Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 43 》》 KOK BISA, SIH !!


__ADS_3

Kini Arditha seorang diri di dalam kamar milik sahabatnya. Maksud hati ingin memejamkan mata namun kata-kata pengusiran Abimana kembali terngiang-ngiang di telinganya. Seumur hidupnya Arditha tak pernah dihina dan dibentak seperti yang dilakukan oleh pria itu.


'AKu berharap tadi adalah pertemuan kita yang terakhir pak,' Arditha membatin sambil menarik napas panjang.


Arditha sudah memantapkan hati untuk berpisah dengan pria itu. Selama ini memang hanya kedua bocah itulah yang membuatnya bertahan namun kini ia dilarang menemui mereka maka dari itu tak ada alasan baginya untuk tetap disis pria itu.


"Lho, kok malah mengkhayal ? Bukannya ingin istirahat ?" Vanya mendekati sahabatnya yang terlihat memiliki beban pikiran.


"Duduk sini, Nya. Aku ingin menceritakan sesuatu," Arditha mengabaikan pertanyaan Vanya dan malah menyuruhnya duduk.


Demi rasa penasarannya yang meronta-ronta, Vanya kemudian duduk di depan Arditha. Posisi mereka saling berhadap-hadapan.


"Nya, maafkan aku selama ini belum sempat bercerita," Arditha tak bisa lagi menahan diri, saat ini ia butuh teman untuk mendengar keluh kesahnya yang selama ini ia simpan sendiri.


Vanya tak bersuara, ia menunggu Arditha melanjutkan ucapannya. Untuk pertama kalinya Vanya melihat sahabatnya dalam keadaan yang sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata. Selama ini yang ia lihat, Arditha adalah gadis lincah dan ceria sangat berbanding terbalik dengan keadaannya saat ini.


"Sebenarnya aku sudah menikah dengan duda dua anak,"


"Whaaatttt ??!! Kamu serius ??!!!" Vanya berteriak kaget mendengar pengakuan Arditha. Tak ingin percaya tapi wajah Arditha tampak sangat serius.


"Jangan teriak-teriak, dengerin dulu," Arditha mengusap-usap telinganya yang berdengung karena teriakan Vanya. Suara gadis itu memang super kencang bak suporter bola yang menang adu finalti. Vanya hanya cengengesan melihat Arditha.


Arditha lalu melanjutkan ceritanya. Mulai dari awal hingga mereka menikah dan kejadian yang baru saja ia alami. Vanya hanya bisa menatap tak percaya pada sahabatnya yang ternyata dalam beberapa bulan ini mengalami banyak peristiwa yang menguras perasaan.


"Kamu sudah memikirkan baik-baik keputusanmu itu ?!"

__ADS_1


"Tentu saja aku sudah mantap, tak ada yang bisa diharapkan dengan tinggal bersama. Pria itu bisa hidup hingga saat ini karena masa lalunya. Dia tidak pernah berusaha untuk keluar dari zona nyamannya." Arditha menatap Vanya dengan tatapan meyakinkan.


"Lalu rencana selanjutnya ?!"


"Aku numpang dulu di rumahmu sampai ijazah kita keluar setelah itu aku berencana pindah ke kota lain melanjutkan kuliah atau bekerja. Pokoknya aku keluar dulu dari kota ini." Arditha tak ingin mengambil resiko jika Abimana mencarinya karena surat cerai yang ia titipkan pada salah seorangn ART.


"Gimana dengan tante Sherly ?!" Vanya sangat mengenal mama Sherly yang menyayangi putrinya walaupun terkadang omelannya sepanjang rel kereta api.


"Bang Kenan sudah mengurusnya, untuk sementara mama dibawa ke rumah nenek." Arditha memang gadis yang sangat cerdik. Jangkauan pikirannya terlalu jauh sehingga terkadang orang belum memikirkan namun Arditha sudah memikirkannya.


Vanya memeluk sahabatnya sebagai bentuk dukungannya. Ia bisa merasakan penderitaan Arditha selama ini. Menikah namun hanya sebuah status dan mengurus dua bocah sambil berjuang menyelesaikan ujian tutupnya. Lalu berakhir dengan kata-kata yang melukai harga diri perempuan. Sebagai sesama wanita Vanya mengutuk perbuatan pria itu.


"Oh ya, gimana dengan kak Pras ? Apa kamu sudah memutuskannya ?! Apa dia sudah tau pernikahanmu ?!" Vanya teringat kakak senior yang berhasil merebut hati Arditha.


"Makanya cerita supaya pertanyaanku gak banyak-banyak amat, " Vanya mulaimkesal,karena merasa Arditha sengaja mengulur waktu.


"Kami sudah putus tanpa harus mengatakan kata putus, semua berakhir dengan sendirinya."


"Haaa ?! Kok bisa sih ?!"


"Ya bisalah, apa sih yang gak bisa di jaman sekarang ?!" Arditha tersenyum kecut mengingat sosok Prasetyo Herlambang yang sempat ia perjuangkan.


Arditha lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Prasetyo Herlambang saat itu. Vanya sekali lagi menatap sahabatnya dengan rasa iba. Kecantikan dan kecerdasan bukan jaminan utama dalam kehidupan asmara seseorang. Para pria memang memiliki sifat yang aneh dan cenderung tak pernah puas dengan satu wanita saja.


"Aku jadi porno untuk jatuh cinta, takut kalau semua pria seperti kak Pras dan Pak Abi," Vanya bergidik ngeri membayangkan hal itu. Bukan tidak mustahil jika Kenan juga seperti mereka.

__ADS_1


"Abangku pengecualian lho, ya. Bang Kenan salah satu pria langka di dunia ini dan kamu akan sangat menyesal jika menolak cintanya," Arditha tanpa sadar mempromosikan sang abang. Macam sedang mempromosikan sebuah produk kecantikan.


"Aku bukan tipe gadis yang menyatakan cinta terlebih dahulu ya, walaupun cinta terkesan murahan pake banget, " Vanya memang tumbuh dan berkembang pada jaman millenial akan tetapi tradisi ketimurannya masih terjaga. Inilah yang membuat mereka akrab dan bersahabat hingga saat ini.


"Kamu pikir bang Kenan tipe pria yang suka dengan wanita yang tak memiliki rasa malu ? Abangku itu tipe pria pejuang jadi biarkan dia yang berjuang mendapatkan hatimu," Sejenak Arditha melupakan persoalan hidupnya. Ia sangat bersemangat membahas abangnya dengan sebala kebaikan dan kenaikan pria tampan itu.


Bahkan Arditha memiliki angan-angan jika kelak ia bertemu dengan seorang pria yang benar-benar mencintainya harapannya sama seperti sang abang.


"Oh ya Dith, kamu kan sudah menikah beberapa bulan nih, apa kamu dan pak presdir sudah nganu-nganu ?" Vanya menggaruk pipinya yang tak gatal. Ia sebenarnya malu untuk menanyakan hal-hal seperti itu namun rasa penasarannya yang tak terbendung membuatnya harus bertanya.


Bugggghhhh


Arditha melempar bantal kepala tepat mengenai wajah Vanya. Arditha tak pernah menyangka sahabatnya akan mempertanyakan sesuatu yang belum pernah terpikirkan olehnya. Arditha bukan anak bayi yang tak mengerti maksud sahabatnya.


" Jangan asal bertanya. Kami tidur aja terpisah, gimana mau melakukan apa yang dipikirkan oleh otak kotormu itu," Arditha mengomeli Vanya yang terkikik geli melihat ekspresi sahabatnya itu.


"Kali aja kalian khilaf," Otak Vanya masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi mengingat Abimana dan Arditha adalah pasangan yang sah.


"Dengarkan baik-baik ya, aku sangat menjaga diriku dari hal-hal yang tidak akan pernah kuberikan pada orang yang salah meskipun tak ada jaminan bahwa orang yang kita cintai adalah orang yang tepat untuk mendapatkan segalanya akan tetapi setidaknya ada rasa cinta dan bahagia saat menikah dan untuk pernikahan kami sejak awal hingga berakhir rasa itu tak ada diantara kami." Arditha benar-benar kesal pada sahabatnya yang tak puas dengan penjelasannya.


"Ya sudah, gak usah sewot nanti dapatnya duda lagi," Vanya terkekeh diakhir kalimatnya.


Arditha menatap tajam gadis cantik yang masih saja terkekeh bahkan semakin menjadi-jadi saat melihat tatapan tajam sahabatnya.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2