CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Ashura Bersedih


__ADS_3

Ashura membantu Hwa Lien membuka makanan dari zaman Ashura yang bisa menyegarkan tenggorokan. Selain permen mintz ini Ashura masih menyimpan permen lollipop rasa coklat susu. Di saat ini mana cock konsumsi makanan yang akan menambah rasa haus. Permen mintz adalah jawaban paling tepat untuk melegakan kerongkongan.


Ashura menyodorkan permen itu persis di ujung bibir Hwa Lien agar anak ini rasakan betapa nikmat makanan dari masa depan. Hwa Lien menjulurkan sedikit lidah jilat permen tersebut sebelum lolos ke dalam mulutnya. Rasanya memang manis ada pedas segar. Baunya juga harum seperti harum buah semangka.


"Enak..duanya buat aku saja." Hwa Lien tak malu-malu rebut permen itu dari tangan Ashura. Tingkah Hwa Lien nyaris sama dengan Ashura dalam keseharian bila bersama Liem musuh terindah.


Ashura teringat pada Liem. Ntah bagaimana keadaan Liem di sana. Kena marah sama kedua orang tuanya nggak ya? Apa Liem juga rindu padanya seperti dia kadang rindu pada lelaki itu. Kapan mereka bisa bersama lagi. Bila Ashura punya kesempatan kembali ke dunia nyata dia berjanji takkan bertengkar dengan Liem lagi. Dia akan berubah menjadi teman sehidup semati dengan anak itu.


"Hei...melamun terus!" Hwa Lien menggoyangkan tangan di depan mata Ashura untuk menyadarkan gadis itu dari lamunan.


Mereka harus segera ke istana untuk ikut acara doa bersama. Ashura tak sabar mau lihat tampang sengsara pengerat uang rakyat menderita dijemur matahari. Semoga saja hari cerah mentari bersinar terik. Ini akan menambah derita mereka. Rakyat kelaparan serta berjemur matahari bercocok tanam demi sesuap nasi. Sedang para pejabat hidup nyaman di istana mereka makan tidur enak. Ini akan jadi pelajaran berharga buat tikus-tikus istana.


Hwa Lien dan Ashura ke istana utama gunakan kereta kuda karena jaraknya sedikit jauh dari tempat tinggal Ashura. Dibilang jauh sekali tidak juga. Tapi berjalan kaki akan makan waktu lumayan panjang. Hwa Lien si anak manja mana mau diajak jalan kaki. Bisa lecet kaki mungil tuan putri itu.


Hwa Lien sibuk menikmati permen tak perhatikan reaksi wajah Ashura tatkala melihat halaman istana sudah ramai oleh pejabat serta wanita istana. Semua hadir cari muka biar dibilang pejabat baik. Di balik wajah baik itu tersimpan kelicikan tak bisa diukur pakai meteran.


Di lantai halaman banyak terdapat bantal segi empat tersusun rapi sebaris baris dengan jarak masing-masing satu meter. Ashura tak tahu dari mana muncul segitu banyak bantal dalam tempo singkat. Kalau Chen Yang yang atur semua ini artinya dia berbakat jadi panitia berbagai acara. Bahkan bisa jadi WO alias wedding organizer.


Hwa Lien sangat senang lihat keramaian di halaman istana. Dia jarang keluar istana untuk lihat dunia luar. Tuan Puteri sehari-hari hanya main sekitar istana. Keluar Pun mesti dikawal puluhan pengawal kerajaan.


"Hei..dari mana segitu banyak bantal?" bisik Ashura penasaran dari mana muncul ratusan bantal.


"Ambil dari rumah pejabat. Mereka sumbang secar sukarela. Kalau tak kasih artinya mereka harus duduk di lantai yang dingin. Aku tak jadi pingsan deh! Kita main sampai bosan ya!" Hwa Lien berubah pikiran karena lihat betapa ramainya halaman istana. Berbagai kalangan pejabat hadir bawa keluarga masing-masing. Ini jadi pemandangan menarik buat Hwa Lien.


"Terserah kamu. Aku jumpai Abang mu dulu. Tak baik penasehat hilang terlalu lama dari raja. Kamu jangan nakal ya! Nanti kita balik bersama!"


"Iya kakak ipar! Hati-hati ya! Oya kudengar kemarin ada datang utusan kerajaan Tang untuk ikut doa. Ada pangeran dan tuan putri mereka sebagai utusan ikut doa."


"Dari mana mereka tahun kita ada acara ini?" Ashura mengitari mata cari orang yang dimaksud Hwa Lien.


"Mereka tak tahu ada acara ini. Mereka hanya datang berkunjung sebagai tanda perdamaian. Biasa..bawa putri untuk jadi upeti buat raja. Tambah selir baru lagi." sahut Hwa Lien lupa kalau Ashura termasuk salah satu selir Raja.


Ashura tercekat setelah tahu masalah baru sedang hampiri dia. Baru saja tenang sedikit kini muncul pula orang baru. Orang baru bakal jadi korban peraturan tak tertulis di mana seorang Puteri selalu jadi barang tukaran perdamaian. Kalau Fu Yen berani terima putri itu maka Ashura bersumpah akan keluar istana. Biarlah dia bekerja sejahterakan rakyat dari luar tembok istana. Masih ada Fu Kuang dan Chen Yang akan dukung dia.

__ADS_1


Ashura bulatkan hati jumpai Fu Yen mau tahu apa rencana raja cabul itu. Pantang lihat wanita muda. Jumpa langsung jatuh cinta. Ashura menyesal telah percaya pada gombalan Fu Yen sampai dia terlena. Ashura harus tegas takkan open pada Fu Yen bila obral cinta sana sini.


Ashura naik tangga masuk ke istana tempat pertemuan para raja dengan para pejabat. Di dalam sudah lumayan ramai oleh pejabat yang bersiap mendengar titah sang raja. Semua berbaris rapi sesuai jabatan mereka. Ashura melihat tempat dekat raja yang biasa kosong kini telah dihuni seorang gadis berpakaian serba merah. Rambut dikepang indah menjuntai ke bawah.


Ashura tak tahu dia sedang cemburu atau kesal pada raja tak tepat janji. Sudah pernah bersumpah takkan duakan Ashura tapi sekarang sudah tambah lagi orang baru. Ashura tidak mau berdiri di samping raja lagi melainkan berdiri paling belakang biarkan Fu Yen senyam senyum dengan wanita baru bakal selir baru ini.


Kasim Du menangkap bayangan Ashura menyelinap di antara pejabat lantas berbisik pada raja kalau penasehat kerajaan sudah sampai. Fu Yen melayangkan pandangan ke arah Ashura setelah dapat bisikan dari Kasim Du.


Wajah Ashura kurang cerah membahayakan kedudukan Fu Yen sebagai raja. Ashura bisa ngamuk cerca sang raja habisan bila tak senang hati. Kalau marah Ashura mana ingat Fu Yen itu raja. Dia berani marahi raja tanpa pandang bulu.


"Pejabatku yang tercinta. Matahari mulai tinggi lebih baik kita segera laksanakan acara doa kita." Fu Yen bersabda.


Gumaman tanpa semangat terdengar jelas sana sini. Mereka sadar sebentar lagi mereka akan jadi bulan-bulanan panas terik matahari. Sudah dipanggang tak boleh makan pula. Acara doa apa ini? Bagi mereka ini bukan acara doa melainkan ajang menderita. Tapi siapa berani lawan perintah raja.


Satu persatu pejabat keluar dengan lunglai. Mendung tebal bergantungan di wajah setiap pejabat tersebut. Di sini mereka hanya bisa bayangkan sepiring nasi dengan daging dan sup yang hangat.


Ashura senang bukan main acara dimulai. Penderitaan para pejabat segera dimulai. Di luar sana keluarga para pejabat sudah ambil tempat masing-masing. Mereka semua cari tempat paling teduh untuk hindari sengatan matahari. Tuhan seolah dukung Ashura kerjain para pejabat.


Matahari bersinar cukup hangat, belum terlalu menyengat kulit. Sinar ultraviolet masih dalam batasan bersahabat. Nanti sebentar lagi jugaakan perlihatkan kegarangan sang mentari menjemur semua peserta doa.


Kasim Du berhasil menemukan Ashura di antara ratusan orang. Kasim Du sudah rindu pada Ashura karena seharian tak jumpa. Semalam raja sangat sibuk ladeni tamu dari jauh sehingga tak sempat jumpai Ashura di istana belakang.


"Penasehat Shu dicari yang mulia raja!" Kasim Du beri salam pada Ashura. Lelaki jadian ini membungkukkan badan sekaligus ingin minta maaf tidak bisa menemui Ashura semalaman.


"Aku tak mau. Katakan padanya kalau aku akan balik ke istana dingin. Di tempatnya aku akan lebih cepat mati. Asal bapak tahu semalam aku tidak makan. Begitu juga kedua pengawal aku." ketus Ashura ngambek.


"Maaf nak! Bapak tak bisa pergi karena ada tamu. Bapak ingin antar nasi kamu tapi tak bisa keluar dari istana karena raja menjamu tamu."


"Sudahlah pak! Tak usah repot urus aku! Urus saja tamu yang sangat berharga kalian."


Kasim Du meringis tahu kalau Ashura bukan wanita muda gampang diintimidasi. Jiwa Ashura sudah tertempa keras dari zamannya. Sifat itu tak mudah luntur kendatipun berada di dimensi lain.


Ashura melangkah pergi tak peduli bagaimana tanggapan Fu Yen karena dia membangkang. Mau pancung juga terserah. Ashura marah bukan tanpa alasan. Pertama Fu Yen akan siakan seorang gadis muda lagi dalam kehidupan istana yang membosankan. Kedua Fu Yen sudah tahu betapa bahaya penyakit kelamin bila asyik tukar pasangan tapi masih juga semangat kumpulkan wanita muda. Laki baru saja mengusir puluhan selir kini mulai mengumpulkan wanita baik baru lagi. Fu Yen sudah tak ada obat lagi. Jiwa petualang seorang raja tetap begitu.

__ADS_1


Kasim tergopoh-gopoh lapor pada Fu Yen kalau Ashura tak mau dipanggil malah minta balik ke istana dingin. Ini sebagai bentuk protes Fu Yen terima Puteri dari negeri Tang. Ashura tak keberatan keluar dari istana asal Fu Yen janji akan hidup setia pada seorang wanita saja. Baik itu Puteri yang baru datang maupun selir lain asal jangan Ning Fei. Perempuan beracun itu.


Ashura biarkan acara berlanjut sementara dia sendiri kembali ke istana belakang Fu Yen untuk berkemas balik ke tempat Ayin dan Amuk. Ashura yakin dari balik istana dingin dia akan lebih mudah membantu rakyat memberi penyuluhan bertani yang baik. Tak perlu terikat pada peraturan raja yang merugikan dia.


Ashura hanya bawa pakaian dan peralatan dari masa depan untuk kembali ke istana dingin. Tunggu apalagi kalau bukan kabur dari sekarang. Ashura belum gila terlibat dalam drama percintaan sang raja yang rumit dan kotor.


Ashura jalan sendirian menyelusuri jalan yang agak sepi karena rakyat pada ikut berdoa di tempat lain. Semua termakan oleh isu yang dibuat Ashura. Mereka percaya dengan berdoa semua bala bencana akan segera berakhir.


Cukup lama Ashura berjalan barulah tiba di istana dingin. Pintu gerbang istananya tertutup rapat sesuai permintaan Ashura tak izinkan orang lain masuk untuk hindari kecurigaan kalau putri Shu Rong tak ada dalam istana dingin.


Ashura menggedor pintu sekuat mungkin untuk pancing reaksi Amuk sebagai penjaga istana. Gedoran Ashura belum cukup mengusik perhatian Amuk maka Ashura menggedor dengan bantuan batu sebesar bola tenis.


Bunyi Duk Duk cukup deras menarik kepekaan kuping Amuk. Terbukti tak lama kemudian Amuk dan Ayin muncul. Kedua pembantu setia itu kaget melihat majikan mereka mendadak muncul di istana mereka. Ayin langsung peluk Ashura saking rindu pada majikan mereka yang baik itu.


"Ayok masuk dulu! Kunci pintu gerbang jangan biarkan orang lain masuk!" Ashura menarik Ayin agar pindah ke dalam. Amuk cepat-cepat tutup pintu sesuai permintaan Ashura. Amuk tak athu apa yang sudah terjadi. Menurut feeling Amuk kehadiran Ashura di istana dingin bukanlah kabar baik. Pasti tak telah terjadi sesuatu barulah majikan mereka kembali ke sini.


"Tuan putri kenapa balik sini?"


"Aku rindu pada kalian. Tak ada masalah apapun. Aku lebih nyaman tinggal di sini. Bawa barang ini ke kamar aku." Ashura menyerahkan bekalnya kepada Ayin. Ayin menerima barang majikan tanpa bertanya lagi. Sama halnya dengan Amuk, Ayin juga merasa tak beres pada majikannya. Ntah apa terjadi.


Ashura masuk ke kamarnya yang masih terawat rapi. Bersih tanpa debu. Keduanya memang pembantu jempolan. Mereka tetap hormati Ashura walaupun Ashura tidak bersama mereka namun tempat Ashura tetap dijaga rapi.


"Terima kasih Ayin! Kalian memang yang terbaik." Ashura memeluk Ayin penuh keharuan. Kedua orang ini setia sampai mati. Ashura tak boleh siakan masa depan kedua orang hanya bertugas melayaninya. Mereka harus keluar istana cari kehidupan lebih baik.


"Tuan Puteri adalah majikan kami...kami akan layani tuan Puteri sampai kapanpun." Ayin tak bisa menahan keharuan. Amuk juga ikut mewek layak anak gadis sedang ancang-ancang berpisah dengan pujaan hati.


"Terima kasih...kalian pergilah kerja! Jika ada orang cari aku bilang saja tak ada. Majikan kalian belum pulang. Bilang itu saja!"


"Baik tuan Puteri. Tuan Puteri istirahat saja. Semua serahkan pada kami."


"Pergilah!"


Keduanya mengundurkan diri dengan sopan. Tinggal Ashura merenungi nasib jadi korban raja. Segala janji setia hanya menempel di bibir. Jumpa yang baru langsung lupa pada yang lama. Ashura sudah lihat sifat asli Fu Yen sampai tega biarkan dia kelaparan semalaman hanya karena dapat wanita baru. Sungguh laki kejam.

__ADS_1


Tak ada guna Ashura jungkir balik demi bela Fu Yen. Kini raja itu tak penting lagi buat Ashura. Dia hanya perlu bongkar kebusukan Ning Fei serta beri cara cocok tanam pada rakyat. Selanjutnya minta pada Shu Rong izinkan dia pulang ke tempat asalnya. Artinya tugas Ashura sudah kelar.


Sampai malam tak ada kabar tentang Fu Yen. Ashura makin kecewa pada lelaki itu. Ashura mengajar diri sendiri untuk tidak memikirkan Fu Yen. Dia saja tidak ingat Ashura untuk apa Ashura buang tenaga dan pikiran ingat laki itu. Lebih baik cepat istirahat lalu Galang semangat baru turun ke lapangan bantu rakyat.


__ADS_2