CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Buka Jati Diri


__ADS_3

Ashura suka pada dekorasi rumah paman raja berkesan rumah orang terpelajar. Bersih dan rapi. Ashura ngerti kalau paman raja orangnya suka akan kebersihan dan selalu rapi. Sekilas paman raja bergaya agak feminim. Banci kalengan tanggung.


Chen Yang surprise menerima tamu tak diundang pagi sekali. Kebiasaan sarapan sendirian di pagi hari sedikit terkoyak oleh kehadiran keponakan nakal dari istana dingin.


Hwa Lien langsung perhatikan makanan yang terhidang di meja untuk cari apa yang bisa dipindah ke perutnya. Tanpa malu Hwa Lien comot satu persatu hidangan tanpa peduli tatapan kesal paman raja. Sikap Hwa Lien berkesan jorok ambil makanan gunakan tangan kosong. Tapi siapa bisa larang gadis ini berbuat sesuka hati.


Ashura yang tak enak lihat cara Hwa Lien kurang sopan di tempat orang. Ashura menatap paman raja minta maaf tanpa suara. Paman raja tersenyum maklumi keadaan Ashura juga tak mampu bendung sifat bengal Hwa Lien.


"Duduklah Ashura! Tumben datang pagi sekali?"


Ashura tidak segera buka rahasia percakapan ibunda ratu dengan perdana menteri. Lebih baik isi perut dulu agar punya energi cerita mengenai rencana jahat Perdana menteri.


Ashura duduk di samping Paman raja ikutan pantau menu yang cocok dengan seleranya. Ada roti yang mungkin sekeras batu. Di zaman ini mana ada roti selembut kapas seperti di zaman Ashura. Roti dengan aneka rasa. Di sini rotinya mampu rontokkan gigi palsu. Agak keras walau masih bisa dikonsumsi.


Paman raja memberi Ashura secawan susu kedelai kental tanpa melihat kepada keponakan yang sudah gasak hampir setengah hidangan di meja. Hwa Lien tampak lapar sangat tak bisa berhenti mengunyah. Satu persatu makanan pindah ke dalam perut gadis itu. Paman Raja dan Ashura hanya bisa menatap gadis manja itu dengan tatapan takjub. Yang makan anak gadis atau kerbau baru siap bajak sawah.


"Dalam rangka apa kalian datang pagi sekali! Jangan bilang kalian tak diberi makan oleh dapur istana maka lari ke sini!"


"Itu termasuk salah satu alasan kenapa kami ke sini. Di tempat kami makanan adalah makanan paling jelek sedunia. Tak ada daging dan telur. Hanya ada sayuran! Emang kami ini kambing?" Hwa Lien merepet sesalkan sang raja tak perhatian kepada selir pintarnya. Sekarang asyik dengan putri dari kerajaan besar.


Masih mending kalau putrinya cantik jelita. Ini seperti gorila lepas dari hutan lari ke permukiman penduduk. Hidung lebar bisa dimasukkan biji kelereng. Hwa Lien sedikitpun tidak ngeh dengan pilihan abangnya itu. Calon ratu memalukan.


"Sudahlah Hwa Lien! Kita ke sini kan mau bahas soal percakapan ibunda ratu dan perdana menteri! Apa kita bisa panggil jenderal? Ini masalah cukup penting. Kita tak boleh gegabah kalau tak mau kehilangan kerajaan ini."


Paman Raja berhenti mengunyah setelah dengar perkataan Ashura. Seberapa penting sampai wajah cantik Ashura berkerut-kerut menahan luapan emosi.


"Baik..aku akan minta pengawal panggil jenderal!"


"Kurasa kita juga harus beri tahu Raja soal ini. Perdana menteri mau berontak dibacking oleh kerajaan Tang. Mereka akan menyerang kerjaan kita sewaktu pesta pernikahan putri Tang dan raja. Semua ini sudah direncanakan oleh perdana menteri. Ibunda ratu termasuk komplotan mereka."


Wajah Chen Yang kontan berubah warna tak percaya di dalam kerajaan ada musuh dalam selimut yang mengerikan. Kerajaan yang tampak tenang ternyata sedang terbakar dari dalam. Ashura belum buka percakapan antara kedua orang itu hendak menunggu Jenderal datang untuk dengar bersama. Untuk sementara Ashura cukup katakan kalau ada pengkhianatan dalam istana.


Chen Yang tak buang waktu segera kirim kabar untuk Fu Kuang untuk hadir di istana dia. Kalau menyangkut keselamatan kerajaan bukan hal kecil. Ini menyangkut kehidupan seluruh rakyat. Gimana kalau pemimpinnya kelak adalah orang licik peras rakyat. Ini pasti akan terjadi mengingat betapa liciknya perdana menteri.

__ADS_1


"Kau siap dipandangi aneh oleh raja? Apa kau ingin mengaku kalau kau bukan orang dari zaman kami?"


Ashura tak punya pendapat mengenai hal ini. Ashura butuh dukungan Fu Kuang yang jauh lebih bijak dari Fu Yen. Seharusnya Fu Kuang yang jadi raja karena laki itu lebih tegas dan punya kharisma lebih tinggi.


"Aku tak tahu paman raja!"


Chen Yang juga tak bisa memberi usul pada Ashura. Bagi mereka yang paham bisa menerima kehadiran Ashura yang di luar akal sehat. Masalahnya apa Fu Yen percaya kalau Ashura bukan wanita dari abad mereka melainkan wanita yang datang dari abad modern.


"Hhhmmm...kita tunggu saja Fu Kuang! Sekarang makan dulu biar punya tenaga angkat suara! Kita pasti akan menemukan kesulitan bila sudah menyangkut tahta kerajaan."


"Iya paman!"


Chen Yang perhatikan wajah Ashura yang lesu. Gadis itu tetap cantik walau ada awan mendung menyelimuti raut wajah cantik itu. Gadis muda ini mengambil makanan tanpa semangat. Perutnya sudah kenyang oleh rencana gila perdana menteri dan ibunda ratu. Bisanya korbankan orang lain demi ego setinggi Mahameru.


Hwa Lien tak terlalu memikirkan soal ini karena dia belum dengar langsung percakapan antara dua manusia jahat itu. Coba kalau dia dengar mungkin reaksinya akan memekakkan telinga orang.


Ashura masih berusaha menahan diri untuk tidak meledak setelah tahu niat jahat perdana menteri dan ibunda ratu. Ashura makin Tak sabar ingin menghancurkan kerajaan Tang yang sangat arogan itu. Arwah putri Shu Rong sudah bersedia membantu Ashura menyiapkan artileri untuk berperang dengan kerajaan Tang. Di sini mereka sudah menang satu poin karena peralatan dari zaman modern akan menghancurkan kerajaan itu dalam sekejap. Ashura akan berusaha minimalkan korban perang karena para tentara hanyalah suruhan atasan. Ashura merasa mereka juga tak ingin berperang karena resikonya adalah taruhan nyawa.


Setelah seluruh hidangan di meja ludes pindah ke perut masing-masing barulah sang jenderal datang dengan gagah. Puluhan kali dilihat Fu Kuang tetap keren sebagai panglima perang. Lelaki itu tak tahu kalau mereka akan berperang lebih dahsyat dari yang sudah-sudah. Yang mereka hadapi bukanlah kerajaan kecil melainkan kerajaan paling kuat di saat ini.


"Mana ada mainan! Ayok duduk! Ada hal penting mau disampaikan oleh Ashura!" Hwa Lien menepuk bangku dari batu marmer indah milik Paman raja. Hanya Paman raja yang memiliki koleksi seindah itu. Jiwa seni paman raja patut diacungi jempol.


Ashura mengeluarkan ponsel untuk buka percakapan antara dirinya dengan Ning Fei. Ini baru tahap awal perbincangan mengerikan antara Ashura dan Ning Fei. Pengakuan Ning Fei sangat berarti untuk ditindak lanjuti. Semua kejahatan yang mereka lakukan harus dibayar kontan. Ashura merasa tak guna melindungi Ning Fei lagi. Semua kartu harus dibuka untuk dilihat bersama.


Chen Yang, Fu Kuang dan Hwa Lien terkesima mendengar percakapan antara Ashura dan Ning Fei. Mereka tak menyangka kalau Ning Fei yang selalu tampak lemah ternyata adalah wanita mengerikan. Dia tega membantu ibunda ratu menghabisi nyawa Shu Rong asli. Mereka tak sangka kalau Shu Rong asli betulan sudah meninggal dunia akibat kelicikan orang lain.


Andaikata kerajaan Chau mengetahui hal ini pasti akan terjadi perang antar kerajaan. Keluarga Shu Rong tak mungkin membiarkan putri mereka mati konyol di tangan orang kerajaan. Mereka !ana mau tahu kalau ini bukan rencana Fu Yen. Yang mereka tahu Shu Rong telah dibunuh di kerajaan ini. Mereka pasti akan balas dendam.


"Gila... tak kusangka ibunda ratu demikian keji." desis Hwa Lien belum yakin itu suruhan ibunda ratu. Ibunda ratu selalu bijak dan penyayang. Bahkan dia juga sangat sayang pada Hwa Lien walaupun Hwa Lien anak dari perempuan lain.


Fu Kuang tak terlalu fokus pada laporan Ning Fei tentang Shu Rong melainkan rencana makar perdana menteri. Betapa besar nyali lelaki tua itu. Umur sudah cukup tua namun ambisi masih berkobar untuk naik tahta kerajaan. Untunglah Ashura sangat pintar berhasil bongkar rencana busuk perdana menteri.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Chen Yang bimbang bin galau.

__ADS_1


Kalau kerajaan mereka diserang oleh kerajaan Tang sangat besar kemungkinan mereka akan kalah. Kerajaan Tang terkenal dengan pasukan perang paling hebat. Mereka dengan gampang taklukkan kerajaan kecil asal berperang. Ternyata kini sasaran mereka adalah kerajaan Fu Yen.


"Kita tetap pada rencana awal serang mereka duluan. Mulai besok kita latih pasukan kita gunakan senjata mematikan dari zaman aku! Aku yang akan bimbing kalian gunakan senjata-senjata namun kalau tepat sasaran itu aku juga kurang pandai. Cari ahli panah karena mereka punya nalar lebih jitu. Sekarang kita dengar pula percakapan ibunda ratu dengan si tua bangka perdana menteri! Kalian jangan kaget setelah tahu rencana jahat manusia licik itu!" Ashura perdengarkan percakapan perdana menteri dengan ibunda ratu. Ketiga orang itu tercengang sampai mulut terbuka lebar. Sungguh hebat rencana Perdana menteri dan ibunda ratu walaupun ibunda ratu masih ada sedikit rasa kemanusiaan tak mau sakiti Fu Yen.


Ashura tertawa pahit tak pandai beri reaksi lagi. Fu Yen masih berleha-leha sementara kerajaan dalam bahaya. Raja itu masih bersenang-senang dengan tuan putri mirip gorila itu.


Fu Kuang menepuk pipi untuk yakin bahwa apa yang dia dengar itu bukan hanya sekedar suara dua orang berbicara melainkan kehancuran kerajaan mereka. Mimpi seribu kali Fu Kuang tak sangka perdana menteri merancang ini sudah cukup lama.


"Gimana ini?" tanya Chen Yang gelisah.


"Kita pasang ranjau sepanjang jalan tentara kerajaan Tang menuju ke sini tapi jalan itu tak boleh dilalui oleh rakyat kecil. Nanti dari atas bukit kita lempar granat untuk pukul mundur mereka. Kalau mereka maju terus kita serang pakai tank baja." Ashura kemukakan pendapat walau tak ngerti strategis perang. Fu Kuang yang lebih ngerti dalam hal ini.


"Kau bicara seolah benda itu sudah ada di tempat kita! Lihat saja belum pernah bagaimana kami bisa ngerti!" kata Fu Kuang agak pesimis. Keruntuhan kerajaan mereka sudah terbayang di mata laki itu.


"Besok kita lihat benda itu! Sebenarnya aku juga kurang mahir gunakan senjata muktahir itu tapi kita bisa belajar bersama. Paling tidak aku bisa jalankan mobil tank walaupun kurang mahir menembak. Kita cuma punya waktu sebulan untuk bersiap. Jenderal segera pilih pasukan yang bisa diandalkan! Besok kita langsung bergerak!" ujar Ashura antara yakin tidak yakin. Dia sendiri belum pernah sentuh senjata mesin. Paling pedang Wushu yang digunakan untuk berlatih.


"Kurasa Fu Yen harus tahu!" gumam Chen Yang ntah kepada siapa. Paman raja merasa kiamat kerajaan mereka sudah dekat bila kerajaan Tang berniat serang mereka. Semangat paman raja meredup mengingat kerajaan Tang dibantu oleh perdana menteri.


"Aku juga rasa begitu! Kita jelaskan pada Abang raja supaya tahu betapa mengerikan rencana orang yang dia kasihi selama ini. Pembunuh juga pengkhianat!" kata Hwa Lien berapi-api. Hwa Lien kecewa pada ibunda dari ratu yang dia hormati. Hwa Lien selalu anggap ibunda ratu panutan seluruh wanita di kerajaan ini. Ternyata tak lebih seorang perempuan ****** yang telah berkhianat dari ibunda Fu Yen juga bantu perdana menteri membunuh raja terdahulu.


"Terserah Ashura saja! Fu Yen belum tentu terima semua apa yang kita katakan!" ujar Fu Kuang melontarkan tatapan ke arah Ashura.


Ashura dilanda dilema harus jujur atau tutupi status aslinya. Cepat atau lambat status sesungguhnya Ashura pasti terungkap namun bicara di saat ini mungkin Fu Yen akan syok! Dari sedang jalin hubungan dengan putri Tang dan tiba-tiba selirnya ngaku makhluk dari abad beda. Bukankah seolah Ashura karang cerita untuk menarik perhatian Fu Yen.


"Gini saja! Biar Paman raja dan Jenderal yang bicara bawa hasil rekaman. Bilang saja benda ini kepunyaan paman raja diberi oleh pedagang luar negeri!" usul Hwa Lien menjawab kebingungan Ashura.


"Aku tak bisa jalankan kotak kecil ini tanpa bantuan Ashura." timpal paman raja ragu membuat pernyataan kalau itu hadiah dari orang barat yang berdagang di kerajaan mereka. Kalau ketahuan bohong kepala bisa dipindahkan dari leher.


"Sudahlah! Kita hadapi bersama! Ajak Fu Yen ke sini ataupun istana dingin! Kita tak bisa bicara di dalam istana Fu Yen. Di sana sangat banyak mata-mata perdana menteri dan ibunda ratu. Posisi kita akan cepat terbongkar bila berunding di dalam istana raja!" Ashura ambil keputusan jujur walau akhirnya akan pahit. Fu Yen belum tentu terima semua cerita mereka. Lebih baik coba ketimbang menyesal nanti.


"Baiklah! Aku jemput dia sekarang! Aku akan bilang paman raja sakit keras! Paman raja mau ngasih pesan terakhir!" gurau Fu Kuang mengolok Paman raja.


Paman raja kontan memukul kepala Fu Kuang dengan kipas bambu di tangan. Orang sehat dibilang sakit berat bahkan mau beri pesan terakhir seakan paman raja sudah mau mati saja. Chen Yang sangat keberatan dijadikan alasan pancing Fu Yen. Kalau alasannya masuk akal masih bisa dipertimbangkan tapi ini seperti mendoakan Paman raja cepat mati.

__ADS_1


Ashura dan Hwa Lien tertawa cekikikan lihat betapa jengkel paman raja terhadap Fu Kuang. Fu Kuang terkekeh bisa hidupkan suasana mencekam yang baik baru saja berlangsung.


__ADS_2