CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Penasehat Cantik


__ADS_3

Shu Rong tertawa kecil tanggapi pertanyaan Ashura. Kehidupan istana sangat kacau. Masing masing punya rencana sendiri bawa diri jadi wanita istana. Kalau hanya menanti raja datang kunjungi ubar nafsu sangatlah tipis kemungkinan dapat giliran. Untuk salurkan nafsu terpaksa berselingkuh. Raja takkan tahu karena tak tahu mana yang sudah dipakai atau belum.


"Ashura..dari jaman ke jaman wanita istana akan cari laki lain hangatkan tempat tidur. Rata mereka berselingkuh."


"Ya Tuhan..kehidupan sini tak ubah pelacuran terselubung. Semoga tak sampai padaku."


"Kau orang setia tak mungkin berbuat curang. Aku pergi dulu. Kau beres karena orang Fu Yen akan datang. Kita jumpa malam ini."


"Iya..kutunggu kamu! Aku perlu alat sadap untuk selesaikan misiku terhadap Ning Fei dan ratu. Manusia culas kayak gitu harus diberi pelajaran."


"Ashura..aku tahu kau sangat baik hati. Jangan lemah hati hadapi manusia jahat itu. Mereka takkan segan bunuh kamu kalau tahu kamu adalah penghalang langkah mereka. Hati hati ya!" Shu Rong menghilang setelah ucapkan kalimat terakhir.


Tinggallah Ashura merenungi semua masalah yang ada. Fu Yen menanggung beban tak ringan. Jadi raja juga tak gampang. Timbang sana sini jaga perasaan orang banyak. Ashura janji takkan tambah beban Fu Yen atas dirinya. Dia harus dukung semua kerja Fu Yen selama kerja itu bagus.


Ashura segera mandi tanpa mengganggu Ayin. Ashura tahu dia tak boleh manja lagi. Sebentar lagi Ayin dan Amuk akan keluar dari istana demi masa depan lebih cerah. Hidup sebagai pelayan tak ada hari cerah sampai kapanpun. Biarlah kedua anak baik itu jalani hari lebih sempurna di luar sana.


Ashura mandi lalu berberes karena tahu akan dijeput Fu Yen. Ashura takkan bawa Ayin maupun Amuk. Mereka harus jaga istana dingin agar tak ada yang curiga dalam istana tak ada puteri Shu Rong. Ke depan suasana pasti akan lebih panas karena Fu Yen mulai ambil tindakan babat kecurangan dalam istana.


Ayin sudah sediakan sarapan sederhana buat Ashura. Pelayan setia ini bukannnya tak tahu telah terjadi sesuatu antara raja dan tuan puteri mereka. Wajah Raja sudah terlukis gambar nyatakan sedang bahagia. Apalagi Ashura bikin Ayin bertanya mengapa bangun telat. Ashura jarang bangun telat.


Ayib bukan orang bodoh tak tahu gelagat. Tapi yang terbaik adalah pura pura bodoh biar Ashura tak tak malu nanti.


Wajah Ashura sedikit pucat walau tetap cantik. Ashura tetap kenakan pakaian penasehat raja agar tak ada yang curiga siapa sesungguhnya penasehat cantik yang jadi bayangan raja beberapa waktu terakhir ini.


Ayin menyambut Ashura dengan senyum manis. Pagi mendung tak mesti dibarengi wajah mendung. Tetap berpikir positif maju hadapi semua kendala.


"Selamat pagi tuan puteri." sapa Ayin sopan.


"Pagi..mana Amuk?"


"Ada di belakang. Apa harus kupanggil?"


"Gak usah. Kalian harus sarapan juga ya."


"Sudah..maaf kamu duluan makan. Hari sudah terlalu siang maka makan duluan."


"Tak apa..oya..kalian berdua tetap di sini jaga istana. Kalau ada orang tanya mana aku katakan tak mau diganggu. Jangan sampai ada yang tahu aku tak berada di istana."


Ayin menghidangkan teh lalu membungkuk iyakan amanah Ashura. Ayin tahu nyawa Ashura sedang diincar orang. Kedudukan telah membuat mata hati orang tertutup rapat. Yang ada hanya nafsu angkara.


Ashura menikmati sarapan sekaligus makan siang tanpa semangat. Jujur Ashura kuatir dia hamil anak raja. Kalau dia hamil akan bawa cerita lebih panjang. Ashura tak mungkin tinggalkan tempat ini lagi mengingat adanya penurus darahnya. Apa Ashura tega tinggalkan anak anak di jaman tak lazim untuknya?


Ayin perhatikan air muka Ashura yang tak sedap dipandang mata. Gadis ini bertanya tanya apa yang membuat majikannya tampak tak bahagia padahal jelas jelas sang raja kelihatan sumringah.


Walau gitu Ayin tak berani banyak tanya takut bikin Ashura makin sedih.

__ADS_1


"Ayin..kau dan Amuk segera menikah. Aku sudah minta ijin sama Yang Mulia ijinkan kalian menikah. Kau dan Amuk bisa keluar istana. Hiduplah dengan wajar tanpa perlu jadi budak siapapun lagi." kata Ashura lembut pada Ayin.


Ayin segera berlutut tanpa disuruh Ashura.


"Jangan usir kami! Walau kami menikah tapi tetap mau bersama tuan puteri."


Ashura bangkit dari tempat duduk lalu mengangkat Ayin dari sujudnya. Ashura bukan dewa yang harus disembah. Ashura malah risih disembah terus seperti orang mati.


"Ayin..aku bukan tak mau kalian tapi sang raja selalu gunakan kalian untuk ancam aku. Aku takut suatu saat dia betulan akan pancung kalian kalau aku membantah kata katanya. Maka itu aku mau kalian keluar istana. Aku sayang pada kalian."


Ayin menangis dengar niat baik Ashura terhadap mereka. Ternyata Ashura memang memikirkan nasib mereka sedetailnya.


Ashura ikut sedih lihat Ayin nangis. Ashura paling tak tahan lihat orang lain bersedih. Terasa air matanya ikut menetes ikut merasakan keharuan Ayin.


"Apapun terjadi kami tetap mau bersama tuan puteri. Hidup mati kami biarlah ditentukan sama yang diatas. Kalau hanya hal ini tuan puteri usir kami maka kami menolak keluar istana."


Ashura tak ragu kesetiaan Ayin namun berada di istana tetap beresiko tinggi. Ashura tak boleh korbankan orang tak bersalah demi diri sendiri.


Ayin menggenggam tangan Ayin penuh kelembutan. "Ayin..kalau hanya untuk kalian aku tak takut tapi ingat gimana kalau kalian punya anak? Gimana nasib anak kalian nanti? Apa kalian mau anak kalian hidup tanpa orang tua?"


"Tapi nasib tuan puteri tanpa kami? Semua orang incar nyawa tuan puteri."


"Tanpa kalian aku lebih enak bergerak. Pokoknya kalian harus keluar dari sini dan hidup layak. Aku akan urus kalian keluar secepatnya. Setelah tugasku selesai aku akan keluar istana juga. Istana tempat mengerikan."


"Tuan puteri..ijinkan kami melayani sampai kau keluar istana. Kami takkan tenang tinggalkan tuan puteri sendirian hidup di istana. Bahaya selalu ancam tuan puteri."


Ashura tahu niat baik Ayin namun Ashura sudah ambil keputusan takkan biarkan Ayin dan Amuk hidup di bawah ancaman sang raja. Fu Yen itu tak bisa ditebak. Sebentar baik sebentar bisa jadi manusia jahat. Yang paling tepat adalah biarkan kedua abdi itu pergi dari istana.


"Jangan membantah Ayin! Kalian pergi jauh dari sini dan sediakan tempat untuk bila disepak dari sini. Aku yakin sang raja akan usir aku suatu saat." Ashura berusaha tegar mengingat hari hari berat ke depan berkeliaran di istana.


Ayin menangis sesungguk sedih dengar keputusan Ashura tetap ingin mereka keluar istana. Keputusan Ashura tak dapat dibantah. Tak ada guna melawan keputusan sang puteri yang sudah nekad antar kedua abdinya keluar istana. Ashura tetap ingin yang terbaik untuk kedua orang yang sudah lama melayaninya.


Amuk datang melapor kalau jeputan sudah tiba. Ashura bersiap siap ikut jeputan bawa dia kembali ke istana Fu Yen. Ayin dan Amuk tak ikut sesuai keinginan Ashura meindungi istana dingin. Istana ini tak boleh kosong agar tak ada yang curiga tak ada kehidupan di dalam istana itu.


"Ayin..kau jaga istana ini baik baik sampai kalian menikah. Rawat Amuk baik baik ya!"


"Siap tuan puteri!"


Ashura memeluk Ayin dengan hangat. Ashura tak mau Ayin berpikir Ashura menganggapnya sebagai pelayan saja. Di hati Ashura kedua abdinya sudah seperti saudara yang harus dilindungi. Ke depan tak tahu apa yang bakal terjadi maka jalan terbaik adalah singkirkan kedua orang itu dari istana.


"Aku pergi..kalau kangen aku akan datang kunjungi kalian. Jaga perasaan kalian dan jangan bertengkar! Dan kau Amuk jagalah Ayin untukku! Kalau kau sakiti Ayin akan kupancung hatimu. Ingat itu."


Amuk mengangguk sopan iyakan ancaman Ashura. Amuk tahu Ashura hanya bercanda. Mana ada orang pancung hati. Ini hanya kata kiasan untuk Amuk menjaga Ayin.


Ashura membawa bekalnya yang vital mulai hidup baru sebagai wanita raja. Sekeras apapun dia menolak tapi Fu Yen berhasil dapatkan keinginan jadikan Ashura sebagai kawan tempat tidur. Mungkin kini Fu Yen sedang bangga pada diri sendiri berhasil taklukkan kambing liarnya.

__ADS_1


Ashura tahu yang akan datang tetap datang. Mengelak sampai kapanpun hari itu akan tiba. Cuma tibanya terlalu cepat. Ashura belum terlalu siap jadi wanita simpanan sang raja. Masih banyak tugas mulia berada di pundak. Ashura tak boleh egois sampingkan kesejahteraan rakyat demi ego sendiri. Menolak raja maka akan makin sulit dapat kebebasan. Sudah menjadi wanita raja mungkin Fu Yen akn lebih lengah terhadap Ashura. Wanita muda ini akan lebih mudah keluar masuk istana.


Kasim Du memberi hormat pada Ashura begitu wanita ini keluar dari pintu gerbang istana dingin. Sikapnya jauh lebih sopan dari biasanya. Mungkin Fu Yen sudah perintahkan Kasim Du untuk lebih sopan pada wanita raja. Posisi Ashura kini berbeda karena sudah menjadi wanita kesayangan raja.


Ashura malah tak enak dihormati secara berlebihan. Bagaimanapun Kasim Du jauh lebih tua darinya. Sangat tidak etis orang tua membungkuk pada yang muda. Seharusnya Ashura yang harus lebih hormat pada Kasim Du.


"Kasim Du..kalau anda masih bungkuk gitu padaku maka aku akan musuhi Kasim Du selamanya." kata Ashura gusar diberi penghormatan berlebihan.


"Maaf tuan puteri..ini perintah Yang Mulia Raja! Status anda sudah naik sebagai calon ratu tetap."


"Kasim Du..aku jauh muda darimu! Mana boleh dapat hormat berlebihan. Kita tetap bersahabat seperti biasa. Atau kau mau kita musuhan. Nanti aku tak mau bagi cerita tentang kulitku yang mulus lho!"


Kasim Du meringis takut. Hasrat korek cerita tentang kecantikan alami Ashura menjadi topik teranyar dalam hidup kasim bencong itu. Sudah lama sang kasim ingin tahu rahasia kecantikan Ashura namun gara gara banyak hal terjadi halangi dia bertanya. Dan kini Ashura tak mau bagi cerita gara gara sang kasim berlebihan dalam bersikap. Kasim Du juga berada dalam tekanan sang raja. Tak patuh pada raja sama saja bunuh diri.


"Tenanglah kasim Du! Kalau tak ada raja kita tetap berteman ya! Kau jadi teman baikku saja. Kini Kasim Du yang jadi temanku selama di istana kebajikan." Ashura paham sang kasim bagai makan buah simalakama. Ke kiri atau ke kanan tetap bermasalah. Untunglah Ashura orang pengertian. Mau tahu kesusahan orang kecil.


Wajah Kasim Du berubah cerah Ashura mau mengerti posisinya sebagai pelayan istana raja. Kasim Du makin suka pada calon ratu yang sangat rendah hati ini.


"Terima kasih tuan puteri. Kita berangkat sekarang ya."


Ashura mengangguk pasti ambil naik ke kereta kuda dibantu kasim Du. Kereta kuda segera berangkat menuju ke istana kebajikan tinggalkan kenangan manis di istana dingin. Di situ Ashura memulai sejarah baru sebagai wanita raja.


Ashura hanya berdoa semoga perasaan Fu Yen tak berubah padanya walau kelak jumpa wanita lebih cantik. Hati laki siapa yang tahu apalagi Fu Yen seorang raja. Sejuta godaan pasti datang menghampiri. Tergantung keteguhan hati Fu Yen melawan segala nafsu angkara.


Ashura di tempatkan di istana baru di belakang istana kebajikan. Suasana bersih juga tenang tanpa banyak keramaian. Taman sangat indah berhiaskan bunga bunga segar bermekaran. Ada kolam ikan dipenuhi bunga teratai warna merah dan pink.


Sekilas dilihat sangat cocok dengan keinginan Ashura yang tak suka keramaian. Ashura orang mandiri tak suka di layani oleh siapapun. Kehadiran para pelayan malah bikin Ashura tak nyaman. Langkah Ashura seolah terjengkal oleh puluhan pasang mata.


Kasim Du biarkan Ashura puaskan netra memantau kondisi tempat tinggal barunya. Ashura akan beradaptasi sebagai wanita raja yang harus siap kalau diminta kawani sang raja di tempat tidur.


"Tuan puteri puas dengan istana ini?"


Ashura terus melangkah mengitari istana pelajari setiap sudut istana. Hati Ashura puas berada di tempat barunya. Segalanya terasa sempurna.


"Aku suka kasim Du. Aku tak mau banyak orang di istana ini. Aku akan panggil bila perlu saja. Aku mau tinggal sendirian di istana. Cukup tiap hari sediakan air dan makanan saja. Lain tak perlu."


"Mana boleh gitu tuan puteri! Anda calon ratu kerajaan. Mana boleh tanpa abdi. Yang Mulia sudah panggil puluhan pelayan untuk layani tuan puteri."


"Kasim Du..kalau kau sayang padaku cukup tempatkan beberapa pengawal di depan pintu gerbang. Kalau aku perlu orang aku akan panggil. Istana Yang Mulia tak jauh dari sini."


"Tuan puteri jangan bikin susah kami! Yang Mulia sudah perintah maka harus diikuti."


"Kasim Du..aku bukan puteri yang gila nama besar. Kita sama sama manusia. Sama berdarah juga sama sama makan dan juga akan mati. Untuk apa kita persulit hidup oarng lain. Aku tak tega perbudak kalian. Kalian digaji untuk kerja bukan diperbudak." Ashura menatap Kasim Du dengan tajam perlihatkan sisi ketegasan sebagai manusia berakhlak tinggi.


Kasim Du bergidik melihat Ashura serius bicarakan tentang status seorang manusia. Ashura demikian baik hati memikirkan nasib orang orang di sekelilingnya.

__ADS_1


__ADS_2