
Sesuai dengan janjinya, Arditha mengirim undangan pembukaan kantornya melalui kurir pada perusahaan PT. Bhi_Lha milik Abimana. Maya yang menerima undangan tersebut langsung menghubungi Adam, tangan kanan presdir.
"Ya, ada apa ?!" Dingin dan datar nada suara Adam, sebelas dua belas dengan pak presdir.
"Maaf pak, baru saja saya terima undangan untuk pak presdir. Apa saya boleh membawanya ke ruangan bapak ?!" Maya memang terlalu hati-hati jika berhubungan dengan presdir dam asistennya.
"Suruh OB yang antar !!" Nada suara Adam yang tak bersahabat membuat Maya gelagapan. Dan telepon antar ruangan pun terputus.
Pak Jaja yang merupakan salah satu OB kebetulan melintas di depan Maya dan langsung dimanfaatkan oleh gadis itu. Daripada penghuni lantai teratas gedung murka. Maya sangat menghindari interaksi yang memberi kesan buruk padanya, risikonya terlalu besar.
"Pak Jaja, tolong antarkan undangan ini ke asisten Adam. Berikan langsung ya pak," Maya menghentikan pak Jaja dan segera memberikan undangan yang ia pegang. Tanpa banyak tanya pak Jaja melaksanakan permintaan Maya.
Tanpa membuang-buang waktu pak Jaja melesat dan menghilang dibalik pintu lift. Seluruh penghuni perusahaan PT. Bhi_Lha akan langsung melakukan perintah jika berhubungan dengan kedua manusia yang dingin penghuni tetap lantai tertinggi gedung mewah tersebut.
"Ada apa pak Jaja ?!" Adam menatap pria paruh baya itu dengan tatapan bersahabat. Sedingin-dinginnya Adam akan tetap hormat dan sopan pada yang lebih tua tanpa melihat status orang tersebut.
"Saya diminta mbak Maya nganter ini pak," Pak Jaja menyodorkan undangan yang berada ditangannya dengan menundukkan pandangannya. Walaupun pak Jaja belum pernah dimarahi oleh asisten Adam ataupun presdir namun gosip yang beredar cukup mengerikan sehingga pak Jaja sebisa mungkin tak berinteraksi dengan mereka berdua.
"Terima kasih pak Jaja," Asisten Adam menerima undangan tersebut dan langsung membukanya.
Dahi Adam berkerut saat membaca undangan pembukaan sebuah kantor Akuntan Publik, nama yang sedikit aneh. Adam lalu membaca nama pemilik kantor tersebut pun sepertinya hanya sebuah singkatan nama, DIVA. Tak ingin berlama-lama penasaran sendiri, ia bergegas membawa undangan tersebut pada presdir.
__ADS_1
tok tok tok
Ceklek.
Abimana mengangkat wajahnya menatap asisten andalannya lalu mengalihkan tatapannya pada tangan Adam.
"Undangan pembukaan kantor Akuntan Publik, pak." Adam menyodorkan undangan tersebut.
"Kapan acaranya ?!" Abimana bertanya sambil membuka undangan tersebut. Bukan hal yang aneh jika sebuah acara pembukaan kantor mengundang perusahaannya.
"Ha ?! Besok ?! Utus karyawan biasa saja untuk menghadirinya ! Acaranya Besok dan undanganya diantar hari ini, benar-benar tidak menghargai kita !." Wajah Abimana memerah menahan amarah. Ia merasa di remehkan.
"Aku atau manajer keuangan saja yang mengahdirinya pak. Acara pembukaan kantor Akuntan Publik, pak. Manatau suatu saat nanti kita membutuhkan jasa mereka. Membina hubungan baik dengan mereka gak ada salahnya pak." Adam ingin PT.Bhi_Lha membina hubungan baik dengan semua kantor Akuntan Publik termasuk kantor yang akan dibuka besok.
"Bapak beneran gak akan hadir ? Pasti banyak perusahaan besar yang diundang," Adam mencoba mempengaruhi presdir arogannya. Semoga saja kali ini bosnya itu berubah pikiran meskipun selama ini pria beranak dua itu belum pernah menarik ucapannya.
"Aku gak akan datang ! Kalau kamu ingin hadir silahkan saja tapi bonusmu bulan ini pasti akan berkurang." Abimana tersenyum mengejek. Ia tahu jika Adam sangat tak ingin bonusnya berkurang. Entah untuk apa pria itu mengumpulkan uang setiap bulannya padahal jangankan istri, pacar saja pria itu tak punya.
"Ck, presdir gak asyik." Adam berbalik kemudian melangkah keluar dari ruangan orang nomor satu di perusahaan.
Setelah Adam menghilang dari balik pintu besar ruangannya, Abimana kembali membaca undangan yang dibawa oleh Adam. Abimana tak mengenal nama Diva akan tetapi sepertinya ia pernah melihat salah satu tanda tangan yang tertera disana. Pada bagian bawah undangan tertulis nama Diva lalu dua tanda tangan yang berarti pemilik kantor tersebut adalah hasil kerjasama keduanya.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya memori Abimana melemah dan tak mampu mengingat pemilik tanda tangan tersebut. Tak ingin dikuasai rasa penasaran, Abimana menyimpan undangan tersebut dan kembali menekuni pekerjaannya yang masih menumpuk.
Dilain tempat, Arditha dan Vanya sibuk mempersiapkan launching kantor mereka. Kedua gadis itu sangat bersemangat sehingga tak merasa lelah meskipun sejak beberapa hari yang lalu mereka sudah disibukkan dengan berbagai urusan. Baik Arditha maupun Vanya tak ingin ada yang kurang dalam penataan ruang kerjanya dan ruangan beberapa pegawai.
"Dit, setelah ini kita ke salon dulu ya, besok aku gak mau keliatan kuyu dan tak bersemangat." Wajar saja jika Vanya mulai mengeluh pasalnya gadis itu adalah pengunjung setia salon, entah untuk saat atau sekedar creambath.
"Terserah kamu, Nya. Yang penting kamu bahagia dan mampu memikat para pembesaran perusahaan agar mau menjadi klien kita." Arditha tersenyum menatap sahabatnya yang kelak akan ia jadikan kakak ipar.
"Kamu gak mau ikut ?!"
"Maulah masa iya kamu doang yang glowing. Manatau besok aku menemukan calon imamku," Arditha terkekeh diujung kalimatnya. Bagaimana bisa ia memikirkan hal itu. Walaupun memang ia berencana akan segera mengakhiri masa jandanya.
"Gak boleh sembarangan memilih. Harus melalui seleksi dan yang akan menyeleksinya adalah aku." Vanya menghentikan pekerjaannya dan membiarkan para pekerja yang menyelesaikan pekerjaannya.
Jika Arditha sudah mulai membahas tentang pasangan hidup maka Vanya akan berubah serius. Ia tak akan membiarkan sahabatnya gagal untuk yang kedua kalinya. Walaupun sahabatnya itu kini berstatus janda namun masih tersegel dengan baik. Vanya percaya sepenuhnya pada cerita Arditha. Selama ini mereka tak pernah saling menyembunyikan rahasia kecuali pernikahan Arditha dan Abimana. Dan sebagai sahabat, Vanya mengerti alasan dibalik itu.
Waktu terus bergulir hingga matahari mulai merangkak untuk menyembunyikan diri pertanda hari sudah mulai petang. Arditha dan Vanya mulai berkemas untuk meninggalkan kantor mereka. Tujuan selanjutnya adalah salon untuk melakukan berbagai jenis perawatan.
🌷🌷🌷🌷🌷
Selamat malam readers,,,
__ADS_1
Maaf upnya telat pake banget 😊😊
Selamat membaca dan terima kasih atas dukungannya.