Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 67 》》 ENAK AJA NGAJAK ISTRI ORANG


__ADS_3

Vanya tertegun menatap sahabatnya, sungguh miris kisahnya. Dalam hati Vanya mengagumi ketegaran Arditha. Mungkin jika dirinya berada pada posisi sahabatnya itu, bisa dipastikan jika ia tak akan sanggup menanggung beban hidup seberat itu. Itulah makanya Vanya berpikir seribu kali untuk memperlihatkan rasa cintanya pada Kenan secara terang-terangan. Sahabatnya sungguh wanita luar biasa, kekecewaan dan sakit hatinya ia lampiaskan pada pendidikan.


"Jangan menatapku dengan iba, aku bukan gadis yang butuh belas kasihan." Arditha menatap kesal pada sahabatnya. Ia tahu Vanya pasti tak pernah menduga kisahnya sangat memilukan.


"Siapa yang iba ? Aku justru kagum padamu walaupun mengalami kejadian mengenaskan namun kamu berhasil dalam pendidikan bahkan kembali menjalin kehidupan rumah tangga dengan orang yang sama yang pernah menorehkan luka," Vanya tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis cantik itu.


"Apa kamu pikir saya tidak mau bercerai ? Aku sangat ingin melepaskan diri dari pria itu tapi dia yang tidak mau menandatangani surat cerai yang kuberikan. Lalu aku bisa apa, masa iya statusku gantung. Rugi dong tapi kalau menikah kembali dengannya setidaknya aku bisa mengumpulkan uang yang banyak dan benar-benar meninggalkannya jika dia melakukan sesuatu yang melanggar kesepakatan." Arditha tersenyum lebar melihat Vanya yang melotot sempurna.


"Hidup tanpa ada cinta ? Kamu bisa ?"


"Dari awal hingga saat ini gak ada rasa cinta, percayalah. Rasa cinta itu tak bisa dipaksakan dan tak ada yang tahu kapan rasa itu hadir." Arditha terlihat santai tanpa beban saat mengungkapkan tentang kehidupannya membuat Vanya kehabisan kata-kata. Vanya tak tahu harus berkata apa lagi.


Impian Arditha dimasa lalu tentang pernikahan dan cinta tak ada lagi dalam kamusnya. Sahabatnya yang dulu mengagung-agungkan cinta kini hilang tanpa bekas.


Vanya tak ingin lagi mendengar kisah pilu sahabatnya. Rasanya tak sanggup mendengar kisah yang sangat miris dan mengandung bawang menurutnya. Vanya dapat merasakan sakit yang dirasakan oleh gadis cantik itu. Ia akhirnya memilih melanjutkan pekerjaannya.


"Nya, permintaan beberapa perusahaan untuk mengaudit laporan mereka sudah mulai masuk nih, sebaiknya kita mulai merekrut beberapa karyawan untuk membantu kita," Arditha membaca beberapa surel yang masuk dan semua sama yaitu permintaan untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan mereka.


"Ok, aku akan mulai membuka informasi lowongan pekerjaan. Tapi yang seleksi mereka tugas kamu lho, ya." Vanya memang manusia paling malas kalau urusan yang mengharuskan berinteraksi dengan orang lain. Vanya lebih suka duduk di belakang meja. Hanya pada Arditha saja ia banyak bicara.


Arditha sibuk membalas surel yang masuk sementara Vanya pun mulai sibuk dengan pekerjaannya. Hingga jam istirahat keduanya tak menyadari sampai dua orang pria datang dan menghentikan mereka.

__ADS_1


"Dek, makan siang bareng yuk," Kenan tiba-tiba datang dan mengajak makan siang.


"Wihhh, tumben nih abang ganteng kesayangan ngajakin makan." Arditha tersenyum lebar seraya menggoda sang abang.


Abimana yang masuk secara bersamaan dengan Kenan mendelik tajam tak terima mendengar kata-kata memuji Arditha pada Kenan. Ia tak terima istrinya memuji pria lain didepannya meskipun abangnya sendiri.


"Enak aja ngajak istri orang. Kami sudah atur janji sejak bangun pagi. Nah ajak si Vanya aja, kalian kan sama-sama jomblo," Abimana menatap sinis sahabat sekaligus abang iparnya.


Mendengar ucapan Abimana sontak membuat otak Arditha bekerja dengan baik. Pucuk dicinta ulampun tiba, tadi Vanya sudah berjanji padanya untuk dicomblangin sama abangnya yang jomblo sejati. Janji adalah utang yang harus dibayar.


"Bener tuh, aku dan kak Abi ada urusan lain. Daripada abang makan siang sendiri dan digoda cewek-cewek alay mending sama Vanya yang cantik dan baik hati. Pokoknya ipar able dan menantu able banget. Mama pasti setuju tapi gak tahu sama om dan tante, takutnya abang bukan tipe mereka," Arditha terkikik geli melihat ekspresi abangnya. Senyuman malu-malu meongnya hilang berganti tatapan kesal mendengar akhir kalimat Arditha.


"Berantemnya nanti aja, keburu habis jam istirahat." Abimana menghentikan Kenan yang terlihat akan membalas ucapan sang adik. Jika dibiarkan kakak beradik itu tak akan berhenti berdebat hingga berakhir keduanya bergelut kayak anak TK yang rebutan mainan.


Walaupun kesal karena lagi-lagi Arditha memuji abangnya namun Abimana memilih diam. Ada saatnya nanti ia akan menegur istrinya. Keduanya terus melangkah menuju mobil yang terparkir tepat di depan pintu masuk kantor Arditha. Tak ada acara gandengan tangan seperti layaknya pasangan suami istri yang saling mencintai.


"Mau makan dimana ?" Abimana membuka pembicaraan setelah beberapa saat mereka berada di dalam mobil dan tak ada 6qng bersuara.


"Dimana saja, kan ditraktir. " Arditha menatap Abimana sambil tersenyum. Tatapan keduanya bertemu dan buru-buru memutuskan aksi tatap-tatapannya karena sedang dijalan raya. Tanpa mereka sadari jantung keduanya berdetak lebih kencang dari biasanya.


Keduanya sibuk menetralkan detak jantungnya. Tak ada yang bersuara diantara mereka hingga perlahan Abimana membelokkan mobilnya memasuki sebuah restoran yang cukup ramai, mungkin karena bertepatan dengan makan siang sehingga para pencari rejeki memenuhi restoran tersebut.

__ADS_1


Abimana memarkir mobilnya lalu keduanya turun bersamaan. Sambil berjalan berdampingan mereka memasuki restoran dan mencari tempat yang kosong. Agak susah mencarinya karena memang sedang banyak-banyaknya pengunjung.


"Kita pakai ruangan VIP aja ya," Abimana menatap Arditha menunggu persetujuan. Sekali lagi Arditha mengedarkan pandangannya berharap menemukan tempat kosong. Rasanya akan sangat canggung jika mereka hanya berdua di ruangan VIP.


"Boleh deh, aku juga lapar banget, gara-gara bang Kenan." Arditha akhirnya harus menerima keadaan. Perutnya sudah mulai perih akibat berdebat dengan bang Kenan.


Abimana tanpa sadar terkekeh mendengar ucapan Arditha. Padahal gadis itu yang banyak bicara tapi tetap saja Kenan yang disalahkan. Arditha menatap bingung pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Sejenak ia terpesona melihat ketampanan suaminya saat tertawa.


"Silahkan pak, bu, lewat sini, " Seorang pelayan menunjukkan jalan menuju ruangan VIP yang dipesan oleh Abimana.


Pasangan suami istri itu mengikuti pelayan tersebut melewati beberapa meja yang dipenuhi oleh para pengunjung. Arditha dan Abimana cukup menarik perhatian karena kecantikan dan ketampanan yang diatas rata-rata terlihat sangat serasi. Hingga sepasang mata menatap Arditha tanpa berkedip. Mata yang sama dan tatapan yang sama pula.


Pelayan pria itu lalu membuka pintu untuk mereka setelah tiba di depan ruangan yang dipesan oleh Abimana. Keduanya lalu masuk dan duduk sementara pelayan tersebut menunggu pasangan tersebut yang masih membaca satu per satu menu yang tertera dibuku.


🌷🌷🌷🌷


Selamat malam semuanya,,,


Maaf upnya super duper telat ,,,


Terima kasih sudah menunggu dengan setia.

__ADS_1


Oh ya jangan lupa mampir dan beri dukungan buat karyaku yang baru ya judulnya "MASA LALU YANG TAK USAI "


__ADS_2