
Maunya Ashura dia segera melapor pada raja tentang percakapan dengan Ning Fei namun Ashura masih pertimbangkan kalau Fu Yen banyak masalah. Mungkin dia akan ajak paman raja dan Fu Kuang untuk diskusi masalah ini. Kedua orang itu lebih bijak lihat semua masalah tanpa grasa grusu seperti dia dan Hwa Lien yang berdarah panas. Cuma ini sudah terlalu larut untuk panggil kedua pembesar istana itu. Mereka harus sabar tunggu matahari bersinar sempurna.
Hwa Lien datang di tengah kegelapan malam. Wanita muda itu tampak kesal disuruh keliaran di sekitar istana di malam buta. Harusnya dia sudah tidur bermimpi tentang calon suami di masa mendatang. Mimpi itu buyar gara-gara penyakit nakal yang menyerang istana kerajaan. Hwa Lien tak tahu berapa banyak orang terjangkit penyakit itu.
Hwa Lien menguap besar biarkan angin masuk ke kerongkongan menuju ke lambung. Gina tersenyum melihat sahabatnya sudah jauh kata ok. Matanya yang agak sipit sudah tampak layu redup mau padam.
Ashura segera merangkul pundak gadis ini sebelum mulutnya nyerocos ngatain yang bukan-bukan.
"Kita pulang putri tercantik!" Ashura membimbing Hwa Lien masuk ke kereta kuda. Sebelum masuk Hwa menyerahkan beberapa benda kecil ke tangan Ashura untuk tunjukkan dia telah sukses laksanakan perintah Ashura. Ashura melihat beberapa kamera pengintai di tangan dengan hati gembira. Sebentar lagi semua akan terungkap terang benderang siapa yang baik dan buruk.
Setelah semua masuk ke dalam kereta, Alun perintahkan sais jalankan kereta menuju ke istana dingin. Alun tidak tanya mau ke mana para wanita itu lagi. Malam sudah merangkak terlalu jauh tak mungkin ganggu waktu istirahat sang raja. Alun juga takut tiba-tiba ada putri Tang di dalam istana Fu Yen. Ini pasti akan melukai hati Ashura. Alun tahu Ashura adalah wanita raja yang sangat disayangi oleh raja.
Wanita manapun tak suka lihat lakinya bersama wanita lain walaupun Ashura tahu kalau raja punya banyak wanita. Lebih baik Ashura tak melihat agar tidak terluka. Alun ambil kebijakan ini demi kebaikan Ashura.
Kereta kuda berjalan menembus malam sampai ke istana dingin. Alun menurunkan kelima wanita itu lalu tinggalkan istana dingin. Kebisuan menyeruak menjadi saksi kalau tak lama lagi ketenangan istana akan terkoyak. Yang pantas dihukum tetap dihukum. Ashura tak berniat lindungi siapa pun yang terlibat kejahatan. Ning Fei itu korban keserakahan ibunda ratu juga korban ambisi besar. Tunggu saja apa yang akan terjadi kelak.
Sesampai di kamar Hwa lanjut tidur sementara Ashura membuka rekaman mau tahu apa yang terjadi di tempat ibunda ratu. Ashura lebih tertarik pada rekaman di tempat ibunda ratu ketimbang tempat Ning Fei. Ashura sudah bisa tebak kalau Ning Fei tak berdaya dapat tekanan dari perdana menteri dan ibunda ratu.
Ashura mencolokkan alat perekam ke laptop untuk dengar semua isi rekaman antara ibunda ratu dengan lawan bicara. Ashura belum tahu dengan siapa ibunda ratu akan bicara. Bisa jadi dia tak mendapat apa-apa, bisa juga dapat berita aktual.
Tangan Ashura sedikit bergetar menggeser papan keyboard laptop bukan open data yang tersimpan dalam alat perekam. Ashura menarik nafas dalam untuk mendengarkan isi rekaman.
Hari pertama tak ada yang istimewa selain ibunda ratu mengeluhkan capek dan kurang sehat kepada para dayang. Wanita itu jelas juga kurang sehat. Dayang usulkan ibunda ratu mencari tabib istana namun ditolak oleh ibunda ratu. Hari pertama dapat rekaman tak menarik. Ashura bergeser mencari rekaman hari kedua. Sampai siang tak ada yang menarik selain ibunda ratu mengeluh sakit minta dayang cari obat pereda rasa sakit.
Di sini Ashura menduga ibunda ratu juga kena penyakit sama dengan Ning Fei. Biangnya sama yakni perdana menteri. Perdana menteri kurang ajar penyebar maut di lingkungan istana. Siapa yang angkat orang gila itu jadi menteri.
Rekaman menjelang sore cukup menarik karena dayang datang melapor kalau ada tamu untuk ibunda ratu. Ibunda ratu mengizinkan tamunya masuk ke kamar lalu usir para dayang pergi dari kamar. Jelas sekali suara seorang lelaki bernada berat menyapa Ibunda ratu dengan suara lembut.
"Bagaimana kabarmu sayang?"
__ADS_1
"Buruk...aku semakin sakit! Aku malu pergi berobat ke tabib takut ketahuan kena penyakit kelamin. Ning Fei sudah parah juga." terdengar sahutan ibunda ratu.
"Kau harus sabar! Penyakit itu tidak menakutkan seperti cerita orang dala istana! Aku mulai kurang. Semalam aku sudah bisa lakukan hubungan dengan pelayan aku! Lupakan penyakit itu! Sekarang kita bahas soal gerakan kita! Raja Tang beri kita waktu satu bulan untuk urus Fu Yen. Dia akan serang Fu Yen di hari pernikahan dengan adiknya. Di saat itu semua asyik berpesta jadi pasti lengah. Raja Tang janji akan beri kedudukan raja kepada aku dan tunduk pada kerajaan mereka. Apa pendapatmu?"
"Aku tak setuju. Gimanapun Fu Yen aku yang besarkan! Dan lagi tak ada untungnya kita bersekutu dengan Tang! Kita tetap budaknya. Lebih baik kau fokus kuasai parlemen istana agar jadi pengikut kamu. Biar Fu Yen tetap jadi raja dan kamu yang atur semua pemerintahan. Kau bisa meraup untung walau tak jadi raja. Kalau kita di bawah kekuasaan Tang maka semua hasil bumi tetap milik mereka. Pikir itu!"
"Tapi yang duduk di singgasana tetap Fu Yen! Aku mau taklukkan dunia! Setelah aku jadi raja maka aku akan bangun kerajaan lebih kuat dan serang balik Tang. Kita harus tundukkan Tang dengan pura-pura menyerah dulu. Dan lagi raja Tang sudah bersiap perang. Tentara mereka sudah siaga. Aku jadi raja dan Ning Fei jadi ratu. Kamu akan jadi ibu suri tercantik sedunia. Gimana???" suara tawa perdana menteri menggelegar membahana di seluruh ruangan. Tawa itu seolah sudah memang perang. Tawa mengerikan dari manusia penuh ambisi.
Ashura yang mendengar bergidik dengar semua rencana perdana menteri mau masukkan Fu Yen dalam jebakan batman. Tawarkan putri Tang lalu hendak hancurkan sang raja berkeping-keping. Dasar manusia jahat. Ashura kembali lanjut dengar obrolan perdana menteri dengan ibunda ratu.
"Pertimbangkan lagi! Buatku itu rencana konyol. Kita sudah banyak susun rencana tapi banyak yang gagal. Kau ingat putri Shu Rong? Katanya sudah mati tapi terbukti dia sehat sampai sekarang. Gimana cara kerja orangmu?"
"Aku heran dia masih hidup! Padahal pembunuh bayaran itu yakin tinggalkan Shu Rong dalam kondisi luka parah di hutan. Bagaimana dia bisa bertahan sampai sekarang?"
"Parah apanya? Terbukti dia masih ada di istana dingin! Kurasa kau tak usah buat rencana lagi. Biar aku yang atur semuanya! Kita tetap seperti ini dan hidup mewah sampai akhir hayat kita! Kurasa lebih baik kau naikkan pajak rakyat kecil agar terkumpul lebih banyak uang. Kau bisa gunakan nama Fu Yen untuk peras para petani dan nelayan."
"Sekarang Fu Yen punya penasehat pintar! Dia malah peras para pejabat dan pedagang. Rata pedagang milik pejabat! Ntah dari mana datangnya penasehat pintar itu?"
"Kurasa tak perlu bikin heboh lagi! Kita sabar sebulan lagi. Tahta dan kerajaan jadi milik kita. Hehehe...membunuh itu dosa lho!"
"Kau masih ingat dosa? Suami aku meninggal bukankah kamu juga yang jadi malaikat pencabut nyawa?"
"Bukankah berkat bantuan kamu? Coba kalau Fu Yen tahu ibunya kau yang bunuh! Apa kau kira dia akan hormati kamu lagi? Sudah.. tak usah bahas hal tak penting. Mereka toh sudah mati! Lebih baik kita bahas masa depan kita yang akan cerah. Coba kamu bayangkan tiap hari orang. bersujud dan berlutut di hadapan kita! Betapa hebatnya kita!" Perdana menteri kembali tertawa seperti orang kesurupan setan. Laki tua itu sedang bangun mimpi indah. Ashura bersumpah akan buat mimpi laki tua itu jadi mimpi buruk. Hukuman mati pun terlalu enak buat laki tua itu. Kaki sudah nyaris alam barzah masih bangun mimpi jelek atas derita orang. Kejahatan kedua orang ini sudah melebihi ambang batas.
Ashura betul-betul gemas dan geram pada kejahatan kedua orang ini. Apa mereka tak tahu banyak orang kena imbas dari kelakuan bejat mereka. menyebar virus penyakit dalam istana dan sekarang mau berontak bekerjasama dengan kerajaan seberang untu rebut tahta Fu Yen. Apa Fu Yen sudah buta tak lihat betapa jahatnya ibunda ratu serta perdana menteri.
Ashura menutup laptop dengan hati galau setelah tahu rencana besar kedua makhluk tak punya hati itu. Dia harus utamakan persoalan negara dulu dari yang lain. Semoga saja Shu Rong cepat tanggap beri dia semua peralatan perang lawan kerajaan Tang. Gadis ini tak bisa tidur semalaman setelah tahu fakta sesungguhnya. Ancaman besar sedang mengintai kerajaan ini tapi rajanya masih adem ayem asyik mesuk dengan putri pancingan perang besar. Ashura geram pada Fu Yen tak tahu kalau bahaya sedang mengincar kerajaan.
Mata Ashura melek hingga fajar menyingsing. Kicauan burung yang bernada riang tak mampu mengetok hati Ashura untuk ikut bergembira dengan makhluk bersayap tersebut. Makhluk bersayap itu demikian suka cita menyambut kehadiran mentari menjadi hari baru buat seluruh penghuni bumi ini. Hari baru suasana baru.
__ADS_1
Ashura tak merasakan kegembiraan justru merasa sangat tertekan karena mengetahui satu konspirasi besar sedang mengintai kerajaan ini. Nasib seluruh rakyat dipertaruhkan karena keegoisan beberapa manusia berhati picik. Ashura tak bermalasan segera bangun untuk mencari Fu Kuang maupun paman raja.
Ashura terpaksa mengganggu tidur Hwa Lien lagi. Ashura sudah tidak perlu tuli dengan omelan gadis itu nanti. Paling anggap omelan Hwa Lien sebagian dari kicauan burung di pagi ini.
"Woi bangun anak malas!" seru Ashura buat bising biar Hwa Lien terusik. Gadis badak itu meraih selimut tutupi wajah dan kuping agar tak dengar seruan Ashura. Semalam mereka tidur sangat telat maka Hwa Lien ingin membayarnya dengan tidur seharian. Sayang Ashura tak berpikiran demikian maka dengan tega mengusik putri tersebut hingga bangun dengan mata tertutup.
"Kau ini ratu dari neraka ya? Mau cabut nyawa aku?" tanya Hwa Lien antara sadar tak sadar. Ashura menarik hidung Hwa Lien agar gadis ini kembali dari alam tidur.
"Bangun sayang! Kita harus segera pergi!"
"Pergi ke mana? Surga ya?"
Ashura makin gemas pingin ketok kepala gadis tolol ini supaya sadar mereka harus segera bergerak sebelum di dahului oleh kelompok pemberontak.
"Kita ke surga! Ayok bangun! Kalau masih tidur kukirim ke neraka kumpul sama pendosa!" Ashura tak baik hati lagi menarik Hwa Lien turun dari ranjang. Hwa Lien menjerit geram diperlakukan semena-mena oleh Ashura. Putri itu merasa masih sangat ngantuk pingin tidur lebih lama.
"Ashura...ganggu tuan putri hukumannya pancung!"
"Tak masalah! Pancungnya nanti setelah kita kalahkan penjahat. Kita harus segera melapor pada paman raja mengenai perdana menteri dan ibunda ratu. Mereka mau menyerang raja!"
Kalimat sakti ini kontan membuka mata Hwa Lien. Segala rasa ngantuk kabur dengar akan ada pemberontakan di istana. Hwa Lien percaya kalau Ashura tak bohong. Ashura sudah susah payah berjuang untuk kejayaan kerajaan mana mungkin sembarangan omong.
"Apa maksudmu?"
"Kita bawa hasil rekaman kepada abangmu dan Paman raja. Biar mereka yang mengambil tindakan untuk selanjutnya. Ayo cepat bersihkan badan dan cuci muka! Tuh ileran sampai ke dagu! Kalau ada cowok lihat putri begini sungguh mengerikan."
Hwa Lien melempari Ashura dengan bantal lalu cepat-cepat berberes untuk keluar istana. Mereka tak punya kereta kuda mau pergi dengan apa? Mungkin mereka akan berjalan ke tempat paman raja dulu sebelum jumpai Fu Kuang. Rumah jenderal agak jauh tak bisa dicapai dengan kaki. Rumah paman raja masih bisa dijangkau dengan jalan kaki maka mereka akan mulai dari situ saja. Hwa Lien menjadi kere sejak berteman dengan Ashura. Biasa ke mana saja dia akan diantar oleh kereta kuda. Kini ke mana saja harus jalan kaki. Apa statusnya masih tuan putri raja?
Hwa Lien di kawal dua dayang sedangkan Ashura cukup di temani oleh Ayin. Kelima anak gadis itu berjalan beriringan menuju ke tempat paman raja. Alat canggih produk zaman Ashura harus ikut untuk menjadi perantara alat perekam biar bisa diperdengarkan pada pada Fu Kuang dan Paman raja. Sepanjang jalan mereka dihormati oleh seluruh orang yang mengenal Hwa Lien. Ashura agak asing buat mereka maka mereka mengira Ashura hanya teman main Hwa Lien.
__ADS_1
Rumah paman raja hampir sama dengan rumah Fu Kuang. Tak ada kebisingan serta keramaian layak istana umumnya. Hanya ada beberapa pelayan membersihkan halaman rumah dari daun gugur. Penjaga pintu yang sudah mengenal Hwa Lien segera tunduk beri hormat kepada putri kerajaan. Mereka tak melarang kelompok wanita muda ini masuk ke dalam istana paman raja. Bahkan mereka mengiringi Hwa dan Ashura sampai di tempat Chen Yang berada.
Paman raja sedang makan pagi sendirian di taman dekat kolam. Kolam ditumbuhi tanaman air yakni teratai warna merah dan merah muda. Ada beberapa ekor kecil berseliweran dalam kolam menambah kemeriahan dalam air kolam.