CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Bersama


__ADS_3

Fu Yen terpesona melihat gaya Ashura melontarkan amarah. Berapi api penuh semangat. Sisi feminim Ashura hilang berganti gaya maskulin pemimpin sejati. Andai Ashura terlahir sebagai lelaki pasti akan memimpin negara dengan adil. Sayang Fu Yen tak memiliki jiwa kuat macam Ashura. Fu Yen masih ada rasa takut pada para pejabat peninggalan ayahnya.


Fu Yen menarik Ashura ke pelukannya mencari ketenangan dari bau tubuh Ashura yang paling disukai Fu Yen.


"Biarkan aku memelukmu! Aku bahagia bersamamu. Hatiku tenang bila berdua denganmu." bisik Fu Yen tak malu ungkap perasaan terdalam dari hati kecil.


Ashura tertegun dengar nada lemah Fu Yen. Nyatanya seorang raja bisa juga punya rasa pesimis di saat terjepit gitu.


Ashura menepuk punggung Fu Yen perlahan biarkan laki itu cari apa yang dia rasakan bisa tenangkan jiwa. Ashura tak keluarkan kata apapun selain ijinkan Fu Yen tenang. Ashura dapat merasakan sebenarnya jiwa Fu Yen tak sekuat fisik. Laki ini dipenuhi rasa ragu dalam bertindak. Timbang kiri kanan takut kehilangan dukungan.


Sifat plin plan gini akan merugikan rakyat. Raja hanya mendengar cerita para pejabat yang untungkan kantong sendiri.


"Yang Mulia..kalau perduli pada rakyat jangan takut pada mereka yang hanya pinter isap darah rakyat. Kau harus tegas." kata Ashura lembut berusaha masuk ke dalam alam pikiran Fu Yen agar tegar. Sudah saatnya Fu Yen ambil tindakan habiskan tikus tikus tukang gerogoti harta negara.


"Aku harus bagaimana?" desis Fu Yen lemah. Laki ini makin pererat pelukan Ashura cari rasa tenang dalam diri gadisnya.


"Kau berani kalau pecat pejabat yang tak patuh?"


Fu Yen menjauhkan badan Ashura dari tubuhnya sambil menarik nafas panjang seolah ada beban berat dalam dada sulit bernafas lega.


Ashura langsung tahu Fu Yen takut melangkah lebih jauh mencopot pejabat teras. Tatapan mata Fu Yen penuh keraguan untuk menjawab pertanyaan Ashura.


Ashura tersenyum sejenak lalu meraih tangan lakinya penuh rasa sayang.


"Aku tak memaksamu. Kalau kau percaya padaku maka ijinkan aku beri masukan."


"Maksudmu?"


"Pertama kau harus yakin Fu Kuang dan Paman raja setia padamu. Mereka adalah pendukung terbesarmu. Fu Kuang memegang seluruh kekuatan perang dan paman raja memegang kebijaksanaan negara. Kau harus percaya pada mereka unutk lindungi negaramu. Hamba merasa ibunda ratu dan perdana menteri sedang bangun kekuatan untuk gulingkan kamu."


Fu Yen melongo tak percaya apa yang dikatakan Ashura tentang ibunda ratu. Wanita itu sudah besarkan Fu Yen dari kecil mana mungkin berniat buruk padanya.


"Jangan lancang fitnah ibunda!"


Ashura tertawa sinis melihat Fu Yen tak percaya laporannya. Perdana menteri ingin jadi raja seperti cerita Shu Rong. Shu Rong tak mungkin salah karena dia adalah korban konspirasi jahat ratu dan selir Fu Yen. Ashura harus buka mata Fu Yen terhadap kejahatan besar dalam istana.


"Hamba akan cari bukti kejahatan mereka! Sekarang Yang Mulia harus ijinkan hamba bergerak bebas di dalam dan luar istana. Hamba akan buktikan semua kejahatan mereka."


Fu Yen masih ragu pada kemampuan Ashura cari tahu apa yang telah terjadi dalam lingkungan istana. Ashura hanya gadis muda yang berdarah panas. Kadang suka asalan ditambah manja dikit.


"Kau mampu?"


"Hamba akan berusaha. Dan Yang Mulia harus percaya pada hamba kalau hamba setia sampai ajal menjeput." Ashura mengangkat jari hendak bersumpah setia pada Fu Yen. Fu Yen dapat rasakan kesungguhan Ashura hingga cepat cepat meraih tangan gadis ini agar jangan melanjutkan sumpahnya.


"Aku percaya padamu. Kalau kau nakal aku tak dapat rasakan yang namanya isteri perawan. Aku akan ikuti nasehatmu kalau itu cocok untuk kemajuan negara. Aku sangat lelah. Aku mau tidur."


"Tidurlah! Aku akan pijat kamu biar tidurnya lebih lelap. Bukalah bajumu!"


Fu Yen tersenyum nakal dengar Ashura memintanya buka baju. Arah pemikiran Fu Yen melayang ke arah lain menjurus hal negatif.

__ADS_1


Ashura tahu pikiran nakal Fu Yen langsung tinju dada lakinya dengan gemas.


"Dasar raja mesum..aku cuma mau pijat kamu biar segar."


"Kau harus bertanggung jawab kalau ada yang terbangun! Berdua denganmu selalu datangkan hasrat aneh. Aku ingin memakanmu sampai habis kenyang." Fu Yen tertawa licik. Rasa ngantuk dan lelah hilang seketika berubah menjadi suasana panas.


"Gk jadi urut kamu! Balik ke istanamu atau ke istana selirmu yang siap layani kamu setiap saat."


"Sudah di sini mana boleh pergi lagi? Rugi kalau siakan sarapan malam lezat." Fu Yen langsung merebahkan Ashura di tempat tidur dan mencium gadis ini dengan mesra.


Ashura masih risih walau sudah pernah lakukan hal ini bersama laki ini. Bagaimanapun Ashura tetap gadis lugu yang belum banyak jam terbang urusan layani suami. Ashura ibarat pabrik yang baru diresmikan. Masih gres dan harus dijalankan perlahan agar lancar beroperasi kelak.


"Kenapa? Masih malu? Aku sudah miliki kamu seutuhnya. Kau adalah wanitaku yang cantik." rayu Fu Yen tenangkan Ashura yang masih gemetar hadapi Fu Yen yang mulai lempar pakaian.


"Bisakah kau tidur sekarang?" tanya Ashura seperti orang bodoh.


"Bisa..tapi setelah sarapan malam. Tutup matamu! Kau rasakan kesungguhanku padamu. Kita akan sama sama buat penerus kerajaan." bisik Fu Yen di telinga Ashura.


Ashura yang terkunci di bawah Fu yen tak bisa bergerak karen laki ini terusan lancarkan berbagi rayuan agar Ashura menyerah pada kemesraan yang diberi laki ini.


Ashura masih malu malu kucing waktu Fu Yen berhasil jadikan Ashura bagai bayi yang baru lahir tanpa sehelai benangpun. Fu Yen jelajahi setiap sudut tubuh sintal Ashura membuat kepanasan karena nafsu. Fu Yen sang ahli bercinta cepat kuasai Ashura dalam percintaan panas.


Berkali kali Fu Yen sebar benih di rahim Ashura agar cepat dapat penerus raja kelak. Ashura terlena tak sadar percintaan ini akan bawa dia terjepit posisi sulit kelak. Kalau di hamil ke mana akan dibawa anaknya.


Fu Yen puas sekali sudah habiskan malam bersama Ashura. Gadis lugu ini benar benar buat Fu Yen lupa daratan. Fu Yen tak pernah rasakan percintaan sehebat ini sejak kenal yang namanya wanita. Tak satupun selir mampu imbangi kepuasan bersama Ashura. Gadis muda ini gurih dan legit.


Kicauan burung pagi hari bangunkan Fu Yen dari rasa lega dan nyaman. Laki ini melihat Ashura masih tertidur nyenyak dalam pelukannya. Wajah cantik Ashura makin bersinar setelah dapat suntikan cinta darinya. Fu Yen bersyukur dapat calon ratu yang pinter dan cantik macam Ashura. Fu Yen yakin angkat Ashura jadi pendamping walau banyak tantangan ke depan.


"Selamat pagi bidadariku! Kau cantik sekali.." puji Fu Yen tulus.


Ashura menunduk malu di puji Sang Raja dalam keadaan berantakan. Baru bangun bagaimana bisa disebut cantik. Bau nafas juga bau asam keringat sudah ganggu hidung. Mereka bercinta sangat hebat sampai keringat meleleh tak henti. Badan Fu Yen berkilap karena dibasahi keringat keluar dari pori pori saking panasnya cinta mereka.


"Yang Mulia bangunlah! Sudah pagi." bisik Ashura malu.


"Apanya yang bangun? Apa kau belum cukup capek?" goda Fu Yen bikin Ashura makin baper.


"Idih..otak kotor! Ayo bangun dan mandi! Yang Mulia bukankah masih harus ke rapat kerajaan?"


"Aku mau peluk kamu sebentar lagi! Kau mau ikut rapat hari ini?"


"Boleh..aku mau lihat kelicikan para pejabat nakalmu. Bangun dan mandi!"


"Mandi berdua ya! Aku akan gosok badanmu biar makin kilap."


"Ogah..maluin saja.!" Ashura segera bangun menuju ke kamar mandi. Belum sempat gadis ini melangkah seluruh badan terasa kaku karena tubuhnya belum berpakaian. Sementara mata nakal Fu Yen sedang melihat pamandangan pagi nan indah. Tubuh sintal tanpa noda. Bersih bak pualam dari alam.


Ashura segera meraih selimut menutupi tubuhnya dari tatapan nakal sang raja. Begitu selimut di seret tubuh Fu Yen pula tampak telanjang di atas tempat tidur. Ashura menjerit kaget disuguh pemandangan frontal laki dewasa tanpa pakaian. Ashura belum terbiasa berhadapan dengan laki walau sudah jadi milik Fu Yen seutuhnya.


Fu Yen tertawa geli lihat Ashura bagai cacing kepanasan lihat tubuh telanjangnya. Padahal mereka bercinta dengan dahsyat tak kenal lelah namun gadis ini masih malu malu kucing.

__ADS_1


Ashura buang muka tak mau menatap visual merangsang otak ini. Ashura memilih lari ke kamar mandi tanpa peduli tawa derai Fu Yen.


Fu Yen merasa bahagia bisa habiskan malam hangat bersama selir tercinta. Selirnya lain berani juga tak kenal malu dalam melayani hasrat nafsu Fu Yen. Mereka akan upayakan segala cara senangkan Fu Yen di atas ranjang. Tak jarang bertingkah seperti pelacur murahan layani pelanggan setia. Fu Yen hanya merasakan kesenangan nafsu tanpa ada rasa berarti.


Bersama Ashura terasa lain. Fu Yen yang ngebet ingin Ashura jadi teman tidur. Bukan Ashura sodorkan diri.


Fu Yen segera ikut Ashura masuk kamar mandi. Fu Yen masih betah nikmati kebersamaan dengan Ashura yang menarik.


Ashura sedang berendam dalam kolam penuh air sambil gosong badan dengan handuk kecil. Gerakan Ashura terasa makin sexy di mata Fu Yen. Ashura mandi tanpa menggoda Fu Yen namun sang raja sendiri tergoda oleh gerakan sederhana Ashura.


Perlahan sang raja ikut masuk dalam kolam mendekati Ashura. Langkah sang raja timbulkan riak air buat Ashura terbelalak melihat kehadiran sang raja tanpa busana. Bentuk tubuh Fu Yen yang kokoh bak tokoh dalam mitos herkules yunani.


Ashura menutup mata tak sanggup melihat pemandangan menggoda mata ini. Mata Ashura tercemar oleh kejantanan sang raja.


Fu Yen memeluk Ashura sambil mengusap punggung gadis ini yang mulus. Gerakan Fu Yen lembut menggoda naluri kewanitaan Ashura. Benar saja Ashura terpancing gerakan sederhana sang raja. Tanpa sadar Ashura mendesah terbawa rasa nikmat dielus Fu Yen. Elusan Fu Yen merangsang otak gadis muda ini. Gairah muncul lagi ingin merasakan hal lebih sekedar sentuhan.


Fu Yen bukannya tak tahu gadisnya terangsang lagi oleh sentuhan lembutnya namun sang raja tak dapat berbuat lebih karena tugas sedang menanti. Mereka tak dapat melanjutkan kemesraan mereka saat ini.


"Nanti malam akan kuhabisi kamu. Sekarang tugas sedang menanti kita. Cepat mandi dan kita sarapan!" bisik Fu Yen lembut di telinga Ashura. Ashura tersipu malu ketahuan mengharap lebih dari sang raja. Ashura tak boleh manja mengingat tugas lebih penting sedang menanti mereka.


Ashura cepat cepat akhiri ritual mandinya tanpa berani menoleh ke arah Fu Yen yang masih kegirangan karena Ashura mulai jinak padanya. Tinggallah Fu Yen mandi sambil mengkhayal hari hari indah bersama Ashura bila rencana mereka bangun kerajaan agar lebih maju brhasil terlaksana.


Sementara di kamar Ashura segera berpakaian sebagai penasehat raja lagi. Untuk sementara ini status Ashura sebagai puteri Shu Rong belum boleh terbongkar untuk jebak para pemberontak terselubung.


Muncullah penasehat cantik yang menggoda setiap mata wanita genit. Bibir Ashura yang ranum dan mata biru menenangkan sudah cukup tenggelamkan pencinta penasehat dalam khayalan kosong.


Fu Yen datang hanya dibalut kain tipis tutupi aurat agar sang selir tak histeris lagi lihat tubuh telanjangnya. Ashura masih tetap malu walau Fu Yen sudah menutup ***********. Bersama laki telanjang dalam kamar merupakan hal baru bagi Ashura. Pengalaman berbagi ranjang dengan laki baru saja dirasakan selama bersama Fu Yen. Sang raja adalah laki pertama dalam hidup gadis muda ini.


"Berpakaianlah Yang Mulia!" kata Ashura pelan sambil lempar pandangan ke arah lain.


"Bersamamu rasanya ingin telanjang selamanya." ujar Fu Yen sekedar menggoda Ashura.


"Bagus biar tercatat sejarah ada raja gila yang doyan telanjang!"


Fu Yen terkekeh dengar sahutan tak manis Ashura. Seharusnya gadis ini bangga dihargai sang raja. Tapi Ashura biasa saja tak antusias tanggapi gombalan pagi sang raja.


"Bantu aku berpakaian!" perintah Fu Yen sambil berdiri tegak mengharap Ashura membantunya berpakaian. Seorang raja berpakaian saja harus dilayani. Sungguh ribet. Bukankah berpakaian sendiri lebih nyaman daripada dibantu mirip orang cacat fisik. Sungguh aneh pola pikir orang jaman.


Walau tak suka namun Ashura tetap laksanakan perintah sang raja. Satu persatu pakaian melekat ke badan gagah itu sampai utuh jadi pakaian resmi sang raja.


Harus Ashura akui sang raja memang tampan juga gagah. Tak heran banyak wanita mengharap jadi wanita raja. Tak usah jadi ratu juga boleh asal bisa bersama raja tampan ini. Ashura sendiri tak tahu perasaan pasti tehadap Fu Yen. Dia menerima Fu Yen karena mirip Liem atau memang mulai jatuh hati pada raja itu.


"Shu Rong..kenapa melamun?"


"Ach ngak Yang Mulia..maunya Yang Mulia tak memanggilku Shu Rong karena bisa terbongkar statusku. Gimana kalau Yang Mulia memanggilku Ashura saja?" tawar Ashura biar terasa labih nyaman dipanggil nama asli sendiri.


"Ashura??? Nama aneh namun indah." Fu Yen berusaha memahami makna nama itu.


"Itu artinya makhluk memiliki kesaktian dan menguasai kekuatan tertentu. Hamba suka nama itu." jelas Ashura agar Fu Yen paham makna namanya.

__ADS_1


"Baiklah! Kau memang pantas sandang nama itu karena kamu ada saktinya. Mulai detik ini namamu Ashura."


__ADS_2