
Fu Kuang dan Ashura fokus cari cara kerja senjata yang cukup aneh buat jenderal. Biasa mereka hanya gunakan panah dan pedang serta tombak. Kini muncul batangan besi agak rumit menantang otak Fu Kuang untuk taklukkan benda ini. Bersama Ashura mereka bekerjasama bongkar cara kerja senjata-senjata canggih ini. Chen Yang dan Fu Yen hanya memantau dari samping semua gerak gerik Ashura dan jenderal.
Kening Fu Kuang berkerut-kerut berusaha memecahkan misteri senjata ini. Ashura beri arahan sesuai apa yang dia ketahui mengenai cara kerja benda ini.
Keduanya berhasil masukkan magazine ke tempat pas. Sekarang tinggal cari tempat untuk test keampuhan senjata ini.
Fu Kuang tampak puas walau masih dipenuhi keraguan bisa fungsikan benda ini dengan baik.
"Kita coba?" tanya Ashura pingin lihat keampuhan senjata ini.
"Suaranya gimana? Apa akan mengaum keras?" tanya Chen Yang pula.
"Tak punya mulut gimana mau mengaum? Tuh ada dikit bibir bulat buat berseru sakit perut. Dia akan muntah kan peluru ke arah yang kita tuju. Suaranya lumayan keras sih! Apa tak terdengar di tempat lain?" jawab Ashura sedikit bergurau.
"Itu yang kutakuti...suaranya keras terdengar sampai ke luar istana. Ini pasti akan menarik perhatian orang. Dari mana asal bunyi istana dingin." Chen Yang berkata demikian bukan tanpa alasan. Menembakkan senjata itu sama saja mengumumkan kalau ada yang sedang lakukan eksperimen.
Semua terdiam akui kebenaran omongan paman raja. Mereka belum tahu seberapa besar letusan senjata ini. Bisa saja mengegerkan seluruh warga sekitar istana. Ini akan timbulkan kecurigaan banyak orang.
Ashura berpikir keras apa yang harus mereka lakukan untuk test senjata ini. Mereka harus lakukan secara diam-diam. Kalau mereka berada di abad moderen maka ada alat peredam senjata. Namun di saat ini di mana dia harus cari benda itu. Tak mungkin juga Ashura merepotkan Shu Rong lagi hanya untuk alat tak bermanfaat. Kalau sudah perang mana butuh pereda, lagi. Mereka butuh hanya untuk latihan.
"Coba kita bungkus senjata dengan kain tebal. Memang bersuara namun tidak akan kencang!" Ashura beri solusi paling sederhana. Tak ada jalan lain selain mencoba walau harus tanggung resiko kalau gagal.
Fu Yen mengangguk percaya pada setiap omongan Ashura. Fu Yen makin memandang tinggi pada Ashura setalah lihat semua bukti kalau dia memang datang dari masa depan.
"Kita coba!" Fu Yen memberi izin untuk lakukan saran Ashura. Apapun resiko harus ditanggung bersama.
Tak ada pilihan lain selain lakukan apa yang diminta Fu Yen. Mereka sudah sangat beruntung bisa menyentuh benda dari masa depan. Kesempatan ini takkan datang dua kali maka itu harus dipergunakan sebaik mungkin.
Ashura segera mencari pakaian atau apa saja yang bisa dia gunakan untuk menutupi suara gelegar senjata ditembakkan nanti. Ashura mendapat selimut lumayan tebal serta besar.
Tanpa ragu Ashura membawa selimut tidurnya keluar untuk diikatkan ke senjata api itu. Hwa Lien kaget melihat selimut yang dia pakai telah jalan-jalan keluar. Gadis ini terloncat bangun tinggalkan ponsel dari tatapan mata. Dia mau pakai apa bila benda penghangat badan telah digunakan untuk bahan percobaan.
"Berhenti kau wahai wanita masa depan!" Hwa Lien menghadang Ashura berikan selimutnya kepada Fu Kuang. Hwa Lien banyak alasan tak izinkan abangnya sentuh benda keramat teman tidurnya. Alasan paling utama adalah baunya kurang sedap akibat bau keringat bercampur ileran. Hwa Lien malu kalau ketahuan tuan putri orangnya jorok. Alasan kedua malam ini dia harus kedinginan lawan hembusan Bayu malam.
"Apaan kamu ini? Pinjam sebentar. Kan selimut kamu sudah kotor. Nanti ganti yang baru." Ashura memeluk kain tebal berbau asem itu.
"Itu selimut sakti pengantar mimpi indah. Ganti selimut mimpinya seram melulu." Hwa Lien merebut selimutnya sekencang mungkin dari pelukan Ashura. Kedua gadis muda itu saling tarik menarik selimut membuat para laki pusing tujuh keliling. Hanya selembar kain busuk jadi masalah.
"Aku gunakan selimut ini karena baunya bisa racuni tikus. Kamar aku jadi bau apek gara benda ini. Kurasa paling tepat untuk dijadikan pembungkus senjata. Senjatanya pasti akan makin sakti kena selimut sakti kamu." Ashura mulai lancarkan aksi merayu Hwa Lien agar rela berikan selimut tebalnya jadi pembungkus.
__ADS_1
"Sakti apa? Baunya tercium dari sini. Bawa sini. Aku akan minta dayang beri yang baru." Fu Kuang melambai ke arah Ashura agar serahkan benda keramat Hwa Lien.
Abangnya sudah bicara Hwa Lien mana bisa membantah lagi. Cuma wajah Hwa Lien berkerut tak senang barangnya jadi peredam senjata. Tapi apa dia berani sama jenderal perang kerajaan. Sudah jenderal Abang pula. Hwa Lien mana punya cela lakukan pemberontakan. Hwa Lien cuma bisa pasrah.
Fu Kuang yang bekerja membalut selimut Hwa Lien ke senjata api. Fu Kuang paham maksud Ashura perkecil bunyi letusan senjata. Tidak rugi Fu Kuang jadi jenderal perang. Dia memang pantas memegang jabatan itu. Fu Kuang jauh lebih jenius dari Fu Yen.
Kini senjata di tangan Fu Kuang sudah terbalut kain tebal sisakan mulut serta pelatuk untuk menembak. Fu Kuang gentar juga disuruh jadi orang pertama coba senjata api ini. Gentar tetap harus maju.
Giliran Ashura beri arahan pada Fu Kuang cara bidik senjata ke satu titik target. Ashura harus yakin kalau tempat yang jadi target tak ada siapapun. Kalau tidak pasti bakal ada korban mati sia-sia kena peluru tajam senjata.
"Kita cari tempat sepi untuk jadi titik sasaran." ujar Ashura mengajak semua melihat daya tembak senjata.
"Taman belakang. Cuma agak gelap." usul Hwa Lien juga tak sabaran mau lihat hasil senjata milik Ashura.
"Bawa lampu. Di sana sepi tak ada orang jadi jauh dari kecelakaan." kata Fu Yen seolah ngerti tata ruang istana dingin. Padahal dia jarang ke sini bahkan tak pernah nginap situ.
"Istana ini sepi dari sudut manapun. Muka belakang juga sepi. Namanya saja istana buangan." sinis Ashura ingatkan Fu Yen kalau ada wanita dikucilkan di istana ini tanpa fasilitas memadai.
Fu Yen menghela nafas. Semua salah di mata Ashura. Ada saja cara Ashura buat dia tampak buruk.
"Terserah kamu mau omong apa! Ayo cepat! Hari makin larut malam." Fu Yen duluan bangkit berjalan ke tempat yang dijadikan tempat percobaan. Yang lain menyusul dengan tergesa-gesa.
Ashura dan paman raja memasang lentera di sekitar halaman belakang agar Fu Kuang bisa melihat lebih jelas target. Paling mereka cari barang pohon jadi sasaran tembak. Tak mungkin juga gunakan manusia hidup jadi target. Bisa mati konyol.
"Jenderal angkat senjata lalu bidik dengan sebelah mata lewat teropong ini. Setelah tepat sasaran tarik pelatuk di bawah kuat dan tembak. Ok?" Ashura kasih tahu sejauh yang dia ketahui. Paling ingat cerita film action yang menonjol adegan baku tembak. Lebih kurang begitulah cara menembak.
Fu Kuang peragakan semua arahan Ashura dan merasa memang begitulah seharusnya. Hampir sama dengan membidik dengan busur. Gunakan kekuatan mata membidik sasaran.
Lama Fu Kuang cari posisi pas sebelum menembak. Fu Kuang harus bidik tepat target barulah lepaskan peluru dari tubuh benda besi itu.
Paman raja dan Fu Yen menanti aksi Fu Kuang dengan hati kebat-kebit. Apa Fu Kuang mampu kuasai benda itu. Kalau Fu Kuang tak mampu apa mereka berdua mampu? Mereka tak pernah terjun ke Medan perang mana ngerti cara guna senjata. Kalau sekedar gunakan pedang mungkin masih mampu mereka lakukan.
Suara menggelegar membahana pecahkan keheningan istana dingin. Suara lumayan gede namun tidak sampai menyebar jauh karena telah diredam oleh selimut tebal.
Hwa Lien dan kedua saudaranya berseru kaget begitu senjata meledak. Ashura sudah prediksi suaranya bakal begini maka tidak begitu terpengaruh.
Fu Kuang yang ledakkan senjata terdorong ke belakang beberapa langkah efek dari kekuatan senjata itu. Orang yang pegang senjata haruslah orang sehat baru mampu tangani kekuatan di balik senjata.
Fu Kuang tertegun setelah rasakan dahsyatnya benda yang dia pegang. Kini tinggal melihat daya rusak benda ini sampai tahap apa. Perlahan Fu Kuang menurunkan moncong senjata ke arah lantai agar tidak terjadi kecelakaan akibat lalai gunakan senjata.
__ADS_1
"Wow... hebatnya!" seru Hwa Lien dengan norak.
Fu Yen dan Paman raja bergerak maju hampiri Fu Kuang ingin juga rasakan kedahsyatan benda ini. Kalau Fu Kuang bisa berarti mereka juga bisa asal Fu Kuang tak pelit bagi keahlian.
"Tak kusangka kalau benda ini sangat kuat. Mari kita lihat kerusakan yang ditimbulkan oleh benda ini!"
Paman raja mengambil lentera untuk lihat apa yang sudah dihasilkan oleh ledakkan dahsyat benda ini. Mereka semua penasaran mau tahu hasil kerja benda ini. Mereka berlima mencari sasaran Fu Kuang tadi.
Dalam cahaya remang-remang mereka melihat batang pohon yang jadi sasaran hancur lebur. Barang muda itu berantakan tak berbentuk lagi. Dedaunan berguguran penuhi halaman istana. Dapat dibayangkan betapa hebatnya benda ini. Batang pohon yang keras saja hancur apalagi tubuh manusia yang lemah. Kena tembak mungkin tak berbentuk manusia melainkan serpihan daging.
"Wah...coba kalau kena raja Tang! Jadi daging cincang." ujar Hwa Lien tak habis-habisnya kagum pada benda dari masa depan. Semua serba menarik. Hwa Lien ingin sekali pergi ke masa depan nikmati semua fasilitas maju.
"Kita berhasil Ashura. Mulai besok liat latihan. Aku mulai ngerti cara kerja mesin kalian. Aku akan pelajari model lain. Aku akan ajar paman raja dan Yang mulai raja. Kita sudah berada diambang kemenangan." Fu Kuang tak bisa sembunyikan rasa bangga pada diri sendiri mampu memecahkan kecanggihan teknologi masa depan.
Ashura tersenyum dalam keremangan. Fu Yen bisa melihat tatapan mata Ashura mengandung rasa kagum pada Fu Kuang yang cerdas. Kedudukan raja tak berarti bagi Ashura. Ashura lebih mementingkan kecerdasan daripada kedudukan seorang raja.
"Kita kembali ke rumah dulu. Udara sesudah sangat dingin. Kita istirahat. Besok kita lanjutkan!" Fu Yen ajak semua kembali ke rumah karena angin bertiup cukup kencang tanda akan turun hujan lebat. Fu Yen tak ingin lihat wanita yang dia sayangi terkena flu.
"Aku setuju..." teriak Hwa Lien duluan berlari kecil kembali ke kamar Ashura untuk lanjut main game. Ketinggalan satu set mau nyawa gadis itu. Hwa Lien fix kecanduan game offline.
Tak ada yang heran dengan tingkah laku Hwa Lien. Gadis itu sudah dewasa namun tingkah masih kayak anak kecil. Ini karena Hwa Lien terlalu dimanja. Sangat jauh beda dengan Ashura yang tampak lebih dewasa dan punya perhitungan matang.
Fu Kuang menentang senjata dengan moncong senjata mengarah ke bawah untuk hindari segala kemungkinan. Fu Kuang kini tahu betapa dahsyatnya benda ini maka harus hati-hati meletakkan benda ini. Sekali meledakkan hasilnya mengerikan.
Fu Yen berjalan di samping Ashura ingin beri perlindungan dari dinginnya angin malam. Namun sekarang Fu Yen tak bisa sembarangan memeluk Ashura tanpa izin dari gadis itu. Ashura bukanlah Shu Rong sang selir. Ashura hanyalah gadis menyamar jadi Shu Rong. Kini mereka ada batasan.
Sepanjang jalan mereka diiringi oleh orkestra kolosal serangga malam. Nyanyian alam yang tak beraturan namun sedap di kuping jadi pengusir keheningan mencekam. Di tambah hembusan angin malam yang dingin melengkapi kesyahduan malam. Kalau ada kekasih pasti akan pelukan saling menghangatkan melawan dinginnya angin malam.
"Kau dingin?" tanya Fu Yen melirik ke arah Ashura. Fu Yen hanya dapat melihat sebelah pipi gadis ini memutih kena angin malam lembab.
"Lumayan...yang mulai raja tidak dingin? Biasa kan ada selimut hidup hangati ranjang yang mulia raja."
"Ngomong apa kamu? Sungguh tak sopan..." sungut Fu Yen malu diejek di depan adik dan pamannya.
"Aku bicara fakta. Apa yang mulia mau balik ke istana utama atau tidur berdesakan dengan jenderal dan Paman raja? Ruangan kami kecil dan tak mewah. Ranjang juga keras. Nanti sakit encok yang mulia kumat." sindir Ashura berjalan terus tak peduli dua orang lain ikut menguping obrolan mereka. Fu Yen tak dianggap sebagai penguasa oleh Ashura. Malah Ashura sedang bully sang raja.
Fu Yen malas jawab. Laki ini terus jalan sampai ke rumah induk Ashura. Di sana pencahayaan lebih bagus karena terpasang lentera cukup banyak. Keempat pesuruh Ashura dan Hwa Lien sudah ada di sana menanti kehadiran para penguasa istana. Keempat orang ini cukup kaget dengar suara ledakan cukup besar namun tak berani tanya. Suara itu berasal dari belakang istana di mana para majikan berada di situ.
Keempat orang itu langsung membungkuk begitu lihat sang mulia raja telah datang. Adat membosankan namun tetap harus dijalankan. Fu Yen beri tanda tak usah banyak adat lalu masuk ke dalam ruangan hindari tiupan angin malam. Ashura dan kedua laki lain ikutan masuk cari kehangatan.
__ADS_1