
"Dalam berkeluarga apa yang paling kita butuhkan?" Ashura beri tanda tanya pada sang raja agar putar otak dikit.
"Berkeluarga?" Fu Yen malah bingung sendiri diberi pertanyaan aneh oleh Ashura. Tak pernah terpikir oleh Fu Yen mencari makna berkeluarga seutuhnya. Dia hanya tahu diberi wanita oleh pejabat juga Ibunda Ratu. Fu Yen sendiri tak tahu berapa banyak selir selirnya. Ini malah disuruh tambah lagi.
"Yang Mulia harus tahu berkeluarga itu bukan hanya sekedar punya isteri untuk salurkan nafsu. Lalu melahirkan anakmu. Berkeluarga itu harus ada rasa kasih sayang. Yang Mulia merasa nyaman bersama orang itu. Yang Mulia selalu ingin melindunginya, memberi yang terbaik buat orang kita cintai." Ashura memberi pandangannya terhadap cinta. Fu Yen mana tahu soal cinta. Cintanya terlalu banyak hingga tak tahu harus dilabuhkan ke mana. Dermaga yang dibangun sudah melebihi kapasitas. Over dosis.
"Kau bicara seolah kau punya perasaan itu." sindir Fu Yen
"Hamba belum menemukan orang yang bisa bikin hati hamba bergetar. Ingat wajahnya siang malam, merindukannya. Belum..belum ketemu." desah Ashura sambil mengingat Liem yang sekarang ntah di mana. Liem musuh terindah.
"Aku juga tak tahu begini rasanya cinta. Kami orang istana hanya tahu diarahkan tidur di istana siapa. Tak perlu tahu siapa wanita itu!"
"Yang Mulia tahu gk kalau sering ganti pasangan akan datangkan penyakit kelamin."
"Penyakit apa itu?"
"Penyakit mengenai itu.." Ashura malu untuk berterus terang pada Fu Yen tentang bahaya penyakit kelamin kalau acap gonta ganti pasangan tidur. Para selir juga belum tentu setia hanya tidur sama raja. Bisa jadi para selir buka pintu belakang ajak laki lain naik ranjang. Contoh terdekat selir Xue San sukses datangkan pengawal ke kamar.
"Jangan cerita kalau kau tak yakin! Bikin aku penasaran saja." rengut Fu Yen tak ramah seakan dibodohi gadis kecil.
"Penyakit itu berhubungan dengan itunya laki.." Ashura masih plin plan untuk jawab lugas.
"Punya laki? Kaki tangan atau wajah?"
"Alat untuk tiduri selirmu!" seru Ashura menahan malu. Ashura sembunyikan wajah di balik kedua tangannya tak mampu menanti reaksi sang raja.
Fu Yen tertawa geli melihat cara Ashura terangkan tentang penyakit laki. Fu Yen pernah dengar penyakit laki tak mampu nafkahi bini di tempat tidur namun penyakit yang dimaksud Ashura belum jelas maksudnya. Fu Yen bisa nilai Ashura memang berpendidikan bagus dan mampu menganalisa satu hal dengan cepat. Kepinteran Ashura tak kalah sama pelajar juara satu di kerajaan. Andai Ashura dipilih hanya jadi selir biasa pasti akan terbuang tak berguna. Fu Yen harus memiliki Ashura dalam arti luas. Menjadi pendamping raja selamanya. Ratu dari segala ratu.
"Jelaskan penyakit itu!"
"Baiklah! Ini bisa jadi panduan buat Yang Mulia agar lebih bijak dalam urusan lelaki."
"Kamu bicara seolah rajamu ini tolol sekali tak tahu apapun. Sekarang katakan apa maksudmu!"
"Begini Yang Mulia. Kita sebagai manusia mempunyai kekebalan tubuh terhadap penyakit. Penyakit itu bisa datang setiap saat tanpa kita ketahui. Dan kita memiliki sesuatu yang namanya bakteri. Ada yang bagus dan ada yang buruk. Termasuk di dalam alat kelamin laki dan wanita. Jadi kalau pas jumpa bakteri itu berubah wajah maka dia akan menjadi bibit penyakit. Contoh orang sering ganti pasangan bercinta. Hari ini Yang Mulia tidur dengan Ning Fei, besok dengan Kun Ti selanjutnya ganti lagi. Sementara kita tak tahu apa pasangan tidur Yang Mulia ada ganti pasangan lain gk? Dari sini campuran bakteri akan berubah ganas menjadi penyakit mematikan. Alat kelamin akan rusak. Kencing bernanah dan berbau busuk. Kelamaan nyawa melayang. Apa di istana pernah ada kejadian begitu?"
Tanpa sadar Fu Yen mangut benarkan kata Ashura. Abang dan ayahanda raja meninggal karena kencing bernanah dan alat kelamin sampai busuk nyaris hancur. Puluhan tabib istana tak mampu sembuhkan penyakit keduanya. Akhirnya kedua orang itu meninggal. Abangnya meninggal dalam usia sangat muda meninggalkan puluhan selir. Salah satunya Ning Fei.
"Abangku meninggal dalam kondisi hampir sama dengan yang kau katakan." desis Fu Yen bergidik bayangkan kejadian itu menimpanya. Abangnya menjerit pagi siang malam menahan rasa sakit sampai ajal menjeput.
"Selirnya tak boleh tidur dengan orang lain lagi. Dalam diri mereka mengandung virus itu. Ini akan menyebar pada orang lain. Coba Yang Mulia selidiki selir mana yang sering sakitan! Harus diasingkan agar jangan menular pada orang lain! Sebenarnya bisa sembuh tapi harus ada obat tepat."
__ADS_1
Fu Yen teringat dia pernah tidur dengan Ning Fei. Apa dirinya juga sudah tertular? Tapi selama ini semua tak ada masalah. Dia sehat tak pernah mengeluh ada yang tak beres pada alat kelaminnya.
"Aku gimana?"
"Kenapa sama Yang Mulia? Apa ada kencing nanah juga?"
Fu Yen menjentik jidat Ashura kesal digoda gadis tengil ini. Ashura selalu menjebaknya jatuh pada suasana tak nyaman.
"Aku pernah tidur dengan Ning Fei.." ujar Fu Yen lirih.
Ashura angguk angguk meneliti Fu Yen dari atas hingga bawah. Gaya Ashura buat Fu Yen salah tingkah seakan laki ini memang sudah kena penyakit kelamin itu.
"Ssssttt..apa Yang Mulia kencingnya kuning bernanah? Itunya sakit terasa panas dan gatal?" bisik Ashura pelan takut di dengar Alun yang duduk di depan kereta kuda.
"Ngomong apa kamu? Aku sehat tak ada sakit. Kau mau periksa sendiri? Aku tak keberatan kau periksa." Fu Yen tak mau kalah pamor balik serang Ashura.
Ashura terdiam diusilin Fu Yen. Dalam hati Ashura memaki Fu Yen sebagai laki mesum berotak kotor. Ashura tentu saja malu di suruh periksa alat kelamin lelaki apalagi punya raja sinting. Mau tarok di mana wajah cantik ini?
"Yang Mulia harus jaga aset sendiri kalau tak mau hancur oleh nafsu. Cukup Yang Mulia ambil seorang ratu yang bisa wakili semua selir. Kalian pasti bahagia. Yang Mulia tak perlu pusing mikirin mau giliri siapa dan tak perlu dengar pertengkaran para selir. Cuma hamba sarankan jangan selir Ning Fei! Masih banyak gadis lain yang baik. Selir Ning Fei pasti sudah bawa bibit penyakit, berhubung Yang Mulia sehat dan kuat maka tak tertular. Selanjutnya belum tentu tak tertular."
"Beri aku waktu menata para selirku! Aku perlu ratu yang mampu bawa ketenangan istana. Ashura..kuakui kau gadis pinter! Kenapa kau tak mau bantu aku jalankan roda pemerintahan?"
Inilah yang disukai Fu Yen dari Ashura. Tidak tamak dan selalu baik hati. Makin ke depan Fu Yen makin tak mampu singkirkan bayangan Ashura dari pikiran. Fu Yen marah kalau Ashura sebut laki lain. Terutama bila sebut Fu Kuang soalnya Fu Yen tahu Ashura suka pada laki itu. Mata Ashura berbinar bila bersama laki itu.
"Shu Rong..kau sudah janji takkan tinggalkan aku dalam masalah apapun kan? Kau harus tepati janji. Aku butuh teman bisa pahami posisiku sebagai pemimpin kerajaan." Fu Yen mundur dulu meraih cinta Ashura. Asal gadis ini masih ada di sisinya maka segala akan berjalan aman.
"Hamba janji akan temani Yang Mulia lalui semua masalah. Kita mulai dari pembukuan kerajaan. Besok Yang Mulia perintahkan Kasim Du dan Alun ambil pembukuan dari semua pejabat bersangkutan. Harus serentak supaya tak ada kesempatan buat mereka bikin buku baru. Kerahkan beberapa orang temui para pejabat pemegang buku. Libatkan paman raja dan jenderal Fu Kuang." Ashura berkata penuh percaya diri akan bongkar kecurangan para pejabat.
"Kau memang penuh perhitungan. Hari ini juga akan kuperintah anak buah bergerak. Biar mereka tak ada persiapan buat curang." Fu Kuang setuju rencana Ashura bertindak cepat sebelum ada konspirasi besar muncul. Para pejabat bisa saja saling kontak tutupi semua keburukan mereka.
"Hamba siap membantu tapi hamba juga punya satu permintaan." Ashura menyentuh tangan Fu Yen meminta permohonan baru.
Fu Yen menatap tangan Ashura di tangannya. Tangan itu mungil namun hasilkan karya luar biasa. Apa lagi yang bisa tangan mungil ini kerjakan selanjutnya. Fu Yen membalas genggaman Ashura beri kenyaman.
"Apa permintaanmu?"
"Hamba minta boleh kembali ke istana dingin."
Fu Yen melengos menyentak tangan Ashura dengan marah. Baru saja janji akan bantu dia menyelesaikan beberapa masalah kini mau kabur pula. Janji kosong kelas wahid.
"Tak boleh..sudah kubilng kau boleh minta apa saja asal tak tinggalkan aku."
__ADS_1
"Hamba bukan tinggal di sana tapi mau cari bibit bagus untuk petani. Hamba kerja dengan tenang di sana. Istanamu terlalu ramai bikin kepalaku mumet. Siang hamba di sana malam hari hamba akan balik istanamu. Itu tak lama. Setelah musim tanam hamba akan seutuhnya kembali ke istana Yang Mulia. Hamba janji tak bohong. Yang Mulia boleh kirim pengawal awasi kerjaku. Ini demi rakyat." Ashura berkata dengan sungguh sungguh.
Fu Yen masih ragu dengan janji Ashura. Fu Yen tak mau jauh dari gadisnya. Ashura sudah jadi bagian dari kisah hidup Fu Yen. Fu Yen tak mungkin biarkan Ashura lolos dari tangannya begitu saja.
"Kau tak bohong?"
"Bohong apa? Apa tak mau lagi kepalaku netap di leher. Soalnya rajaku itu raja penggal." gurau Ashura mengolok Fu Yen sebagi raja kejam. Salah dikit hukumnya penggal.
"Kau..ya sudah! Aku akan tinggal bersamamu di istana dingin."
"Jangan! Hidupku tak aman bila tersiar berita Yang Mulia tinggal bersama puteri buangan di istana dingin. Pasti akan muncul gosip tak sedap." tolak Ashura tak mau Fu Yen berada di lingkungan kerjanya selama dia akan berhubungan dengan Shu Rong.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Tetap jadi raja semua orang dan hamba tetap penasehatmu sampai semua aman. Sekarang hamba lagi fokus cari bibit unggul perpendek masa tanam. Hamba akan cari bibit baru untuk petani agar semua hidup makmur. Percayalah pada hamba Yang Mulia! Hamba takkan khianati Yang Mulia dalam hal apapun."
"Kau yakin?" Fu Yen mencari kejujuran di mata Ashura yang bening. Ashura membalas tatapan Fu Yen tanpa rasa gentar. Ashura tak berbohong maka tak perlu ada rasa grogi. Niat Ashura tulus pada rakyat.
"Yakin tapi setelah kita selesaikan pembukuan negara. Kita selesaikan masalah satu persatu. Urusan kerajaanmu bak benang kusut. Perlu waktu dan kesabaran tinggi selesaikan."
"Kau benar. Selama ini aku hanya dengar laporan tanpa ceking lapangan. Tak kusangka banyak penyimpangan. Terima kasih Shu Rong! Kau telah buka mataku bagaimana jadi raja bertanggung jawab. Bukan hanya memerintah saja, tapi harus ada tanggung jawab terhadap rakyat."
"Wooww..raja penggal ucapkan terima kasih! Apa gajiku naik?" gurau Ashura membuat tangan sang raja jentik jidat gadis cerdas ini lagi. Ashura menjerit keras kesal dibully sang raja terusan.
"Jaga mulutmu! Aku ini masih rajamu."
"Uuupppsss..ada raja." Ashura mendekap mulut sendiri pura pura kaget ada raja. Fu Yen kembali menjentik jidat Ashura bikin suasana jadi gaduh.
Alun dan kasim Du hanya bisa tersenyum mendengar Ashura dan Fu Yen bergaul baik tanpa beda rakyat biasa dan posisi tinggi raja. Fu Yen jarang begitu ceria bersama wanita. Muka Fu Yen selalu muram seakan menanggung beban berat. Ada saja laporan para menteri bikin raja berpikir keras selesaikan semua laporan. Laporan itu valid atau tidak tak pernah ada penyelidikan secara akurat. Fu Yen terlalu percaya pada para pejabat hingga mereka semena mena. Kini saatnya buktikan yang mana pejabat bisa pakai dan pejabat tak bisa pakai.
Fu Yen bergerak cepat perintahkan minta pembukuan kerajaan selama setahun. Gerak cepat Fu Yen bikin heboh seluruh kerajaan. Para pejabat tak sangka Fu Yen akan minta pembukuan tanpa pemberitahuan. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain turuti permintaan Fu Yen secara mendadak. Kini pejabat yang terlibat hanya bisa memikirkan alasan tepat agar terhindar dari hukuman berat.
Ashura tepati janji bantu Fu Yen ceking pembukuan negara. Ashura memang tak ngerti tulisan mandarin namun hitung menghitung Ashura jagonya. Fu Yen menerangkan dan Ashura tukang hitung. Kedua saling membahu hingga larut malam. Ashura bersemangat bongkar segala kelicikan para pejabat. Semua uang negara harus kembali ke tempat tepat untuk rakyat. Negara harus bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup seluruh lapisan masyarakat.
Lewat tengah malam Ashura sudah tak dapat menahan ngantuk. Gadis bengal ini tertidur di meja kerja Fu Yen beralas tangan sendiri. Sementara Fu Yen masih pelajari semua pembukuan dengan teliti. Semua meyimpang. Tak ada yang cocok antara pemasukkan dan pengeluaran. Pembukuan seperti ditulis asal asalan tanpa hitung akurat. Pembukuan setiap pejabat berbeda beda walau pengeluaran satu jalur.
"Shu Rong.." panggil Fu Yen hnedak bertanya sedikit penjumlahan dan perkalian tak wajar. Fu Yen mendapatkan Ashura sudah lelap terbuai mimpi.
Fu Yen tersenyum melihat wajah Ashura demikian damai tanpa delikan nakalnya. Cantik menawan hati. Setiap orang memandangnya pasti akan jatuh cinta.
Fu Yen merasa dia telah jatuh cinta pada Ashura. Semua definisi tentang cinta dari Ashura terasa di hatinya. Fu Yen ingin memiliki Ashura tanpa memaksa. Dia harus mendapat perhatian Ashura secara ikhlas.
__ADS_1