
Sebenarnya Ashura malas berurusan dengan selir jahat itu. Wanita itu sudah mendapat karma atas perbuatannya tega membunuh Shu Rong. Tak perlu Ashura turun tangan hukum wanita itu. Ternyata Tuhan maha adil beri dia cobaan setimpal dengan kejahatannya.
Namun Ashura masih punya tugas sebagai penasehat kerajaan yang bertanggung jawab tentang penyakit kelamin yang lagi trend di kalangan istana. Ashura tak bisa menolak tugas ini karena dia sendiri yang janji semua orang boleh berobat selama mau datang berobat.
"Tunggu sebentar! Aku ganti pakaian dulu!" Ashura terpaksa meluluskan permintaan sang raja untuk menjenguk selir kesayangan Fu Yen. Ashura tak punya harapan apapun terhadap wanita itu. Dia hanya berusaha menyembuhkan wanita itu tanpa beri janji apa-apa. Sembuh atau tidak semua tergantung nasib wanita itu.
Hwa Lien ikut masuk untuk temani Ashura melihat kondisi selir Ning Fei. Hwa Lien tidak sampai hati biarkan Ashura hadapi selir jahat itu sendirian. Hwa Lien bisa melindungi Ashura bila ada gerakan negatif dari pihak Ning Fei.
Kedua tuan putri dijemput dengan kereta ditarik oleh dua ekor kuda. Kasihan kudanya harus bertugas malam padahal jam kerja sudah usai. Maunya sang kuda dapat jatah makan lebih sebagai hadiah lembur malam. Ashura tak tega biarkan ketiga dayang jalan kaki di malam dingin meminta para dayang ikut masuk ke dalam kereta. Ayin, Asing dan Alan bersyukur jumpa majikan sebaik Ashura. Biasa seorang dayang tak boleh ikut masuk ke dalam kereta kuda bersama putri maupun ratu. Mereka wajib berjalan di samping kereta sampai ke tujuan.
Ashura sudah berdandan sebagai seorang penasehat berpakaian lelaki. Ashura harus hilangkan jejak seorang putri agar pihak Ning Fei tidak curiga kepadanya. Ashura harus bermain cantik untuk kuasai lapangan.
Ashura dan Hwa Lien dibawa jumpa Fu Yen dulu sebelum ke tempat selir Ning Fei. Sebenarnya Ashura mau mempersulit Ning Fei biarkan wanita itu yang datang ke tempatnya. Namun berhubung mereka juga punya kepentingan di tempat selir Ning Fei maka Ashura bersedia ke sana. Ashura dan Hwa Lien harus ambil alat perekam yang ada di kamar Ning Fei. Ashura tak sabar mau tahu apa yang telah terjadi beberapa hari ini di tempat wanita licik itu.
Fu Yen ada di ruang kerjanya menanti kehadiran Ashura. Fu Yen sudah sangat rindu kepada wanita muda yang panas ini. Sudah berapa hari tak bersama Ashura menumbuhkan rasa rindu menggunung dalam dada. Tapi Hwa Lien lengket seperti lintah mana ada kesempatan buat Fu Yen berduaan dengan selir tercinta itu.
Ashura dan Hwa Lien diiringi ke ruang kerja Fu Yen. Ashura tak berharap jumpa putri Tang saat ini. Wanita itu bikin Ashura ilfil saja. Kelewat banyak gaya mencari perhatian Fu Yen.
Ashura dan Hwa Lien membungkukkan badan beri salam kepada Fu Yen sebagaimana biasa jumpa sang raja. Fu Yen mengibas tangan suruh kedua wanita muda itu tak usah banyak adat. Fu Yen duduk dengan angkuh di kursi raja yang berukir indah.
"Kau sudah tahu kenapa kau dipanggil?" tanya Fu Yen kepada Ashura.
"Mengobati calon ratu selir Ning Fei!" sahut Ashura lembut padahal sedang mengejek Fu Yen punya banyak calon ratu.
"Suka kamu omong apa saja! Sekarang kau ikut Alun ke istana Ning Fei. Katanya kondisinya memburuk!"
"Kenapa tak panggil tabib istana? Sakit apa dia?" Ashura pura-pura bodoh padahal sudah tahu Ning Fei kena penyakit kelamin kelas Wahid.
"Kau pergi periksa dia saja! Jangan banyak tanya!" Fu Yen menjawab tanpa kepastian. Fu Yen sendiri masih ragu apa sakit Ning Fei. Menurut cerita pelayan istana Ning Fei Wanita itu menjerit bila buang air kecil dan daerah vitalnya mengeluarkan bau busuk seperti bau bangkai. Fu Yen mau Ashura periksa langsung karena wanita muda ini sangat pintar.
"Baiklah Yang Mulia Raja! Hamba harus ke istana belakang dulu ambil obat dan peralatan kesehatan. Dari sana hamba akan langsung menjenguk putri Ning Fei!"
"Pergilah! Hati-hatilah!" Fu Yen seperti tahu kalau Ning Fei itu sangat licik namun dia tetap tak bisa biarkan selirnya itu meninggal begitu saja. Kalau sudah diobati tidak tertolong itu artinya memang itu batas umur selirnya itu.
Ashura bergerak ke istana belakang tempat tinggal dia dulu. Semua perlengkapan obat-obatan dari Shu Rong masih tertinggal di sana. Ashura belum sempat terpikir ke obat-obatan karena masih ada tugas lebih penting daripada urus ***** dalam istana.
Ashura bawa anti biotik dan pereda rasa sakit. Tak lupa Ashura bawa jarum suntik kalau memang kondisinya sudah kronis. Ashura sendiri ngeri bayangkan terkena penyakit dunia ini. Dia pernah bercinta dengan Fu Yen sementara Fu Yen berhubungan dengan selir Ning Fei. Bisa jadi Fu Yen terkena dan menularkan ke Ashura.
__ADS_1
Ashura berjaga-jaga dengan menyuntikkan diri dengan antibiotik dan menguat imun tubuh. Ashura beranikan diri menjadi dokter dadakan. Toh niatnya bagus walaupun ada resiko. Ashura bukan Tuhan yang bisa lakukan segalanya untuk umat di kerajaan ini.
Ashura membungkus semua yang dia anggap perlu untuk pengobatan. Ashura persiapkan mental tidak terpancing ingin habisin Ning Fei yang jahat itu. Ashura tak tahu gimana reaksi Shu Rong bila tahu dia harus obati musuh bebuyutan Shu Rong. Dalam hati Ashura berdoa semoga Shu Rong muncul di saat begini. Dia membutuhkan pendapat arwah penasaran itu.
Mata Ashura menatap ke sekeliling kamar berdoa semoga Shu Rong mau perlihatkan wujud. Ashura mau tanya pendapat arwah itu sebelum melangkah. Ashura masih butuh pertolongan Shu Rong untuk wujudkan harapan berperang dengan kerajaan Tang. Dia mau Shu Rong membawa artileri perang zaman moderen ke abad ini. Mereka pasti menang hajar kerajaan sombong itu.
"Ashura..."
Ashura membalik badan secepat mungkin dengar suara arwah yang dia nantikan. Puji syukur arwah Shu Rong berkenan muncul di saat tepat ini. Kalau tanpa izin Shu Rong mana mungkin Ashura bergerak membantu Ning Fei.
"Shu Rong...untung kamu datang! Fu Yen minta aku obati Ning Fei! Apa yang harus aku lakukan?" seru Ashura perlihatkan wajah bingung.
"Aku tahu kamu serba salah. Wanita itu harus dapat ganjaran atas apa yang dia lakukan! Kau sembuhkan dia lalu bongkar semua kejahatan dia bersama perdana menteri dan ibunda ratu. Ratu dan perdana menteri juga kena penyakit sama. Mereka akan minta kamu sembuhkan mereka. Kau harus gunakan kesempatan ini masuk ke rumah perdana menteri dan rekam semua kegiatan rubah tua itu. Mereka akan dipenjara sampai mati. Ini lebih menyiksa daripada mati."
"Aku curiga perdana menteri ada hubungan dengan kerajaan Tang. Mereka bersekutu untuk turun Fu Yen."
"Kau sangat pintar Ashura! Tidak rugi aku pilih kamu! Aku sudah tahu semua rencana kamu berperang dengan Tang. Aku akan bantu kamu siapkan senjata dari zaman kamu! Kamu tinggal bilang apa yang kau mau?"
"Benarkah?"
"Aku janji! Setelah semua beres aku akan lanjut ke kerajaan Chau untuk bangun kerajaan kamu agar lebih maju dan makmur! Aku butuh tank perang 3 saja. Senjata sniper, bazoka, ak 47, bren, ranjau dan granat."
"Apa itu cukup? Tidak perlu rusak nuklir?"
Ashura terkekeh-kekeh soalnya Shu Rong ngerti rudal balistik nuklir yang bisa hancurkan satu kerajaan dalam satu ledakkan. Ashura belum gila menghancurkan rakyat yang tak berdosa.
"Perbanyak peluru senjata ya! Aku perlu dua buah pistol tangan untuk menjaga-jaga."
"Baik...aku akan penuhi semua pesanan kamu! Ingat kamu harus ingatkan Fu Kuang tak boleh sentuh kerajaan kami!"
"Fu Kuang bukan orang jahat! Sebenarnya dia juga tak suka perang. Yang korban tetap rakyat kecil yang tak tahu apa-apa. Aku berjanji akan membangun kerajaan Chau agar hidup mereka lebih makmur. Aku akan tinggalkan satu tank perang buat Chau agar kerajaan lain takut pada kerajaan kalian!"
"Terima kasih Ashura! Beri aku waktu dua hari untuk sediakan permintaan kamu! Sekarang kau pergilah! Kau harus buka kartu ratu dan Ning Fei secara terbuka agar dunia tahu bahwa mereka itu orang paling licik!"
"Kau tak usah kuatir! Aku sudah dekat dengan keadilan untukmu! Kamu tenang saja ya!"
Shu Rong mengangguk percaya pada tekat Ashura bongkar semua kedok ratu dan Ning Fei. Perlahan bayangan Shu Rong sirna tinggalkan bau harum bunga yang bikin bulu kuduk merinding. Kalau bukan kenal Shu Rong mungkin Ashura sudah semaput jumpa arwah mati penasaran.
__ADS_1
Kini langkah Ashura jadi ringan untuk ke tempat selir Ning Fei. Paling tidak Ashura sudah mendapat restu dari Shu Rong. Dan lagi satu !salah terselesaikan yakni artileri perang yang diinginkan Ashura. Ashura yakin Shu Rong takkan kecewakan dia!
Alun membawa Ashura dan Hwa Lien ke tempat selir Ning Fei. Hwa Lien bertugas mengambil hasil rekaman yang dia letakkan di tempat Ning Fei. Waktu Hwa Lien ke tempat Ning Fei wanita itu masih sehat. Tapi kenapa mendadak drop sampai akut begitu. Betapa mengerikan penyakit yang melanda kalangan pejabat istana. Penyakit dosa diminta oleh tubuh penderita.
Istana selir Ning Fei sangat mewah dan besar. Pantas saja wanita itu mendapat fasilitas lebih dari yang lain. Ning Fei kan keponakan ratu yang ingin Ning Fei naik ke posisi ratu dampingi Fu Yen. Sekarang dia mendapat penyakit besar maka kesempatan Ning Fei untuk menjadi ratu telah gugur. Sekarang kan tidak yang paling berpeluang adalah putri kerajaan Tang. Kalau Ashura memang tidak tertarik untuk menjadi seorang ratu. Ashura merasa belum pantas menjadi seorang ratu yang harus menjadi ibu dari seluruh rakyat kerajaan ini.
Beberapa orang dayang dari istana Ning Fei menyambut kehadiran kelompok Ashura dan membawa kelompok ini menuju ke kamar selir Ning Fei. Alun dan pengawal hanya menunggu di depan pintu kamar Ning Fei. Mereka mana mungkin diizinkan masuk ke kamar seorang wanita raja. Bisa putus kepala bila masuk tanpa seizin raja.
Ashura dan Hwa Lien masuk langsung disambut bau tak sedap dari dalam kamar. Baunya seperti bau darah busuk menyengat hidung. Hwa Lien menutup hidung tak bisa menahan bau busuk yang mengerikan. Untunglah Ashura pintar sudah menyiapkan masker untuk tutupi hidung dari bau busuk juga hindari terkontaminasi bakteri dari udara.
Ashura berikan satu masker kepada Hwa Lien untuk tutupi hidung. Hwa Lien bingung melihat benda di tangan belum tahu cara gunakan benda ini. Ashura beri contoh langsung diikuti oleh Hwa Lien. Sudah lebih lumayan namun masih juga tercium bau busuk yang aneh.
Dua dayang mendampingi seorang wanita terbaring di ranjang yang tak henti keluarkan suara erangan. Ashura menduga wanita itu selir Ning Fei yang sedang menahan rasa sakit di daerah vitalnya. Maunya Ashura gembira lihat penderitaan Ning Fei namun hati nurani Ashura tak tega juga.
"Hamba penasehat Shu menghadap tuan putri Ning Fei!" Ashura mulai bersandiwara sebagai penasehat raja.
"Penasehat Shu??? Ayo cepat bantu aku! Aku mau mati rasanya!" seru Ning Fei mendadak duduk dengan pakaian berantakan. Wajah menahan derita tak terhingga. Ntah seberapa sakit derita wanita itu. Yang pasti wanita itu tak seperti seorang putri melainkan lebih mirip orang putus asa hendak menjemput maut.
"Tuan putri tenang dulu! Aku butuh keterangan agar tahu apa sakit putri!" Ashura sok kalem mau cari info tentang hubungan Ning Fei dengan laki lain.
"Keterangan apa? Kau hanya perlu obati aku!"
Sudah sakit masih arogan. Dasar orang tak tahu tingginya gunung. Pikir dari bawah bisa capai puncak gunung tanpa perlu susah payah mendaki gunung. Ashura dan Hwa Lien gemas pada sikap tak tahu terimakasih putri itu. Maunya tak usah diobati biar kapok.
"Tuan putri sakit apa aku tak tahu! Apa yang harus kuobati? Salah kasih obat tuan putri bisa ke neraka!" Ashura tak kalah garang lawan putri ini. Suara Ashura sengaja dibesarkan biar putri ini tahu tak semua orang takut padanya.
Ning Fei terdiam mengakui kebenaran omongan Ashura. Seorang dokter harus tahu riwayat penyakit pasien baru bisa kasih obat. Salah-salah bisa jumpa malaikat maut.
"Ituku sakit! Mengeluarkan cairan agak bau.." kata Ning Fei pelan seperti malu ungkap jenis penyakitnya.
Ashura manggut-manggut sok tahu. Dalam hati Ashura ingin kerjain selir ini biar kapok. Wanita ini harus diberi pelajaran biar tahu diri. Menjadi keponakan ratu bukan bisa seenak perut tunjukkan kekuasaan di kalangan istana.
"Tuan putri harus tahu kalau penyakit ini sangat menular dan berbahaya. Ini bisa merenggut nyawa bila dibiarkan. Kalau itunya tuan putri sudah mengeluarkan bau bangkai artinya sudah capai tingkat paling parah. Biasa penyakit ini ditularkan melalui hubungan intim. Kalau tuan putri kena penyakit ini berarti Yang Mulia Raja juga ada penyakit ini. Tuan Putri kan selir raja otomatis raja akan tertular. Ntah raja menularkan ke tuan putri ataupun tuan putri yang menularkan ke raja."
Wajah Ning Fei kontan pucat mendengar perkataan Ashura. Dia tak pernah hubungan intim dengan raja selama bertahun-tahun. Mereka berhubungan hanya sewaktu pertama menikah setelah itu Fu Yen tak pernah sentuh dia lagi. Dari mana penyakit ini hanya Ning Fei yang tahu.
__ADS_1