
Hari terus berlalu hingga minggu berganti bulan. Pun bulan kini telah berganti tahun. Tanpa terasa setahun sudah perpisahan Abimana dan Arditha. Hubungan by Phone antara Arditha dengan sang mama pun sudah lancar sama halnya dengan sang abang. Kini keluarga tersebut saling bertukar cerita jika Arditha sedang tidak kerja ataupun kuliah.
Tak sekalipun diantara mereka menyinggung soal Abimana maupun kedua anaknya. Bagi Arditha semua sudah usai dan Kenan yang notabene sahabat Abimana pun tak pernah membicarakan pria itu.
Yah, Arditha dan Vanya kini tengah melanjutkan pendidikan di Malaysia. Untuk mengisi waktu lowong saat tidak ada jadwal kuliah keduanya bekerja di sebuah hotel karena kebetulan manajer hotel tersebut adalah orang Indonesia. Ponakan manajer tersebut satu jurusan dengan Arditha dan Vanya.
"Libur panjang nanti kita pulang yuk, Didith." Sejak semester lalu Vanya sudah merengek-rengek minta pulang namun Arditha sama sekali tak ingin pulang maka jadilah Vanya membatalkan kepulangannya. Ia tak mungkin meninggalkan sahabatnya sendirian.
"Gak usahlah, Nyanya. Mending kita kerja mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar jika tahun depan kita pulang bisa bikin usaha sendiri," Arditha benar-benar tak ingin kembali ke tanah air saat ini. Ia selalu saja mencari-cari alasan agar tak pulang. Bukan tak rindu akan tanah kelahirannya akan tetapi Arditha memang bertekad untuk menyelesaikan studi terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ck, kamu tuh gak kekurangan uang sebenarnya. Bang Kenan kan selalu ngirim duit, ataukah kamu belum bisa move on dari si mantan suamimu itu ?" Vanya kini berubah serius.
"Mana ada. Kalau aku cinta mungkin benar apa yang kamu katakan tapi jangankan cinta mengingatnya saja aku ogah." Arditha terlihat santai saat membalas tuduhan sahabatnya itu. Arditha bahkan tak ingin lagi ,mendengar nama Abimana.
Bukan karena dendam pada pria tersebut, hanya saja Arditha ingin menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan fokus pada kebahagiaannya. Ia tak ingin terus hidup dalam bayang-bayang masa lalunya, apalagi sebelum pergi Arditha sudah menandatangani surat cerainya. Hidupnya dengan Abimana benar-benar telah usai. Arditha tipe gadis yang simple dalam menghadapi hidup. Yang lalu biarlah berlalu karena masa depan bukan berada di masa lalu walaupun terkadang masa lalu ikut berperanan pada masa depan.
Vanya memberenggut menatap Arditha dengan tatapan datar menandakan gadis itu sedang mode on kesal. Arditha hanya mengangkat bahunya tak peduli. Sejak awal libur semester Arditha sudah menyruh pulang sahabatnya itu namun Vanya tak ingin meninggalkannya sendirian di negeri orang.
"Seluruh keluargamu berada di Indonesia, Didith. Jangan berpikir untuk menetap disini selamanya." Vanya merasa frustasi mendengar perkataan sahabatnya. Ia sangat mengenal Arditha yang sangat jarang menarik kata yang pernah diucapkannya.
__ADS_1
"Entahlah Nyanya, yang jelas untuk satu ini aku menganggap bahwa masa depanku berada disini." Arditha tersenyum getir menatap sahabatnya.
Sebuah luka yang dalam memang tak akan hilang dengan mudahnya. Apalagi jika harga diri yang terluka mungkin tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Pengusiran yang dilakukan Abimana kala itu masih membekas dalam hati Arditha. Dan Vanya tahu hal itu karena ia mengenal Arditha bukan hanya setahun atau dua tahun. Sejak awal masuk kampus mereka telah bersahabat.
"Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu," Vanya memeluk erat sahabatnya yang selalu terlihat ceria padahal menyimpan luka yang mendalam.
Taka ada lagi pembicaraan diantara mereka. Keduanya lalu melanjutkan pekerjaan mereka. Untuk saat ini manajer hotel tersebut mempekerjakan mereka di kantor agar jika mereka ada kuliah bisa ijin. Untungnya Arditha dan Vanya tidak satu jurusan sehingga mereka bisa saling membantu.
Hingga waktu terus bergulir tanpa terasa, waktu pulang kerja pun tiba. Kedua gadis belia itu ĺalu bersiap-siap untuk pulang ke apartemen mereka yang letaknya tak jauh dari hotel tersebut.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷