CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Demam


__ADS_3

Nyali Ashura terlalu besar melebihi gunung tertinggi manapun. Padahal Ayin takut raja bakal marah dibantah. Raja bukan tak marah malah main lembut pada tuan puteri tercantik itu.


"Yang Mulia istirahat saja. Sudah seharian kita capek. Besok Yang Mulia masih harus ke pertemuan resmi kerajaan. Hamba tak apa. Jamin besok sudah sembuh. Ada Ayin menjagaku. Pergilah tidur!" Ashura menggenggam tangan Fu Yen menenangkan raja bahwa dia tak ada hal perlu dikuatirkan.


"Kau yakin?"


Ashura mengangguk yakin. Fu Yen pasti lelah seharian kerja dan pulang dari perjalanan. Raja juga kena hujan besar sekalian bersamanya. Dikit banyak akan berpengaruh pada kesehatan sang raja.


"Baiklah! Minum obat dan istirahat ya! Kalau ada yang tak enak harus panggil aku. Jangan berdiam diri! Kau bisa kupenggal!" ancam Fu Yen tak main main.


"Iya raja penggal..oya apa tak perlu ada kelinci manis temani tidur?" ejek Ashura sebelum Fu Yen pergi.


Fu Yen menahan langkah berbalik diri menatap Ashura. Lama sang raja menatap Ashura buat gadis ini merasa risih. Tatapan Fu Yen bermakna marah dan kesal.


Ashura mencubit mulut sendiri pancing rasa kesal raja. Andai mulutnya tak lancang Fu Yen pasti sudah pergi tanpa bawa amarah.


"Ayin..sediakan selimut untukku. Malam ini aku tidur dengan ratuku sang kambing." ujar Fu Yen keras tanpa toleransi.


Ashura kaget sampai terloncat bangun. Sungguh raja songong. Dipancing dikit gitu reaksinya luar biasa.


"Maaf Yang Mulia ganteng..terbaik..hamba hanya canda. Ayo balik kamar Yang Mulia. Tidurlah nyenyak!" Ashura turun dari temapt tidur lalu mendorong Fu Yen keluar dari kamarnya. Detik detik gini sangat berbahaya untuk keselamatan masa depan Ashura.


Fu Yen bertahan tak mau keluar. Fu Yen sudah mengharap hal ini terjadi sejak berapa hari lalu. Kini Ashura sendiri undang penyakit datang ke dia. Fu Yen mana lewatkan kesempatan bagus ini.


"Aku memang perlu kawan tidur biar tidurku nyenyak. Cuma aku tak perlu kelinci, kambing lebih baik."


"Yang Mulia orangnya baik dan sabar. Gini saja ngambek! Maafin hamba asal omong. Hamba kan lagi sakit. Coba pegang kepalaku! Panas toh! Yang Mulia pergi tidur ya!" rayu Ashura sok manja. Mata Ashura berkejap kejap rayu Fu Yen agar batalkan niat tidur di kamarnya.


"Lain kali jangan asal omong! Aku bersedia tidur sama kambing walau bau."


"Bau??? Coba cium dari mana aku bau!" Ashura majukan diri agar Fu Yen bisa mengendus aroma tubuhnya.


Fu Yen pura pura mencium bau Ashura dari kepala hingga leher. Bau badan Ashura selalu bikin Fu Yen tergila gila. Nafsu birahinya mendadak muncul namun Fu Yen tahu tak mungkin salurkan pada Ashura. Gadis ini mana rela jadi teman tidur sang raja. Fu Yen hanya bisa menelan ludah menahan nafsu.


"Kau memang bau..tapi aku suka." Fu Yen meraih pinggang Ashura dengan sebelah tangan. Tangan satu lagi digunakan membelai pipi mulus itu.


Ayin malu sendiri lihat adegan mesra sang raja dan tuan puteri. Ayin memilih undur diri memberi ruang pada kedua insan berlainan jenis memajukan hubungan mereka. Ayin menutup pintu kamar berdiri di depan menanti perintah selanjutnya.


"Yang Mulia..sudah malam. Pergilah tidur! Besok kita masih banyak kerja. Bukankah kita masih harus memeriksa keuangan kas negara?" ujar Ashura lirih tak berani goda Fu Yen lebih lanjut.


"Kenapa kau begitu menarik nona kambing?" desis Fu Yen sambil mengecup leher Ashura yang bersih. Bau harum Ashura makin bikin Fu Yen hilang akal sehat.


"Yang Mulia..jangan gitu! Yang Mulia tak boleh khianati selir lain. Hamba bukan selir Yang Mulia. Hamba hanya pelayan pribadi Yang Mulia." Ashura masih berusaha bebaskan diri dari rengkuhan kencang sang raja.


"Kau diantar ke kerajaan ini kau sudah milikku. Tak ada yang boleh sentuh kamu selain aku. Kau adalah milik raja. Ingat itu!" bisik Fu Yen sexy di kuping Ashura. Hembusan nafas panas terasa membuat Ashura geli.


"Yang Mulia..sadar! Hamba Shu Rong pelayanmu. Tak baik kita begini intim. Ini melanggar hukum. Hamba bisa dipancung bila goda raja."


"Biar aku yang goda kamu. Kau takkan kupancung." bisik Fu Yen dengan ******* nafas makin kencang. Ashura makin takut Fu Yen nekat berbuat hal tak diinginkan Ashura. Raja tetap raja bebas berbuat apapun padawanita yang diinginkan.

__ADS_1


"Aduh..kepalaku sakit!" seru Ashura tiba tiba. Akting artis kacangan sudah dimulai. Kalau tak begini Fu Yen pasti takkan bebaskan Ashura malam ini.


"Shu Rong?? Kau tak apa?" Fu Yen kontan lepaskan Ashura memeriksa kepala gadisnya. Ashura memegang kepala seakan kepala itu sangat sakit. Fu Yen tampak kaget juga kuatir. Nafsu yang membara padam seketika lihat wanita tersayang mengerang kesakitan. Kesehatan Ashura melebihi segalanya.


"Kasim Du mana obat Tuan puteri?" seru Fu Yen kencang.


Ayin dan kasim Du segera masuk kamar tanpa diperintah dua kali. Fu Yen menggendong Ashura lalu baringkan di tempat tidur dengan lembut. Ashura merasa berdoa sudah bohongi raja sebaik Fu Yen. Namun Ashura tak punya cara lain untuk bebaskan diri dari nafsu Fu Yen.


"Yang Mulia..obat tuan puteri sedang dimasak. Sebentar lagi diantar. Apa perlu panggil tabib lagi?"


"Tak perlu kasim Du. Istirahat sebentar juga hilang." kata Ashura pelan tak mau merepotkan Kasim Du.


"Tidurlah! Aku akan jaga kamu malam ini." kata Fu Yen lembut tanpa gejolak birahi lagi. Ashura tak berani menolak takut ketahuan sedang berakting. Kalau dia langsung usir Fu Yen maka akan ketahuan sedang berbohong.


"Terima kasih Yang Mulia..anda harus istirahat juga. Besok kita masih harus kerja."


"Aku akan tenang kalau kau sudah tidur. Setelah minum obat kamu tidur. Aku akan pergi setelah kau tidur."


"Ya Yang Mulia.." sebenarnya Ashura terharu pada ketulusan Fu Yen padanya tapi mengingat satu kompi wanita menanti kehadiran laki ini membuat Ashura ilfil. Sampai kapanpun Ashura takkan biarka Fu Yen memiliki dirinya. Kalau Ashura terkurung selamanya di jaman ini mungkin Ashura akan pilih Fu Kuang untuk dampingi hidupnya sampai ajal menjeput.


Seorang pelayan mengantar obat untuk Ashura, Fu Yen menyambut obat itu lalu menyuap obat itu perlahan ke mulut Ashura sampai habis. Ayin dan Kasim Du dapat merasakan cinta tulus dari Fu Yen untuk Ashura. Selama ini Fu Yen jarang campuri kehidupan selir. Fu Yen hanya datang sekali kali jenguk para selir kalau ada waktu senggang.


"Bagaimana? Ada enakan?" tanya Fu Yen sambil meletakkan cangkir obat yang sudah kosong ke meja kecil tak jauh dari tempat tidur.


Ashura mengangguk. " Terima kasih Yang Mulia! Badan hamba lebih segar sekarang. Yang Mulia istirahat saja. Ada Ayin akan jaga hamba."


"Baiklah! Kau tidur dulu. Aku akan pergi kalau kau sudah tidur. Jangan pikir yang lain Cepat sembuh! Tugasmu masih banyak. Kau kan asisten, penasehat juga pelayan pribadi jadi tak boleh sakit. Itu perintah!"


Fu Yen tersenyum damai. Fu Yen menyelimuti Ashura penuh perasaan sayang. Fu Yen berjanji akan rebut cinta Ashura dari laki manapun. Saingan terberat tentu saja adik sendiri sang jenderal. Fu Kuang sudah terangan minta agar diberi Ashura untuk jadi permaisurinya. Tampaknya Fu Kuang tidak main main akan peristeri Ashura.


Ashura tertidur karena efek ramuan obat dari tabib istana. Fu Yen mangut puas melihat Ashura tertidur pulas. Perlahan Fu Yen beranjak tinggalkan kamar Ashura.


"Jaga majikanmu dengan baik! Apapun terjadi kau harus panggil aku." Fu Yen tinggalkan pesan buat Ayin agar jaga tuan puteri dengan baik.


"Siap Yang Mulia.." Ayin membungkuk hormati raja.


Fu Yen dan kasim Du tinggalkan kamar Ashura balik ke kamar sendiri. Fu Yen tak habis pikir mengapa Ashura bersikeras tak mau jadi wanita istana terhormat. Fu Yen akan beri posisi ratu bagi Ashura. Satu posisi tertinggi buat wanita kerajaan. Ashura bisa perintah seluruh selir untuk patuh bahkan bisa usir selir bila tak suka.


"Kasim Du.." panggil Fu Yen setelah berada dalam kamar.


"Ya Yang Mulia.."


"Apa pendapatmu tentang Shu Rong?"


"Tuan puteri orangnya tulus dan baik. Beliau tak silau harta. Hatinya sangat bersih tak pandang status orang itu. Dia hormati semua orang. Dia cocok jadi pendamping Yang Mulia. Parasnya juga rupawan walau sedikit nakal."


"Dia tak mau jadi ratu. Kau lihat dia lebih rela jadi kacungku. Padahal di seorang puteri kerajaan." keluh Fu Yen putus asa hadapi Ashura.


"Ini buktikan Tuan puteri tak gila nama besar. Kalau Yang Mulia suka padanya cukup biarkan dia tetap berada di sisi Yang Mulia. Batu sekeras apapun akan berlobang bila diterpa terus. Seluruh penghuni istana ini suka pada tuan puteri. Apalagi tersiar berita bencana besar ini terbantu karena jasa tuan puteri. Seluruh kerajaan sedang bicarakan kebaikan tuan puteri."

__ADS_1


"Kasim Du..kamu adalah orang terdekatku. Bantulah aku dapatkan perhatian puteri Shu Rong. Dan jaga dia dari serangan selir lain."


"Tentu Yang Mulia. Bolehkah hamba bertanya?"


"Tanya apa?"


"Masalah tompel di wajah tuan puteri."


Fu Yen tertawa kecil tanggapi pertanyaan Kasim Du. Ternyata sang kasim penasaran pada kala Ashura yang mau permainkan semua orang.


"Apa kasim Du percaya pada akal licik gadis bengal itu? Jadi laki wajahnya mulus alasan tompel ditutup bedak. Jadi wanita sejelek apa dia. Kasim Du tak ngerti maksudnya?"


"Hamba ngerti..tuan puteri mau tampak jelek di hadapan Yang Mulia. Dia menolak Yang Mulia secara halus. Tapi dia memang cantik luar biasa."


"Aku tahu..aku suka padanya bukan karena dia cantik tapi dari dalam dirinya tersimpan harta tak bisa kita sentuh. Jauhkan dia dari Jenderal Fu Kuang!"


"Hamba ngerti..Yang Mulia istirahat saja! Hamba ada di luar menanti perintah."


"Tak perlu..kau pergi istirahat juga. Besok bangunkan aku lebih cepat. Aku mau rapat dengan para menteri."


"Baik Yang Mulia..selamat malam."


Kasim Du mengundurkan diri membiarkan Fu Yen istirahat. Andai Ashura tak sakit Fu Yen rencana goda Ashura layani dia malam ini. Tentu saja melayani dalam arti tugas asisten. Bukan tugas seorang selir. Fu Yen tahu tak gampang rayu Ashura naik tempat tidurnya. Perlahan Fu Yen akan dapatkan perhatian Ashura asal gadis ini tak kabur dari tangannya.


Pagi mendung warnai langit menyambut pagi. Fu Yen bersyukur hujan masih mau turun menambah debit sungai. Fu Yen tak kecil hati harus pergi ke rapat kerajaan dalam kondisi hujan. Sang raja malah bersyukur bisa nikmati hujan lagi setelah berbulan tak jumpa hujan.


Pagi bangun otak Fu Yen langsung teringat pada gadis bengal yang sedang sakit. Hati Fu Yen tertuju pada Ashura yang semalaman menyita perhatiannya.


Seusai berpakaian Fu Yen mengajak Kasim Du menjenguk Ashura. Belum jumpa gadis pujaan hati sang raja belum tenang.


Fu Yen merasa perutnya digelitik melihat Ashura sudah rapi berpakaian wanita. Tompel hitam muncul lagi hiasi pipi mulus itu. Gadis lucu ini sedang gerak badan di depan halaman kamarnya. Ashura sedang berolahraga ringan membakar kalori setelah semalaman demam. Berolahraga dikit bisa segarkan badan. Keringat akan keluar halau segala rasa pegal.


"Yang Mulia..selamat pagi." sapa Ayin begitu Fu Yen mendekat.


Fu Yen beri tanda tak usah banyak adat. Fu Yen lebih tertarik pada gerakan taekwando Ashura. Salto berujung tendangan kuat bikin orang yang memandang seperti melihat tarian aneh. Fu Yen tepuk tangan kagum pada ilmu bela diri Ashura.


Ashura menyerang Fu Yen secara tiba tiba. Fu Yen yang kaget tak siap hadapi serang Ashura mundur beberapa langkah. Mata Ashura memancarkan cahaya tajam menantang sang raja bertempur secara ksatria.


Beberapa pengawal kaget melihat raja mereka diserang wanita aneh. Mereka hampir turun tangan hendak lindungi sang raja. Namun dilarang Kasim Du. Kasim Du tahu Ashura hanya mau menguji berapa tinggi ilmu sang raja.


Keduanya berhadapan bagai musuh besar sedang hadapi medan laga. Ashura ancang ancang cari sela kelemahan sang raja. Fu Yen lebih tenang hadapi musuh tercinta. Sepuluh Ashura juga tak mungkin menang dari sang raja yang punya ilmu bela diri lumayan tinggi. Fu Yen sengaja biarkan Ashura cari kepuasan menghajarnya.


Ashura berseru nyaring lalu maju melepaskan tinju keras ke dada Fu Yen. Fu Yen sudah lebih siap berusaha menangkis tinju Ashura, tak urung tangan Fu Yen terasa linu. Tenaga si mungil lumayan kuat mampu getarkan tangan Fu Yen. Ashura tak bia dianggap remeh.


Fu Yen tak boleh pandang enteng Ashura lagi kalau tak mau malu kena pukulan Ashura. Fu Yen mulai membalas dengan pukulan ringan agar Ashura tak luka. Stamina Ashura memang jempolan. Fu Yen kalah kalau melawan daya stamina gadis muda yang terlatih karena rajin latihan wushu.


Fu Yen merasa tak sanggup kalau harus lama melayani gadis penuh energi tinggi ini. Dilanjutkan Fu Yen akan kalah semangat. Tenaga Ashura seperti tak habis walau digempur berulang kali.


Fu Yen tak punya cara hentikan gadis berdarah panas ini selain menguncinya dalam pelukan. Ashura terkunci dalam pelukan sang raja.

__ADS_1


"Dasar raja curang.." seru Ashura tak mau ngaku kalah.


Pengawal dan kasim Du lega pertempuran akhirnya dapat selesai.


__ADS_2