
Malam semakin gelap, angin pun semakin dingin menusuk hingga ke tulang-tulang. Mama Sherly dan Kenan sudah masuk ke kamar masing-masing terlebih dahulu. Kini giliran pasangan suami istri itu pun memasuki kamarnya.
"Jangan melewati batas ini !" Arditha mengatur bantal guling sebagai pembatasan antara dirinya dan Abimana. Ia ingin melindungi diri dari pria yang pernah melukai harga dirinya dan hingga kini masih membekas.
"Sampai kapan kamu akan dendam seperti itu, mari kita mulai segalanya dari awal dan melupakan kejadian di masa lalu." Abimana menatap lembut Arditha. Ia benar-benar telah berubah. Perasaannya pada Arditha kini sungguh berbeda.
"Aku gak dendam hanya saja harga diriku kamu injak-injak seperti sampah ! Dan aku tidak terima akan hal itu !" Mata Arditha menatap nyalang pada Abimana yang masih menatapnya dengan lembut.
Abimana menyadari dirinya bersalah dan akan membuat istrinya itu menerima dirinya sebagai suami seutuhnya. Ia akan mulai melancarkan aksinya malam ini. Semua harus terlihat natural dan apa adanya.
"Baiklah terserah kamu aja." Abimana membaringkan tubuhnya dan langsung menutup matanya.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Arditha setelah merasa aman dan yakin jika pria itu sudah tertidur dengan pulas.
Walaupun susah tidur karenà harus berbagi tempat tidur dengan seorang pria namun Arditha tak punya pilihan lain. Entah sejak kapan matanya tertutup rapat mengarungi dunia mimpi.
Mendengar napas Arditha yang teratur halus membuat Abimana kembali membuka matanya. Wajah tenang Arditha yang sedang tertidur pulas membuatnya tanpa sadar tersenyum lebar.
"Semoga pintu hatimu segera terbuka untukku, honey. " Abimana bergumam sambil terus menatap wajah tenang Arditha. Perlahan tangannya mengusap seluruh wajah sang istri dan berakhir pada bibir ranum tanpa lipstik yang menggoda iman.
Cup
"Hm, bibirmu ternyata manis." Lagi-lagi Abimana bergumam dan mencuri ci**an Arditha.
Puas memandangi dan memeluk sang istri, Abimana mulai menutup mata. Berharap esok hari akan semakin indah bersama sang istri. Hingga adzan subuh terdengar lamat-lamat dan Arditha pun terbangun. Kebiasaan sejak dulu Arditha akan bangun jika adzan subuh terdengar.
"Aaaaaaaaa ,,, ngapain peluk-peluk. Dasar duda gila !!" Arditha berteriak telat di dekat telinga Abimana sehingga mengagetkan pria yang masih berlayar dipulau mimpinya.
__ADS_1
Pria yang masih terlelap dengan mimpi indahnya te4jngkat kaget dan bangun langsung terduduk. Beruntung Abimana pria merasa yqng sehat lahir batin sehingga tidak terkena serangan jantung.
"Ada apa sih teriak-teriak, kalau terdengar Kenan kan malu nanti dikiranya kita sedang anu-anu dan kamu berteriak karena kenakan." Meskipun merasa kesal namun Abimana tetap lancar bahkan memanfaatkan kesempatan untuk menggoda Arditha.
"Jangan aneh-aneh !!" Dengan wajah memerah Arditha menyarkas Abimana yang terlihat cengengesan di mata Arditha.
"Cuman peluk doang kan, belum ngapa-ngapain. lagian itu kan ketidak sengajaan. Orang tidur tanpa sadar memeluk atau yang lainnya gak bisa disalahkan, namanya juga tidur semua terjadi begitu saja." Walaupun kata-kata Abimana benar adanya namun jangan harap Arditha menerima dan mengakuinya.
Karena kehabisan kata-kata akhirnya Arditha memilih masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri sebelum mengambil air wudhu untuk kemudian melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Kebiasaan sejak dulu yang tak pernah abai untuk dilakukan. Rasa segar dan ngantukpun hilang sehingga bisa lebih lhusyu' melaksanakan perintahNYA.
Setelah selesai Arion pun keluar dari kamar mandi sedangkan Abimana yang masih berleha-leha ditempat tidur menatap Arditha dengan tatapan tak biasa. Aroma segar yang menguar memenuhi indera penciumannya membangunkan sesuatu di dalam dirinya. Tanpa memperdulikan tatapan Abimana, Arditha meraih mukenah dan menggelar sejadahnya.
"Tunggu ! Kita shalat berjamaah !" Abimana bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu. Arditha lalu menggelarkan sejadah untuk Abimana.
Tanpa banyak drama keduanya melaksanakan shalat subuh berjamaah untuk pertama kalinya. Arditha kagum mendengar lantunan bacaan Abimana. Ia tak menyangka pria yang selalu membuatnya jengkel dan kesal tingkat dewa ternyata memiliki suara yang merdu saat melanjutkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Hingga mereka selesai shalat, Arditha masih terpukau.
"Mulai hari ini kita akan selalu shalat subuh berjamaah, ya. Karena waktu shalat yang lain belum tentu bisa dilakukan berjamaah." Abimana menatap Arditha dengan penuh kelembutan membuat Arditha merasakan sesuatu yang aneh dengan jantungnya.
Tak ingin terjebak dalam rasa yang aneh, Arditha segera berdiri lalu membuka dan melipat dengan rapi mukenahnya kemudian menyimpannya ditempat semula.
Arditha lalu keluar kamar untuk membantu sang mama menyiapkan sarapan. Ia tak mungkin membiarkan sang ama tercinta bergelut dengan wajan di pagi hari. Apalagi penghuni rumah mereka bertambah satu.
"Selamat pagi ma," Sesuai dengan dugaan Arditha, mama Sherly sudah mulai sibuk di dapur.
"Selamat pagi sayang, sudah bangun ?" Mama Sherly menatap Arditha sejenak dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Seperti yang mama lihat bahkan sudah shalat subuh juga," Arditha tak mengerti arti senyuman sang mama dan menjawabnya dengan lugas tanpa beban.
__ADS_1
"Kamu tidur dengan nyenyak kan ?" Mama Sherly mulai memancing putri bungsunya. Ia sangat berharap pasangan itu melweatmalamnya dengan indah.
"Kenapa sih mama bertanya seperti itu ? Memangnya apa yang terjadi ?!" Arditha menatap sang mama dengan penasaran. Arditha berdiri tepat di samping mama Sherly dengan piring ditangannya.
Mama Sherly hanya mengangkat bahunya sebelah sambil terus mengaduk nasi goreng diatas kompor.
"Maksud mama, proses pembuatan cucu buat mama dan ponakan buatku." Kenan duduk manis dengan wajah bantalnya. Kebiasaan pria muda itu hanya cuci muka saat akan shalat subuh sehingga wajah bangun tidurnya masih tercetak jelas.
"Kalian itu masih pagi-pagi bicaranya ngelantur." Arditha menatap kesal keduanya. Ternyata sejak tadi maksud pertanyaan mama tentang hal itu.
"Iihhh, apanya yang ngelantur. Pertanyaan itu wajar pada setiap pasangan. Lagipula kita sudah sama-sama dewasa dan kami mengharapkan kalian bahagia dengan memiliki anak-anak yang lucu-lucu. " Kenan tak terima dengan ucapan sang adik.
"Tapi aku tidak akan melakukan hal yang satu itu dan tak ingin memiliki anak. Arsheno dan Arbilha sudah cukup bagiku." Arditha berkata jujur, ia memang tak berniat memiliki anak dari Abimana. Rasa sakit hatinya sepertinya sulit untuk disembuhkan.
"Tapi aku ingin memiliki anak bersamamu, honey. Karena itu adalah pelengkap kebahagiaan kita." Entah darimana dan sejak kapan Abimana berada diantara mereka dan mendengar perbincangan sengit tersebut.
Arditha hanya menatap sinis. Bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Selain ia harus ke kantor tepat waktu, saat ini pun pasti tak ada yang memihaknya.
🌷🌷🌷🌷
Selamat pagi readers,,,
Jangan lupa mampir di cerita "MASA LALU YANG TAK USAI " Beri dukungan ya,,,
Terima kasih sebelumnya
Love you all
__ADS_1