
Fu Yen hampir sama dengan Hwa Lien ingin rasakan hidup di abad moderen. Itu hanya keinginan yang tak mungkin terwujud. Di abad moderen Fu Yen adalah orang yang sudah meninggal sedangkan Ashura adalah orang hidup terjebak di masa lampau.
"Kita terus latihan biar yang mulia makin lancar gunakan benda-benda ini. Sebagai pemimpin Yang Mulia harus lebih maju dari yang lain." Ashura beri semangat pada Fu Yen jangan mau kalah dari adiknya.
Semangat Fu Yen terbakar oleh dukungan Ashura. Apa yang dikatakan Ashura adalah fakta yang tak bisa dihindari. Fu Yen sebagai seorang raja harus lebih maju dari yang lain. Oleh sebab itu tanpa ragu Fu Yen iyakan dorongan Ashura. Laki ini kembali jalan kan mobil tank tanpa berniat melakukan tembakan lagi.
Sementara itu Fu Kuang mulai beri pengarahan pada prajurit untuk gunakan senjata mematikan dari abad moderen. Tampak sekali semangat berkobar di dalam dada para prajurit merasakan betapa hebat senjata yang disediakan oleh yang mulia raja untuk lawan musuh. Fu Kuang membekali prajurit dengan peluru tajam untuk asah keterampilan menembak. Mereka semua adalah prajurit pilihan Sang Jenderal yang telah menemaninya berperang bertahun-tahun. Semua arahan Jenderal dapat dipahami mereka dengan semangat juang berkobar-kobar.
Ashura sangat puas dengan perkembangan militer di bawah asuhan Fu Kuang. Fu Kuang memang pantas jadi jenderal karena dia sanggup memecahkan rahasia senjata abad moderen. Kini semua prajurit sudah bisa gunakan semua senjata. Alun pengawal Fu Yen juga ikut pelatihan karena dia termasuk seorang jenderal kecil ahli gunakan senjata.
Ashura dan Fu Yen kembali ke istana untuk berbuat seolah tak ada yang istimewa setelah sang raja istirahat beberapa hari. Banyak yang cari tuan raja namun Kasim Du selalu jadi garda terdepan melarang orang jumpai Fu Yen alasan sang raj kurang sehat. Putri Kerajaan Tang paling sibuk cari calon suami masa depan. Putri ini pikir belum ada yang tahu rencana busuk mereka mau kuasai kerajaan ini. Untunglah Ashura lebih duluan tahu semua yang bakal terjadi.
Pagi ini Fu Yen kembali bertugas dengar laporan para pejabat seperti yang sudah-sudah. Kepala Fu Yen sampai pusing tujuh keliling dengar laporan dari berbagai pejabat. Ashura catat semua laporan menurut tulisan latin Ashura. Ashura tak bisa bahasa Tiongkok maka hanya bisa tulis catatan yang di pahami sendiri.
Fu Yen duduk di atas singgasana dengan penuh wibawa menunggu satu persatu menteri lapor sesuai tugas masing-masing. Kasim Du dan Ashura berdiri di belakang Fu Yen ikut mendengar apa yang akan dilaporkan. Paman raja dan Fu Kuang tidak ikut rapat karena sibuk latihan di hutan sepi. Mereka harus kejar target untuk menahan serangan kerajaan Tang yang bersiap cukup lama.
Yang paling pertama melapor adalah perdana menteri selingkuhan ibunda ratu. Wajah pak tua itu kelihatan agak pucat menyimpan rasa sakit tak bisa dia laporkan saat ini.
Pak tua itu memberi hormat pada Fu Yen sebelum kumandangkan laporan sebagaimana jabatan tinggi setelah raja.
"Salam Yang Mulia Raja...semoga yang mulia sehat selalu."
"Tak usah banyak adat. Ada masalah baru?"
__ADS_1
"Sejauh ini kerajaan aman sentosa. Rakyat mulai bergairah karena hasil kebun sangat bagus. Padi juga tumbuh subur tak lama lagi akan segera panen. Katanya ini hasil bantuan tuan putri Hwa Lien dan temannya. Mereka telah didik petani menjadi petani handal. Hamba cuma mau lapor kalau beberapa hari ini terdengar ledakkan di balik gunung. Menurut kabar penduduk ada binatang liar sedang mengamuk di hutan sana. Hamba akan kerahkan pasukan untuk tangkap binatang itu. Mohon yang mulia berikan hamba kekuasaan untuk menjadi pemimpin pasukan inti kerajaan. Yang mulia bisa tarik pasukan itu dari tangan jenderal biar hamba yang pimpin mereka lawan binatang buas."
Perdana menteri pikir Fu Yen gampang diprovokasi untuk tarik pasukan dari tangan Fu Kuang lalu berikan jabatan jenderal kepada perdana menteri. Ini termasuk satu strategis untuk melumpuhkan kekuatan Fu Yen dari dalam. Kalau sempat pasukan jatuh ke tangan perdana menteri otomatis pak tua itu yang kuasai militer. Gampang saja dia kudeta turunkan Fu Yen sesuai rencana dia.
Ashura dan Kasim Du saling berpandangan lantas Ashura memilin bibir mencibir niat bodoh Perdana menteri. Perdana menteri pikir kalau Raja itu besar karena makan angin. Otak dan perut dipenuhi oleh tumpukan angin kosong.
"Kurasa serahkan saja pada jenderal kita. Itu tugasnya membela kerajaan dan rakyat dari semua bahaya. Kita tak mungkin mencabut kekuasaan pasukan dari tangan jenderal. Dia lebih ngerti strategi perang maka biarkan dia yang selidiki dari mana asal suara itu. Dan lagi mengurusi binatang perlu orang berilmu tinggi. Nanti aku akan temui jenderal. Kelihatannya dia tak hadir pagi ini." Fu Yen pura-pura mengitari mata dalam ruangan mencari orang yang dimaksud.
Perdana menteri sudah pantau kalau sang jenderal tak hadir maka berani beri usul cabut hak Fu Kuang dari pimpinan pasukan. Perdana menteri belum tahu kalau semua gerak-geriknya berada dalam pantauan Ashura. Ashura sudah maklum banget niat jahat perdana menteri. Tapi mereka belum bisa seret laki bangkotan itu ke penjara. Mereka harus cari bukti lebih komplit antar pengkhianat kerajaan ke penjara. Bisa jadi Perdana menteri akan dihukum pancung untuk menebus dosanya.
Wajah perdana menteri berubah gelap ditolak Fu Yen tanpa basa-basi. Fu Yen tampaknya telah lebih tegas katakan apa yang dia inginkan. Tak ada keraguan sedikitpun di wajah sang raja menolak permintaan perdana menteri. Kelompok perdana menteri tentu saja ketar-ketir harapan mereka tak terpenuhi. Mereka pikir Fu Yen gampang di setir kayak dulu. Mereka bilang apa saja dipercaya.
"Yang Mulia...kami pantau sang jenderal kita lebih banyak habiskan waktu bersenang dengan wanita. Dia tak fokus pada keselamatan kerajaan lagi. Maka itu hamba rasa biarlah hamba yang menjadi kekuatan kerajaan. Dulu hamba juga seorang jenderal maka paham cara memimpin pasukan. Hamba janji takkan kecewakan yang mulia raja. Mohon yang mulia pertimbangkan permintaan hamba." Perdana menteri belum putus asa membujuk Fu Yen tunduk pada permintaan dia. Ini kesempatan perdana menteri mengambil alih pasukan tentara untuk bisa kuasai kerajaan ini. Waktu yang dijanjikan dengan kerajaan Tang makin dekat. Kalau kekuasaan tentara di tangan maka terbuka pintu menjadi raja.
Fu Yen sudah tahu keinginan Perdana menteri maka tak sedikitpun tergerak hati untuk luluskan permintaan perdana menteri. Selama ini Fu Yen sudah jadi kambing bodoh digembala oleh ibunda ratu dan perdana menteri. Untunglah kehadiran Ashura buka mata Fu Yen untuk andalkan diri sendiri memimpin kerajaan ini.
Tak ada yang berani jawab perkataan Fu Yen karena selama mereka memang cuma pikirkan gimana cara kumpul pundi emas dalam istana masing-masing. Sekarang kesempatan mereka telah berakhir karena raja telah tumbuh kuku tajam siap cakar orang yang berbuat seenak perut.
"Yang mulia mana boleh terjun langsung ke lapangan. Tubuh anda adalah titisan dewa maka harus dijaga. Kami akan bekerja sepenuh hati layani yang mulia. Serahkan semua kepada kami. Yang mulia tinggal tunggu hasil bagus dari kami. Apa guna kami bila yang mulia harus turun tangan sendiri." perdana menteri wakili konconya membujuk Fu Yen untuk tetap jadi raja bodoh hanya dengar laporan.
"Selama ini aku terlalu percaya pada kalian membuat rakyat hidup susah. Kalian seenak perut naikkan pajak rakyat sementara kalian tak mau bayar pajak. Apa ini adil buat rakyat? Satu kerajaan tak ada artinya tanpa rakyat. Apa kalian sudah bayar pajak yang aku tetapkan? Aku akan minta orang pantau kehidupan kalian. Kalau ketahuan timbun harta maka aku akan hukum pancung orang yang korupsi hak rakyat." seru Fu Yen dengan nada tinggi bikin kaget para pejabat. Mimpi Pun mereka tak sangka kalau Fu Yen akan berubah total. Tak ada lagi raja yang hanya manggut-manggut terima laporan pincang dari mereka.
Perdana menteri sampai mundur beberapa langkah kena sekak mentah dari raja. Dia adalah orang paling kaya di kerajaan. Bahkan raja saja tidak sekaya perdana menteri.
__ADS_1
Pejabat yang berhati tulus cuma ada beberapa orang termasuk menteri bermuka tikus menteri Cang. Beliau senang bukan main akhirnya Fu Yen terbangun dari mimpi panjang. Mimpi yang tampak indah namun di baliknya adalah bayangan buruk.
"Hamba setuju yang mulia bertindak tegas pada setiap orang yang berniat busuk pada rakyat dan kerajaan. Kita terpilih jadi wakil rakyat maunya bicara wakili rakyat. Bukan menekan rakyat dengan segudang peraturan tak masuk akal." menteri Cang tampil ke depan beri semangat pada raja untuk ambil kembali kekuasaan sebagai orang nomor satu.
Ashura beri jempol kepada menteri Cang. Dulu Ashura pernah salah sangka kepada menteri berwajah tikus itu. Hati dan casing sangat jauh berbeda. Dari luar menteri tampak licik namun hatinya berhias emas murni.
"Terimakasih menteri Cang. Mulai detik ini kalau ada yang menyimpang harus segera lapor pada aku secara langsung. Mengenai suara ribut di hutan biar ditangani oleh paman raja dan Jenderal. Kalian tak perlu ikut campur. Perbaiki taraf hidup rakyat itu tujuan utama kita."
Perdana menteri merasa jantungnya sakit kena mop mental Fu Yen. Dasarnya sudah penyakitan masih semangat mau duduk jadi orang nomor satu di kerajaan. Nyawa di ujung tanduk masih mau cari perkara.
"Yang mulia...kami akan berbuat sebaik mungkin atas perintah anda." perdana menteri tak punya pilihan selain pura-pura dukung kebijakan baru Fu Yen. Terlalu banyak membantah akan bawa akibat buruk buat diri sendiri juga kroninya. Perdana menteri akan tunggu moments lain untuk jatuhkan Fu Yen dengan bantuan kerajaan Tang.
"Terimakasih...satu lagi! Mengenai penyakit kelamin yang kuasai hampir setengah kerajaan kita. Sumber daya lelaki di kerajaan akan menyusut bila tak ada yang mau berobat. Orang yang terkena penyakit ini akan mati satu persatu. Mungkin penasehat kerajaan bisa terangkan sekali lagi mengenai penyakit ini. Silahkan penasehat Shu!"
Ashura mengatur nada suara biar terdengar keren pidato di depan orang banyak. Ashura yakin di antara para menteri banyak yang terkena penyakit ini namun malu untuk berobat. Mereka pertahankan gengsi tak sadar nyawa mereka terancam dalam bahaya.
"Bapak-bapak yang mulia...aku dengar sekilas banyak yang kena penyakit ini namun berobat secara diam-diam. Apa kalian tak tahu penyakit yang kalian anggap sepele akan bawa dampak berbahaya? Pertama akan cepat menular pada pasangan kita lalu pada anak kita. Biasa anak terlahir dari orang tua kena penyakit ini akan cacat permanen. Sudah kuselidiki banyak dayang dan selir istana kena penyakit kelamin ini akibat berhubungan badan dengan para pejabat. Mereka sudah ngaku dari mana sumber penyakit. Jadi kusarankan kalian tak perlu malu berobat. Kita pernah bersalah tak harus salah selamanya. Masih ada jalan balik ke jalan benar dan sembuh dari penyakit kotor ini." ujar Ashura lantang bikin yang kena penyakit menunduk tak berani berkotek.
Melihat tak ada yang nyahut Ashura kembali atur nafas untuk cuap-cuap sadarkan orang yang terlanjur kena penyakit ini. Target utama Ashura adalah perdana menteri yang jadi biang penyakit tularkan penyakit ini kepada para wanita istana.
"Orang yang kena penyakit ini sering demam. Seluruh badan sakit terutama di alat vital. Kencing darah dan nanah. Kalau sudah masuk jaringan dalam organ intim maka tinggal tunggu jemputan ke neraka. Orang cabul mana ada tempat di surga. Dari awal berbuat jahat itu tanda sudah pesan tiket ke neraka. Pikir sendiri mau hidup sehat atau tiap hari menahan rasa sakit."
Perkataan Ashura yang lucu mengundang senyum Fu Yen dan Kasim Du. Ashura tak berubah tetap konyol suka usilin orang.
__ADS_1
Lagi-lagi tak ada yang buka mulut menyahut perkataan Ashura. Ashura tak ada hal memaksa orang yang bersangkutan untuk buat pengakuan di depan umum. Ini menyangkut harga diri sebagai pejabat juga sebagai lelaki.
"Aku akan bantu mereka yang betul-betul mau berobat. Setiap pasien akan dijaga rahasianya asal mau kerjasama matikan rantai penyakit ini. Yang terkena penyakit ini bukan cuma di sendiri berobat. Isteri dan para selir juga harus ikut berobat. Aku tunggu niat baik kalian." Ashura mundur setelah selesai bicara sampai mulut berbusa. Sekarang tentu saja tak ada yang nyahut. Pasti malu akui terkena penyakit jorok itu. Ashura mau lihat berapa lama lagi perdana menteri bertahan dengan rasa sakit luar biasa di alat vital.