CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Susun Rencana


__ADS_3

Permintaan Ashura sangat tak masuk akal. Tang punya puluhan ribu pasukan sedangkan Ashura hanya meminta 200 personil tentara. Baru sehari perang mereka sudah mati konyol. Apalagi tentara kerajaan Tang terkenal dengan keahlian menggunakan senjata dan panah. Apa yang ada di pikiran Ashura sampai begitu yakin bisa memenangkan peperangan ini. Gadis itu sedang usulkan cara bunuh diri paling tragis. Membahayakan kerajaan juga membahayakan seluruh rakyat.


"Ashura...sini kau!" panggil Fu Kuang mau tahu isi kepala anak itu sampai begitu yakin mau perang.


Ashura mengangkat dari layar ponsel. Mereka sedang main game memasak dari aplikasi offline. Hwa Lien senang bukan main dapat game baru selain tetris. Ternyata di dalam ponsel Asyura tersimpan beberapa game untuk mengisi waktu luang. Ashura tak menyangka keisengan dia mendownload game-game offline kini sangat berguna. Ashura sedang memperkenalkan teknologi modern kepada manusia-manusia dari zaman terbelakang.


"Ya jenderal?" Ashura menarik kaki hampiri dua lelaki dewasa yang masih ragu pada kemampuan Ashura.


"Dari mana ide kamu berperang? Memangnya kamu ngerti cara berperang?"


Ashura menggeleng kepala. Dia memang tak mengerti soal berperang namun Ashura bisa beri peralatan perang canggih untuk taklukkan kerajaan sombong.


"Aku memang tak bisa perang tapi aku punya peralatan perang zaman canggih. Mari kuperlihatkan peralatan perang era kami. Hwa Lien...bawa laptop aku ke sini! Kamu ikut dengar! Jangan asyik main game!"


Hwa Lien meletakkan ponsel di atas meja tanpa komentar. Gadis ini sebenarnya tak rela tinggalkan game yang sudah lewati beberapa tahap. Tapi Hwa Lien takut pada Ashura maka dia terpaksa bawa benda persegi ke tempat Fu Kuang berkumpul.


"Ini... permainan aku jadi terhenti!" Hwa Lien merepet.


"Bukankah aku sudah ajar kamu simpan data yang sudah lewat? Dasar otak tulalit..."


"Oya aku lupa...tunggu aku simpan dulu!" Hwa Lien kembali riang bisa save game yang misinya selesai. Gadis itu berlari ambil ponsel lalu serahkan pada Gina untuk save gamenya.


Chen Yang tidak heran melainkan Fu Kuang yang bingung tak ngerti apa maksud dari omongan Hwa Lien. Fu Kuang kan belum diajar main game offline. Chen Yang hanya ajar dia berfoto.


Ashura kutak katik layar ponsel lalu berikan benda itu kepada Hwa Lien lagi. Hwa Lien menerima benda itu langsung sembunyikan di balik baju seperti Chen Yang. Ashura tidak terlalu peduli pada benda itu. Pikirannya terfokus pada rencana perang lawan Tang.


Ashura perlihatkan tank baja serta senjata perang senjata laras panjang Ak 47. Bazoka serta senjata bren aneka type. Senjata yang memuat banyak peluru itu mempunyai daya tembak sampai dua tiga kilo. Semua senjata yang diperlihatkan oleh Ashura adalah mematikan bila dibawa ke kancah perang.


Ketiga orang itu terkesima melihat kecanggihan senjata yang ada dalam layar laptop Ashura. Baru kali ini mereka melihat benda seaneh ini. Rasanya sangat luar biasa bisa menyentuh barang itu. Mereka datang dari ribuan tahun ke depan. Kalau mereka meninggal tulang saja sudah tak berbentuk. Gimana mau capai masa jaya kehidupan moderen.


"Jujur aku juga kurang ngerti cara pakai alat ini cuma kita bisa belajar. Kita cukup melatih dua ratus tentara agar mahir menembak gunakan senjata-senjata ini! Kita pasang ranjau dan bom untuk hadang mereka. Sebelum capai ke tempat kita mereka sudah musnah." kata Ashura menerangkan daya hancur dari senjata moderen. Ashura belum cerita soal tidak nuklir lagi. Ini mungkin terlalu sulit bagi mereka untuk menyerap ilmu masa depan. Yang ini saja sudah buat mereka terpana.


"Lalu apa guna kotak besi ini?" Fu Kuang menunjuk tank baja yang garang.


"Ini mampu hancurkan musuh dalam jarak dekat maupun jauh. Tombak dan pedang tak mampu menembus tubuh benda ini. Ini asli baja kualitas tinggi. Jenderal harus belajar bawa tank ini. Sekarang jenderal dan paman raja tinggal sediakan lapangan luas yang tak diketahui orang. Kita latih tentara kita tanpa sepengetahuan orang luar. Rahasia gitu!"


Lama Ashura menunggu jawaban Fu Kuang. Jenderal itu sedang berpikir kebenaran omongan Ashura juga lokasi melatih pasukan bersenjata yang terpencil.

__ADS_1


"Dari mana kau ambil senjata ini sementara kau sudah di sini?" Fu Kuang bertanya menurut logika yang benar.


Ashura merasa apa yang ditanyakan Fu Kuang sangat masuk akal sehat. Ashura sudah terdampar di sini dari mana dia bisa dapatkan benda canggih ini lagi. Apa ada lorong waktu membuat Ashura bisa mengambil barang dari masa depan.


"Itu tak perlu jenderal pikirkan! Yang penting jenderal sediakan tempat dan pilih beberapa tentara punya keberanian besar."


"Aku tahu tempatnya! Di sebelah timur kan ada lapangan bekas hukum mati penjahat. Tempat itu sudah tak dipakai karena banyak arwah gentayangan. Tak semua orang berani ke sana." usul Chen Yang ingat tempat paling ekstrim.


"Aku tak mau pergi sana! Tempat itu mengerikan. Semua orang bilang tempat itu ada hantunya. Nanti kita semua dicekik sampai mati." tukas Hwa Lien cepat sebelum Ashura buat keputusan memaksa dia harus ikut ke tempat angker itu.


"Aku setuju... makin jarang orang ke sana makin bagus karena suara senjata ini cukup deras. Dari jarak beberapa KM bisa terdengar bila kita ledakan." Ashura langsung menyetujui tempat yang dikatakan angker itu. Makin sepi makin bagus.


"Baik..kita ke sana! Cukup kita berempat ke sana. Tak perlu bawa pengawal dulu." Fu Kuang pilih percaya pada Ashura. Fu Kuang mm rasa percaya pada Ashura takkan merugikan. Ashura sudah membuktikan bahwa dia bukan manusia dari zaman mereka. kini Fu Kuang ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakan Ashura itu adalah kebenaran.


Hwa Lien meringis bayangkan harus dengar suara setan menjerit. Belum ke sana saja gadis ini sudah merasa ketakutan. Mulut dan nyali tidak sinkron. Mulut Hwa Lien biasanya besar dan keras tapi giliran cerita soal hantu gadis ini kontan layu.


"Apa tak ada tempat lebih bersahabat?" tanya Hwa Lien ngeri-ngeri sedap.


"Kau mau latihan di halaman istana biar semua orang tahu putri Hwa Lien sedang latihan perang?" tanya Ashura menentang keinginan Hwa Lien cari tempat terbuka untuk latihan misi rahasia ini.


"Ya ngak gitu juga! Banyak tempat bisa kita kunjungi mengapa harus tempat yang sangat mengerikan itu?"


"Di sini kan bisa!"


Ashura mencolek kepala Hwa Lien dengan gemas. Latihan di sini sama saja buat pengumuman mereka sedang latihan perang. Apa istana kecil ini mampu tampung tank baja yang lumayan gede. Sekali tembak dinding istana langsung jebol. Belum lagi rentetan bunyi senjata Laras panjang dan bren yang dahsyat.


"Aku akan gunakan kepalamu sebagai sasaran tembak. Ayok kita berangkat! Nanti keburu malam!"


Fu Kuang dan paman raja sengaja beri kesempatan buat kedua cewek ini berdebat. Sudah lumrah sifat wanita senang besarkan hal kecil. Hanya berkunjung ke tempat terpencil jadi bahan debatan.


Gina yang terlahir di zaman atom mana takut yang namanya hantu. Gina yang sudah jumpa langsung dengan arwah Shu Rong tak takut lagi. Apalagi hantu Shu Rong hantu baik. Mau bantu Ashura membangun kerajaan sebagai balas jasa Ashura menuntut keadilan atas kematiannya.


"Ayok berangkat! Ashura naik kuda dengan aku saja. Hwa Lien kan bisa sendiri kan?" tanya Fu Kuang memang mengharap bisa memeluk gadis yang dia sukai pada pandangan pertama. Sayang dia tak berhasil selamatkan Ashura dari incaran sang raja. Kini sang raja sudah ada mainan baru yakni putri Tang maka kesempatan Fu Kuang akan terbuka lebar.


"Baiklah! Hati-hati tak buat kanda raja cemburu kanda jenderal dekat dengan calon ratunya." Hwa Lien ingatkan Fu Kuang supaya tidak boleh berpikir lebih terhadap Ashura.


"Calon ratu apa? Siapa lagi mau jadi ratu? Aku senang hidup bebas seperti sekarang. Tak ada yang intai serta iri pada kita. Ayok kita berangkat sebelum gelap."

__ADS_1


Akhirnya keempat orang ini berangkat ke lokasi yang ditunjuk oleh Paman raja. Ashura harus yakin kalau lokasi itu aman dari pantauan orang agar mereka bebas lakukan latihan senjata berat. Ashura terpaksa bawa teknologi masa depan ke sini walau akan jadi bahan perdebatan di masa mendatang. Paling manusia abad moderen akan kaget mengapa di zaman lampau ada senjata dari masa depan.


Tempat yang dimaksud Chen Yang agak keluar kota di belakang pengunungan. Jauh dari pemukiman penduduk. Harus lalui hutan cukup lebat baru capai lokasi tersebut. Di situ hanya ada satu bangunan mulai reyot tanpa perawatan.


Kalau untuk tempat persembunyian latihan sudah cukup memadai cuma mereka butuh tempat yang lebih bagus untuk menyimpan senjata yang pasti akan banyak. Mata Ashura sibuk memantau lokasi apa layak untuk melatih prajurit. Chen Yang cs hanya diam saja karena Ashura Ayng lebih tahu apa yang harus dilakukan.


Lama keliling akhirnya mereka turun dari kuda untuk cek lebih akurat rumah yang kurang layak untuk jadi gudang. Masih harus ada perbaikan untuk rumah ini. Fu Kuang duluan buka pintu rumah tak layak huni itu. Begitu pintu terbuka bau apek menyengat hidung membuat Ashura dan Hwa Lien menutup hidung. Abu dan sarang laba-laba memenuhi seluruh ruangan rumah itu. Tidak kotor namun lembab beri kesan seram.


Hwa Lien bersembunyi di balik punggung Chen Yang mengintip dari balik belakang pamannya itu. Hwa Lien takut mendadak muncul makhluk menyeramkan menyerang mereka. Beda dengan Ashura yang pemberani masuk tanpa gaya manja.


"Ini butuh perbaikan!" gumam Ashura ntah ditujukan kepada siapa. Semua mendengar gumaman Ashura dan mengangguk serentak. Fu Kuang paling setuju perkataan Ashura. Tempat ini butuh penanganan lebih serius baru layak dipakai.


"Kalau sudah bisa dipakai aku akan perbaiki rumah ini agar layak dihuni. Untuk sementara kita buat tenda untuk prajurit yang ikut latihan. Aku akan buat tempat bila sewaktu kau mau nginap di sini."


"Kalau lokasi sudah cocok jauh dari pemukiman penduduk. Suara


latihan pasti terdengar walaupun samar-samar. Kita harus buat karangan kalau hutan ini ada binatang buas yang sangat ganas bair penduduk tak berani masuk hutan ini cari kayu maupun sayuran. Kita harus buat mereka percaya."


"Tenang Ashura...itu bagian aku! Aku akan bantu sebar berita bohongan ini." Hwa Lien menepuk dada mulai berani jalan sendiri karena keadaan aman tanpa ada gangguan seperti dia bayangkan.


"Baiklah! Besok aku akan mulai kerja! Kuharap ini bukan satu lelucon di antara kalian kaum wanita. Ini menyangkut keselamatan kerajaan kita." Fu Kuang menatap Ashura berharap Ashura tak bercanda dengan nasib kerajaan besar mereka. Salah langkah taruhannya seluruh negeri akan hancur lebur.


"Aku akan lakukan yang terbaik untuk kita semua. Cuma satu permintaan aku! Jika kalian sudah jaya janganlah menekan kerajaan kecil. Hiduplah damai! Berilah kerajaan kecil kemakmuran bila kalian makmur! Terutama kerajaan Chau yang kecil."


Fu Kuang dan Chen Yang terpaku dengar ujaran Ashura yang cinta damai itu. Gadis ini datang membawa kedamaian untuk seluruh daratan agar tak ada peperangan lagi. Hidup damai hormati wilayah masing-masing.


"Aku janji..." Fu Kuang juga sudah lelah harus berperang terusan. Yang korban tetap saja para tentara. Mereka yang gugur harus meninggalkan anak istri menderita seumur hidup. Bila perang sudah berkecamuk maka anak dan janda bermunculan di mana-mana. Baik tapi pihak kerajaan maupun dari pihak musuh tetap ada korban.


"Terima kasih...kita akan mulai besok!" Ashura memandang teduh pada Fu Kuang. Harusnya seorang jenderal memang bijak tak anggap perang sebagai pekerjaan utama. Keselamatan rakyat kecil lebih berharga.


"Sekarang kita balik dulu! Sebentar lagi sudah gelap." Chen Yang tak ingin berlama-lama di tempat seram ini. Begitu malam menjelang datang suasana di sini pasti akan bertambah angker. Secepatnya mereka harus meninggalkan tempat ini sebelum sekeliling menjadi gelap.


Fu Kuang mengangguk setuju. Mereka segera naik ke atas kuda untuk kembali ke istana dingin. Ashura Kemabli berada dalam rengkuhan Fu Kuang. Andai kata Fu Yen melihat semua ini pasti akan mengira Ashura sedang selingkuh dengan Fu Kuang. Fu Yen kan tahu apa yang sedang mereka lakukan. Yang tampak hanya lah apa yang terlintas di mata.


Fu Kuang sangat sopan tidak memeluk Ashura selain menjaga wanita ini agar tidak jatuh dari kuda. Hwa Lien dan Chen Yang bukan tak tahu kalau sang jenderal juga suka pada Ashura. Kedua orang paling berpengaruh di kerajaan jatuh cinta pada wanita yang sama. Fu Yen lebih maju karena dia adalah raja. Lebih punya kesempatan meraih Ashura ke pelukan.


Fu Kuang sudah hafal bau badan Ashura yang tak bisa dia lupakan selamanya. Pertama kali jumpa Ashura di tepi sungai Fu Kuang sudah suka pada gadis ini. Siapa sangka gadis ini adalah milik raja.

__ADS_1


"Kau ada rencana menetap di samping raja?" tanya Fu Kuang di sela perjalanan pulang.


"Aku terpaksa di sisi raja karena status aku sebagai putri kerajaan Chau. Kalau bisa aku mau keluar istana dan menjadi rakyat biasa. Untuk bantu rakyat tak perlu jadi pejabat ataupun penguasa. Semua itu hanya sementara karena kita semua akan meninggal. Apa yang kita bawa kalau bukan hanya tubuh yang dingin."


__ADS_2