CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Berseteru


__ADS_3

"Kuakui Xue San memang berbohong tapi kalau tak bohong apa kalian akan menerima kenyataan selir Ayahanda kalian cari kehangatan dari laki lain? Sementara dia pernah rasakan hangatnya pelukan seorang lelaki. Wajar dia inginkan hal itu lagi. Kalau Ayahanda kalian masih ada mungkin dia juga takkan begitu." Ashura bela Xue San makin sengit. Ashura juga wanita maka tak mau kaumnya ditindas terusan oleh raja raja koplak raja nafsu.


"Kenapa kau yakin wanita pernah kawin akan cari kehangatan lain bila suami tak ada?" sekak Fu Yen menyerang Ashura.


"Itu hamba tak begitu yakin karena hamba belum pernah rasakan punya laki. Gimana rasanya hamba juga tak tahu." Ashura menyahut dengan malu malu. Tak urung pipinya berona merah.


Fu Yen ingin tertawa lihat Ashura mati kutu disekak soal laki. Fu Yen yakin Ashura belum pernah disentuh laki di tempat tidur selain dirinya pernah peluk Ashura waktu tidur di kamarnya. Fu Yen puas bisa goda Ashura kali ini.


Chen Yang dan Fu Kuang juga merasa Ashura itu lucu dan imut. Mau bahas masalah asmara tapi tak tahu arti asmara seutuhnya. Gadis ini makin menarik di mata mereka.


"Sekarang katakan hukuman apa tepat untuk penzinah?"


"Yang Mulia..mungkin bukan cuma selir Xue San berbuat gitu. Bisa jadi masih ada puluhan wanita istana berbuat gitu tanpa ada yang tahu. Kalau boleh hamba sarankan bebaskan semua selir istana agar mereka hidup normal layak manusia lain. Punya keluarga dan orang yang mereka cintai. Kasihan mereka hidup dalam kepalsuan."


Fu Yen terhenyak dengar permintaan Ashura yang tak masuk akal. Selir ayahnya lumayan banyak bagaimana mungkin dibebaskan semua. Apa kata orang bila tersiar berita para selir bebas kembali ke masyrakat umum. Di mana wibawa keluarga kerajaan. Fu Yen jadi pusing dengar usul Ashura.


"Kau makin gila?"


"Yang Mulia coba pikir! Apa untungnya menahan para wanita di istana menanggung beban derita? Dan lagi hamba juga bantu menghematan biaya pengeluaran kerajaan. Kalau Yang Mulia bebaskan para selir otomatis pengeluaran istana lebih hemat. Terpenting mereka bisa hidup sesuai harapan mereka. Negara tak perlu menanggung biaya puluhan bahkan ratusan wanita kesepian." Ashura masih kemukakan kata hati berdasarkan rasa iba pada wanita yang terkurung dalam sangkar emas.


Fu Yen tergugu. Kata kata Ashura sangat beralasan. Setiap tahun istana habisan ribuan tael untuk biayai wanita wanita istana. Demi nama kosong hamburkan uang ribuan tael. Hasilnya memang tak ada. Malahan bikin pusing kepala gara gara pertikaian sesama selir.


Chen Yang angguk setuju saran Ashura bebaskan puluhan bahkan ratusan selir yang terkurung dalam istana tanpa kepastian masa depan. Hari demi hari meratapi nasib menunggu titik akhir hidup. Apa ini yang mau dibanggakan keluarga kerajaan?


"Ayen..apa yang dikatakan penasehatmu sangat beralasan. Sarannya bisa kau pertimbangkan. Kau bisa beri mereka pilihan. Mau tinggal di istana boleh mau keluar istana juga boleh. Terserah pilihan hati mereka! Kau tak perlu memaksa. Dan kau Xue San..apa kau mau keluar istana?" tanya Chen Yang langsung pada Xue San yang masih bersimpuh tak berani berkata apapun. Dalam hati selir ini berterima kasih pada kebaikan hati penasehat raja yang sangat ganteng itu.


"Hamba akan keluar istana bersama pengawal Kam!" kata Xue San lirih.


"Yang Mulia..mungkin akan banyak selir ikuti jejak Xue San. Mohon kebijaksanaan Yang Mulia." Ashura bersujud ke lantai memohon Fu Yen bersedia bebaskan Xue San bersama orang yang dia cintai. Xue San mengaku pada Ashura kalau dia dan pengawal Kam sudah menjalin hubungan sejak dua tahun lalu. Mereka berhubungan main kucing kucingan takut ketahuan. Bau bangkai tak bisa dibungkus gitulah kata bijak orang tua.


Fu Yen makin ragu tak tahu harus bagimana. Satu sisi belum pernah ada kejadian bebaskan wanita istana di sisi lain semua kata Ashura adalah fakta. Menahan sepasang manusia saling mencintai juga bukan ide bagus. Cinta itu merdeka tak perlu ada harga.


Cukup lama Fu Yen berpikir akhirnya sang raja mengalah pada aturan yang kuno. Fu Yen berpikir berbuat baik pada sesama manusia juga tugas seorang raja.


"Baiklah! Malam ini kamu dan pengawal Kam tinggalkan istana dan jangan pernah muncul lagi! Pergi sejauh mungkin. Kasim Du beri mereka bekal!"


Ashura berseru ceria sambil joget bahagia. Gadis ini loncat loncat senang lalu peluk Xue San layak kawan lama. Ashura ingin luapkan rasa bahagia dengan berbagai ekspresi agar semua tahu bahwa merdeka itu harga mati hidup seorang manusia.


Ashura melepaskan pelukan Xue San lalu berlari kecil naik ke atas pentas di mana Fu Yen sedang bengong lihat caa Ashura rayakan kebebasan Xue San. Orang yang bebas kok dia yang bahagia tak ketolongan.


Ashura berdiri persis di hadapan Fu Yen lantas menarik tangan sang raja agar ikut dia turun le lantai bawah. Fu Yen yang masih bingung hanya bisa ikut tanpa ngerti apa mau gadis ini.

__ADS_1


"Ayo menari!" Ashura memutar tubuh mengelilingi lantai aula sambil menarik tangan sang raja agar ikut gila bersamanya. Fu Yen hanya ikut gerakan Ashura dengan gaya kaku.


Chen Yang dan Fu Kuang tak dapat tahan tawa karena seorang raja yang agung dipermainkan oleh anak bawang macam Ashura. Ini adalah peristiwa langka dalam sejarah ada raja ikutan menari sama pengawal di aula rapat. Di mana wibawa Fu Yen sebagai raja agung?


Tawa Ashura memenuhi seluruh ruangan aula seiringi gerakan tubuh lentur Ashura yang memang ahli shuffle dance. Para cowok terpesona oleh tarian Ashura yang tak lazim di jaman mereka. Ashura tetap dinamis walau menrai tanpa musik.


"Cukup.." seru Fu Kuang tak biarkan Ashura bertindak kelewat batas. Ini tempat raja bertugas bukan tempat bermain. Nilai seorang raja kan runtuh bila diteruskan.


Ashura langsung hentikan hentakan kaki sadar telah berbuat salah menari layak orang stress di tempat agung kerajaan.


"Maaf...maaf..hamba lupa diri!" Ashura segera bersujud mohon ampun. Ashura meringis bayangkan hukuman baru buatnya. Ashura menepuk jidat kelewat semangat hingga lupa diri di mana dia berada.


Fu yen tegakkan kepala agak malu pada Fu Kuang dan Chen Yang karena ikutan gila sama anak buah tak tahu sopan santun. Ashura memang orang hebat bisa pengaruhi mood raja muda hingga hilang akal sehat.


Ashura tak berani angkat kepala menatap raja takut kena semprot lagi. Padahal barusan hampir kehilangan kepala indahnya. Kini Ashura lupa diri ajak raja gila gilaan di ruang rapat pula.


"Bangunlah! Berhubung kamu sudah baik hati bantu orang maka kau tak kuhukum." Fu Yen kasih kelonggaran tak hukum Ashura.


Xue San bersyukur dalam hati penolongnya lolos dari maut. Kalau Ashura dihukum berarti kebebasan dia bawa petaka bagi orang lain.


"Dan kau selir Xue San bersiap keluar istana! Jangan ada yang tahu kamu dan pacarmu ke mana pergi! Pergi sejauh mungkin dari ibukota. Pergilah! Kasim Du akan mengurus keperluanmu." kata Fu Yen lagi menyelesaikan kasus Xue San.


Kerpergian selir Xue San membuat keheningan sejenak. Semua terbawa arus pemikiran masing masing. Ntah apa yang terlintas di benak masing otak. Yang pasti kasus Xue San akan memberi pelajaran pada sang raja untuk berpikir ulang mengumpulkan puluhan selir di istana buat pajangan.


"Besok aku akan panggil semua selir istana untuk dengarkan pendapat mereka terhadap kehidupan istana." kata Fu Yen ntah pada siapa.


"Apa Yang Mulia akan bebaskan semua selir Yang Mulia juga?" tanya Ashura teringat pada nasibnya sendiri. Andai Fu Yen bersedia bebaskan semua selir maka dia akan dapat kebebasan juga. Jalan menuju kehidupan merdeka sudah di depan mata.


"Kenapa kau tanya itu?"


"Mungkin hamba bisa ikutan keluar istana." desis Ashura pelan takut Fu Yen teriak.


"Semua selir boleh keluar tapi kamu tak boleh. Kau banyak kesalahan selama ini. Kau harus bertanggung jawab atas semua salahmu."


Ashura mendelik marah dengar kata Fu Yen yang sudutkan dia. "Dasar raja bar bar...yang lain boleh keluar tapi aku tak boleh. Yang Mulia pilih kasih. Hamba tetap tak mau jadi ratu. Hamba tak mau jadi orang bodoh hanya bisa duduk nanti raja datang berkunjung. Itu kalau rajanya belum pikun punya bini sana sini. Pokoknya ogah!"


"Shu Rong...kau sedang bicara sama siapa? Aku rajamu...seluruh isi istana punyaku termasuk kamu."


"Apa bukti hamba punya Yang Mulia? Apa ada stempel di wajah hamba tertulis milik raja?" Ashura masih tak mau kalah melanjutkan perdebatan sengit.


Chen Yang dan Fu Kuang sakit kepala dengar dua orang setengah sinting sedang berdebat. Kedua orang selalu berdua namun selalu bertengkar. Bagaimana bisa lalui setiap jam bila begini terusan gini.

__ADS_1


"Berhenti..kalian dua persis orang kurang waras. Jaga sikapmu Ayen!" seru Chen Yang mulai tak sabar lihat tingkah sang raja dan penasehat yang seperti dua balita sedang berantem.


Pancaran mata Fu Yen memancarkan sinar marah terhadap penolakan Ashura terhadap dirinya. Harga diri sebagai penguasa kerajaan terkoyak oleh gadis konyol suka bertindak seenak perut.


"Shu Rong..kau dikirim ke sini untuk jadi wanitaku. Melawan artinya kau sengaja picu perang dua kerajaan dan melawan perintah orang tuamu. Kau mau hancurkan kedamaian dua kerajaan?"


"Bukankah Yang Mulia bilang hamba tak perlu jadi selir atau ratu asal mau jadi pelayanmu? Sekarang hamba sudah jadi pelayan, ajudan, penasehat juga bakal jadi tukang pembukuan negara. Mau jadi apalagi? Apa perlu pecat kasim Du lalu hamba jadi kasim?" Ashura melontarkan pandangan tak kalah panas. Tatapan mata Ashura lebih garang dari Fu Yen. Kepala Ashura lebih keras dari Fu Yen mana mau ngalah gitu saja.


Fu Kuang sangat lega mendengar penolakan Ashura terhadap Fu Yen. Gadis ini benar benar tak gila nama besar. Hendak dijadikan ratu namun menolak mentah mentah. Gadis inilah yang ditunggu Fu Kuang selama ini. Di saat ini Fu Kuang pilih jadi penonton agar tak disangka hasut Ashura tinggalkan sang raja.


"Aku tak mau berdebat denganmu. Kita kembali ke istana kebajikan. Malam ini kau harus jaga di depan kamarku sampai pagi."


"Jaga ya jaga! Siapa takut?" Ashura terima tantangan Fu Yen gagah berani.


"Baik..kita lihat sampai di mana nyalimu?"


"Tak masalah..hamba laki sejati pantang mundur." Ashura menepuk dada gagah perkasa. Saking kuat gadis ini menepuk dada sampai terbatuk batuk. Fu Yen mengulum senyum melihat kelucuan gadisnya. Sudah jelas dia gadis masih sok gagah ngaku lelaki.


"Kalian balik istana saja. Besok kita bahas masalah selir selir. Apa selirmu juga harus dipanggil?" tanya Chen Yang selaku paman bijak.


Fu Yen mengangguk. "Semua dipanggil kecuali penasehatku! Dia tak termasuk wanitaku jadi tak perlu dipanggil."


"Cis...wanitaku! Hamba itu laki! Besok akan tumbuh kumis harimau.." Ashura sempat juga keluarkan nada sinis.


"Shu Rong sudahlah! Berdamai saja. Kalian masih harus kerja sama dalam banyak hal. Jangan pentingkan ego sendiri! Pikirkan rakyat." bujuk Fu Kuang lembut pada Ashura. Tatapan mata Fu Kuang yang lembut perlahan meresap dalam hati Ashura datangkan rasa damai. Ashura mangut patuh.


Fu Yen makin jengkel lihat Ashura patuh pada adiknya. Sama dia seperti macan betina selalu garang. Selalu keluarkan auman keras ingin menekan musuh. Fu Yen habis akal hadapi gadis bengal macam Ashura. Untuk menaklukkan gadis ini perlu strategi jitu. Fu Yen tahu kelemahan Ashura ada pada kedua abdinya maka Fu Yen harus pinter manfaatkan kedua abdi Ashura.


Ashura melengos duluan tinggalkan ruang rapat tak mau bersitegang sama raja muda lagi. Tak ada untung malah bikin mood makin jelek. Keluar mencari angin mungkin pilihan terbaik.


"Ayen...kalau kau suka puteri itu kau harus ramah dikit. Ini tiap hari kau ganggu dia wajar dia kesal. Otaknya hebat jadi hargai dia untuk hal hal positif." nasehat Chen Yang sebagai orang lebih tua. Ashura adalah sosok penuh bakat yang memang bisa majukan kerajaan maka bakat itu harus disalurkan di tempat tepat.


"Ntah kenapa dia tak mau masuk istana jadi wanitaku?" keluh Fu Yen putus asa. Sang raja mengusap wajah tak tahu harus ambil langkah apa untuk raih Ashura ke pelukannya.


Chen Yang tertawa kecil bisa bayangkan rasa kesal sang raja tak dianggap oleh Ashura.


"Ayen..tak semua wanita bermimpi jadi pendampingmu. Ada wanita tak rela bagi suami sama wanita lain maka memilih mundur sebelum terlanjur sakit hati. Ashura memandang cinta sangat tinggi maka dia tak mau sembarang biarkan cintanya berlabuh di tempat salah."


"Aku raja..wanitaku tak mungkin satu."


"Itulah masalahmu! Kau dikelilingi puluhan wanita cantik. Ashura tak mau masuk dalam barisan itu tak salah. Coba kau tanya pada diri sendiri apa ada cinta tulus di hatimu pada wanita wanita istana selain kebutuhan nafsu? Mungkin kau lupa selir mana yang kau tiduri semalam. Adakah tersisa rasa kenangan manis selama bersama selirmu?"

__ADS_1


__ADS_2