Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 45 》》DITHA GAK IKUT ?!


__ADS_3

Rasa bahagia sekaligus sedih mengiringi langkah Abimana menuju ruang UGD dimana putri kecilnya berada. Mama Kalisha dan papa Kuncoro menatap pria itu dengan tatapan yang tak terbaca. Melihat putranya datang seorang diri membuat pasangan paruh baya itu bertanya-tanya. Abimana mengabaikan tatapan mama dan papanya. Kondisi putrinya lebih penting untuk saat ini.


"Gimana keadaan Ilha, ma ?" Abimana menatap maa Klaisha yang juga sedang menatapnya.


"Sudah siuman, Ditha gak ikut ?" Mama Kalisha tak busa menahan diri untuk tidak bertanya tentang keberadaan menantunya.


Abimana tak menjawab pertanyaan mama Kalisha, ia memilih menemui putrinya terlebih dahulu. Mama Kalisha dan papa Kuncoro hanya bisa saling bertukar pandang.


"Kendalikan diri ma, tunggulah hingga putra kita siap bercerita," Papa Kuncoro mengusap lembut punggung mama Kalisha.


Di dalam ruangan Abimana menatap putri kecilnya dengan haru, seharian gadis kecil itu tak sadarkan diri sehingga membuatnya gelap mata dan menumpahkan kesedihan dan kekesalannya pada Arditha. Gadis yang sebenarnya tak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan itu.


"Hai cantik, apa kabar ?!" Abimana tersenyum menghilangkan kesan sedih di wajahnya.


Gadis kecil itu belum mampu berbicara, hanya sudut bibirnya tertarik menghiasi wajahnya yang masih pucat. Abimana mencium pucuk kepala putrinya yang sebagian kepalanya terlilit perban.


"Gak lama lagi dek Ilha akan dipindahkan ke ruang perawatan, ada opa dan oma serta ayah yang akan temani Ilha, kalau mama jagain bang Sheno yang sedang sakit," Dalam hati Abimana menangis melihat kondisi mengenaskan putrinya. Untuk pertama kalinya gadis kecil itu terlihat sangat menderita dan Abimana takmtahan melihat penderitaan putrinya.


Tak lama kemudian mata Arbilha kembali terpejam, mungkin karena masih pengaruh obat. Abimana menggunakan kesempatan itu untuk menemui kedua orang tuanya.


"Ma, pa, aku ingin bicara mengenai Arditha," Abimana menatap mama dan papanya secara bergantian.


"Ada apa dengan Arditha ?!" Mama Kalisha tak dapat menahan diri untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya. Sejak tadi ia sudah berusaha menahan diri untuk tidak menyerbu putranya dengan berbagai pertanyaan.


"Dia pergi dan meninggalkan surat cerai untukku." Kini mata Abimana menatap lurus ke depan. Hampa dan sakit dalam da** semakin terasa.

__ADS_1


"Bicara yang jelas, Bi. Jangan buat kami penasaran dan menebak-nebak," Suara papa Kuncoro sedikit keras karena menahan amarah. Ucapan Abimana sukses memancing emosi pria paruh baya itu.


"Aku juga gak ngerti pa, ketika aku pulang gadis itu sudah tidak ada dan Lia memberikan map yang dititip oleh Arditha,"


"Tungggu !! Kamu menyebut Arditha, gadis itu ??" Mama Kalisha menatap menyelidik pada Abimana.


"Kalian belum pernah bersama ? Atau kamu masih tidur bersama foto-foto Sheila ? Kamu benar-benar gak tahu diri, pantas saja Arditha meninggalkanmu tanpa pikir panjang !!" Papa Kuncoro menyarkas putra tunggalnya tanpa perasaan.


Abimana hanya diam membisu mendengar kata-kata pedas sang papa. Abimana tak menyangkal apa yang dikatakan oleh papa Kuncoro membuat emosi mama Kalisha memuncak.


Plaaakkkk


"Dasar pria tak tahu diri !! Kamu pikir anak-anakmu akan menerima wanita lain dalam hidup mereka ? Hanya Arditha yang akan tetap menjadi mama mereka pun begitu dengan mama, hanya gadis itu yang akan menjadi menantu dalam keluarga kita !! Mama gak mau tahu, pokoknya cari menantu mama sampai ketemu !! Ingat jangan pernah menemui kami sebelum menemukan Arditha !!"


"Selama kamu mencari keberadaan Arditha, carilah alasan yang bisa diterima oleh anak-anakmu. Biarkan mereka bersama kami hingga mama mereka ditemukan." Suara dingin mama Kalisha menandakan jika wanita paruh baya itu benar-benar murka pada Abimana.


Mama Kalisha bertekad akan mengembalikan kehidupan normal putra tunggalnya. Jika pria itu masih hidup dalam bayang-bayang masa lalunya maka kehidupan pernikahan ayah dua anak itu tak akan pernah bisa bahagia. Mama Kalisha masih memikirkan cara agar Abimana melepaskan masa lalunya dengan sukarela.


Sementara itu Vanya mengajak Arditha ke taman belakang rumahnya yang dipenuhi dengan berbagai macam jenis bunga. Ia tak ingin sedikit menghibur sahabatnya.


"Waahhh, bagus banget, Nya". Mata Arditha berbinar melihat bunga-bunga bermekaran.


"Iyalah, mamaku kan pecinta bunga ,". Vanya dengan bangga memamerkan hobby mamanya yang meskipun sibuk namun masih sempat merawat bunganya.


Mama Vanya adalah seorang desianer yang memiliki butik khusus untuk kalangan atas. Hasil rancangannya selalu berhasil menarik perhatian kaum sosialita yang tak segan-segan merokok koceknya hanya untuk memenuhi fashion mereka. Sedangkan papanya telah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. Vanya dan Arditha sama-sama dibesarkan oleh seorang wanita tangguh yang membedakan adalah Vanya seorang anak tunggal sedangkan Arditha memiliki Kenan yang selalu melindunginya.

__ADS_1


"Dith, aku ingin bertanya tapi kamu harus jawab dengan jujur, ok ?!" Vanya mendudukkan b0k*nanya di sebuah kursi taman dan diikuti oleh Arditha.


Hari semakin beranjak sore, matahari perlahan menyembunyikan diri dan tak lama lagi bulan akan menguasai malam.


"Tanya aja asal jangan soal kak Pras karena pria itu sudah hilang dari hatiku," Arditha memang tak lagi memiliki getaran saat menyebut nama pria itu. Saat ia mengetahui yang sebenarnya maka saat itupula nama Prasetyo Herlambang hilang dari dalam hatinya bagaikan debu tertiup angin. Hilang tak berbekas.


"Jantungmu sama sekali gak berdetak selama menikah dengan pak Abi ?!" Vanya menatap manik mata sahabatnya.


"Ck, pertanyaanmu kayak anak kecil. Jantungku pasti berdetaklah kalau gak berarti aku mati dong," Arditha terkekeh seraya menoyor kepala sahabatnya. Sebenarnya Arditha tahu maksud pertanyaan Vanya hanya saja pemilihan katanya terlalu umum. Dari segi bahasa memang Vanya terkadang terdengar tak biasa dan hanya Arditha yang bisa mengerti.


"Maksudku bukan gitu, Didith, kamu tuh sudah otw janda masih saja suka ngomong asal," Vanya merenggut kesal padahal dia sendiri yang ngomong asal.


"Hehehe, sorry nona cantik," Arditha menoel dagu sahabatnya.


"Ayo dong, jawab pertanyaanku. Jujur aja napa, susah banget. Padahal jujur itu bagus lho,"


Arditha menatap wajah sahabatnya sedikit lebih lama sebelum akhirnya ia menarik napas panjang kemudian berubah serius.


"Saat pertama kali pak Abi menyentuh tanganku, jantungku berdegup kencang tapi detaknya berbeda ketika aku ditembak kak Pras." Arditha mengingat kala Abimana dengan lantangnya mengucapkan ijab qabul atas namanya.


"Dan sekarang ?" Vanya masih belum puas mendengar penjelasan Arditha. Bagi Vanya semua harus diketahuinya. Mereka sahabat dan tak baik jika ada yang dirahasiakan diantara mereka.


"Sekarang gak lagi, Nya. Bukankah aku sudah diusir ? Apalagi pak Abi masih sangat mencintai almarhumah istrinya. Masa iya aku ada diantara mereka ? Mending kalau bersaing dengan gadis lain, lha ini aku harus bersaing dengan orang mati dimana harga diriku sebagai seorang gadis yang kecantikannya paripurna, pintar pula," Arditha mengangkat dagunya sehingga terlihat jumawa.


"Eit jangan lupakan, cantik, pintar dan licik," Tawa Vanya seketika meledak. Sebenarnya Arditha bukannya licik hanya saja terkadang kejahilannya mampu membuat lawan tak berkutik bahkan terlalu sering membuat orang lain terjebak dengan kata-kata maupun perbuatannya sendiri. Makanya Arditha diberi gelar Si Gadis Panjang Akal olehteman-teman sejurusannya.

__ADS_1


Kedua gadis itu asyik bercerita ngalor ngidul hingga matahari benar-benar beristirahat dibalik peraduannya. Lampu tamanpun sudah dinyalakan. Suara adzan magribpun terdengar sayup-sayup karena letak mesjid lumayan jauh dari rumah Vanya, Tanpa dikomando, keduanya kompak berdiri dan kembali ke dalam rumah untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslimah.


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2