CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Latihan


__ADS_3

Alun yang juga seorang prajurit tak sabar ingin tahu benda apa itu. Seumur hidup Alun belum pernah melihat benda aneh ini. Namun dia harus melayani Fu Yen duluan baru bisa bebas melihat lebih dekat benda-benda aneh tersebut.


Pertama-tama dia harus membantu ketika orang yang berada di dalam kereta untuk turun menginjak tanah. Setelah yakin majikannya berada dalam posisi aman barulah Alun bisa bergerak bebas.


Fu Yen sendiri langsung menuju ke mobil tank untuk melatih kemahiran jalankan mesin besi tersebut. Paman raja dan Fu Kuang juga tak mau kalah mengambil tank sesuai porsi masing-masing. Ashura yang melihat kejadian ini bersyukur adanya semangat dari orang zaman baheula pelajari semua kecanggihan barang abad moderen. Beberapa pengawal setia menunduk hormat kepada pembesar yang baru datang. Mereka diperintah untuk menjaga aset berharga milik kerajaan. Mereka adalah pasukan berani mati mengabdi untuk kerajaan.


"Kalian bangunlah! Kita di sini sama-sama bekerja sama untuk bela kerajaan kita maka itu kita harus saling membahu. Sekarang aku akan beritahu cara gunakan senjata yang baru tercipta untuk lawan musuh. Kalian terpilih untuk memegang senjata maka kalian harus yakin pada kemampuan diri sendiri." Ashura agak risih disembah terusan oleh pasukan yang jasanya tak terhingga pada kerajaan.


Mereka pernah lihat Ashura sewaktu bersama Fu Kuang di tepi sungai. Waktu itu mereka baru saja pulang dari perang. Lama tak jumpa kini jumpa lagi sama putri kerajaan Chau.


"Terima kasih tuan putri!" sahut mereka serentak lantas berduit tegak perlihatkan mereka sangat kuat.


"Apa sudah makan pagi?" tanya Ashura kuatir para prajurit belum makan pagi. Tanpa makanan gimana mereka mau pegang senjata lumayan berat. Ntah siapa bakal pegang snipers dan bazoka. Itu harus diserahkan pada kebijakan Fu Kuang. Jenderal yang akan atur pembagian senjata. Ashura hanya beri pengarahan awal supaya para prajurit tidak kaget mendapati benda aneh.


"Sudah tuan putri. Tadi sudah diantar oleh dapur umum. Apa yang bisa kami lakukan?"


"Kita buka bersama kotak-kotak berisi senjata dan kalian boleh pilih sesuai keinginan kalian agar bisa latihan."


Ashura berjalan hampiri kotak yang sudah masuk tenda. Ashura mana kuat buka kotak besi cukup berat itu. Kotak itu akan terbuka bila dibantu oleh para prajurit. Ashura arahkan setiap pasukan ambil satu senjata sebagai langkah awal perkenalan.


Seluruh prajurit tercengang melihat senjata yang sangat jauh beda dengan pedang dan tombak mereka. Di dorong oleh rasa penasaran mereka ambil juga senjata yang menurut mereka menantang jiwa. Ada beberapa yang berbadan besar pilih sniper dan bazoka. Kedua senjata itu tampak lebih kokoh dari yang lain. Daya hancur kedua jenis senjata itu lebih mematikan.


Alun yang terheran-heran tak mau ketinggalan ambil salah satu senjata untuk ikutan berperang. Sudah lihat benda aneh gini rugi kalau tidak berpartisipasi dalam arena perang ini. Alun juga pilih senjata berbadan besar untuk memenuhi rasa penasaran dia.


Ashura mengajar mereka membidik lalu jelas cara kerja senjata ini serta cara gunakan senjata itu. Ashura belum minta orang itu isi peluru takut mereka belum terbiasa pegang barang canggih ini. Kalau diisi magazine takutnya melukai orang lain. Ashura mau tunggu Fu Yen dan Fu Kuang beri aba-aba pada prajurit untuk gunakan senjata. Ketiga pembesar kerajaan sibuk pula main-main dengan mobil tank.


Ashura akui kecerdasan ketiga laki itu. Dalam tempo singkat mereka sudah kuasai stiur mobil tank. Mereka sudah bisa jalankan mobil tanpa bantuan Ashura. Kini tinggal bedah semua senjata dalam mobil tank. Ashura yakin itu tak lama kalau Fu Kuang mau turun tangan.


Ashura biarkan para prajurit memperhatikan setiap detail senjata yang sedang mereka pegang. Ashura cari tempat berteduh hindari panas matahari walaupun tidak terlalu panas. Menjelang musim salju udara mulai dingin walau belum keseluruhan dingin. Ashura akan rasakan musim salju pertama selama hidupnya. Ashura berasal dari daerah tropis hampir tak pernah rasakan turun salju. Ntah Ashura punya kesempatan rasakan kelembutan salju atau harus menghilang karena tugasnya selesai.


Hwa Lien tak peduli dengan semua kegiatan para prajurit. Dia lebih suka cari tempat teduh lanjut melawan komputer. Tempat paling santai adalah berada dalam kereta kuda. Di situ adem ayem tak perlu jemuran di bawah matahari ramah. Ramah tetap saja bakar kulit.


Ashura tak ikut campur lebih jauh karena dia sendiri kurang paham soal senjata. Ashura yakin kalau Fu Kuang akan temukan jalan keluar.


Benar dugaan Ashura. Setelah paus bermain dengan mobil tank Fu Kuang mulai beri pelatihan pada prajurit cara gunakan senjata. Fu Kuang belum mengijinkan mereka menembak dulu sebelum paham benar cara pegang senjata serta aktifkan benda itu. Ashura melihat betapa semangatnya para prajurit berlatih bidik senjata cari sasaran.

__ADS_1


Habis itu para lelaki berembuk cara gunakan senjata bazoka dan snipers. Berdasarkan pengalaman pegang senjata ak Fu Kuang coba jalankan Sniper dan berhasil. Tinggalkan aktifkan ke arah sasaran. Ashura beri gambaran sejauh yang di ketahui tentang senjata itu. Ashura pernah lihat di film action kalau peluru senjata itu terpasang seperti rantai tak putus memuntahkan peluru terus menerus.


Dari cerita Ashura mereka mencari peluru yang dimaksud. Ternyata memang ada peluru sesuai cerita Ashura. Senjata itu jadi sempurna tatkala terpasang peluru. Semuanya tak putus kagum pada senjata kokoh itu.


Fu Kuang cari sasaran untuk lakukan tembakan perdana. Lagi-lagi batang pohon jadi sasaran Fu Kuang. Fu Kuang yang paling pertama lakukan penembakan dengan sedikit grogi. Pertama-tama masih terseok-seok namun akhirnya berhasil memuntahkan peluru dengan suara cukup bising.


"Ya Tuhan...sangat mengerikan!" seru paman raja kaget daya rusak senjata ini melebihi senjata semalam. Pohon yang ditembak Fu Kuang bolong-bolong nyaris hangus.


Semua terdiam diliputi rasa takjub tak terukur. Ada yang bayangkan bagaimana kalau tubuh mereka jadi sasaran tembakan. Langsung berkeping-keping tersebar ke mana-mana. Menurut mereka ini sangat tidak manusiawi namun inilah kejamnya perang.


Fu Yen sebagai raja makin yakin kalau pasukannya akan berhasil meraih kemenangan lawan musuh bila semua senjata digunakan. Masalah senjata tangan sudah terselesaikan sekarang tinggal cara gunakan senjata mobil tank. Yang ini Ashura harus turun tangan baca semua navigator dalam bahasa Inggris.


Ashura melarang semua orang berdiri dekat mobil tank takut kena serpihan tembakan senjata mematikan itu. Dalam mobil tank hanya ada Fu Kuang dan Fu Yen serta Ashura sebagai pembimbing. Ashura bawa mobil jauhi camp untuk hindari segal kemungkinan buruk.


Ashura gunakan insting memberi aba-aba pada Fu Kuang untuk cari sasaran. Mereka harus intip melalui alat seperti teropong untuk cari sasaran sebelum lakukan penembakan. Kali ini sasaran adalah gundukan batu gunung untuk lihat sampai di mana daya rusak mobil tank.


"Coba pencet tombol merah itu Jenderal. Itulah kunci meluncurkan peluru dari belalai tank!" Ashura menunjuk tombol merah tanda tembak.


Fu Kuang tak segera pencet melainkan tarik nafas dalam-dalam hilangkan rasa takut akan terjadi sesuatu. Fu Kuang tidak takut pada senjata tangan namun ngeri pada mobil ini. Dari bentuknya sudah cukup seram apalagi daya hancur benda ini.


"Jangan takut jenderal! Benda ini takkan menyerang kita. Silahkan!" Ashura menepuk bahu Fu Kuang dari belakang. Fu Yen sangat tidak suka Ashura makin akrab dengan sang jenderal. Gimanapun Ashura adalah wanita raja. Namun Fu Yen tidak bisa berkata apa-apa karena Ashura juga berlaku cukup sopan. Hanya sekedar tepukan persahabatan.


Suara dahsyat menggelegar kembali berdengung di sekitar hutan. Batu yang dihantam peluru mobil tank hancur lebur seperti digiling di atas cobekan raksasa. Asap mengepul dari bebatuan hancur itu. Berpuluh-puluh pasang mata menyaksikan betapa dahsyatnya senjata ini. Jangankan tubuh manusia batu gunung aja hancur tanpa sisa. Siapa bisa melawan senjata ini bila dibawa berperang.


Keheningan berlalu berganti sorak gegap gempita para prajurit yang gembira mendapat senjata sangat dahsyat. Ashura menggelengkan kepala takjub melihat dengan mata kepala sendiri daya rusak mobil tank ini. Padahal gadis ini sudah tahu kalau benda ini memiliki kekuatan luar biasa namun tetap saja merasa takjub.


Fu Kuang bangga bukan main telah berhasil memecahkan misteri benda dari abad moderen ini. Fu Kuang tersenyum senang kepada Ashura. Tanpa berkata Fu Kuang ingin ucapkan terima kasih kepada gadis ini telah mendatangkan keajaiban masa datang kepada mereka.


Ashura menyambut senyum Fu Kuang tak kalah senang. Tinggal Fu Yen kesal sendiri Ashura dan Fu Kuang saling beri perhatian seakan dia itu patung tak bernyawa.


Fu Yen mendehem untuk menyadarkan kedua insan ini kalau dalam tank masih ada makhluk hidup lain. Tidak tanggung-tanggung makhluk itu adalah raja kerajaan ini.


Ashura mengerti kode jengkel Fu Yen. Ashura sudah cukup lama berada di samping raja tentu sudah hafal sedikit sifat sang raja.


"Yang mulia raja mau coba? Ayok gantian rasakan jadi pembunuh ulung." canda Ashura usir rasa canggung Fu Yen diabaikan.

__ADS_1


"Oh maaf kanda raja! Aku terlalu gembira sampai lupa kalau kanda harus coba. Kita cari sasaran lain." Fu Kuang turun dari posisi supir beri kesempatan pada Sang raja untuk rasakan kedahsyatan benda ini.


"Jenderal memang lebih maju dari penguasa." ujar Fu Yen penuh kesinisan. Ashura tak heran dengan sifat kekanakan Fu Yen. Mereka berdua sering berantem layak anak muda lain. Ashura sudah hafal benar sifat buruk Fu Yen bila kumat rasa jengkel. Kadang suka asal omong.


"Bukan gitu kanda. Aku benaran kaget lihat hebatnya kotak mesin ini. Kita tak usah ragu maju lawan kerajaan Tang bila mereka ajak perang." Fu Kuang bela diri supaya sang raja tidak ilfil padanya pikir mau sok berkuasa mentang-mentang jenderal perang.


"Sudah pasti mereka sudah susun rencana bersama perdana menteri. Sekarang yang paling penting adalah waspada terhadap menteri. Besok aku dan Paman raja harus rapat kerajaan jadi tak bisa ikut latihan. Setelah rapat aku akan ke sini. Dan kau Ashura harus ikut rapat karena kau ada


ah penasehat raja." Fu Yen melirik Ashura yang dari tadi cuma senyam-senyum bahagia melihat misinya makin berjalan mulus.


"Iya yang mulia raja. Besok aku akan hadir untuk bahas soal kesehatan penghuni istana. Sampai sekarang tak banyak yang datang berobat padahal banyak yang sakit. Apa mungkin mereka malu ketahuan mengidap penyakit kotor?"


"Aku juga tak tahu apa yang ada di pikiran orang-orang itu. Pentingkan gengsi abaikan kesehatan. Aku mau coba senjata dahsyat ini. Kelak kalau perang aku mau terjun langsung."


"Yang mulia harus jaga istana agar tak terjadi pemberontakan. Biarlah aku dan Paman raja terjun ke Medan perang bawa kemenangan buat kerajaan. Kanda raja harus ingat kalau dalam istana ada pemberontak tersembunyi." Fu Kuang telah keluar dari mobil tank beri kesempatan pada Fu Yen unjuk keahlian sebagai jenderal perang di hutan ini. Perang lawan batu.


Fu Kuang menyingkir biarkan Ashura dan Fu Yen berada dalam tank untuk test mental buat Fu Yen. Fu Kuang saksikan dari jauh ketepatan Fu Yen bidik sasaran. Apa lebih baik darinya atau buruk sekalian.


Ashura indah duduk di samping sang raja untuk beri semangat pada bosnya itu agar tegar sebagai panglima besar kerajaan.


Fu Yen hidupkan mobil lalu bergerak menuju ke sasaran yang dimaksud Fu Kuang. Dalam jarak tertentu Fu Yen hentikan tank ancang-ancang intip sasaran untuk lepaskan tembakan. Fu Yen sangat berhati-hati agar tidak malu kalah dari Fu Kuang. Fu Yen tak mau nampak buruk di mata Ashura.


"Tembak yang mulia!" Ashura beri aba-aba supaya Fu Yen tak ragu lakukan tembakan.


Fu Yen melirik Ashura sekilas lalu fokus cari sasaran. Suara dentuman maha dahsyat kembali terdengar membahana di hutan sepi ini. Fu Yen menutup mata tak berani lihat hasil kerja keras. Namun di luar sana terdengar sorak gegap gempita menyambut keberhasilan Fu Yen lakukan serangan terhadap batu gunung.


"Yang mulia hebat...tuh batunya hancur berantakan!" puji Ashura untuk menghibur Fu Yen.


"Aku bisa Ashura..." kata Fu Yen dengan nada bergetar. Sumpah mati Fu Yen takut sekali sewaktu pencet tombol cari sasaran. Takut meleset bikin malu. Syukurlah semua berjalan aman.


Ashura keluarkan tangan menyalami Fu Yen ucapkan selamat telah sukses melatih nyali ikut dalam perang. Fu Yen yang tak terbiasa salaman agak bingung melihat Ashura mengulurkan tangan. Lama sekali Fu Yen memandangi tangan Ashura tak tahu harus apa.


Ashura gemas lantas menarik tangan sang raja untuk bergabung dengan tangannya. Tangan Ashura yang kecil tenggelam dalam telapak tangan Fu Yen yang lumayan gede.


"Ini tanda apa?"

__ADS_1


"Di jaman kami ini tanda ucapkan selamat sukses. Kalau kita kenalan pertama juga bisa salaman. Ini adalah kegiatan sangat sopan dan dihargai."


Fu Yen manggut-manggut setelah mendapat penjelasan Ashura. Di zaman ini orang kaya mana mau menyentuh mereka dari kalangan bawah. Setiap orang punya tingkatan sesuai taraf hidup mereka.


__ADS_2