Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 38 》》 DARI MANA ?!!


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 20.00 saat Arditha tiba di rumah yang ia tempati bersama Abimana dan kedua anaknya. Saat mendengar suara mesin mobil berhenti, Abimana keluar di teras. Dengan wajah memerah Abimana berdiri di teras menunggu Arditha yang berjalan kearahnya.


"Dari mana ?!!" Datar, dingin dan ketus membuat Arditha tak dapat menahan rasa kesalnya ditambah moodnyq yang kurang bagus.


"Pak, jangan terlalu mencampuri urusanku. Yang penting aku pulang sebelum larut malam agar bisa menidurkan anak-anakmu !!" Kata-kata Arditha terdengar sarkas ditelinga Abimana dan membuatnya sangat marah.


"Memang ya, ibu sambung dan ibu kandung sangat berbeda !! Dari katanya saja sudah berbeda !!"


Hati Arditha sangat sakit mendengar ucapan Abimana. Gadis itu tak dapat menerima dibandingkan dengan mendiang istrinya. Arditha menatap nyalang pria yang sudah membuatnya berada pada posisi yqng sangat tak mengenakkan ini.


"Tentu saja berbeda !!" Arditha lalu melangkah menuju tangga yang menghubungkan kamarnya yang berada di lantai 2.


"Berhenti !! Aku belum selesai bicara !!" Abimana mulai memperlihatkan kekuasaannya namun ia tak mengenal karakter gadis yang sedang dihadapinya.


Arditha berhenti dan membalikkan tubuhnya perlahan. Suasana hatinya yang sedikit kecewa siang tadi kini mulai menguasainya. Pria ini benar-benar telah membangkitkan kemarahannya yang sudah menggunung.


"Apa lagi yang ingin bapak bicarakan, bukankah semua sudah jelas ? Aku dari rumah mamaku, apa itu salah ? Aku hanya seorang ibu sambung yang pasti berbeda dengan ibu kandung, alam semesta pun tahu itu. Lalu apa lagi ? Masih mau menghinaku ? Maaf saya bukan gadis yang bisa menerima penghinaan begitu saja !" Arditha membalas tatapan mata Abimana tanpa berkedip. Sejenak Arditha terpukau dengan sorot tajam mata elang pria itu namun rasa marahnya mengenyampingkan semua itu. Pun sama halnya dengan Abimana yang terpana dengan mata bening nan menenangkan gadis itu hanya saja sinar kemarahan yang terpancar jelas dibalik tatapan itu membuat keindahannya hilang.

__ADS_1


"Kita harus berbicara dan bersepakat tentang aturan rumah ini yang merupakan rumah tinggal, bukan rumah kos yang seenaknya saja bisa pergi dan pulang semaumu." Abimana diam sejenak menunggu reaksi Arditha namun gadis itu hanya diam mendengarkan. Arditha malah mendudukkan dirinya dengan santai.


"Karena kamu masih kuliah maka aku bisa mengerti aktifitasmu dikampus, akan tetapi sebelum magrib kamu sudah harus berada di rumah dan baru boleh ke kampus jika aku sudah berangkat ke kantor !" Abimana hanya meminta dua hal. namun terasa sangat berat bagi Arditha. Bagaimana jika dosanya memintanya datang pagi-pagi saat akan berkonsultasi atau sebaliknya. Pak Ryan adalah manusia yang tak terbaca, beliau sangat sibuk dan ia harus mengikuti waktu dosennya itu.


"Maaf pak, dosen pembimbingku adalah orang yang sangat sibuk dan aku harus menyesuaikan waktu bimbingan dengan waktu yqng beliau miliki. Suatu hari nanti aku pasti tidak bisa berada di rumah bapak sebelum magrib." Sedikitpun Arditha tak memperlihatkan kegelisahannya padahal hatinya sudah mulai tak tenang. Bagaimanapun juga ia merasa hanya menumpang di rumah Abimana.


"Hal itu dikecualikan tapi harus sepengetahuanku. Dan satu lagi, tidak boleh ada foto pria selain fotoku dan Arsheno di rumah ini !" Abimana kembali menegaskan, ia ingat beberapa foto diatas meja belajar Arditha saat berada di rumah keluarganya.


"Dan apa kabar foto wanita di kamar depan kamarku ?" Arditha bertanya asal karena tiba-tiba mengingat foto wanita cantik di kamar tersebut.


"Dia pengecualian karena wanita itu adalah cinta sejatiku sejak dulu, kini dan selamanya bahkan hingga dunia ini berakhir." Wajah Abimana terlihat sangat bahagia saat membahas mendiang sang istri.


"Ya sudah, aku sih gak masalah. Hanya saja tidak baik jika jadi orang yang egois dan mau menang sendiri takutnya nanti berakibat buruk." Arditha berusaha menahan emosi dan terdengar sangat santai. Beruntung anak-anak sudah berada dalam kamar sehingga tak harus mendengar pertengkaran keduanya.


Abimana tak menimpali ucapan Arditha, pria itu berjalan kearah tangga dan menaiki anak tangga satu per satu. Arditha pun melakukan hal yang sama karena kamar mereka memang berada di lantai dua. Abimana memilih memasuki kamar yang terdapat foto-foto almarhumah Sheila, dengan terang-terangan ia membuka lebar pintu kamar tersebut agar Arditha melihat isi kamarnya. Entah apa maksud Abimana melakukan hal itu namun Arditha tak terpengaruh bahkan memamerkan senyum manisnya.


Arditha lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu lalu menguncinya. Malam ini ia ingin istirahat dengan tenang tanpa gangguan. Apalagi kedua anak sambungnya sepertinya sudah tertidur. Arditha lalu masuk ke dalam kamar mandi mengikat gigi dan mencuci wajahnya kemudian mengganti bajunya dengan baju tidur.

__ADS_1


Saat Arditha membaringkan tubuhnya, sejenak ia mengingat peristiwa siang tadi dimana ia bertemu dengan Prasetyo namun harus menelan pil pahit karena ternyata pria yang selama ini ia perjuangkan ternyata menduakannya.


'Huffft, ya sudahlah ,,, semua sudah terjadi,' Arditha membatin sambil menarik napas panjang lalu mencoba memejamkan matanya.


Sementara di kamar satunya, Abimana justru gelisah dan tak bisa memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya ia berbaring di kasur tersebut dengan rasa gelisah. Rasa tenang dan damai yang dulu ia rasakan saat tidur dikamar ini tak lagi ia rasakan. Sebaliknya bayangan wajah Arditha yang tampak biasa saja saat melihat isi kamar ini justru mengganggu pikirannya. Entah mengapa Abimana merasa tak terima dengan ekspresi wajah gadis itu.


'Apa yang terjadi denganku ?' Abimana membatin bingung dengan perasaannya sendiri.


Abimana membolak balik tubuhnya yang tinggi besar dengan gelisah. Ia berusaha keras agar matanya terpejam namun setiap kali memejamkan mata yang terlihat hanya wajah tanpa ekspresi gadis itu. Berkali-kali Abimana merutuki dirinya yang tak kunjung tertidur hingga pada akhirnya matanya terpejam hingga pagi menyapa.


Arditha sudah mulai sibuk dengan kedua bocah itu mulai dari menandakan Arbilha hingga mengikat rambutnya yang panjang. Anak sekolah harus berpenampilan rapi apalagi rambut harus diikat agar tak mengganggu saat belajar.


"Ma, tungguin kami disekolah ya," Arsheno merengek untuk pertama kalinya meminta ditungguin padahal pria kecil itu sangat mandiri.


"Kakak kan harus kerja, sayang, tapi kakak janji nanti jemput kalian setelah itu kita ke kantor ayah lalu pulangnya lanjut jalan-jalan," Arditha terpaksa harus menjanjikan sesuatu yang sebenarnya belum pasti bisa ia penuhi. Untuk menjemput pasti bisa ia lakukan namun membawa keduanya jalan-jalan, ia harus memutar otak agar pria arogan itu menyetujuinya.


"Horeee ,,, kami mau ma," Kompak Arsheno dan Arbilha bersemangat.

__ADS_1


Sebenarnya Arditha merasa kurang suka jika kedua bocah itu memanggilnya mama namun ia berusaha memakluminya hingga saatnya nanti keduanya bisa mengerti.


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2