CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Pengumuman


__ADS_3

Begitu bayangan kasim Du dan dua pengawal menghilang di balik pintu gerbang Ashura langsung ngamuk pada Fu Kuang. Ingin rasanya Ashura cekik laki itu sampai habis nafas.


Fu Kuang tahu kemarahan Ashura. Fu Kuang juga bersyukur Ashura tak tertarik jadi wanita raja. Ini menunjukkan Ashura bukan wanita gila nama besar. di kerajaan wanita mana tak tertarik jadi wanita raja. Jadi wanita raja hidup sudah pasti makmur. Gelimang harta dan dihormati.


"Kau sinting ya! Aku tak mau pergi.." Ashura buang badan tak mau menghadap muka Fu Kuang.


"Shu Rong..cepat atau lambat kau akan hadapi hari ini. Pas aku di sini bisa bantu kamu. Kalau aku sudah ada di perbatasan tak ada yang lindungi kamu. Sekarang kau bersiap saja. Aku akan antar kamu langsung ke istana."


Ashura termenung dengar kata kata Fu Kuang. Semua itu mengandung kebenaran. Tanpa Fu Kuang dampingi akan sulit bagi Ashura hindari pemilihan ini. Mungkin Fu Kuang ada cara bantu dia keluar dari pemilihan ini.


"Iya..tapi janji jangan buat aku terpilih!"


"Pasti..aku lebih suka kamu ikut aku keluar istana dan jadi nyonya jenderal perang. Mau kan?"


"Dasar otak ngeres..aku bersiap dulu." Ashura segera masuk kamar di dampingi Ayin. Ayin mau bantu Ashura berdandan secantik mungkin biar selir lain iri hati. Namun otak Ashura malah sebaliknya. Dia harus tampil paling jelek biar raja tak tertarik padanya.


"Tuan puteri mau pakai baju warna apa?" tanya Ayin menunjuk deretan pakaian yang bergantungan di rak kayu.


"Ada warna hitam?"


"Iiisshh..mana ada gadis muda berpakaian hitam?"


"Cerewet..ada?"


"Tak ada Tuan Puteri.."


Mata Ashura jelatan cari warna yang sesuai keinginan hati. Pilihan Ashura jatuh pada pakaian warna biru terang. Kesannya bersih tak menyolok. Ayin tak setuju karena warna itu tak menarik perhatian orang. Seorang puteri harus bisa tampil penuh pesona biar dihargai.


"Bantu aku..."


"Tuan puteri..pakai yang warna merah ini. Ini kain bagus dari luar. Ini hadiah dari Yang Mulia waktu Tuan puteri Shu Fen datang." Ayin menunjuk pakaian merah maron.


"Aku tak suka. Oya tolong ambil tinta sekalian."


"Tuan puteri mau apa?" Ayin panik karena sang puteri mulai aneh.


"Aduh Ayinku sayang..ikuti perintahku! Cepat dikit! Tak usah kuatir tentang aku. Ada jenderal lindungi aku."


"Iya tuan puteri."


Ashura tertawa puas setelah berhasil berdandan. Gadis ini tetap pakai cadar untuk hindari pandangan nakal para laki nakal. Ashura pede kalau dia jauh cantik dibanding selir selir raja yang lain. Kalau melihat Ashura pasti akan jatuh cinta.


Fu Kuang sudah menanti Ashura di halaman istana. Fu Kuang sudah tahu bagaimana tampang Ashura merasa aman kalau gadis itu bercadar. Di situ pasti bukan raja saja yang hadir. Para pangeran kerjaan pasti akan berdatangan mengharap dapat jatah sisa gadis pilihan sang raja. Fu Kuang akan ambil kesempatan mohon agar Ashura jadi wanitanya. Ini mumpung raja belum lihat Ashura seutuhnya.


Namun Fu Kuang tak tahu kalau raja muda sudah melihat Ashura waktu intip istana gadis ini di malam hari.


Fu Kuang mengantar Ashura pakai kereta ditarik kuda. Ayin mengikuti dari samping menunjukkan pengabdian pada majikan. Kereta berjalan pelan meninggalkan istana dingin menuju ke istana utama yang jaraknya tak begitu jauh.


Fu Kuang menatap Ashura yang kelihatan gelisah dalam perjalanan menuju ke istana raja. Berbagai bayangan buruk bermain di benak Ashura. Bagaimana kalau raja memaksa dia masuk kumpulan gundik. Tamatlah riwayatnya! Pasti akan disuruh layani raja yang mungkin sudah tertular penyakit kelamin. Ashura bergidik bayangkan raja bertubuh tambun penuh lemak. Apalagi kalau rajanya oon jadi boneka para pejabat. Makin apes nasib Ashura.


Ashura mengutuk keisengan Shu Rong tarik ke dalam kehidupan jauh dari harapan Ashura sebagai manusia terlahir di abad moderen.


"Shu Rong.."Fu Kuang tak tambahkan kata puteri lagi. Kelihatannya Fu Kang ingin lebih akrab dengan Ashura. Batas pemisah akan disingkirkan agar tak kaku.

__ADS_1


"Ya?"


"Kau tak perlu banyak bicara. Kau pilih posisi paling belakang agar perhatian raja tak tertuju padamu. Para puteri akan berusaha tampil ke depan cari perhatian raja. Kau cukup diam berdiri di belakang."


"Ya jenderal! Aku yakin tak masuk daftar pilihan raja. Aku tak mau hidup bodoh seperti seekor burung terkurung dalam sangkar."


"Aku tahu..kau tak cocok jadi selir penuh kemunafikan. Kau gadis baik..tak pantas hidup alam kebohongan."


"Terima kasih pujiannya. Aku janji traktir kamu makan barbeque."


"Barbeque?? Makanan apa itu?" Tanya Fu Kuang bingung. Ashura menepuk jidat lupa dia tinggal di jaman apa. Orang jaman dulu mana ngerti makanan masa kini. Dasar otak sudah hang.


"Oh itu..nama lain dari ikan, daging, sayuran, semua dipanggang di atas api dilumuri bumbu pedas. Aku bisa bikin kok. Pokoknya akan kutraktir jenderal makan makanan lezat ini."


"Kutagih nanti."


"Tapi harus bantu aku dulu. Aku tak mau jadi selir istana." kata Ashura bernada rendah. Ashura tak mau tamat di tangan raja. Bagaimana masa depannya kalau jadi selir. Dia tentu harus layani raja di tempat tidur. Itu jadi momok bagi Ashura. Apa kata Liem kalau tahu dia telah tidur dengan orang masa lalu. tepatnya tidur dengan mayat kalau dibawa cerita ke masa depan.


"Aku takkan biarkan Fu Yen dapatkan kamu. Kamu adalah milikku."


Ashura tak begitu takut pada Fu Kuang karena jenderal itu tak perlihatkan tampang cabul. Kalau Fu Kuang suka piara selir istananya tentu dipenuhi aneka wanita. Tapi sampai sekarang istana jenderal masih vakum permaisuri.


"Terserah...kamu harus tepati janji tak jatuhkan aku."


Fu Kuang mengangguk tenangkan Ashura. Perasaan Ashura lebih lega yakin Fu Kuang akan menjaganya dengan baik. Ashura bersyukur jumpa laki baik macam Fu Kuang. Walau seorang jenderal namun Fu Kuang tidak sombong. Malah berkesan ramah dengan status lumayan tinggi.


Kereta kuda berhenti di depan satu gerbang maha besar. Ashura bisa taksir gerbang itu mungkin lebih dari 20 meter. Membangun pintu sebesar itu pakai tenaga manual sungguh luar biasa. Berapa pekerja jadi korban kerja berat ini tentu tak dapat dihitung dengan jari tangan. Mungkin ratusan nyawa melayang untuk pembangunan istana mewah ini. Teknologi orang cukup lumayan mengingat tanpa alat berat permudah pekerjaan. Semua mengandalkan tenaga manual.


"Shu Rong..turun!" suara bass Fu Kuang memaksa Ashura berhenti melamun. Ashura turun dari kereta disambut Fu Kuang yang sudah duluan turun.


"Tenanglah! Kau takkan dilirik kalau kau diam saja. Pejabat lain pasti sedang sibuk kasih maju puteri mereka. Ayo! Aku akan duduk di barisan depan bersama para ratu! Kalau sudah terpilih selir raja, aku akan minta ijin pada raja untuk bawa kamu ke perbatasan."


Ashura hanya bisa menghela nafas. Semoga kata kata Fu Kuang terwujud raja tak memilihnya masuk istana.


Suasana halaman istana sudah ramai dipenuhi wanita wanita cantik. Ashura perhatikan para calon selir berdandan kelewat menor dengan muka berbedak seputih cat tembok. Bedak merek apa yang mereka gunakan. Jangan jangan dari bahan kapur gunung. Bagaimana Lah wajah mereka setelah bertahun gunakan bahan tak layak itu.


"Jangan melamun! Kau berdiri paling belakang. Berdiri di tengah saja. Aku akan jumpai ibundaku! Aku akan minta restu pada beliau untuk nikahi kamu." bisik Fu Kuang.


"Minta ijin boleh tapi nikahnya nanti. Tunggu tahun depan." balas Ashura ikutan berbisik.


"Itu bisa diatur. Yang penting kita dapat restu raja dulu."


Ashura mengangguk masuk barisan para wanita tanpa banyak bikin ulah cari perhatian. Ayin berdiri tak jauh dari Ashura sebagai bentuk pengabdian pada sang puteri. Sejujurnya Ayin mengharap Ashura terpilih sebagai wanita raja. Bahkan kalau bisa jadi ratu karena Ashura memang sangat cantik pantas jadi ratu.


Beberapa wanita melirik Ashura yang pakai cadar. Pandangan mata mereka seperti cemooh tak hargai Ashura yang tak ngetop sebagai puteri kalangan atas. Ashura pilih masa bodoh tak ambil open semua kerlingan menghina. Lebih bagus kalau tak dianggap sebagai kandidat selir. Ashura bisa lega kembali ke istana dingin lanjutkan proyek saluran air.


"Ini puteri dari mana? Kenapa seperti pelayan istanaku?" kata seorang puteri sinis pada Ashura.


Ashura pura pura tak dengar ocehan tak bermutu itu. Ashura harus patuh pada Fu Kuang tak mau menonjol biar tak diperhatikan.


"Tak baik omong gitu. Kita semua diundang tentu dengan status masing masing." sahut suara berirama lembut. Ashura melirik gadis yang menyahut suara orang sinis tadi.


Ashura salut pada pola pikir gadis berhati lembut itu. Tidak dengki pada orang lain malah hargai posisi orang. Gadis ini cocok jadi pilihan raja. Lebih bijak dibanding gadis sok cantik.

__ADS_1


"Pengumuman.."Kasim Du berdiri di hadapan para gadis sambil bawa lebaran dari Raja muda.


Para gadis langsung bungkuk beri hormat pada Kasim Du. Sebenarnya penghormatan itu diberi pada dekrit yang dikeluarkan raja bukan pada Kasim Du. Berhubung kasim Du adalah pembawa pesan raja maka semua hormat pada banci kalengan itu.


"Yang Mulia Raja akan mengangkat selir baru untuk dipilih jadi ratu beberapa bulan kemudian. Yang Mulia Raja akan memilih sendiri siapa yang akan jadi selir mendatang. Jadi mohon sebutkan nama masing masing berdasarkan barisan urutan. Mulai dari yang baris pertama sebelah kanan. Sekian."


Jantung Ashura berdetak kencang karena tak sesuai bayangan dia. Ternyata mereka diharuskan perkenalkan diri satu persatu. Berdiri paling ujungpun tetap harus tampil perkenalkan diri. Ashura mencari bayangan Fu Kuang yang sudah duduk di depan bersama keluarga kerajaan lainnya.


Fu Kuang juga gelisah takut sang raja tertarik pada gadis bercadar ini. Di saat gini cadar Ashura justru menarik perhatian. Fu Kuang harus berbuat sesuatu sebelum giliran Ashura tampil ke depan.


Fu Kuang melirik Fu Yen yang memandangi wanita wanita itu satu persatu saat perkenalkan diri. Reaksi Fu Yen dingin tak antusias terhadap gadis gadis muda yang perkenalkan diri. Semua masih segar anak anak bangsawan kota juga anak pejabat kerajaan.


"Kanda raja..anak siapa menarik hatimu?"pancing Fu Kuang pada abangnya sang raja.


"Adinda rasa siapa yang cocok untukku?" Fu Yen balik tanya.


"Anak menteri keuangan cukup lumayan. Cantik juga cerdas. Calon ratu baik"


"Benarkah?"


"Itu semua tergantung pilihan kanda raja. Bagaimana kalau aku juga pilih satu untuk jadi permaisuriku?"


Fu Yen surprise Fu Kuang mau pilih calon isteri saat ini padahal dari dulu mereka minta Fu Kuang menikah tapi selalu tak mau. Gadis mana mampu buka pintu hati jenderal perangnya itu.


"Oya? Gadis mana mampu menarik perhatian mu?"


"Adinda tertarik pada puteri dari kerajaan Chau. Dia sudah cukup umur untuk jadi isteri." jawab Fu Kuang mulus.


Fu Yen merasa hatinya bergetar. Dia adakan pertemuan ini untuk ambil Ashura masuk istananya. Kini adiknya sendiri minta secara langsung gadis dari istana dingin untuk jadi isteri. Apa Fu Kuang juga sudah lihat tampang cantik Ashura maka jatuhkan pilihan pada gadis cantik itu.


"Puteri Chau diantar secara langsung ke istana untuk jadi selirku. Mana mungkin jadi selirmu?"


"Puteri Shu Rong takkan jadi selirku tapi jadi permaisuriku. Aku takkan punya selir. Cukup satu puteri Shu Rong. Ini penghargaanku pada gadis yang terbuang bertahun di istana dingin." sahut Fu Kuang wibawa.


Fu Yen hilang konsentrasi terhadap para gadis yang masih perkenalkan diri. Fu Yen tak tahu harus bagaimana hadapi Fu Kuang. Adiknya itu tak pernah banyak tingkah sebagai pangeran kerajaan. Dia selalu memimpin perang lawan kerajaan lain dan selalu bawa pulang kemenangan.


"Adinda..kita lihat bagaimana hasil hari ini! Para pejabat sodorkan anak gadis demi kekuasaan. Sebenarnya aku juga tak suka dikelilingi puluhan wanita. Tapi adat kita haruskan kita pusing masalah wanita."


Fu Kuang tertawa melihat abangnya ternyata pusing sama soal ratu dan selir. Dalam tradisi mereka seorang raja memang harus banyak isteri. Katanya untuk bantu raja mengurus istana. Ini bukannya bantu malah bikin pusing.


"Aku mohon diijinkan ambil satu wanitamu Kanda raja." pinta Fu Kuang sungguh hati.


"Adinda boleh pilih siapapun tapi puteri raja Chau tak boleh. Dia adalah puteri yang dipersiapkan jadi ratu. Aku harus angkat puteri Shu Rong jadi ratu untuk hormati aliansi dua kerjaan."


Jawaban Fu Yen bikin Fu Kuang langsung loyo. Ternyata Fu Yen punya pendapat sendiri terhadap Shu Rong. Fu Yen memang pilih Ashura karena termakan janji atau memang pernah lihat wajah Ashura tanpa cadar. Fu Kuang curiga Fu Yen pernah jumpa Ashura tanpa cadar. Raja itu tertarik pada kecantikan puteri dari padang rumput itu.


"Kanda..putri Shu Rong sudah lama terbuang di istana dingin. Mengapa baru sekarang kau ingin mengangkatnya?"


"Dulu dia belum cukup umur untuk diangkat jadi wanita istana. Sekarang dia sudah cukup umur. Mau tak mau aku harus bawa dia kembali ke istana untuk jalani perjanjian."


"Apa kanda pernah jumpa puteri Shu Rong?"


"Belum pernah jumpa tapi sudah dengar namanya. Tahun ini dia memang sudah harus masuk istana untuk jadi wanita istanaku."

__ADS_1


"Kanda begitu banyak wanita. Kupilih satu mungkin takkan pengaruhi wibawamu."


"Sudah kubilang siapapun boleh asal jangan puteri Shu Rong."


__ADS_2