CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Kembali ke Istana


__ADS_3

Ashura berusaha tersenyum diejek oleh Fu Yen. Diejek sejelek apapun Ashura takkan ngambek saat ini. Rasa bahagia melebihi rasa kesal. Dalam hati Ashura ucapkan terima kasih pada Shu Rong yang tepati janji turunkan hujan. Shu Rong memang arwah penasaran yang baik. Ashura merasa tak sia sia tinggalkan jaman moderen demi tegakkan keadilan untuk Shu Rong.


"Hidup Yang Mulia Raja. Hidup Yang Mulia Ratu.." seru rakyat bergema sana sini.


Fu Yen mau tertawa lihat Ashura bingung dianggap sebagai ratu. Padahal dia sudah berdandan sebagai pria. Bagaimana statusnya sebagai wanita cepat terkuak oleh orang banyak.


"Rakyatmu sudah gila karena lama tak lihat hujan. Pengawal seganteng gini dibilang ratu." kata Ashura merengut manja. Sikap manja ini yang tak bisa ditahan Fu Yen. Bibir mungil itu akan manyun mirip mulut bebek minta dicium.


"Rakyat melihat dengan hati pengawal Shu. Mereka memandangmu dengan hati bukan dengan mata biasa. Mereka mencintaimu sayangku!"


Ashura merasa seluruh bulu di badan merinding dengar panggilan sayang Fu Yen. Apa otak sang raja sudah tak waras ikutan penduduk yang lagi berpesta hujan.


"Hamba pengawal sejati, pria sejati. Ntar tuanku dibilang laki homo baru tahu. Sudah..jangan isengi hamba. Kita harus cepat pulang istana biar Yang Mulia cepat ketemu kelinci kelinci manis."


"Aku lebih suka kambing ketimbang kelinci. Ayo kita berteduh! Hujan makin besar. Nanti kamu sakit." Fu Yen menarik tangan Ashura untuk cari tempat berteduh.


Di lapangan terbuka gini tak ada tempat berteduh sama sekali. Fu Yen membawa Ashura balik ke kereta diiringi lambaian tangan rakyat. Di hati mereka terukir nama raja dan ratu yang mereka cintai. Kedua orang besar itu rela bergabung demi kesejahteraan rakyat. Sejarah akan catat kebesaran jiwa sang Raja sepanjang masa.


Dalam kereta Fu Yen memberi Ashura mantel agar gadis ini tak dingin. Untuk sementara ini terjadilah gencatan senjata antara Fu Yen dan Ashura. Masalah demikian besar terselesai baik bahkan melebihi harapan bersama.


"Dingin?" tanya Fu Yen melihat Ashura menggigil kedinginan.


"Dikit..Yang Mulia hari ini adalah berkah buat semua orang. Dingin dikit tak jadi soal."


"Kemarilah! Aku akan beri kehangatan padamu!"


"Tidak usah! Hamba pengawal raja mana boleh kalah sama rasa dingin. Memalukan." Ashura bersikukuh tak mau masuk pelukan Fu Yen. Gadis ini tak tahu sudah berapa kali dia tidur dalam pelukan sang raja. Masih juga pertahankan ego harga diri.


"Alun..balik ke penginapan! Hari ini juga balik istana." perintah Fu Yen pada Alun yang pasti kedinginan diterpa hujan besar. Beginilah nasib oarng kecil. Harus kuat menantang badai apapun.


"Siap tuanku!" sahut Alun dari luar.


Kereta bergerak meninggalkan lapangan. Hujan makin besar membasahi bumi seakan ingin ratakan seluruh bumi dengan air dari langit. Namun inilah yang dinanti sudah berbulan bulan. Sungai dan sumur akan kembali dipenuhi air. Tanah tanah akan kembali gembur setelah disirami air hujan. Petani bisa bercocok tanam. Nelayan bisa jalankan perahu harungi sungai cari ikan. Ini adalah berkah bagi semua orang.


Ashura dan Fu Yen berdiam diri menahan rasa dingin kena air hujan. Ashura tak ingin mengeluh menyalahkan hujan basahi tubuh. Hujan inilah yang ditunggu tunggu seluruh rakyat. Ashura mana boleh mengeluh hanya karena basah sedikit. Tetap harus bersyukur hujan telah datang akhiri musim kemarau.


Sesampai di penginapan Fu Yen perintahkan orang penginapan sediakan air hangat untuk Ashura dan dirinya. Ashura butuh air hangat untuk halau rasa dingin menusuk hati. Sehebat apapun Ashura tetaplah anak gadis yang tak dapat mengalahkan daya tahan tubuh lelaki.


Ashura tak menolak disuruh mandi air hangat. Memang itu harapan gadis ini. Sejak kemarin Ashura mengharap sentuhan air untuk bersihkan tubuh. Gadis pencinta mandi ini sudah tak tahan badan berbalut debu. Berhubung kekurangan air maka Ashura menahan diri. Syukurlah kini dia bisa mandi sepuasnya.


Lega rasanya bisa bercanda dengan air. Setetes demi setetes air membelai tubuh mulus ini. Busa sabun mandi meluncur mulus dia antara kulit semulus sutra. Ritual ajaib yang selalu di nanti Ashura selama hidup. Ashura selalu cari kedamaian dalam kamar mandi kalau lagi galau. Siraman air dingin mampu tenangkan otak bila lagi panas. Hati sepanas apapun bisa reda setelah kena air mandi.


"Shu Rong..kau mandi atau sedang bertapa mau jadi dewa?" terdengar suara Fu Yen dari luar kamar.


"Bentar lagi tuanku! Sabar kenapa sih? Mandi juga salah." balas Ashura tak mau kalah. '

__ADS_1


"Mandi berjam jam. Apa tak malu sama cicak di dinding? Mereka sudah puas pelototi tubuhmu."


"Cicak sini udah jadi kasim. Tak ada yang perlu dikuatirkan. Hamba segera datang." Ashura akhiri ritual mandi dengan hati kesal. Pinginnya mandi satu jam lagi biar puas balas dendam tak mandi kemarin. Namun si raja tega bikin rusak suasana romantis seorang diri.


Ashura keluar dari kamar dapatkan Fu Yen masih menanti di depan pintu kamarnya. Raja muda sudah ganti pakaian lebih santai dan tentunya tetap ganteng.


"Ada apa tuanku? Sibuk amat.."


"Kita balik istana sekarang juga. Besok pagi akan kupanggil semua pejabat untuk bahas masalah bencana ini. Kau sudah siap?"


Ashura mengangguk yakin tak mau buat Fu Yen susah. Mereka datang bukan untuk bersenang senang tapi untuk rakyat. Tindakan selanjutnya tetap harus ada untuk pulihkan taraf hidup rakyat. Ashura setuju pada rencana Fu Yen menata kelanjutan hidup rakyat.


"Tuanku harus bawa makanan ya! Aku suka lapar kalau capek."


"Kambing rakus. Persiapkan diri pulang. KIta pulang dalam keadaan hujan jadi harus lebih cepat bergerak." Fu Yen bergerak pergi setelah selesai omong.


Ashura mengepal tinju diejek sama Raja muda lagi. Dasar raja sialan rutuk Ashura dalam hai. Ashura mana berani bersuara langsung di depan raja. Kepala pertaruhannya.


Ashura membungkus barang barangnya dengan rapi agar gampang dibawa. Dalam ransel Ashura menemukan permen lolipop susu yang diberi maminya sebelum berangkat ke Beijing. Mata Ashura jadi panas teringat pada sang mama yang selalu sayang padanya. Mamanya selalu ingat Ashura suka permen susu itu sejak kecil.


Asal Ashura ngambek permen lolipop sudah bisa selesaikan masalah. Ashura akan diam bila disogok permen tersebut. Ashura comot satu dan masukkan dalam mulut untuk kenang sang mama. Begini Ashura merasa dekat dengan mamanya.


Perlahan Ashura tinggalkan kamar bergabung dengan sang raja untuk balik istana. Fu Yen dan Alun sudah menanti di depan penginapan hendak berangkat. Ashura tak punya ide selan jadi kambing patuh ikut majikan.


"Yang Mulia Ratu.." seoarng lelaki berjenggot datang hampiri Ashura sambil membungkuk.


"Jangan gitu pak! Ayo bangun. Ada apa?"


"Anda seperti dewi dari langit. Hamba tak dapat beri apapun selain haturkan terima kasih."


Ashura goyang tangan menggeleng. Lolipop di mulut ikut goyang goyang lucu. Ashura terpaksa lepaskan permen itu dari mulut supaya lebih sopan.


"Aduh pak! Aku manusia biasa. Ini adalah berkat ketulusan warga semua. Kita bersatu makan akan dapat hasil baik. Aku janji akan datang lagi ke sini. Kalau nginap dapat korting harga ya!" gurau Ashura buat bapak tua itu tersenyum.


"Setiap saat penginapan ini terima Yang Mulia. Oya ini ada sedikit bekal untuk Yang Mulia makan di jalan." Pak tua itu serahkan rantangan dari kayu berukir indah. Warnanya merah diberi hiasan bunga peony. Barang ini tentu harganya tak murah. Ashura terima dengan senang hati untuk jaga perasaan tulus bapak itu.


"Terima kasih pak. Jumpa lagi. Bapak jaga kesehatan ya. Perubahan cuaca mendadak akan banyak orang demam." Ashura menggenggam tangan pak tua itu dengan lembut. Pak tua itu mangut dengan mata berkaca kaca saking terharu seorang ratu mau sentuh tangan orang kecil.


Fu Yen kurang suka Ashura demikian ramah pada masyarakat umum. Bagaimanapun Ashura seorang bangsawan yang harus junjung tinggi martabat. Di sini terjadi perbedaan pandangan lagi. Kalau dibahas lebih dalam akan terjadi perang dingin lagi.


"Kita berangkat sebelum malam." kata Fu Yen tak mau Ashura haru biru sama pemilik penginapan. Fu Yen bukan cemburu pada Pak tua namun Ashura terlalu asalan terhadap status sosial sebagai anggota kerajaan. Manalagi orang mengenal Ashura sebagai ratu kerajaan. Sikap seorang bangsawan makin harus diperlihatkan lebih nyata.


Ashura mengangguk sopan sebelum pergi tinggalkan kesan mendalam pada pak tua. Fu Yen membantu Ashura naik ke kereta karena hujan masih turun walau tak selebat pertama turun. Tapi cukuplah basahi ladang dan tanah warga.


Ashura duduk di samping Fu Yen tanpa bersuara. Mulut mungilnya kembali **** permen legendaris dari abad atom. Fu Yen perhatikan Ashura **** permen dari tadi. Makanan apa dalam mulut gadis ini? Kelihatannya sangat enak. Ashura makan sampai merem merem. Sebenarnya bukan permennya enak tapi kenangan bersama sang mama bikin hati Ashura terbawa ke masa depan.

__ADS_1


"Shu Rong.."


"Hhhmmm.." sahut Ashura tanpa buka mata.


"Kau ngantuk?"


"Dikit..masih lama kita tiba di istana?"


"Tidak terlalu lama lagi. Apa yang ada dalam mulutmu?"


"Permen susu..enak.."


"Dari mana kau dapat barang aneh ini?"


Ashura buka mata dengar pertanyaan dari raja. Ashura harus jawab apa makanan dari masa depan ini? Kalau Ashura ngaku pasti jadi kacau. Lebih baik bersilat lidah ketibang panjang cerita.


"Dari Chen Yang. Teman yang kutemui pagi tadi. Tuanku mau coba?"


Fu Yen merengut tak senang Ashura menerima pemberian laki lain. Dari dirinya Ashura malah tak minta apapun yang berharga. Pemberian orang lain diterima dengan baik. Fu Yen cemburu besar.


"Kamu makan saja sendiri." ketus Fu Yen buang muka ke samping. Ashura cuek bebek tak peduli Fu Yen kesal. Tak ada larangan Fu Yen tak boleh kesal. Kesal itu bebas asal dalam batas wajar.


Selanjutnya perjalanan jadi sepi. Tak ada yang mau buka mulut. Hujan juga sudah berhenti tinggalkan jejak basah sana sini. Jalanan tak berdebu lagi cuma becek muncul kubangan kecil.


Ashura mulai ngantuk begitu senja menjelang. Ayunan kereta makin membuai Ashura menuju mimpi indah. Dalam mimpi Ashura bertemu mamanya juga papa. Ashura merindukan pelukan hangat sang mama. Tanpa sadar Ashura merebahkan kepala ke dada Fu Yen seakan minta dipeluk.


Fu Yen tersenyum licik. Gadis cantik ini takkan bisa lepas dari tangan selamanya. Fu Yen harus berjuang dapatkan Ashura walau sesusah apapun.


Fu Yen memeluk Ashura erat erat tak ingin lepaskan gadis yang telah mengukir kata cinta di hati. Fu Yen baru kenal Ashura beberapa hari namun kesan yang diberi tinggalkan kesan mendalam. Fu Yen merasa seperti sudah kenal Ashura bertahun tahun lalu walau fakta berkata beda.


Permen lolipop masih nempel dalam mulut Ashura walau tukang makan itu sudah lelap dalam pelukan orang yang tepat. Fu Yen menarik permen itu perlahan takut ganggu tidur Ashura. Kalau gadis ini bangun pasti tak mau berada dalm rengkuhan Fu Yen lagi. Ashura seperti alergi pada sang raja. Bayangan Fu Yen berada satu ranjang dengan wanita lain Ashura merasa jijik apalagi harus berada dalam pelukan laki ini. Ashura bisa mati berdiri kalau disuruh tidur dalam dekapan sang raja.


Menjelang malam mereka sampai istana. Kereta kuda berhenti di istana kebajikan tempat tinggal Fu Yen sebagai raja termulia. Hujan sudah berhenti total. Udara juga lumayan dingin setelah lalui hari hari kemarau panjang.


Di depan pintu istana sudah ada Jenderal Fu Kuang menanti kepulangan sang raja. Fu Kuang sebagai adik juga jenderal perang merasa bersalah tak dampingi raja tinjau daerah bencana maka itu Fu Kuang sengaja tunggu kehadiran Fu Yen.


"Shu Rong..bangun! Kita sudah sampai istana." Fu Yen menepuk pipi Ashura dengan lembut. Perlahan Ashura buka mata. Ashura merutuk dalam hati karena kedapatan berada dalam pelukan Fu Yen lagi. Apa Fu Yen ambil kesempatan peluk dia saat dia terlelap. Sungguh berbahaya laki ini. Tak urung pipi Ashura berona merah malu pada diri sendiri juga pada Fu Yen.


Fu Yen segera turun dari kereta diikuti Ashura. Udara sangat dingin sehabis hujan. Tak pelak Ashura menggigil disambut hembusan angin dingin. Ashura berseru girang melihat Fu Kuang menanti mereka turun dari kereta kuda. Ashura bahagia bisa jumpa sama Jenderal ramah itu lagi.


"Jenderal kancil.." seru Ashura nyaring membelah keheningan istana Kebajikan.


"Gadis tololku sudah pulang. Kok jadi laki cantik? Mau jadi kasim ya?" Fu Kuang ulurkan tangan sambut Ashura turun dari kereta.


"Aku ganteng kan? Jangan jatuh cinta padaku ya! Oya ajak aku ikut perang ya! Kita lawan penjahat bersama." ujar Ashura gembira. Matanya berbinar binar bahagia jumpa Fu Kuang.

__ADS_1


Fu Yen merasa sedih juga jengkel. Ashura demikian lepas bersama sang adik. Tawanya begitu lepas tanpa beban.


Alun tak kalah sedih. Muncul lagi pesaing baru yang tak keren dari raja. Kenapa saingannya orang orang top dari kerajaan. Pertama raja kini Jenderal perang tertinggi kerajaan. Celakanya Ashura bahagia bersama sang Jenderal.


__ADS_2