
Ashura senang Fu Yen bisa menerima nama aslinya. Dengan demikian dia tak perlu memakai nama orang yang sudah meninggal sebagai tameng. Hati Ashura lebih lega bisa menjadi diri sendiri walau tetap harus pakai status Shu Rong.
"Kita cepat bersiap untuk ke ruang sidang. Para pejabat pasti sudah menanti kita." ajak Fu Yen sambil menarik tangan Ashura untuk segera bersiap ke ruang sidang.
Ashura menghela nafas terpaksa ikuti keingainan sang raja menuju ke ruang sidang. Tugas berat sedang menanti Fu Yen lagi. Berhadapan dengan para pejabat licik cukup bikin pusing raja muda itu. Namun itu adala resiko sebagai raja satu kerajaan besar.
Fu Yen mengajak Ashura sarapan di kamarnya sebelum pergi ke rapat negara. Para pelayan istana Fu Yen heran mengapa tiba tiba raja balik kamar bersama penasehat sambil gandengan tangan. Bagi yang sudah tahu status Ashura tentu saja tak heran namun bagi mereka yang kenal Ashura sebagai penasehat kerajaan tentu bingung melihat kenyataan raja mereka gandengan sama cowok cantik. Asumsi negatif tentu saja bermain di otak mereka.
Fu Yen masa bodoh terhadap tatapan aneh para pelayan. Toh dia yang tahu siapa sesungguhnya Ashura. Gadis pinter yang telah merebut seluruh perhatian Fu Yen.
Ashura makan dengan lahap seperti biasanya dengan selera tinggi. Fu Yen selalu senang lihat gaya Ashura yang tak dibuat buat. Gaya Ashura alami tanpa rekayasa sok imut.
"Ashura makan pelan. Semua untukmu kok!" Fu Yen takut Ashura tersedak karena makan cepat seolah dikejar pak kamtib.
"Aku lapar karena energiku terkuras habis gara gara kawal badak liar." sahut Ashura asalan.
Fu Yen terbahak bahak mengerti apa maksud omongan Ashura. Tentu saja Ashura kelelahan layani nafsunya yang sangat besar. Berkali kali Fu Yen mengajak Ashura berlayar harungi percintaan dahsyat. Fu Yen ketagihan nikmati tubuh Ashura yang ranum. Wangi aroma terapi tenangkan jiwa.
"Makan yag banyak. Badakmu pasti kembali."
"Ciss..badak cabul..aku sudah siap. Kita bertugas sekarang. Oya..jangan lupa umumkan penyakit menular yang sedang melanda istanamu!"
Mata Fu Yen menyipit mendengar kata Ashura. Penyakit menular apa pula. Ashura mendecak lihat Fu Yen tidak ngerti maksudnya padahal mereka sudah bahas masalah ini sebelumnya.
"Penyakit kelamin..harus cepat diobati sebelum makin meluas. Dari sini kita bakal tahu siapa yang setia dan yang tak setia."
"Mana ada yang berani ngaku? Semua pasti akan bungkam."
"Bungkam rugi sendiri. Penyakit ini akan gerogoti alat kelamin sampai rusak. Kalau sudah terlalu parah ya meninggal. Yang Mulia lupa ya kalau aku pernah cerita masalah penyakit ini."
"Aku masih ingat tapi ini adalah aib. Siapa yang berani ngaku secara terangan?" Fu Yen mengusap wajah pusing pikirin penyakit yang sedang trend di kalangan istana.
Ashura kasihan pada Fu Yen namun ini adalah resiko jadi raja. Apalagi penyakit ini melanda dalam istana. Kewibawaan keluarga istana sedang diuji. Betapa buruk mental penghuni istana mencari kesenangan tanpa pikir akibat buruk.
"Yang Mulia bisa umumkan pandemi penyakit tanpa perlu katakan penyebabnya dan ceritakan bahaya penyakit ini."
"Apa di dengar?"
"Dengar atau tidak terserah mereka. Yang Mulia cuma perlu ingatkan bahaya penyakit ini dan akibat penyakit ini. Selanjutnya terserah mereka."
Fu Yen mangut mangut setuju usul Ashura. Kalau tak dimulai dari sekarang maka takkan ada titik akhir.
"Kau saja yang terangkan agar lebih jelas. Aku masih kurang paham penyakit ini."
"Baiklah! Setelahnya aku perlu konsul sama tabib istana bahas penyakit ini."
"Kuijinkan asal waktumu tetap ada untukku." kata Fu Yen kerling genit.
"Dasar anak kecil..yok berangkat! Aku masih banyak kerja lain. Hari ini aku mau jumpa jenderal Fu Kuang minta tolong urus masalah pertanian."
Fu Yen langsung berdiri begitu nama Fu Kuang muncul dalam pembicaraan mereka. Fu Yen selalu takut adiknya itu bakal rebut hati Ashura walau Ashura telah mutlak jadi milik sang raja.
__ADS_1
"Kenapa harus dia?"
"Aku perlu orang paham tentang pandai besi karena aku mau buat bajak untuk ringan pekerjaan para petani. Fu Kuang pasti kenal panadai besi karena sering buat senjata. Jangan pikir aneh aneh deh! Aku bukan orang gampang berpaling demi nafsu. Masih banyak yang harus kita lakukan untuk rakyat." Ashura langsung patahkan bayangan buruk Fu Yen terhadap hubungan yang bakal dibangun demi kesejahteraan rakyat.
"Masih banyak orang lain ngerti senjata. Gak boleh Fu Kuang." Fu Yen melengos tetap tak ijinkan Ashura jalin hubungan dengan sang adik. Rasa cemburu terlalu besar di hati membuat Fu Yen tak bisa terima kehadiran Fu Kuang di sekitar Ashura.
"Yang Mulia..Aku juga mau bikin senjata baru untuk kalian jadi ini rahasia kerajaan yang tak boleh diketahui orang lain. Fu Kuang adikmu jadi tak masalah dia tahu senjata apa yang kurancang."
Mata Fu Yen terbelalak dengar Ashura mau bikin senjata untuk kerajaan. Seorang gadis kecil bisa ngerti apa soal senjata. Itu adalah tugas seorang laki. Siapa sebenarnya wanita di depannya ini. Semua dia ngerti. Ashura seperti malaikat diturunkan bantu dia selesaikan kepelikan kerajaan.
"Ashura kau yakin bisa bikin senjata baru?"
Ashura angguk dengan mantap. Ashura berniat ajar Fu Kuang rangkai ranjau untuk jebak musuh juga bikin pistol sederhana yang masih belum ada di jaman ini. Ashura bukan ahli senjata namun dikit dikit ngerti bagaimana daya kerja pistol rakitan.
Dulu Liem suka ajak Ashura menembak di klub untuk habiskan waktu. Liem termasuk anggota Perbakin yang naungi remaja berbakat di bidang menembak. Ashura bukan ahli tapi ngerti dikit.
"Aku akan gambar cara kerja senjata baru untuk kalian. Yang Mulia boleh ikut dalam rencana ini biar tak tak banyak tenggelam dalam asam cuka."
"Dasar..kau mau bilang aku cemburu pada adikku sendiri?"
"Apa bukan gitu?" ejek Ashura bikin Fu Yen gemas. Tangan Fu Yen terulur hendak acak rambut Ashura yang tergulung rapi sebagai penasehat cantik.
Ashura lebih gesit menghindar menuju keluar kamar. Di luar kasim Du dan beberapa pelayan menanti dengan sabar sang majikan sarapan bersama orang tercinta.
Ashura mengangguk hormat pada Kasim Du yang sekarang jadi bapak angkatnya. Kasim Du lebih tua maka Ashura wajib beri rasa hormat walau status Ashura lebih tinggi sebagai wanita raja.
"Bapak sudah sarapan?" bisik Ashura pelan dekat Kasim Du.
Hal ini yang paling tak disukai Ashura. Orang kecil selalu terinjak padahal kerja mereka lebih dari majikan. Pagi siang malam tanpa kenal lelah mereka layani raja sepenuh hati. Namun kesehatan mereka terabaikan.
"Bapak makan dulu. Aku akan ajak Yang Mulia putar putar sampai bapak selesai makan. Pergilah! Aku yang tanggung jawab. Sekalian ajak para pengawal makan. Hari ini kita akan berjuang di meja rapat hadapi tikus tikus nakal. Harus punya energi lebih." gurau Ashura bikin Kasim Du tersenyum. Perhatian kecil dari Ashura bagai tetesan embun penyejuk di hati.
Selama ini tak ada orang peduli nasib pekerja rendahan macam mereka. Yang ada hanya kerja tak kenal waktu sebelum raja istirahat.
Kasim Du beri kode pada penjaga agar ikut dengannya menuju ke dapur. Tanpa disuruh dua kali mereka langsung bergerak ke belakang
Ashura kembali ke kamar untuk bikin Fu Yen sibuk sesaat agar tak cepat ke ruang Sidang. Ashura mau beri kesempatan pada pengawal dan Kasim Du makan pagi.
Fu Yen sudah siap hendak keluar kamar menuju ke ruang sidang. Ashura cepat cepat menahan sang raja agar tak keluar.
Ashura pura pura sakit perut untuk halangi Fu Yen keluar kamar. Fu Yen langsung tanggap melihat gadisnya tiba tiba sakit perut.
Fu Yen segera membantu Ashura duduk di tempat tidur agar sang gadis bisa istirahat. Wajah Fu Yen dipenuhi rasa cemas tak terhingga.
Ashura memegang perut pura pura mules padahal hanya sandiwara untuk tahan langkah sang raja. Ashura mau beri kesempatan pada Kasim Du dan para pengawal nikmati sarapan pagi.
"Mana yang sakit sayang?" tanya Fu Yen panik
"Perutku melilit..mungkin kelewat banyak makan tadi." Ashura terpaksa lanjutkan sandiwara pagi ini. Sebenarnya Ashura merasa berdosa menipu sang raja namun demi kebaikan semua orang berbohong dikit mungkin dosanya kecil.
Fu Yen menyentuh perut Ashura penuh kasih sayang takut gadisnya bener bener sakit. Ketulusan sang raja tak usah diragukan karena wajahnya benar panik.
__ADS_1
"Aku panggil tabib dulu ya! Kau sabar sebentar." Fu Yen bermaksud keluar cari kasim Du ataupun pengawal panggil tabib istana.
Ashura cepat cepat meraih tangan raja agar jangan keluar kamar. Mencari kasim Du dan pengawal sama saja bongkar sandiwara tanpa sutradara ini.
"Jangan Yang Mulia! Hamba hanya merasa agak dikit melilit. Istirahat sebentar juga enakan! Peluk hamba biar nyaman!"
Fu Yen masih belum tenang sebelum Ashura merasa enak. Jantung Fu Yen terasa mau copot lihat wanita yang telah rajai hatinya menderita.
Fu Yen duduk di samping Ashura memeluk gadisnya sesuai permintaan Ashura. Keduanya sama sama nyaman merasakan kehangatan sejati yang keluar dari hati kecil. Ashura merasa bahagia dan nyaman berada dalam pelukan laki yang sekarang jadi suami bayangan. Keduanya belum resmi menikah walau secara simbolis Ashura adalah wanita raja.
"Bagaimana sayang? Ada enakan? Atau kita batalkan pertemuan hari ini?"
"Jangan! Tunggu bentar lagi juga akan enak. Terima kasih sudah mau jaga hamba."
Tangan Fu Yen mengelus punggung Ashura dengan lembut. Sentuhan sang raja begitu lembut menyatakan isi hati tulus. Ashura memejamkan mata meresapi kebersamaan indah ini. Ntah kapan ini akan berakhir. Kehadirannya di dunia sang raja muda hanya sepintas untuk bantu Shu Rong sempurnakan kematian. Kini Ashura malah terjebak dalam pelukan sang raja.
"Kau adalah wanita pertama yang warnai hidupku yang tak berwarna. Bersamamu hidupku lebih berarti. Aku bersumpah takkan duakan kamu. Kalau aku berkhianat maka aku tak sempurna sebagai lelaki. Aku bersumpah bila menyentuh wanita lain nafsuku akan mati selamanya. Kecuali denganmu aku bisa bercinta." janji Fu Yen sungguh sungguh sambil angkat jari hadap ke atas.
Tiba tiba petir menggelegar sambut sumpah Fu Yen. Padahal hari sangat cerah tanpa tanda akan hujan. Ashura bergidik ngeri bayangkan dahsyatnya sumpah seorang raja. Fu Yen sendiri tak kalah kaget lihat efek sumpahnya. Ternyata langsung dijawab sama Yang Maha Kuasa. Artinya sumpah Fu Yn tak main main.
"Yang Mulia sangat konyol! Ini bukan main main..kita manusia biasa tak luput dari dari silap. Yang Mulia bisa termakan sumpah nanti." desah Ashura masih kaget lihat fakta sumpah Fu Yen dapat respon dari alam.
"Aku tak nyesal sayang...kau adalah wanitaku satu satunya. Sekarang bagaimana perasaanmu? Masih sakit?"
Ashura melirik ke pintu cari tahu apa kasim Du dan pengawal sudah balik. Ada bayangan orang berdiri di pintu buat Ashura menarik nafas lega. Ternyata kasim Du dan para pengawal sudah siap sarapan kilat.
Ashura yakin mereka makan dengan tergesa gesa mengingat waktu sangat sempit untuk makan santai. Bagi Ashura tak jadi masalah yang penting para pelayan juga bisa hidup layak.
"Sudah enakan. Rasa lilit sudah hilang. Ini mungkin kekenyangan."
Fu Yen memencet hidung bangir Ashura dengan gemas. Laki ini mengecup hidung mungil itu lalu mendarat di bibir.
"Kamu bikin aku ketakutan. Harus dihukum nanti malam."
"Idih...hukum aja sekarang! Ngapain tunggu malam." Ashura melengos manja buat Fu Yen makin gemas. Kalau bukan ada kerja ingin rasanya kurung Ashura dalam kamar seharian.
"Hukuman buatmu hanya bisa dilaksanakan malam hari. Algojonya siang tak bisa kerja maksimal." racau Fu Yen menggoda Ashura lebih jauh.
"Dasar raja cabul...Kita berangkat sekarang!" Ashura segera melepaskan diri dari pelukan sang raja keluar kamar raja mencari kasim Du.
Fu Yen tersenyum senang lihat gadisnya sudah lincah lagi. Sebenarnya Fu Yen tahu gadisnya sedang sandiwara tahan langkahnya. Fu Yen bukan raja bodoh yang tak tahu apa apa. Ashura mau bersandiwara maka Fu Yen hanya bisa temani biar gadisnya senang. Niat Ashura juga baik terhadap pelayannya. Hati Ashura seperti terbuat dari emas. Selalu berkilau di manapun.
Ashura tersenyum senang lihat Kasim Du dan pengawal terlihat lebih segar setelah makan sarapan pagi. Hari ini akan lebih baik dibanding hari sebelumnya. Semoga rapat pagi ini akan lebih baik dari hari sebelumnya.
Fu Yen beri tanda agar menuju ke istana utama melaksanakan rapat penentuan soal selir dan pajak negara. Ashura perbaiki tata gaya agar terlihat lebih gagah dikit dengan tampang imut gitu.
Fu Yen melirik penasehatnya yang cantik dengan hati senang. Asal bersama Ashura segala lebih baik. Ashura seperti doping bagi Fu Yen. Nyali Fu Yen lebih besar bila didampingi Ashura karena gadis ini lebih cerdas mampu beri solusi bila ada masalah.
Kereta kuda bergerak berjalan menuju ke istana utama. Fu Yen naik satu kereta sama Ashura sedang kasim Du dan berapa pengawal berjalan di samping kereta mengawal sang raja sampai ke tujuan.
Andai ada kendaraan sederhana buat para pengawal maka mereka tentu tak akan capek seperti ini.
__ADS_1