
Kini pasangan suami istri itu menikmati makan siangnya hingga tuntas. Setelah urusan perut beres, Arditha dan Abimana keluar ruangan dan kembali melewati jalan yang sama saat mereka memasuki restoran tersebut.
"Dith, Ditha !!" Teriakan seseorang menghentikan langkah keduanya. Arditha membalikkan badannya pun sama dengan Abimana yang penasaran dengan seseorang yang memanggil istrinya.
"Pras ??!!" Arditha menatap pria masa lalu yang menghampirinya. Perlahan ia merapatkan tubuhnya pada Abimana yang berdiri agak jauh darinya.
"Aku mencarimu setahun ini, Dith. Akhirnya Tuhan menjawab doa-doaku," Prasetyo menatap Arditha dengan mata berbinar. Prasetyo tak menyadari tatapan tajam pria yang berdiri tepat di samping Arditha.
"Ada keperluan apa kak Pras mencariku ?!" Arditha menatap datar wajah yang pernah menghiasi hari-harinya.
"Aku ingin meluruskan kesalahpahaman yang pernah terjadi diantara kita,"
"Maaf kak, aku lupa memperkenalkan. Kenalkan suamiku, dia CEO PT. Bhi_Lha namanya Abimana." Tanpa berpikir panjang, Arditha memeluk dengan mesra Abimana, daripada diganggu oleh Prasetyo lebih baik dia memperbaiki hubungannya dengan Abimana.
Abimana mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah namun Prasetyo hanya menatap tangan Abimana. Bagaikan disambar petir di siang bolong Prasetyo seketika lemas, ia berharap Arditha masih sendiri dan memiliki kesempatan kedua.
"Kamu gak serius kan ?!" Prasetyo masih berusaha menyangkal kenyataan di depan mata.
"Apanya yang gak serius ?!" Abimana menatap tajam Prasetyo. Ia tak dapat lagi menyembunyikan kemarahannya pada pria yang terus menatap istrinya.
Abimana lalu memeluk erat pinggang ramping sang istri. Untuk pertama kalinya ia memeluk istrinya. Dengan tatapan super lembut disertai senyuman dibibir, Abimana semakin mempererat pelukannya.
"Maaf kak, kami duluan," Arditha memutuskan untuk segera berlalu dari hadapan Prasetyo, pria yang dulu ia kqgumi dan cintai segenap hati.
Tanpa menunggu persetujuan pria yang masih menatapnya lekat-lekat, Arditha menarik tangan Abimana tanpa berusaha melepaskan pelukan possesif pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Hingga mereka tiba di parkiran, tangan Abimana masih pada posisi yang sama.
__ADS_1
"Tangannya dikondisikan, kak !" Arditha melepaskan tangan Abimana dengan sedikit kasar membuat sang pemilik tangan mendelik kasar. Keduanya lalu masuk ke dalam mobil.
Masih dengan wajah kurang enak dipandang, Abimana melajukan mobilnya menuju tujuan selanjutnya. Entah mengapa Abimana merasa dongkol bin kesal setelah pertemuan secara tak sengaja dengan pria yang ia yakini adalah mantan kekasih istrinya. Padahal Arditha sama sekali tak menampakkan wajah cerianya saat pertemuan mereka tadi.
Akhirnya mobil yang dikendarai Abimana memasuki sebuah kompleks perumahan elite. Tak begitu jauh dari pintu gerbang Abimana menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah besar nan mewah. Lalu keduanya turun secara bersamaan. Sejak awal menikah Arditha tak pernah membiarkan Abimana membukakan pintu mobil untuknya karena menurutnya hal itu adalah perlakuan suami yang mencintai istrinya dan mereka tidak dalam kondisi seperti itu.
"Ini rumahnya ? Terlalu besar untuk kita berempat, kak." Arditha menatap datar rumah tersebut. Bukannya tak suka atau bersyukur akan memiliki rumah impian semua orang namun besarnya rumah tersebut akan membuat ia dan kedua anak sambungnya akan jarang bertemu. Apalagi jika pekerjaannya di kantor menumpuk.
"Honey, ubah panggilanmu padaku, terdengar seperti sedang memanggil mantan pacar," Abimana mendengus kasar meninggalkan Arditha yang berdiri bengong. Sejak awal ia memanggil pria itu dengan sebutan kakak namun mengapa baru detik ini protesnya ?
Arditha hanya mengangkat kedua bahunya lalu mengikuti Abimana memasuki rumah yang akan mereka tinggali. Semakin ke dalam Arditha semakin tak yakin akan menempati rumah tersebut. Ia sudah membayangkan ART akan lebih banyak dibanding majikan.
"Kak, rumah ini belum dibayar kan ?" Arditha mengedarkan pandangannya. Rumah yang hanya dua lantai namun panjang dan lebarnya membuat Arditha menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Tiba-tiba Arditha sudah berada dalam pelukan Abimana, Sejak tadi ia sudah meminta agar Arditha tak memanggilnya kak atau kakak namun sepertinya istrinya terlalu keras kepala dan bandel sehingga Abimana memutuskan untuk memperjelas keinginannya.
"Apa salahnya memeluk istri sendiri ? Aku kan sudah bilang jangan memanggilku kakak, kita suami istri bukan mantan pacar !!" Abimana benar-benar merasa kesal dan tak dapat lagi mengontrol dirinya.
"Memang gak salah tapi gak kayak gini juga !!" Arditha pun tk kalah kesalnya dengan kelakuan pria labil itu.
Sedewasa-dewasanya seorang pria jika sedang kesal karena merasa disamakan dengan mantan dapat membuatnya bertingkah layaknya remaja labil.
"Berjanji dulu untuk tidak memanggilku kakak." Abimana tak melepaskan pelukannya yang terasa sangat nyaman dan menenangkan jiwa raganya.
"Baiklah aku berjanji." Arditha terpaksa mengiyakan permintaan pria itu. Meskipun sebenarnya ia belum memiliki panggilan yang tepat untuk pria yang telah menikahinya itu namun yang terpenting lepas dulu dari pelukan pria itu.
__ADS_1
Arditha merasakan detak jantungnya dan detak jantung Abimana seirama. Keduanya menyadari hal itu sehingga mereka hanya bisa berpandangan dengan sejuta makna. Tak ada yang bersuara diantara mereka, hingga akhirnya terdengar halaman napas panjang Arditha.
"Rumah ini terlalu besar buat kita, sebaiknya beli rumah yang agak kecil aja," Suara Arditha memutuskan tatapan Abimana.
"Mungkin sekarang terlalu besar, tapi jika kita memiliki beberapa adik Sheno dan Arbilha maka rumah ini akan terasa kecil, honey." Abimana ngotot tetap akan menempati rumah tersebut. Ia memiliki rencana sendiri tentang kehidupan keluarganya kelak.
Wajah Arditha memerah mendengar kata-kata Abimana. Itu artinya ia dan pria itu akan berkembang biak. Sesuatu yang belum terpikirkan hingga saat ini.
"Keinginanku gak aneh, memang itulah salah satu tujuan sebuah pernikahan," Abimana berbisik tepat di telinga Arditha, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya itu.
"Ck, bukan seperti itu," Arditha semakin merona dan Abimana semakin gencar menggoda sang istri.
"Jangan khawatir, semua akan kita mulai saat keluarga kita menempati rumah masa depan kita ini," Abimana tersenyum misterius dan semakin berani menge**p pipi Arditha yang kini semakin memerah.
Abimana menyadari satu hal bahwa ia sudah maju beberapa langkah dalam menaklukkan hati sang istri. Sedikit lagi ia akan benar-benar memiliki istrinya secara utuh. Sejuta harapan dan keinginan Abimana dalam pernikahannya. Tanpa Abimana sadari nama almarhumah Sheila sudah bergeser dan menempati tempat yang seharusnya.
Belum terlambat baginya untuk memulai hidup barunya bersama Arditha dan kedua anaknya buah cintanya bersama Sheila.
"Aku mencintamu dengan segenap rasa yang kumiliki. Kuharap rumah kita ini dipenuhi cinta dan kasih sayang sehingga anak-anak kelak hidup saling menyayangi walaupun dua diantaranya tidak lahir dari rahimmu," Abimana memeluk mesra sang istri.
Arditha hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ia tak tahu harus berkata apa karena dirinya sendiri belum yakin dengan apa yang dirasakannya saat ini. Arditha bukan tipe gadis yang gampang berjanji sebelum yakin akan dirinya sendiri.
🌷🌷🌷🌷
Selamat pagi semua
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga di karyaku yang terbaru " MASA LALU YANG TAK USAI "
Terima kasih atas dukungannya selama ini