
Kini keduanya dalam perjalanan pulang namun bukan ke kantor, melainkan menuju rumah mama Kalisha dimana kedua anaknya selama ini berada. Jam sudah menunjukkan pukul 15.45, bisa dipastikan saat mereka tiba di kantor masing-masing maka jam kerja pun usai.
Tak dapat dipungkiri oleh Arditha jika sebenarnya ia sangat merindukan kedua anak sambungnya itu yang pasti saat ini sudah bertambah besar. Abimana mengakhiri perjalanan mereka dengan membelokkan mobilnya memasuki pekarangan rumah keluarganya. Sebelum mobil berhenti dengan baik, Arditha keburu keluar berlari menghampiri dua bocah yang sedang berdiri di teras melihat kedatangan mobil ayah mereka.
"Mamaaaaa !!" Kompak keduanya berlari kearah Arditha. Padahal dengan ayah mereka pun sudah sekian lama tak bertemu dengannya.
Mama Kalisha pun keluar kala mendengar teriakan kedua cucunya. Wajahnya membiaskan kebahagiaan melihat kedatangan anak dan menantunya. Papa Kuncoro pun menyusul keluar menyambut anak dan menantunya.
Jika dirumah tersebut mama dan kedua cucunya melakukan aksi mogok bicara dengannya maka hanya sang papalah yang mengerti posisinya saat itu. Sebagai sesama pria walaupun papa Kuncoro tak membenarkan tindakan putra tunggalnya namun pria paruh baya itu hanya bersikap netral karena tak ingin putranya salah melangkah.
"Selamat datang sayang," Mama Kalisha memeluk Arditha dengan hangat. Kedua wanita beda usia itu lalu saling berpelukan. Melihat senyum Arditha membuat mama Kalisha bagaikan berada di langit ketujuh. Sejak pernikahannya dengan Abimana, senyuman Arditha hanya bisa dihitung dengan jari.
Mama Kalisha dan kedua cucunya menggandeng Arditha memasuki rumah utama sehingga membuat Abimana merasa kehadirannya tak berarti sama sekali.
"Halloooo, aku disini lho, apa gak ada yang merindukanku ?" Setengah berteriak Abimana berusaha menarik perhatian anggota keluarganya. Namun sangat disayangkan, hanya papa Kuncoro yang merangkulnya.
"Mungkin mereka masih kesal, nak.." Papa Kuncoro terkait geli melihat ekspresi mengenaskan putra tunggalnya.
"Tapi gak kayak gini juga kali, pa. Aku kan sudah membawakan Arditha pulang, jadi seharusnya mereka berterima kasih padaku," Abimana masih tak terima perlakuan mama dan kedua anaknya.
"Sudahlah, gak usah dipersoalkan, nanti juga mereka akan kembali seperti sedia kala. Sekarang biarkan mereka melepas kangen." Sang papa berusaha membujuk Abimana agar mengerti keadaan istri dan kedua cucunya.
"Tapi aku juga kangen dengan istriku pa, apalagi kami belum ngapa-ngapain, " Abimana kini mode on curhat. Papa Kuncoro tak dapat menahan tawa mendengar curhan hati pria dewasa itu.
__ADS_1
"Keberadaanmu didunia ini benar-benar harus dipertanyakan, apa benar kamu itu keturunan papa atau bukan sih ?" Kini papa Kuncoro menatap sinis pria yang mengaku sebagai darah dagingnya.
" Maksud papa ?!" Abimana pun merasa kesal melihat tatapan sinis sang papa. Ia merasa diremehkan oleh pria paruh baya itu.
"Wajarlah papa bertanya seperti itu. Kamu sudah menikahi Arditha sebanyak dua kali tapi sampai sekarang istrimu itu masih tersegel. Benar-benar mengherankan," Papa Kuncoro menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan masih sama sinisnya dan sedikit mengejek.
"Bukan seperti itu pa, Arditha itu tidak gadis yang sulit ditebak apalagi sejak awal pernikahan kami tidak baik-baik saja dan kali ini Tuhan masih memberikan kesempatan padaku untuk kembali bersamanya. Olehnya itu aku harus lebih berhati-hati dan memenangkan hatinya terlebih dahulu." Penjelasan Abimana membuat sang papa manggut-manggut tanda mengerti. Putranya memang kini selalu memikirkan baik buruknya sebelum melakukan sesuatu.
"Apa kamu mencintai Arditha ?!" Papa Kuncoro menatap dengan wajah serius pada Abimana yang juga tengah menatapnya.
"Cinta pa." Singkat, padat dan jelas membuat papa Kuncoro semakin penasaran.
"Apa sebesar cintamu pada almarhumah ?!" Bukan maksud sang papa mengingatkan Abimana pada masa lalunya hanya saja ia ingin mendengar langsung jawaban putranya.
"Aku gak bis membandingkan besarnya cintaku pada almarhumah dengan Arditha, akan tetapi menghilangnya Arditha membuat duniaku seolah berhenti."
"Tapi kepergian Sheila untuk selamanya membuatmu tak bisa menatap wanita lain bahkan fotonya kamu panjang dikamar tidurmu hingga Bertahun-tahun, itu artinya cintamu pada Sheila jauh lebih besar, " Papa Kuncoro sengaja memancing Abimana agar mengeluarkan semua statemannya tentang cinta pada masa lalunya dan cintanya saat ini, beliau berharap setelah ini Abimana semakin menyadari pentingnya masa depan rumah tangganya.
"Bukan tak bisa menatap wanita lain pa, tapi belum ada yang mampu menggeser Sheila dalam hatiku hingga aku bertemu dengan Arditha dan memaksanya menikah denganku. Saat itu aku hanya memikirkan anak-anak yang menginginkan Arditha menjadi mama mereka akan tetapi sejak peristiwa itu aku menyadari bahwa hidup dan duniaku hanya ada pada Arditha. Walaupun aku harus berjuang dari awal tak masalah buatku asalkan bisa mendapatkan hati dan cinta istriku, " Abimana merasa kini sangat lega sudah mengatakan semuanya pada sang papa. Dadanya terasa plong, beban yang selama ini tersimpan kini telah dikeluarkan semuanya tanpa sisa.
Mama Kalisha mengusap lembut tangan menantunya sambil tersenyum. Ia bersyukur akhirnya Abimana mengatakan semua yang perlu didengar oleh Arditha.
"Selamat berjuang nak, semoga semuanya berjalan lancar dan kalian hidup tenang dan bahagia selamanya." Papa Kuncoro menepuk-nepuk bahu putranya.
__ADS_1
Arditha dan mama Kalisha asyik mendengarkan papa Kuncoro dan Abimana berbicara hingga tak menyadari jika kedua bocah itu tertidur dengan paha kanan dijadikan bantal oleh Arsheno dan paha kiri dijadikan bantal oleh Arbilha.
"Lho, sayang, anak-anak tidur," Mama Kalisha terkekeh saat menyadari kedua bocah dihadapannya tak bersuara.
"Biarkan aja ma, ntar kalau diangkat mereka terbangun. Kasihan tidurnya belum lama," Arditha pun ikut tersenyum sambil membelai kepala keduanya. Wajah tenang mereka saat tertidur sangat enak dipandang.
Tak lama kemudian papa Kuncoro berjalan kearah ruang keluarga yang tak seberapa jauh dari ruang tengah tempat Abimana dan papa Kuncoro duduk. Diikuti oleh Abimana yang penasaran keberadaan istri dan anak-anaknya.
"Bi, anak-anak tidur dipaha Ditha, kasihan ntar pahanya kram. " Papa Kuncoro menatap putranya yang juga menuju kearahnya.
"Astaga honey, maaf ya anak-anak merepotkan," Abimana mendekati Arditha dan siap mengangkat Arsheno terlebih dahulu namun tangannya dihentikan oleh Arditha.
"Gak apa-apa mas, biarkan saja mereka tertidur sedikit lebih lama," Arditha menatap Abimana seraya tersenyum. Sungguh Abimana serasa baru saja mendapatkan jackpot mendengar panggilan Arditha kini telah berubah apalagi sentuhannya yang tiba-tiba membuat seluruh peredaran darahnya terasa semakin lancar.
Mama Klaisha dan papa Kuncoro perlahan meninggalkan pasangan suami istri yang terlambat menyadari rasa cintanya. Tinggallah kini mereka berdua yang saling berbicara dengan tatapan mata sejuta makna.
🌷🌷🌷🌷🌷
Selamat pagi semuanya
Jangan lupa mampir di ceritakan "MASA LALU YANG TAK USAI "
Ditunggu dukungannya ya.
__ADS_1