Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 83 》》AKU LEBIH TAMPAN


__ADS_3

Ardita tak menyapa saudara mama Sherly. Ia dan tante Marisa memang tak pernah akur. Arditha selalu berusaha menghindari berinteraksi dengan tante Marisa yang selalu mencari-cari kesalahannya.


"Assalamualaikum ma," Sapa Arditha memeluk mama Kalisha. Mama mertua terbaik yang ada di dunia ini.


"Waalaikumsalam sayang, temui suami dan anak-anakmu gih diluar," Mama Kalisha membalas pelukan hangat menantu kesayangannya seraya berbisik. Diam-diam Arditha meringis menahan malu pada sang mama mertua.


Arditha tersenyum lalu keluar mencari suami dan kedua anaknya. Ia harus menyelesaikan permasalahan antara dirinya dengan sang suami. Selama tiga hari merenung membuatnya sadar bahwa dalam sebuah pernikahan harus saling menurunkan ego dan membicarakan semua hal dari hati ke hati. Ada dua orang anak yang sangat membutuhkan sebuah keluarga lengkap dan penuh dengan kasih sayang. Arditha tak ingin egois dan mengorbankan kedua anak yang tak bersalah.


Abimana yang tak sengaja melihat bayangan wanita cantik yang kini telah menguasai hatinya berjalan kearahnya. Abimana menahan diri untuk tidak berlari memeluk Arditha. Ia lebih baik menunggu wanitanya mendekat, para tetangga sudah mulai berdatangan. Abimana tak ingin menjadi pusat perhatian.


"Hai anak-anak, kalian merindukan mama ?" Arditha menyapa kedua anaknya sambil merentangkan kedua tangannya.


Pria dewasa yang sedang bersama kedua anaknya tersebut mendengus kasar. Bukannya ayah anak-anaknya yang disapa terlebih dahulu tapi malah kedua anaknya. Papa Kuncoro tak dapat menahan tawa melihat putranya tunggalnya yang nampak kesal sendiri.


"Apa kabar pa," Tawa papa Kuncoro berhasil meraih perhatian Arditha. Wanita muda itu lalu berjalan dan duduk di samping sang papa mertua.


"Alhamdulillah, papa sehat. Kok suaminya gak disapa ? Kasihan tuh sejak kemarin menahan rindu," Papa Kuncoro masih terkekeh sengaja menggoda putranya.


Arditha hanya tersenyum sebagai balasannya. Arditha mengalihkan tatapannya pada Abimana yang juga sedang menatapnya. Perlahan Arditha kembali berdiri lalu mendekati Abimana dan langsung memeluknya tanpa memperdulikan tatapan tamu yang juga sedang duduk.


Mendapat pelukan dari sang istri tentu saja membuat Abimana terkejut sekaligus bahagia. Selama ini Arditha tak pernah berinisiatif memeluknya tapi pagi ini tindakan sang istri sungguh diluar nalar. Dengan tersenyum Abimana tentu saja membalas pelukan sang istri.

__ADS_1


"Kamu gak marah lagi kan, mas ?!" Arditha masih memeluk Abimana. Sejujurnya ia merindukan aroma maskulin pria itu.


"Mas gak marah honey, hanya sedikit kecewa karena kamu gak memikirkan akibat perbuatanmu," Abimana sedikit melontarkan pelukannya. Ia ingin menatap wajah cantik sang istri yang selama tiga hari ini benar-benar menghilang bak ditelan bumi.


"Maafkan aku mas," Arditha menatap sendu Abimana yang sedang tersenyum padanya.


"Nanti kita bicarakan ya, hari ini adalah hari bahagia Kenan. Oh ya, ngomong-ngomong hadiah apa yang akan kamu berikan pada kedua mempelai ?!" Abimana mengalihkan pembicaraan, ia melihat tante Marisa sedang berjalan kearah mereka. Bahaya jika saudara mama mertuanya itu tahu permasalahan antara dirinya dan Arditha.


Arditha terdiam dan hanya menatap Abimana dengan perasaan campur aduk. Merasa ditatap oleh sang istri, Abimana membalas tatapan wanitanya seraya tersenyum menenangkan. Ia seolah tahu perasaan Arditha.


"Otak besarmu ini jangan dibebani dengan pikiran aneh-aneh, lebih baik kita temui Kenan sebelum ke rumah mempelai wanita." Abimana menarik tangan Arditha dengan lembut. Kedua anak mereka pun tak ingin ketinggalan dan tak ingin berpisah dengan mamanya.


Arditha dan Abimana berjalan berdampingan dengan kedua anak mereka terlihat layaknya sebuah keluarga bahagia. Mama Sherly dan mama Kalisha ikut tersenyum melihat kedatangan mereka. Mungkin hanya tante Marisa yang menatap mereka datar tanpa senyum.


Entah apa yang menyebabkan adik mama Sherly demikian tak menyukai Arditha padahal Arditha selalu menjaga jarak dari tantenya yang satu ini karena ia menyadari jika dirinya bukanlah orang sabar yang bisa menerima setiap kata-kata tak enak ditelinganya.


"Ternyata om Kenan tampan juga ya," Celetuk Arditha saat mereka telah berdiri di depan calon mempelai pria. Arbilha yang mendengar celetukan sang mama mengangguk mengiyakan.


"Aku lebih tampan ma, masih muda juga." Arsheno mengangkat dagunya narsis. Abimana yang tadinya kesal mendengar sang istri memuji pria lain di depannya kini tergelak melihat betapa narsisnya putra sulungnya.


Kenan mendelik tajam mendengar ucapan pria kecil itu. Sementara mama Kalisha yang duduk tak jauh dari mereka tersenyum simpul. Cucu sulungnya itu benar-benar jiplakan Abimana. Bukan hanya wajahnya yang sama persis namun tingkah laku Arsheno pun mengingatkan mama Kalisha pada Abimana kecil.

__ADS_1


"Astaga boy, kemana-mana om Kenan lebih tampan buktinya hari ini om akan menikah," Kenan menatap dengan tatapan remeh pada pria kecil di depannya. Terkadang pria dewasa ini berkelakuan bak anak kecil saat sedang berbicara dengan Arsheno.


"Tapi terlambat bahkan om Kenan nyaris gak laku," Kali ini suara lembut Arbilha yang terdengar. Rupanya kedua kakak beradik itu saling mendukung.


"Bener, ayah saja sudah punya kami yang sudah besar dan bentar lagi kami punya adik tapi om Kenan bahkan belum punya anak sama sekali. Ayah kami lebih hebat dari om Kenan." Arsheno tak tanggung-tanggung membullying calon mempelai pria.


Arditha hanya bisa tersenyum kikuk mendengar ucapan pria kecil penyebab ia terjebak dalam kehidupan sahabat abangnya. Ia tak menyangka Arsheno dengan fasihnya menyebut kata adik.


"Sudah, sudah, jangan diteruskan. Kita kesini mau mengucapkan selamat berbahagia buat om Kenan bukan untuk membuat moodnya rusak. Kasihan tante Vanya nanti malam akan menjadi pelampiasan kekesalan om Kenan," Abimana melerai kedua anaknya yang tak pernah bosan berdebat dengan Kenan.


"Mas, jangan kotori otak anak-anak dengan bahasamu yang gak jelas, " Arditha menatap tajam Abimana yang hanya cengengesan menyadari kesalahannya.


"Memang gitu suamimu kalau tiga hari gak dapat jatah akhirnya ngomongnya suka asal gak kekontrol, " Kenan memanfaatkan kesempatan m3lampiaskan kekesalannya pada kedua bocah yang ngomongnya lebih dewasa daripada orang dewasa.


"Kalian bahas apa sih sejak tadi ? Bersiaplah bentar lagi kita berangkat." Mama Sherly mendekati mereka sambil tersenyum. Kebahagiaan seorang ibu yang melihat anak-anaknya menuju gerbang kebahagiaan.


Meskipun ada setitik rasa bersalah pada sang putri yang menikah dengan sederhana. Sungguh mama Sherly tak tahu bagaimana cara meminta maaf pada putri bungsunya. Arditha memang tak pernah mempermasalahkannya namun siapa yang tahu dalam hati wanita muda itu.


Arditha dan Abimana lalu beranjak dari hadapan Kenan diikuti oleh kedua anak mereka. Dengan sigap Abimana merangkul pinggang Arditha seolah ingin menegaskan jika mereka adalah pasangan yang bahagia.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2