
"Oh ya, besok kakak gak bisa temani bermain karena kakak harus ke kampus mengurus sesuatu mungkin sampai sore. Kalian gak apa-apa kan seharian ditemani mbak Mina ?" Ucapan Arditha membuat Abimana tersentak. Sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat dipelupuk matanya.
"Ngapain ke kampus ? Dua hari lagi masa magangmu berakhir, jangan sampai nilaimu jelek hanya karena kehadiran gak memenuhi syarat." Abimana tak setuju jika Arditha ke kampus dan luput dari pengawasannya.
"Aku ada urusan di kampus yang tak bisa ditunda," Arditha harus bertemu dengan dosen pembimbingnya. Ia sama sekali belum menggarap proposalnya karena magangnya di perusahaan tak dapat ditunda.
"Selesaikan dulu magangnya," Abimana ngotot menjadikan magang sebagai alasan agar Arditha tak ke kampus.
"Pak, tolong jangan menjadi penghalang kuliahku. Aku ingin wisuda secepatnya dan mengaplikasikan ilmuku sebelum melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Masih banyak impian dan cita-cita yang harus aku gapai." Arditha menatap Abimana tak mengerti.
Pria itu tak lagi menimpali ucapan gadis belia dihadapannya. Ia tak ingin menciptakan perdebatan di depan kedua anaknya. Setiap kali mereka berbicara pasti akan berujung pada pertengkaran. Abimana sendiri heran dengan dirinya yang selalu terpancing emosinya saat Arditha mulai mendebatnya. Baru kali ini Abimana menemukan gadis yang berani mendebatnya.
Arditha melanjutkan permainannya bersama kedua bocah itu sedangkan Abimana memilih kembali ke atas. Hingga waktu makan malam, Abimana belum juga turun. Ardithapun ke lantai dua mencari pria itu. Ia membuka pintu kamar mereka namun yang dicari tak ada. Kamar tidurnya kosong. Akhirnya Arditha mendekati kamar yang tertutup rapat, ia yakin jika pria itu ada di dalam sana karena sejak tadi dia belum terlihat turun.
Tok tok tok
Ceklek
Pintu kamar tersebut terbuka lebar, ekor mata Arditha melihat sebuah foto wanita yang kira-kira sebesar pintu tampak tersenyum manis. Melihat sosok yang mengetuk pintu adalah Arditha, secepat kilat Abimana kembali menutup pintu kamar tersebut.
"Anak-anak menunggu ayahnya makan malam," Arditha tak merasa terganggu dengan apa yang ia lihat, berbeda dengan Abimana yang tampak gugup. Entah mengapa ia merasa seperti kedapatan sedang berselingkuh. Arditha kemudian berlalu dari hadapan Abimana dengan santai.
Dengan perasaan tak karuan, Abimana mengikuti gadis belia itu yang kini sudah tak terlihat.
"Maaf membuat kalian menunggu," Abimana menatap kedua anaknya dengan rasa bersalah lalu mengalihkan tatapannya dengan ekor matanya pada wajah gadis yang telah ia nikahi. Tak ada yang berubah dari wajah cantiknya sehingga membuat hatinya kesal.
__ADS_1
Arditha mengambilkan makanan untuk kedua anak kecil yang walaupun membuatnya terikat secara tiba-tiba namun ia tak harus memiliki dendam pada keduanya. Arditha melayani keduanya dengan sepenuh hati.
"Dith, kamu gak melupakan sesuatu ?" Abimana menatap Arditha sambil sesekali melirik piringnya yang masih kosong.
"Kayaknya enggak ada deh," Seperti biasa Arditha mulai menyuap Arbilha.
"Piringku masih kosong, kamu gak berniat mengambilkan makanan buatku ?" Abimana mulai kesal dengan sikap cuek Arditha.
"Oh astaga, bapak kan sudah tua, punya tangan pula. Ya digunakanlah, jangan sia-siakan pemberian Tuhan." Arditha berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari Arbilha, hal yang sangat tak disukai oleh Abimana jika seseorang berbicara dengannya tanpa melihat kearahnya.
Dengan menahan kekesalannya, Abimana mengisi piringnya dengan berbagai macam lauk hingga piringnya penuh. Pria itu lalu makan dengan cepat.
Arditha tetap tenang menyelesaikan tugasnya pada Arbilha. Setelah itu ia lalu makan sayur dan beberapa lauk tanpa nasi. Sebagai seorang gadis, tentu saja Arditha memelihara badannya agar tetap langsing dan enak dipandang.
" Kalian main sama ayah, ya,,, kakak makan dulu," Suara Arditha selalu terdengar lembut saat berbicara pada kedua anak kecil tersebut.
"Nanti aja, non." Mbak Mina dan Ulfa memang kebiasaan makan malam setelah majikan mereka makan.
"Tolong panggilan mbak Ulfa dong, temani aku makan." Walaupun terdengar lembut namun penekanan akhir kalimatnya menunjukkan jika gadis belia itu tak ingin dibantah.
"Tapi non ,,," Mbak Mina merasa tak seharusnya mereka makan satu meja dengan majikannya.
"Gak ada tapi-tapian mbak, aku gak akan makan kalau kalian gak nemenin aku," Arditha ngotot ingin makan bersama mereka. Arditha berusaha untuk menghilangkan perbedaan antara majikannya dan ART.
Karena paksaan oleh Arditha, akhirnya kedua ART itu menikmati makan malam bersama majikan barunya. Arditha mengajak mereka bercanda sambil makan agar rasa canggung kedua wanita itu hilang dan merasa jika mereka adalah sebuah keluarga.
__ADS_1
Dari arah ruang keluarga, Abimana menatap Arditha dengan senyum tipisnya. Cara Arditha memperlakukan kedua ART mereka yang terlihat seperti keluarga seketika menarik perhatian Abimana namun ia segera menepisnya.
'Sheila tak melakukan hal itu karena kesibukannya bekerja,' Abimana tiba-tiba mengingat mendiang istrinya yang tak pernah makan semeja dengan ART.
Lagipula saat itu mereka tinggal bersama mama Kalisha dan papa Kuncoro sehingga Sheila tak mungkin mengajak para ART makan bersama.
Abimana masih larut dalam lamunannya hingga tak menyadari jika Arditha sudah bermain bersama kedua bocah itu. Arditha sudah menyuruh mbak Mina dan mbak Ulfa beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaannya. Mulai malam ini dan seterusnya ia akan menemani kedua anak sambungnya tidur. Banyak hal yang akan Arditha lakukan bersama keduanya.
"Ma, ngantuk ,,," Arsheno menguap sedangkan mata Arbilha sudah hampir terpejam.
"Ayo, tidur bareng kakak," Arditha segera menggendong Arbilha dan tangan setelahnya menarik lembut tangan Arsheno. Mereka melangkah menuju kamar bocah itu tanpa memperdulikan Abimana yang tersentak kaget mendengar suara Arsheno.
Abimana mengekori mereka dari belakang, sudah menjadi kebiasaannya untuk mengucapkan selamat malam sebelum mereka tidur.
Perlahan Arditha membaringkan gadis kecil itu, Abimana pun mencium kedua anaknya secara bergantian sebagai ucapan selamat tidur.
"Mimpi yang indah sayang," Abimana mencium Arbilha terlebih dahulu kemudian Arsheno. Setelah itu ia keluar dari kamar tersebut sedangkan Arditha mempromosikan dirinya berbaring diantara Arsheno dan Arbilha.
Untuk pertama kalinya Arditha tidur dengan anak kecil. Walaupun sedikit merasa terganggu namun ia mencoba untuk tidur. Dengan kaku Arditha mulai membelai lembut rambut Arsheno agar tertidur dengan nyenyak.
Sementara itu dilantai atas Abimana masih menunggu Arditha dengan sabar. Walaupun diantara mereka tak ada rasa cinta namun Abimana berusaha untuk selalu bersama gadis itu. Entah apa yang ia harapkan. Hingga akhirnya rasa kantuk menyerangnya akan tetapi gadis itu tak ada tanda-tanda kembali ke kamar mereka.
Abimana kembali ke lantai bawah untuk melihat gadis itu. Perlahan Abimana membuka pintu kamar anak-anaknya dan langsung mendengus kasar melihat Arditha dan kedua anaknya tertidur dengan pulas sambil berpelukan. Meskipun kesal karena menunggu orang yang ternyata sudah tidur dengan nyenyaknya akan tetapi Abimana tak bisa berbuat apa-apa.
Pria itu akhirnya kembali ke atas namun bukan ke kamarnya dan Arditha akan tetapi ke kamar yang dipenuhi dengan foto mendiang istrinya.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷