
Ashura memang lain dari yang lain. Gimana Fu Kuang bisa move on dari Ashura. Kendati dia tahu Ashura sudah dekat dengan raja tapi rasa sayang di hati takkan pupus. Ashura tetap menjadi wanita pertama yang kuasai seluruh jiwa raganya. Fu Kuang malah berharap Fu Yen kepincut Puteri dari negeri Tang dan melupakan Ashura. Dengan demikian dia takkan ragu menjadikan Ashura sebagai isteri resmi jenderal.
"Baiklah nona cantik...kita turun lapangan!" Fu Kuang mengalah bersedia bawa Ashura lihat lahan pertanian penduduk setempat. Ashura kegirangan mendapat pengawalan langsung dari jenderal. Dia pasti akan aman bersama pendekar nomor satu di kerajaan ini. Siapa berani ganggu dia berarti sedang cari masalah dengan kerajaan.
"Ayok come on!" seru Ashura girang lupa sampaikan keluarkan kata bahasa Inggris yang tak dimengerti oleh Fu Kuang. Fu Kuang manggut juga walau tidak ngerti. Mengangguk adalah gerakan paling tepat untuk menyenangkan orang walau tak tahu apa dibilang. Asal tak diajak mati saja. Angguk bersedia ikut mati.
Akhirnya Fu Kuang dan Ashura pergi dengan kereta kuda sesuai harapan Ashura. Ashura masih punya akal sehat tak mau berduaan dengan Fu Kuang biar Fu Yen tak bisa cari kesalahan dia. Ashura sudah bisa baca akal orang zaman kerajaan. Asal ada sedikit bukti sudah bisa vonis orang sesuka hati. Apalagi yang dihadapi oleh Ashura adalah raja muda kerajaan ini. Semakin sulit beri alasan selama sang raja pakai sistim timautau alias tidak mau tahu.
Fu Kuang bawa Ashura dan Ayin ke desa di mana pencaharian penduduk adalah pertanian. Masih banyak yang harus diperbaiki terutama cara pengairan belum sempurna. Sawah agak kering karena kurang asupan air bersih. Ashura harus bangun saluran air untuk mengairi seluruh persawahan. Begitu juga ladang tanaman muda dan sayuran. Kurang menyakinkan berkesan asal tanam. Ashura harus turun tangan benahi semua ini agar penduduk hidup makmur. Tidak perlu menjadi pejabat untuk membantu rakyat. Asal ada niat semua akan beres.
Puas memantau lapangan Ashura segera pulang untuk bikin konsep membantu rakyat. Dia harus bekerjasama dengan Fu Kuang dan Paman raja Chen Yang baru bisa sukses. Tanpa bantuan kedua pembesar itu Ashura tak mungkin melangkah sendiri. Mengharap Fu Yen turun tangan mungkin akan tunggu tahun baru monyet baru terealisasi. Mending Ashura ambil kebijakan sendiri.
Fu Kuang mengantar Ashura sampai ke istana dingin. Jenderal ini prihatin nasib Ashura seperti seekor binatang piaraan. Lagi suka disayang-sayang. Begitu muak dicampakkan lagi ke habitat awal. Fu Kuang salut pada Ashura tak kendor semangat walaupun kembali ke istana dingin. Bagi Fu Kuang ini berkah. Jalan merangkul Ashura akan semakin mudah.
Di dalam istana dingin sudah ada tuan Puteri Hwa Lien bersama dua dayang. Di depan istana dingin sudah ada kereta kuda mewah milik Puteri Hwa Lien. Tuan Puteri secantik Hwa Lien mana mau jalan kaki walau dua tiga langkah. Ini akan merusak reputasi gadis ini.
Ashura senang melihat Hwa Lien sudah datang. Gadis itu lucu cukup menghibur dengan kata nyeletuk bikin perut berguncang. Ashura suka daa kawan bicara. Ashura berlari kecil masuk ke dalam istananya yang tampak lebih semarak sedikit karena ada beberapa orang datang ke situ.
Hwa Lien duduk di teras kamar Ashura dengan wajah suram. Ashura belum yakin penyebab Hwa Lien murung. Siapa punya nyali demikian besar mengusik Puteri kesayangan kerajaan. Mau cari mati kali.
"Tuan Puteri Hwa Lien..." seru Ashura hampiri Puteri lagi manyun itu. Di belakang ada Fu Kuang berjalan santai ikuti langkah kaki Ashura temui Hwa Lien.
Hwa Lien segera bangkit beri hormat pada Fu Kuang sebagai seorang Abang. Adat istana memang gitu. Banyak adat banyak munafik. Hormat pada setiap orang lebih berkuasa tanpa ketulusan.
"Hwa Lien senang jumpa kanda Fu Kuang." Hwa Lien bungkukkan badan beri salam pada Fu Kuang. Fu Kuang mengangguk terima salam dari adiknya itu.
"Kenapa kamu di sini?" tegur Fu Kuang tak tahu sejak kapan Hwa Lien dan Ashura berteman.
"Cari Puteri Shu Rong! Kami ada janji!" Hwa Lien melirik Ashura penuh ancaman. Ashura kontan ngerti kalau Hwa Lien ngambek padanya.
"Oh..kalian berteman baik?" Fu Kuang melirik Ashura dan Hwa Lien bergantian. Kenapa dia tak tercium berita Ashura dan Hwa Lien sudah jadi satu tim baru.
"Kami teman baik Jenderal...ayok kita masuk dalam! Ngobrol di dalam saja. Ayin... sediakan teh untuk tamu!" Ashura beri perintah pada Ayin untuk suguhi tamu dengan minuman. Minuman utama di sini tentu saja teh. Aneka jenis teh tumbuh di daratan ini. Dari yang baru harum manis sampai teh pahit lengkap di sini.
Ayin menekuk lutut lalu pergi ke dapur untuk sediakan permintaan Ashura. Di tempat mereka mana ada teh bagus karena jatah penghuni istana dingin adalah sisaan dari pejabat serta pembesar istana lainnya. Mereka hanya dapat seupil, itupun kadang tak dapat samasekali.
__ADS_1
Ashura membawa kedua tamunya menuju ke ruang tamu sekaligus ruang kerjanya. Tempat Ashura tak banyak ruang seperti tempat lain. Namanya juga istana buangan. Istana terakhir bagi orang tak penting.
Masih untung penghuninya Ashura yang rajin dan bersih. Perlahan istana ini tampak mulai ada semangat hidup. Tidak redup seperti sangkaan orang. Bagi orang luar, istana ini mengerikan penuh roh jahat karena banyak selir meninggal di situ. Di tangan Ashura semua itu sirna karena istana ini hangat walau minim penghuni.
"Silahkan duduk!" Ashura bertindak sebagai tuan rumah hangat.
Fu Kuang tertawa lihat perubahan istana ini. Sekarang lebih ada jiwanya ketimbang sewaktu pertama kali mereka buat saluran air. Fu Kuang melihat cahaya bersinar dalam kegelapan. Semoga cahaya itu akan bersinar dalam istananya.
"Banyak perubahan istana ini! Aku angkat topi perang aku!" Fu Kuang berjalan santai kelilingi ruang yang dulu kusam tak bergairah. Kini berubah seratus persen.
"Jangan! Nanti kepala jenderal bisa kena tai burung jatuh dari langit!"
Hwa Lien tertawa ngakak dengar kelucuan Ashura. Topi perang jenderal sangat berharga karena itu lambang kekuatan seorang panglima perang. Sampai ke tangan Ashura jadi pelindung tai burung. Ini merupakan penghinaan besar buat jenderal tapi di sini siapa mau cari kesalahan Ashura. Ini hanya sekedar guyonan.
"Kau ini! Kepalamu bisa dipenggal hina jenderal!" Fu Kuang ancam Ashura omong sembarangan.
"Raja penggal nomor dua. Yang satu sedang terlena sama Puteri baru. Kalian Abang adik doyan amat kepala orang. Apa enak dimasak sup?"
"Kalau orang bersalah tetap harus dihukum. Kalau tidak untuk apa peraturan? Oya..aku harus pergi untuk selesaikan permintaan kamu! Kalian ngobrol saja! Jangan bertengkar ya!"
Ashura dan Hwa Lien bangkit dari tempat duduk beri hormat pada jenderal yang melangkah pergi dengan gagah. Fu Kuang sangat pantas jadi jenderal karena wibawa laki itu dalam porsi melebihi laki lain.
Keduanya tertawa senang setelah Fu Kuang menghilang dari pandangan. Laki itu telah meninggalkan istana dingin menuju ke tempat kerjanya. Tinggallah kedua gadis ini saling berpandangan lalu tertawa besar seperti ada lelucon antara mereka.
"Kenapa tidak pamitan pindah kesini?" serang Hwa Lien to the point dosa Ashura kabur tanpa kabar.
Ashura duduk di bangku dari kayu sambil menghela nafas. "Aku mau tenangkan diri sambil bekerja untuk rakyat. Kau harus banyak belajar Hwa Lien. Kita wanita juga berhak maju. Jadikan hidupmu ada tantangan dan tanggung jawab. Jangan mau cukup umur dinikahkan dengan lelaki pilihan raja. Kita punya pilihan sendiri menganyam hidup ini sesuai dengan keinginan kita. Kau masih punya pilihan untuk tentukan hidupmu sendiri."
Hwa Lien termenung dengar kata Ashura. Dia memang ada dengar kalau dia kan dijodohkan dengan putra dari pembesar istana yang tak dia kenal. Mukanya lonjong atau oval dia juga tak tahu. Tinggal tunggu waktu datang lamaran. Lalu menikah dengan laki itu dan jalani hidup monoton dalam istana pembesar tersebut. Kedengaran memang membosankan tapi apa dia punya hak untuk menolak?
"Aku harus bagaimana?" Hwa Lien termakan omongan Ashura jangan menyerah pada pernikahan yang telah ditetapkan oleh raja. Hwa Lien memang sangat takut mendapatkan suami yang gendut dan jelek. Apalagi mendapat suami yang suaranya seperti suara seekor katak. Hwa Lien bisa mati lebih cepat bila menikah dengan lelaki jelek.
"Kau ikut aku saja! Sekarang aku adalah Puteri Shu Rong. Kau boleh tinggal bersamaku di sini tapi dengan catatan tak boleh bawa satu gudang pengawal. Kita hidup damai di sini. Tak perlu orang ramai."
"Tapi aku seorang putri!"
__ADS_1
"Puteri manusia, datang juga manusia. Mereka punya perasaan sama dengan kita. Ada capeknya dan rasa suka duka. Jangan selalu anggap kita makhluk lebih mulia! Kita ini sama ciptaan Tuhan cuma mendapat berkah lebih dari yang lain.Tugas kita adalah bagi keberkahan itu pada sesama." Ashura melirik dayang Hwa Lien yang berdiri di luar dengan wajah datar. Mereka seperti robot hidup. Kaku mau saja digerakkan oleh majikan tanpa boleh protes.
"Nanti mereka tak hormati kita lagi."
"Itu perasaan kamu saja! Aku perlakukan pembantuku dengan baik malah mereka lebih setia lagi. Mereka nyaman bersama kita maka takkan berkhianat."
Hwa Lien menopang dagu dengan kedua tangan memikirkan saran Ashura meringankan pekerjaan dayang-dayangnya. Apa mereka takkan berontak bila diperlakukan lembut. Hwa Lien kuatir kehilangan pa!or seorang putri bila ramah pada pembantu.
"Kau tak perlu jawab sekarang! Tinggallah bersama aku nanti kau akan lihat bagaimana reaksi para dayangmu bila kita hormati mereka juga. Oya..ada apa kamu cari aku? Ada kabar baru?"
Hwa Lien tersentak ditanya oleh Ashura. Dia datang memang bawa kabar baru untuk Ashura. Asyik ngobrol sampai lupa tujuan utama dia cari Ashura.
"Aku baru dapat kabar kalau selir agung Ning Fei sakit keras. Dia ! menjerit-jerit semalaman. Para tabib sudah tak sanggup menyembuhkan penyakitnya."
"Sakit apa? Bukankah sewaktu acara doa dia turut hadir? Cari perhatian abangmu bukan?" Ashura tak langsung makan mentah-mentah laporan Hwa Lien. Wanita itu sangat jahat pasti sedang susun rencana rebut Fu Yen dari tangan Puteri kerajaan Tang. Kalau benar artinya Puteri kerajaan Tang itu serang dalam bahaya.
"Aku juga heran mengapa dia mendadak sakit. Sewaktu aku main di istananya semua masih sehat. Bahkan kami sempat ngobrol."
Ashura merasa ada yang tak beres dengan selir itu. Gunakan trik apa lagi cari perhatian Fu Yen. Sudah penyakitan masih punya segudang rencana jahat. Ashura tak ingin beri obat pada wanita itu bila terbukti kena penyakit kelamin. Biar dia tahu rasa bagaimana rasa sakit itu. Siksa Shu Rong sampai meninggal dalam derita luar biasa. Rasa itu harus dikembalikan kepada wanita jahat itu.
"Lalu abangmu gimana?" selidik Ashura mau tahu apa yang sedang dilakukan oleh raja cabul itu. Sedang kumpul kebo dengan Puteri baru atau masih malu-malu kucing.
"Abang sedang sibuk urus tamu dari negeri Tang. Puteri Tang ingin netap di sini namun belum ada reaksi raja. Kamu ini bagaimana sih? Calon ratu tapi tak open suami direbut orang!"
Ashura hanya mampu tarik nafas panjang tak tahu harus omong apa untuk sementara ini. Dia sudah berapa hari tak jumpa raja, raja juga tak cari dia jadi untuk apa sibuk cari perhatian raja. Menjadi ratu bukanlah cita-cita Ashura. Dia punya misi lebih penting dari sekedar posisi ratu. Tak perlu jadi ratu kerajaan, cukup jadi ratu di hati rakyat.
"Ratu itu tak penting Hwa Lien...asal kita mampu berbuat lebih untuk rakyat itu sudah melebihi status seorang ratu. Kau mau main game kan?"
Hwa Lien mengangguk secepat kecepatan pesawat super jet. Kepala mungil itu turun naik berkali-kali tanda iya. Melapor hanya tujuan sampingan. Yang utama tentu saja game dalam laptop dan ponsel Ashura. Hwa Lien sudah tak sabar cicipi permainan abad mendatang. Permainan yang tak ada di zamannya.
Ayin datang membawa teh untuk Ashura dan Hwa Lien. Asap mengepul dari teko dari tanah liat. Keharuman teh hanya bebauan standar karena teh yang dikirim ke mereka hanya teh kaum terbelakang. Hampir sama dengan teh orang kerja kasar. Itu masih syukur diberi ransum makan. Takutnya malah diabaikan.
"Antar ke kamarku saja Ayin! Setelah itu ajak kedua temanmu main di halaman saja."
"Baik tuan Puteri!" Ayin mundur sambil bawa nampan berisi teh dan gelas juga dari tanah liat.
__ADS_1
Ashura kembali fokus pada Hwa Lien yang sudah tak sabar ingin main. Gadis ini sudah kecanduan game dari abad Ashura. Tangan sudah gatal ingin sekali menyentuh layar laptop untuk memulai permainan abad Ashura.