
Mata Fu Yen berubah merah mendengar Fu Kuang mau ajak Ashura bergabung dalam gagasan proyek barunya. Fu Yen tahu adiknya juga suka pada gadis bengalnya. Pakai trik baru untuk ambil Ashura dari sisinya. Fu Yen takkan biarkan Fu Kuang dapatkan apa yang diniatkan di hati.
"Ide Jenderal Fu Kuang akan diperhatikan. Apa masih ada masukkan baru? Sebagai petugas negara kita wajib lindungi rakyat. Jangan biarkan rakyat hidup susah!" kata Fu Yen lembut tak ingin berseteru dengan adik sendiri di hadapan para pejabat.
"Yang Mulia..hamba Lin Kun menteri keuangan negara. Hamba sarankan naikkan pajak agar negara ada masukkan untuk bantu rakyat."
Dada Ashura mau meledak rasanya dengar saran tak masuk akal ini. Di saat rakyat sedang sengsara masih ada saran yang bebankan rakyat lagi. Menteri macam apa ini? Tukang korupsi legal atau tikus tanah kekinian. Ingin sekali Ashura merujak moncong menteri licik itu.
Ashura mencubit pinggang Fu Yen kuat kuat ingatkan sang raja kalau itu permintaan konyol. Fu Yen hampir teriak dicubit gadis konyol ini namun di tahan demi wibawa.
"Maaf Yang Mulia..ini adalah hal paling mustahil! Rakyat sedang susah kita naikkan pajak. Bukankah menambah sengsara rakyat?" Seorang laki bertampag tikus berdiri tanpa diundang.
Ashura tersenyum melihat menteri yang datang malam malam minta dikeluarkan bantuan untuk rakyat. Nyatanya laki tikus itu adalah pejabat baik. Ashura mengangguk hormat pada menteri itu. Ternyata masih ada yang waras di sini.
"Menteri Lin..apa yang dikatakan Menteri Cang sangat masuk akal. Rakyat sedang dalam musibah kita naikkan pajak bukankah akan bunuh rakyat sendirinya." Fu Yen perkuat kata menteri Cang yang lebih logis.
"Kalau kita tak naikkan pajak dari mana dana untuk beri bantuan pada rakyat? Sementara pengeluaran negara sangat besar. Ijinkan hamba laksanakan usul hamba." Menteri Lin Kun masih ngotot seolah raja harus patuh pada usulnya.
Fu Yen melirik Ashura minta pendapat masalah ini. Ashura mangut lalu berbisik pada Fu Yen sambil tersenyum licik.
"Ijinkan hamba bicara atas nama Yang Mulia. Hamba kan penasehat wajar keluarkan pendapat. Hamba takkan permalukan Yang Mulia." bisik Ashura pelan di kuping Fu Yen.
Fu Yen mangut. Ashura maju ke depan sambil mendehem. Gadis ini pasang gaya seorang laki sejati penuh kharisma tinggi. Fu Kuang tak dapat menahan senyum melihat gaya sok Ashura cari perhatian.
"Maafkan hamba yang lancang sebagai penasehat raja. Hamba rasa usul menteri Lin Kun adalah usul baik." ujar Ashura penuh wibawa.
Para menteri kaget dengar Raja angkat seorang penasehat tanpa dibawa ke forum rapat kerajaan. Penasehatnya juga kurang menyakinkan selain bertampang cantik. Gaya Ashura sedikit feminim bikin para menteri gregetan.
Fu Yen kaget dengar Ashura dukung usul menteri Lin Kun. Apa rencana gadis slebor ini.
"Hamba merasa tersanjung oleh pandangan luas penasehat baru." menteri Lin Kun bangga sambil melirik perdana menteri yang cengar cengir pikir sudah dapat ikan besar. Mungkin bagi mereka Fu Yen hanyalah raja tolol yang bisa disetir kiri kanan.
"Baiklah! Berhubung semua setuju maka pengumumkan naikkan pajak akan diumumkan besok secara resmi. Penaikkan pajak akan dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama kita mulai dari lingkungan kerajaan. Selanjutnya baru pedagang kaya terakhir baru kita jangkau masyarakat kecil. Tahap pertama kita mulai dari para menteri dan pejabat. Pajak naik seratus persen!" Ashura bikin peraturan sendiri.
Fu Kuang dan Chen Yang ingin ketawa berguling guling Ashura berhasil jebak para pejabat tanpa susah payah. Sang menteri gali lubang untuk diri sendiri. Ashura hanya bantu tendang sang menteri masuk lubang.
Fu Yen pasang wajah datar supaya para menteri tak sakit hati. Ashura memang rubah cerdik mampu putarkan keadaan dalam sekejap. Sekali gebrak langsung skakmat para menteri kurang ajar.
Semua menteri tak mampu berkata apapun setelah adanya keputusan mendadak yang rugikan para pejabat. Mereka saling mencaci dalam hati. Untung tak dapat malah buntung. Tapi apa mau dikata sudah terlanjur ada kesepakatan mendadak yang beratkan para pejabat.
"Baiklah! Aku umumkan usulan menteri Lin Kun diterima. Besok para pejabat harap bayar pajak sesuai peraturan. Uang sudah terkumpul kita salurkan ke rakyat kecil. Tahap dua akan menyusul. Beri pengumuman pada para pedagang untuk pesiapkan diri bayar pajak sesuai keinginan menteri Lin Kun." Fu Yen cepat cepat sahkan usulan menteri Lin Kun agar tak ada lagi bantahan dari menteri yang tak puas.
__ADS_1
Lin Kun meringis tak tahu harus omong apa. Belum apa apa sudah dikalahkan seorang pemuda cantik. Mata Perdana Menteri berubah merah menahan emosi. Ini berkat ketololan Lin Kun yang tak pandai setir raja. Impian meraup untung dari kenaikkan pajak menjadi mimpi terburuk sepanjang masa.
Sekali lihat Ashura sudah tahu kalau ada udang di balik batu saran merugikan rakyat. Ini akan merusak nama baik Fu Yen serta menguntungkan orang pelaksana. Tetap sang raja yang buruk di mata rakyat karena dekrit keluar dari kerajaan istana. Untunglah Ashura cerdik cepat tanggap.
Fu Yen tak mau berlama lama lanjutkan sidang sebelum terkumpul uang pajak dari kantong para menteri. Fu Yen memilih tutup sidang sampai pelaksanaan kutipan pajak para pejabat terlaksana. Ashura tertawa penuh kemenangan hadapi orang orang culas macam para menteri. Ashura harus buka mata lebih lebar pantau mana menteri bisa pakai dan mana yang harus di offkir.
Sidang ditutup oleh Fu Yen tanpa tunggu laporan menteri selanjutnya. Terpenting sekarang kumpulkan dana bantu rakyat jelata. Banyak dengar usulan aneh bikin Fu Yen makin sakit otak. Untunglah Ashura pinter buat peraturan sendiri tanpa berbuat kasar.
Fu Kuang segera jumpai Ashura begitu para menteri mengundurkan diri. Fu Kuang sudah sangat rindu pada kelucuan Ashura yang bisa bikin dia lupakan segala tekanan di medan perang.
Ashura tentu saja senang jumpa Fu Kuang yang menurutnya jauh lebih oke dari Fu Yen.
"Gadis jelek..kau hebat! Aku suka caramu beri pelajaran pada pejabat berhati hitam." ujar Fu Kuang sambil menatap Ashura. Ashura tersenyum manis tanggapi kata kata sang jenderal.
"Jenderal jangan lupa bayar pajak ya!" olok Ashura bikin Fu Kuang terkekeh geli. Gaya Ashura tetap menggemaskan.
Fu Kuang mengacak rambut Ashura saking gemas. Dari jauh Fu Yen memandangi cara Fu Kuang dan Ashura bercanda. Keduanya kelihatan akrab dan lagi Ashura jauh lebih lepas bersama Fu Kuang. Wajahnya berseri manja layak gadis remaja umum minta diperhatikan. Fu Yen iri hati meyaksikan Ashura dan Fu Kuang memang intim.
"Shu Rong..kapan kau mau balik istanamu? Apa kau betah tinggal di istana raja?" tanya Fu Kuang lembut.
"Aku ingin balik tapi ada yang harus kuselesaikan. Sabar dikit ya! Kita pasti akan bersama lagi urus banyak hal. Kau harus bantu rakyat biar kemiskinan cepat teratasi."
"Tentu..aku juga tak ingin lihat rakyat sengsara. Kau adalah dewi bagi seluruh rakyat. Semoga kau mau jadi nyonya besar di istanaku!" Fu Kuang tak malu ungkapkan isi hati pada Ashura. Fu Kuang mau Ashura tahu kalau di hatinya ada seorang gadis bernama Shu Rong.
Fu Kuang ikuti arah tatapan mata Ashura pada Chen Yang dan Fu Yen yang sedang bicara ntah tentang apa. Fu Kuang tahu arah pemikiran Ashura penasaran pada oarng itu.
"Itu Pangeran Chen Yang. Adik bungsu ayahanda kami. Boleh dibilang paman kami."
Ashura tak percaya Fu Kuang punya paman demikian muda dan lumayan ganteng. Gaya Chen Yang demikian flamboyan santai habis. Raut wajah laki itu tenang menghanyutkan.
"Wah..untung banget kalian punya paman demikian oke. Selirnya pasti berjejer dari pagar sampai dapur." Ashura bikin asumsi sendiri tentag sosok Chen Yang.
"Salah..istana paman kami sama dengan istanaku. Belum ada ratunya. Kamu tak boleh tertarik padanya ya! Aku akan kecewa." gurau Fu Kuang coba lihat reaksi Ashura. Ashura menarik tangan Fu Kuang lalu goyang goyang manja layak anak sama bapak minta diperhatikan.
"Aku iya jatuh cinta pada kelembutan pamanmu. Pertama jumpa beri kesan mendalam. Jenderal harus restui kami." Ashura tersenyum licik sambil tarik ujung bibir bikin tanda sinis.
"Percayalah! Pamanku akan kubuat jadi kasim. Apa kau masih suka padanya?"
"Sadis amat! Aku tak suka orang sadis. Salah dikit nanti malah dipancung." Ashura melengos tak mau peduli pada Fu Kuang lagi. Ashura sengaja ngambek biar Fu Kuang tak terpikir berbuat jahat pada orang.
Fu Kuang menarik tangan Ashura memutar balik badan gadis ini hingga jatuh dalam rangkulannya. Ashura terpana saat Fu Kuang jatuhkan tatapan pada bola mata Ashura. Pandangan Fu Kuang seakan ingin selami isi hati Ashura lewat tatapan mata.
__ADS_1
Fu Yen merasa dadanya mau meledak melihat Fu Kuang begitu berani goda wanitanya. Wajah Fu Yen berubah merah menahan amarah. Perlakuan Fu Kuang terhadap Ashura sungguh tak sopan. Saat ini Ashura berperan sebagai seorang penasehat kerajaan yang notabene seorang cowok. Bagaimana mungkin seorang jenderal besar bermesraan sama laki di depan orang ramai.
"Penasehat Shu.." teriak Fu Yen menggelegar seluruh ruang sidang. Ashura cepat cepat menarik diri dari rangkulan Fu Kuang dengan wajah rona merah. Fu Kuang tertawa senang bisa kalahkan sang abang menarik perhatian gadis kecil ini.
"Maaf Yang Mulia..hamba terpeleset!" Ashura segera menhampiri Fu Yen sebelum sang raja keluarkan kata kata tak sedap. Hubungan abang adik bisa kacau kalau Fu Yen silap keluarkan kata kata tak sedap. Ashura harus hindarkan petaka gara gara dirinya.
Fu Yen mendengus kasar tak suka Ashura terlalu dekat dengan sang jenderal. Ada bau cuka dalam diri Fu Yen. Sangat asam hingga terendus hidung Chen Yang. Sang paman tersenyum penuh arti lihat Ashura datang secepat kilat ke hadapan sang raja. Dari belakang Fu Kuang ikuti langkah Ashura bergabung dekat raja.
"Jumpa lagi pendekar Shu Rong! Anda makin cantik." puji Chen Yang melo bikin Ashura gregetan. Seorang laki kok gaya seperti bakal banci. Tak ada tampang maskulin dikitpun.
"Tuanku Chen Yang..senang jumpa lagi." Ashura meringis sambil lirik Fu Yen menanti gertakan raja sinting itu.
"Tak kusangka anda penasehat keponakanku. Cantik juga licik..Aku senang jumpa denganmu. Aku harap kita bisa ngobrol panjang lebar kelak. Aku suka gayamu."
"Hehehe..Tuanku paman raja yang ganteng dan lemah lembut hamba juga suka padamu! Paman raja keren. Kita pasti akan berteman baik."
"Panggilanmu membuat merasa sangat tua. Mungkin aku sudah tua ya."
"Oh tidak..cuma hamba harus hormati posisi Paman raja sebagai orang generasi lebih tinggi. Kalau hamba sembarangan panggil Paman raja. Posisi kepala hamba bisa pindah. Percayalah!" Ashura sengaja berbisik bikin Fu Yen belalakan mata. Fu Yen tahu Ashura sedang mengejeknya sebagai raja tirani. Suka main hukum orang dengan ancaman hukuman pancung.
Chen Yang tergelak gelak dengar bisikan Ashura yang lumayan gede suaranya. Fu Kuang masam masam ikut geli lihat cara Ashura sindir sang raja. Akal Ashura sejuta cabang. Selalu berusaha bikin Fu Yen hilang akal.
"Kasim Du..di gunung masih perlu pekerja untuk angkat kayu?" tanya Fu Yen lantang.
Kasim Du segera hampiri Fu Yen sambil bungkuk hormat.
"Mungkin perlu Yang Mulia. Apa ada pelayan mau dikirim ke sana? Di sana hidupnya susah. Makan sehari cuma sekali. Jarak ke istana juga sulit. Kira kira siapa mau kita kirim ke sana?"
"Coba kirim Ayin dan Amuk ke sana! Di istana mereka juga tak ada kerja." ujar Fu Yen tak memandangi wajah Ashura.
Ashura langsung bereaksi dengar dua abdinya hendak dipekerjakan sebagai tukang kayu di hutan. Kehidupan sana tentu tak ramah penuh bahaya. Belum lagi binatang buas siap mengintai nyawa setiap pekerja.
"Yang Mulia Raja yang ganteng plus baik hati. Yang paling keren gagah juga perkasa...hamba rasa Ayin dan Amuk terlalu lemah untuk kerja di sana. Bagaimana kalau hamba saja ke sana? Hamba kuat dan perkasa. Akan rajin kerja." Ashura menyentuh lengan baju Fu Yen dengan manja mohon ampun untuk kedua abdinya.
Fu Kuang dan Chen Yang tahu itu hanya akal Fu Yen gertak Ashura agar patuh padanya. Fu Yen tahu kelemahan gadis ini maka memakai sela ini untuk menekan gadis ini agar patuh.
"Baiklah! Hari ini juga kau kerja di hutan. Jangan balik sebelum tebang seratus pohon!" Fu Yen sanggupi permintaan Ashura kerja di hutan sebagai hukuman main mata dengan laki lain.
"Seratus pohon? Berapa tahun aku kerja sana? Sepuluh tahun juga tak kelar Yang Mulia. Gimana kalau hamba jadi tukang sapu di istanamu? Hamba akan berkerja dengan rajin. Tak bikin ulah lagi."
"Membantah? Hukum pancung!"
__ADS_1
Ashura meraba lehernya sambil menelan air ludah. Dasar raja gila. Sedikit salah hukumannya langsung dipancung. Dasar nasib jumpa raja sinting.
"Ya sudah..pancung ya pancung! Tapi janji pancungnya jangan sakit! Pakai pedang tajam maha sakti." Ashura mengalah tak mau berdebat lagi. Mungkin dia harus terima nasib berakhir di sini.