
Kalau bukan mengingat lelaki itu telah membantu mereka rasanya ingin Ashura tonjok mukanya yang ganteng itu biar bonyok. Sikapnya terlalu santai seolah meremehkan Ashura dan pengawalnya.
"Bolehkan aku tahu nama tuan biar suatu saat aku akan balas jasa tuan menyelamatkan kami!" Ashura tak mau panjang cerita mau pergi untuk mengobati pengawalnya yang terluka.
"Kurasa lebih baik aku mengantar kalian sampai ke tempat karena kita tidak tahu kalau mereka akan menyerang kembali. Percayalah aku bukan orang jahat yang akan melukai kalian!"
"Aku percaya... kalau kamu jahat tentu tidak akan menolong kami. Tetapi kami tak bisa selalu merepotkan tuan. Aku harus segera pergi untuk obati luka teman aku ini."o
"Aku tak paksa tapi apa kalian tak lihat mereka sengaja tinggalkan teman mereka yang terluka agar bisa kembali ke sini dengan membawa pasukan yang lebih besar. Kalian cuma berdua mana sanggup melawan mereka." lelaki itu menunjuk beberapa pria yang terkapar. Mata Ashura ikuti telunjuk laki itu akui kebenaran omongan laki itu.
"Tapi..." Ashura masih dilanda rasa ragu.
"Dan lagi apa temanmu bisa bawa kereta kuda dengan luka sekujur tubuh?"
Ashura makin bingung tak tahu harus berbuat apa. Dia tak mungkin ekspos kalau dia salah satu anggota kerajaan. Bahaya besar makin mengancam dia kalau makin banyak yang tahu dia termasuk anggota kerajaan.
Laki itu menangkap keraguan terukir di wajah Ashura. Lelaki itu tidak menyalahkan Ashura bila curiga padanya karena dia muncul secara mendadak.
"Baiklah nona laki...namaku Chen Long."
"Chen Long? Saudara paman Chen Yang?" seru Ashura tanpa sadar. Gadis ini lupa kalau dia sedang menutup jati diri. Seruan Ashura membuat laki itu kembali terbahak-bahak. Sikap lembutnya memudar dikarenakan tawa kasarnya.
"Kau kenal Chen Yang? Artinya kau sangat dekat dengan istana. Kau pasti orang dalam lingkungan istana."
Ashura menyesal telah keceplosan menyebut nama paman raja Chen Yang. Secara tak langsung telah ungkap jati diri sebagai orang dalam istana. Kini tak ada guna ngeles karena orang ini pasti ada hubungan dengan istana juga.
"Aku hanya seorang pekerja istana. Aku takut anda juga berniat jelek maka tutupi status aku."
"Aku tak menyalahkan kamu. Orang dalam istana sering kali jadi incaran para pemberontak. Gimana? Kau mau kuantar atau tetap pergi sendiri. Kau lihat pengawal kamu terluka parah. Nanti bisa kehabisan darah." laki perlente itu menunjuk ke arah pengawal yang tersandar pada dinding kereta.
Ashura mengikuti jari laki itu yang menunjuk ke arah pengawal yang tersandar pada dinding kereta kuda. Kondisi pengawal itu memang jauh dari kata baik. Terdapat luka di sana-sini di tubuh pengawal itu. Kalau Ashura tidak segera membawanya untuk berobat bisa jadi nyawanya akan melayang. Ashura tak punya pilihan lain selain mengikuti arahan dari laki yang baru membantu mereka.
"Terimakasih tuan. Maaf kami sudah merepotkan anda!" Ashura terpaksa mengalah demi keselamatan pengawal itu. Ashura bergerak membantu pengawal itu naik ke kereta kuda agar tidak makin lemah.
Lelaki itu memperhatikan kerja Ashura yang begitu telaten membantu pengawalan naik ke kereta kuda. Jelas sekali kalau Ashura tidak membedakan status pengawal yang lebih rendah daripada dirinya. Ashura membantu pengawal itu dengan setulus hati. Pengawal itu juga telah mengorbankan nyawanya demi melindungi Ashura.
Ashura dan pengawal duduk di dalam sementara laki itu duduk di depan mengendalikan kuda melaju tinggalkan lokasi pertempuran. Kereta kuda melaju tanpa tujuan karena Ashura belum mengatakan mereka harus ke mana.
Ashura tersadar kalau dia belum memberitahu pada laki perlente itu ke mana mereka harus pergi. Jangan-jangan nanti dibawa ntah ke mana pula. Ashura terpaksa bangkit membuka pintu untuk beritahu pada laki itu ke mana mereka harus ke mana.
"Maaf tuan...kita mau ke mana?"
__ADS_1
"Lha...kok tanya aku? Kamu yang kasih tahu kita harus ke mana." kata laki itu keras karena suaranya pecah terbawa angin.
"Kita ke istana dingin.."
"Istana dingin? Ngapain kamu ke sana? Itu tempat untuk selir buangan. Di sana ada siapa kamu?"
"Ada teman aku...kita ke sana ya! Itu tak jauh lagi."
"Baiklah!" Laki itu tak banyak tanya lagi karena istana dingin memang sudah di depan mata. Tujuan Ashura sangat tidak lazim menurut laki itu. Mana ada orang mau ke istana dingin kalau tidak perlu sekali. Hanya orang buangan yang tinggal di sana. Tempatnya angker dan seram. Menurut cerita dari mulut ke mulut tempat itu banyak setannya karena ad beberapa selir mati bunuh diri karena tak sanggup hidup dalam tekanan.
Chen Long tak tahu kalau tempat itu sekarang jadi tempat favorit pembesar istana bahkan raja sendiri suka datang ke tempat ini bahkan minta nginap di sana.
Pintu gerbang istana dingin tertutup rapat tanpa pengawal berdiri disamping pintu gerbang seperti istana lain. Dari sini tentu saja beri kesan seram seolah di dalam tak ada penghuninya. Lain dengan Ashura bersyukur telah kembali ke tempat paling nyaman di kerajaan ini. Begitu kereta kuda berhenti dia langsung turun sambil bantu pengawal yang terluka untuk turun dari kereta kuda. Laki bernama Chen Long tak segan membantu Ashura memapah pengawal itu sampai ke pintu gerbang.
Ketiganya berdiri di depan pintu gerbang sepi menanti orang berbaik hati membuka pintu gerbang. Chen Long ragu kalau tempat ini ada penghuninya mengingat sangat sepi.
Ashura segera menggedor pintu dengan sekuat tenaga. Tenaga Ashura tidak terlalu berarti untuk pintu segede gaban itu. Paling tidak Ashura sudah usaha. Chen Long bersikap pasif mau tahu siapa yang bakal keluar sambut mereka. Jangan-jangan yang keluar hantu demit pencabut nyawa.
"Ah Muk....Ah Yin....buka pintu!" teriak Ashura sekuat tenaga. Suara cewek nyaring namun tetap seperti suara burung merdu mencicit.
Chen Long tertawa kecil melihat Ashura masih ngotot kalau dia seorang lelaki. Dari suara saja sudah wakili kalau laki cantik di sampingnya adalah seorang wanita muda.
Suara merdu Ashura punya power juga. Terbukti pintu gerbang perlahan bergeser terbuka. Yang keluar Ak Muk dan dia pengawal lain. Mereka kaget melihat ada rekan mereka terluka parah dipapah oleh majikan istana dingin. Ah Muk tahu diri segera ambil alih pengawal terluka itu dan membawanya masuk.
"Terima kasih tuan sudah bantu kami. Kami sudah tiba di tempat maka kami sudah aman." Ashura membungkuk badan menghatur rasa terimakasihnya.
Chen Long mengangguk, "Tak perlu sungkan. Kamu adalah anggota kerajaan jadi aku wajib tolong kamu. Apa aku tak di undang masuk ke dalam? Aku penasaran ingin tahu gimana suasana tempat legendaris ini. Aku belum pernah datang ke tempat ini."
Ashura tampak ragu undang laki itu masuk ke dalam. Ini tempat rahasia mereka. Orang masih mengira tempat ini angker berdetak maka jarang yang mau berkunjung. Namun bagi mereka yang sudah di sini tempat ini jadi surga. Tenang dan damai tak seperti daerah lain.
Belum sempat Ashura buka mulut dari dalam terdengar seruan khas Hwa Lien memecahkan kesunyian lokasi daerah istana dingin.
"Dari mana saja kamu ini?" seru Hwa Lien belum sadar ada orang lain di sekitar Ashura.
Ashura meringis ketahuan menyembunyikan putri kerajaan di dalam istana dingin. Tempat ini adalah tempat khusus untuk selir buangan. Tiba-tiba muncul putri kerajaan merupakan hal yang sangat mustahil. Ashura menjadi salah tingkah dipandangi nanar oleh lelaki ganteng itu. Kelihatannya lelaki itu sangat mengenal tuan putri Hwa Lien.
"Hwa Lien? Kenapa kamu di sini? Apa hubungan kamu dengan nona laki ini?"
Mata Hwa Lien berpindah kepada lelaki ganteng itu dan perlihatkan reaksi kaget melihat siapa lelaki itu. Hwa Lien sampai mundur beberapa langkah saking kagetnya karena kehadiran lelaki perlente itu.
"Paman Chen Long??? Ngapain ada di sini?" seru Hwa Lien menyerupai teriakan. Putri ini tampak tak suka laki ini berada di lingkungan mereka.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang bertanya mengapa kamu ada di istana dingin ini? Ini bukan tempat untuk kamu!" Chen Long tampak gusar Hwa Lien berada di lingkungan tak tepat. Seorang putri yang mempunyai martabat lebih tinggi mana boleh berada di istana dingin yang menjadi tempat buangan orang tak diinginkan di dalam istana.
"Aku dibuang di sini karena jatuh cinta pada penasehat istana. Aku tinggal di sini bersama orang tercinta. Ya kan sayang?" Hwa Lien memeluk lengan Ashura sok mesra. Ashura bak kerbau kena cocok hidung hanya bisa manggut. Padahal kondisinya bukan demikian.
Kalau Hwa Lien sudah omong begitu pasti ada sebabnya. Lebih baik ikuti saja permainan Hwa Lien. Ashura tahu Hwa Lien takkan bertingkah aneh bila tak ada alasan.
"Siapa yang berani buang kamu? Fu Yen atau Fu Kuang? Ayok balik ke istana! Paman akan beri keadilan padamu. Dan lagi apa kamu yakin ini orang yang tepat jadi pendamping hidup kamu? Apa kamu ini ada kelainan jiwa? Jelas dia ini seorang wanita." Chen Long menunjuk Ashura yang tak berdaya jadi topik pembahasan Hwa Lien dan Chen Long.
"Aiya...paman tak ngerti...pergi balik ke istana sana. Tak usah ganggu kami. Ayok kita masuk sayangku!" Hwa Lien menggandeng Ashura tinggalkan pintu gerbang yang terbuka lebar. Hwa Lien sangat tidak perduli pada orang yang dia panggil Paman itu. Ashura menduga orang itu punya hubungan keluarga dengan Hwa Lien namun anak itu tak suka pada laki perlente itu.
"Hwa Lien...diam di tempat! Di mana sopan santun kamu pada orang tua? Ayok ikut aku kembali ke istana utama! Tempat kamu bukan di sini." bentak Chen Long keras membuat Hwa Lien menunda langkah tak jadi pergi jauh.
"Ya ampun paman...satu istana tahu sekarang ini tempat tinggal aku! Kanda raja saja tidak marah...di sini damai tak menyebalkan seperti di istana utama. Kami hidup bebas di sini walau miskin." Hwa Lien bersikeras mau tinggal bersama Ashura. Istana dingin sudah jadi tempat berteduh paling nyaman buat Hwa Lien. Punya teman gokil juga bisa main game sepuasnya.
Chen Long jadi makin penasaran tempat apa membuat keponakan nakal ini betah. Hwa Lien terkenal paling cerewet sebagai putri raja. Angin apa menyebabkan anak ini rela dicap sebagai orang buangan.
Tanpa berkata apapun dan lagi perlente itu masuk ke dalam istana dingin untuk melihat suasana di dalam. Kehadiran lelaki itu disambut oleh taman bunga yang bersih dan asri. Tak ada bayangan mengerikan terpapang di mata. Malahan tempat ini sejuk dan nyaman walaupun sederhana. Bunga-bunga mulai rontok seiring datangnya musim rontok disusul musim dingin.
Chen Long terpana menyaksikan tempat ini sangat beda dengan cerita orang. Tak ada kesan menyeramkan sedikitpun. Justru bikin hati adem. Chen Long masih tak percaya terus menyusuri tempat ini sampai puas.
Hwa Lien dan Ashura berdiri agak jauh biarkan lelaki ganteng itu memuaskan mata periksa apa yang mau dia lihat. Tak ada yang aneh selain sepi tanpa hiruk pikuk seperti istana lain.
"Siapa tinggal di sini?" tanya Chen Long mulai lembut. Apa yang dia pikirkan tidak seburuk itu.
"Aku tinggal di sini bersama Ashura. Kanda raja juga tahu kok! Paman tak usah kuatir kalau kami akan lakukan hal tak baik. Kami di sini ada beberapa dayang dan pengawal."
"Apa kau tak tahu kalau orang ini hampir mati terbunuh? Kalau aku tak cepat datang mungkin kamu akan menangis selama tujuh tahun. Hanya mengandalkan beberapa pengawal lemah kalian mau hidup tenang?"
Giliran Hwa Lien kaget dapat berita sangat menghebohkan ini. Hwa Lien memeriksa Ashura kalau ada yang terluka. Hwa Lien putar-putar tubuh Ashura cari di mana sahabatnya kena pukulan. Tak ada yang terluka selain pakaian Ashura agak kotor kena tanah.
"Kau tak apa Ashura?"
"Tak apa...tapi sayang ada yang meninggal karena serangan ini." sahut Ashura muram. Ashura teringat mayat pengawal itu masih tergeletak di sana tak ada yang urus. Dia berkorban demi lindungi Ashura. Ini akan jadi beban mental buat Ashura.
"Ya Tuhan...siapa berani menyerang kamu dalam istana. Kita harus lapor pada kanda raja. Ini tak boleh dibiarkan. Sudah sekali pasti akan ada dua kali."
"Hwa Lien benar... orang-orang itu pasti akan ulang lagi bila targetnya kamu! Untuk sementara kalian pindah dari sini sampai kondisi aman." ujar Chen Long.
"Pindah ke mana ya? Kita pindah ke belakang rumah Raja saja. Di situ juga sepi dan aman. Aku pernah tinggal di sana." Ashura teringat rumah yang diberi oleh Fu Yen sebagai tempat Ashura menenangkan diri.
"Gimana kalau kau tinggal bersamaku di istana aku saja. Cuma sana agak heboh karena rame. Itu bukan gaya kamu. Terserah deh kamu mau ke mana! Atau ke rumah kanda Fu Kuang! Aku jamin dia terima kamu."
__ADS_1
"Huuusss... Sembarangan...mana boleh tinggal di rumah laki! Kita ke rumah belakang yang mulia raja saja. Aku ngerti yang mereka cari adalah penasehat kerajaan maka untuk sementara penasehat pensiun dulu."