
Taksi yang membawa Arditha kurang lebih dua jam akhirnya berhenti di depan pagar sebuah rumah model minimalis. Kalau saja tidak macet tentu Arditha bisa tiba lebih awal. Halaman rumahnya pun tak banyak yang berubah, berbagai jenis bunga masih terlihat terawat dengan baik. Arditha tersenyum membayangkan ekspresi kaget mama Sherly saat melihatnya.
"Maaf mbak, mau ketemu siapa ?" Sebuah suara menghentikan lamunan Arditha. Seorang wanita dewasa menegurnya dengan tatapan penuh selidik.
"Aku bukan mau ketemu siapa-siapa mbak, tapi mau masuk dan tinggal di dalam rumah itu." Arditha menjawab apa adanya. Sejujurnya ada rasa kesal melihat tatapan wanita yang belum ia ketahui namanya. Pun begitu Arditha tak bisa menyalahkan wanita tersebut karena ia baru kembali setelah lebih dari setahun.
Wanita dewasa itu tampak bingung mendengar ucapan Arditha. Tanpa persetujuan wanita itu, Arditha segera mendorong pagar yang ternyata tidak dikunci. Dengan anggun Arditha melangkah menuju pintu utama rumah tersebut. Wanita itu lalu mengunci pagar dan berlari mengikuti Arditha.
"Assalamualaikum ma, aku pulang !!!" Teriakan menggelegar Arditha membuat mama Sherly memasang telinga baik-baik. Ia tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Mungkin karena ia terlalu merindukan putrinya sehingga suara Arditha mempengaruhi ruang dengarnya.
"Ma !! Mama !! Putri cantikmu pulang !!! Arditha terus berteriak memanggil sang mama sehingga mama Sherly kini yakin dengan pendengarannya. Hanya Arditha yang selalu berteriak seperti itu.
Walaupun masih lemah karena beberapa bulan terakhir ini kondisinya kurang fit, mama Sherly keluar kamar untuk menyambut kedatangan putri bungsunya. Sementara wanita yang membuntuti Arditha sejak tadi terdiam mendengar teriakan Arditha.
Ceklek
Pintu kamar mama Sherly terbuka dan menampilkan wajah wanita paruh baya yang terlihat pucat. Arditha terkejut melihat kondisi mama Sherly yang kurus dan tak bersemangat.
"Sayang, akhirnya kamu pulang." Mama Sherly memeluk erat Arditha seolah tak ingin melepaskannya.
__ADS_1
"Maafkan Ditha, ma ,,," Arditha tak dapat menahan tangis melihat fisik sang mama yang kurus. Rasa bersalah menyeruak memenuhi rongga d**anya karena meninggalkan mamanya begitu saja. Arditha menyesal telah berlaku egois pada sang mama.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, sayang. Mama memang sudah tak muda lagi jadi wajarlah jika mulai sakit-sakitan. Yang terpenting sekarang kamu sudah pulang." Mama Sherly tersenyum bijak. Sejak Arditha meninggalkan tanah air, mama Sherly tak pernah menyalahkan putrinya. Justru dirinyalah yang merasa sangat bersalah karena ngotot menikahkan putrinya.
"Dewi, tolong siapkan makanan untuk putriku," Suara mama Sherly membuat wanita yang selama ini menemaninya seketika beranjak dari tempatnya berdiri.
Arditha menggandeng tangan mama Sherly duduk di sofa ruang keluarga. Kopernya sengaja di letakkan begitu saja. Menaiki anak tangga satu per satu butuh perjuangan jika harus membawa koper segede gaban. Arditha masih ingin bersama mama Sherly untuk melepas rasa kangennya.
Ibu dan anak itu larut dalam cerita yang selama ini tak sempat mereka lalui bersama. Meskipun hubungan mereka selama ini via telepon namun mereka hanya bercerita seperlunya saja. Dan kini berbeda cerita karena sudah berhadapan langsung. Hingga suara Dewi menghentikan cerita mereka.
"Bu, makanannya sudah siap," Dewi menundukkan pandangannya saat berbicara pada mama Sherly.
"Aku telepon bang Kenan dulu, ma."
Tak ingin mendebat sang mama, akhirnya Arditha menurut dan mengikuti langkah kaki mama Sherly. Melihat makanan khas rumahan, perut Arditha tak dapat diajak kompromi. Dengan semangat 45 Arditha mengisi piringnya dengan berbagai macam lauk yang terhidang.
"Lho nasibnya kok sedikit ?!" Mama Sherly memperhatikan isi piring Arditha yang hanya dipenuhi lauk.
"Lagi diet ma, sekarang bukan jamannya gadis gendut, akan susah cari jodoh. Cowok-Cowok jaman sekarang lebih memilih gadis langsing." Arditha mulai menyantap makanannya tanpa memperdulikan tatapan protes sang mama.
__ADS_1
"Kamu tuh bukannya langsing, Dith tapi kerempeng." Mama Sherly tak mau kalah. Menurutnya Arditha sudah sangat kurus.
Arditha tak menimpali kata-kata mama Sherly. Ia tak ingin memperpanjang pembicaraan soal bentuk tubuhnya. Hari pertama kepulangannya harus membuat bahagia sang mama. Selesai dengan urusan perut, mama Sherly dan Arditha kembali ke ruang keluarga. Mama Sherly yang biasanya selalu mengurung diri di kamar kini tak lagi berniat masuk ke kamar.
"Ma, boleh kan aku bantu-bantu abang di perusahaan ?!" Arditha ingin mencoba bekerja sebelum menemukan tempat yang tepat untuk memulai usahanya.
Sejak dulu Arditha sangat ingin mendirikan kantor akuntan. Ia melihat perkembangan dunia bisnis di Indonesia sangat pesat dan pasti mereka akan membutuhkan jasa seorang akuntan untuk memeriksa laporan keuangan perusahaan mereka.
"Tentu saja boleh, sayang. Perusahaan itu milik kalian berdua."
"Hanya sementara kok ma, sambil mengurus ijin buka kantor sendiri," Arditha sekaligus mengungkapkan keinginannya yang terpendam.
"Kamu ingin buka usaha juga ?!" Mama Sherly menatap serius wajah cantik putri bungsunya.
"Bukan usaha ma, tapi kantor. Aku dan Vanya akan bekerjasama membuka kantor akuntan. Dan abang harus menjadi klien pertamaku,"
Mama Sherly hanya bisa pasrah mendengar keinginan putrinya itu. Ia tak akan berkomentar apapun yang mungkin saja bisa merusak perasaan putri bungsunya. Rasa bersalahnya atas kegagalan pernikahan putrinya sudah cukup. Mama Sherly tak ingin lagi membuat kesalahan. Yang penting baginya saat ini adalah putrinya sudah kembali bersamanya, apalagi terlihat Arditha sangat menikmati hidupnya tanpa terbebani dengan kegagalan pernikahannya.
Usia muda memang penuh dengan gejolak dan keinginan, mungkin inilah saatnya putri bungsunya mencari kebahagiaan dalam hidupnya. Beruntung bagi mama Sherly karena memiliki putri sekuat Arditha yang tak pernah mencari pelampiasan kekecewaannya dengan melakukan hal-hal yang menyimpang dari aturan dan norma yang ada dalam masyarakat.
__ADS_1
Sebagai orang tua, mama Sherly hanya bisa berharap suatu saat Arditha menemukan pendamping yang bisa membahagiakan putrinya itu. Mama Sherly tak akan pernah mempersoalkan status sosial pria pilihan Arditha kelak. Siapapun yang dipilih oleh putri bungsunya pasti mama Sherly mendukungnya.
🌷🌷🌷🌷