌷🌷🌷🌷🌷


Penghujung tahun 2022

__ADS_1


__ADS_2