CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Hajar Puteri Munafik


__ADS_3

Fu Kuang menatap Ashura minta penjelasan. Jenderal lebih percaya pada Ashura yang lebih bijak dibanding dengan kedua Puteri dari dua kerajaan berbeda. Ashura hanya tersenyum tipis tak bela diri. Ashura tak mau banyak omong karena Fu Kuang punya mata untuk lihat kondisi bapak tua yang kena hajar oleh pengawal kerajaan.


"Dasar perempuan penuh dusta. Apa kau pikir seluruh warga sudah buta seperti hatimu yang hitam. Dikeluarkan dari tubuhmu kasih umpan sama harimau juga tak dimakan. Bau busuk..." Hwa Lien kembali berkata dengan lidah tajamnya. Puteri Tang mau membalas namun ditelan karena ada orang besar nomor dua di kerajaan ini. Habislah image Puteri yang lembut kalau dia balas Hwa Lien di hadapan orang besar itu.


"Jenderal percaya pada mereka? Mereka ini siapa sampai tega fitnah aku? Aku ini calon ratu kalian! Mana mungkin sakiti rakyat aku sendiri." ujar Puteri Tang sendu. Gayanya bikin orang kasihan pada seorang Puteri kena bully oleh dua gadis judes. Puteri ini sudah terbiasa bersandiwara dalam kehidupan sehari-hari maka tidak takut dibongkar kelakuan minusnya.


Ashura paling malas hadapi orang munafik begini. Gimana lah kalau perempuan ini jadi ratu. Rakyat pasti akan makin sengsara dapat ratu penuh kebohongan begitu. Kalau Fu Yen raja tolol maka jadilah kerajaan ini diisi oleh orang culas.


"Dia bohong....kami lihat dia suruh orang pukul bapak ini!" seru seorang anak tanggung tak tahan dengan sikap culas Puteri Tang itu.


"Betul... perempuan ini pembohong..." suara lain perkuat seruan anak tadi.


Dengung kebenaran terdengar sana sini memojokkan Puteri Tang. Orang sudah bosan lihat pembesar kerajaan asyik menekan rakyat kecil maka beranikan diri berontak. Perbuatan Puteri Tang sudah lukai perasaan rakyat yang memang sudah tertindas sejak dulu. Kini ada dua wanita pemberani pimpin mereka bersuara lantang. Kesempatan ini mana disiakan masyarakat umum.


Wajah tuan Puteri Tang kontan pucat pasi dihujat oleh puluhan orang. Mukanya yang pas-pasan makin pas jeleknya kena makian bertubi-tubi dari kalangan rakyat. Hwa Lien dan Ashura tertawa puas keadilan telah didengungkan saat itu juga.


Fu Kuang memahami situasi akan makin panas bila Puteri itu masih ngotot berada di tempat umum. Bisa-bisa dia dicaci lebih kasar lagi. Fu Kuang harus bertindak sebelum situasi tambah buruk.


"Antar tuan Puteri balik ke istana!" perintah Fu Kuang keras pada para pengawal.


"Tunggu dulu! Apa tuan Puteri yang mulia tidak minta maaf pada bapak ini dulu? Bapak ini terluka parah." Ashura tampil ke depan minta keadilan yang sesungguhnya. Ashura tak sabar ingin menantang wanita itu supaya Fu Yen tahu kalau calon ratunya adalah tukang jagal rakyat.


"Aku setuju perempuan sinting ini minta maaf! Jangan seenaknya beri perintah lalu mau cuci tangan seolah malaikat suci! Kau itu makhluk buangan dari neraka. Ayo minta maaf!" timpal Hwa Lien sejalan dengan Ashura paksa wanita itu minta maaf pada bapak tua korban pemukulan.


"Aku Puteri terhormat...minta maaf tak ada dalam kamus aku!" ujar Puteri Tang mulai perlihatkan ekor rubah jahat.


"Mau tuan Puteri...mau dayang maupun rakyat biasa. Kalau salah tetap salah. Berani berbuat harus berani tanggung jawab." Hwa Lien maju sampai ke depan tuan Puteri itu. Hwa Lien makin berani karena abangnya sudah ada di situ. Para pengawal takkan berani sentuh dia karena ada backing kuat.


Hwa Lien dan Puteri Tang saling berhadapan dengan ekspresi wajah sama-sama keras. Dua Puteri keras kepala mana mau mengalah satu sama lain. Fu Kuang dibuat bingung oleh tingkah para wanita yang lebih keras dari lelaki. Lelaki keras dala tindakan sedang kedua orang ini keras tengkorak.


"Anda calon ratu...apa kau pikir rakyat akan dukung ratu arogan macam kamu? Jangan lupa nona! Bukan cuma kamu jadi calon ratu! Masih ada tuan Puteri lain akan jadi calon kuat bila didukung oleh rakyat. Kamu hanya calon cadangan bila tingkahmu kayak orang tak punya etika." Ashura ikut maju sekak Puteri Tang agar sadar diri. Merasa dia paling kompeten jadi calon ratu maka semena-mena siksa rakyat. Ashura paling tak suka orang sok berkuasa.


Fu Kuang merasa Ashura sedang menguji keteguhan Puteri Tang ingin duduk di posisi tertinggi bagian perempuan di kerajaan ini. Ashura mau katakan Puteri Tang belum pantas jadi ratu.

__ADS_1


Puteri Tang perhatikan Ashura yang jauh lebih tenang dari Hwa Lien. Sinar mata Ashura yang lain dari yang lain membuat Puteri Tang bergidik takut menantang mata biru itu. Puteri Tang kalah mental lawan Ashura.


"Aku tak mau...kita jumpai raja minta keadilan untuk aku! Aku Puteri kerajaan minta maaf pada fakir miskin. Mau tarik di mana muka aku?" Puteri Tang gunakan nama raja untuk intimidasi Hwa Lien dan Ashura.


"Tarok saja di comberan...kau kira aku takut pada ancaman kamu? Jumpa raja? Ayok!" Hwa Lien santai saja diminta jumpai Abangnya yang lain. Hwa Lien mau lihat siapa yang dibela Fu Yen. Ini akan menunjukkan kualitas Fu Yen sebagai raja. Takluk pada wanita dakocan atau jadi raja maha Arif dicintai rakyat.


Puteri Tang tak sangka nyali Hwa Lien melebihi luas langit. Anak itu santai mau diajak pulang ke istana. Paling diceramahi sebentar lalu diminta merenung diri di dalam kamar seharian. Itu hukuman paling sering disangkakan pada Hwa Lien. Dia sudah kebal sama hukuman itu.


Fu Kuang merasa terlalu berlebihan kejadian ini sampai ke tangan raja. Kalau Puteri Tang mau ngalah dikit maka semua akan berakhir di sini. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa kalau semua setuju jumpai raja.


"Kalian pulang ke istana dengan kereta saja. Aku akan menyusul dari belakang." kata Fu Kuang pada Hwa Lien.


"Aku tak mau ikut kereta kuda orang gila. Nanti tertular virus gilanya. Aku pulang dengan kuda saja!" tukas Hwa Lien menolak numpang pada kereta yang dikendarai oleh Puteri Tang.


"Hwa Lien...Puteri Shu Rong tak bisa berkuda. Kau bisa berkuda sendirian masa mau tinggalkan Shu Rong sendirian?" kata Fu Kuang pelan.


Puteri Tang tercekat dengar nama Hwa Lien dan Shu Rong. Keduanya cukup terkenal di kalangan istana. Puteri Tang tak sangka jumpa di jalan begini. Terjadi kekacauan pula. Shu Rong juga digadangkan jadi calon ratu yang sangat kuat melebihi dirinya. Dia harus pakai trik jahat untuk musnahkan Shu Rong dari istana barulah dia bisa tenang duduk di posisi ratu.


"Terlambat...ayok kita jumpa raja! Bawa bapak ini juga agar kita punya bukti penjarakan wanita sinting ini. Ashura bersama kanda Fu Kuang saja ya! Numpang pada kuda kanda!"


"Kurasa kita tak perlu merepotkan raja dengan masalah kecil ini! Aku akan beri uang pada bapak ini untuk berobat. Kita anggap masalahnya selesai. Kalian bisa main sesuka kalian atau kita gabung cari kesenangan!" Puteri Tang mulai ramah setelah tahu siapa yang jadi lawan dia.


Hwa Lien buang muka tak mau layani orang bermuka dua macam Puteri stress itu. Tadi arogan setengah mati, begitu tahu siapa dia langsung semanis madu. Jangan-jangan sembunyikan racun di balik punggung siap hidangkan buat mereka! Hwa Lien tidak tertarik dekat dengan orang model gitu. Dia sudah punya Ashura yang jauh lebih keren dari Puteri gila. Hwa Lien mana tertarik gabung sama orang kurang akal itu.


"Baiklah! Kalau kau mau beri ganti rugi dan minta maaf maka kita tak perlu jumpa raja. Kalau kau mau perpanjang masalah ini kujamin kau tak aman tinggal di lingkungan istana." ancam Hwa Lien tidak main-main. Kuasa dia meliputi seluruh istana. Semua akan tunduk bila dengar Hwa Lien. Raja saja tak berdaya bila Hwa Lien sudah bertingkah.


Puteri Tang menghela nafas. Mimpi apa dia semalam jumpa Puteri seperti badak tak bisa dibujuk. Puteri Tang sudah terbiasa dimanja Mak tak senang bila ada yang lebih darinya. Namun untuk memuluskan jalan kuasai kerajaan ini dia harus merendahkan diri untuk sementara waktu ini.


"Baiklah! Pak tua...kalau pengawal terlalu keras padamu aku minta maaf! Aku akan beri kamu uang untuk berobat. Hei..berikan uang emas pada bapak tua ini!" Puteri Tang perintah dayangnya untuk beri uang pada bapak tua itu. Bapak tua itu tentu saja kegirangan diberi uang emas. Dia bisa beli banyak bahan makanan untuk keluarganya Perpanjangan masalah malah tak dapat apapun.


"Terima kasih tuan Puteri!"


Dayang Puteri Tang memberi dua keping uang emas kepada bapak itu dengan wajah masam. Anak buah dan majikan sama saja muka jelek. Tak ada keihklasan dalam pemberian ini.

__ADS_1


Bapak tua itu menerima dengan bahagia mendapat rezeki lumayan. Uang emas bahkan bisa beli lahan untuk bercocok tanam. Semua ini berkat pembelaan dua Puteri cantik kerajaan mereka. Bapak ini seharusnya berterima kasih kepada kedua putri cantik ini. Bapak tua ini mengangguk hormat kepada Ashura dan Hwa Lien atas kebaikan hati kedua Puteri mereka.


Ashura beri tanda agar bapak itu segera pergi jauh sebelum Putri Tang berubah pikiran mengambil kembali apa yang sudah diberikan kepada bapak itu. Orang model Putri Tang bisa saja berbuat anarkis karena telah merasa dilangkahi.


"Pulanglah pak! Obati lukamu ya!" kata Ashura lembut sambil menepuk bahu bapak itu tanpa rasa jijik menyentuh pakaian orang miskin. Fu Kuang yang kaget ada tuan Puteri tak segan bersentuhan dengan rakyat jelata. Biasa seorang putri akan merasa lebih tinggi daripada rakyat jelata maka mereka tak mau berdekatan dengan orang-orang miskin. Ashura memang luar biasa tidak memilih dengan siapa dia bergaul.


Ashura tersenyum melihat bayangan bapak itu perlahan menghilang di balik jalan. Hati Ashura merasa damai melihat ada satu orang terbantu walau harus dibayar mahal dengan luka di badan. Orang yang berkerumun bubarkan diri setelah mendapat akhir memuaskan. Dalam hati mereka memuji dua Puteri kerajaan mereka. Mereka bangga punya Puteri baik hati pantas dicintai rakyat.


"Sekarang kalian mau ke mana?" tanya Fu Kuang kepada para gadis yang masih belum ada keputusan hendak ke mana.


Ditanya begitu oleh Fu Kuang Hwa Lien malah menatap Ashura untuk ambil keputusan hendak kemana. Kegembiraan Ashura agak terusik untuk lanjut cari kesenangan. Ashura ingin balik ke istana dingin saja.


"Kita pulang saja ya!" ajak Ashura pada Hwa Lien.


Ajakan ini tentu saja disambut baik oleh Hwa Lien karena dia juga tak sabar ingin bermain dengan alat Ashura yang canggih. Lebih baik bertapa dalam kamar Ashura sambil belajar teknologi kekinian ketimbang keluyuran tanpa arah.


"Yok pulang! Aku mau berfoto cantik!" kata Hwa Lien bergelayut pada bahu Ashura dengan manja. Ashura mencubit hidung adik Fu Kuang dengan gemas tanda mereka bergaul akrab.


Fu Kuang senang Hwa Lien bisa akrab dengan Ashura. Hwa Lien itu orangnya susah didekati karena mulutnya setajam mata pisau silet. Jarang orang bisa lawan mulut tajamnya. Kini adiknya telah menemukan teman yang cocok jadi kawan main. Fu Kuang sangat lega untuk hal ini.


"Kalian pulang dengan apa?" tegur Fu Kuang karena tak lihat ada kereta sekitar situ.


"Pakai kaki...kanda tak usah kuatir soal kami! Pergilah betugas! Kami bisa urus sendiri." sahut Hwa Lien mengusir Fu Kuang secara halus. Hwa Lien takut Fu Kuang mau ikut ke istana Ashura. Ini akan mengganggu kegembiraan mereka.


"Aku ikut kalian ya!" ujar Puteri Tang tiba-tiba menawarkan diri gabung pada kelompok Ashura. Hwa Lien tentu saja menolak karena dia harus jaga rahasia Ashura dari orang luar. Makin banyak orang di sekitar rumah Ashura makin mudah terbongkar rahasia Ashura.


"Tak boleh...aku dan Ashura ingin bersenang-senang tanpa gangguan orang lain. Ok kami permisi.." Hwa Lien menyeret Ashura tinggalkan pasar tanpa peduli tatapan kecewa Puteri Tang. Hwa Lien tak suka orang arogan ikut dalam kelompoknya. Menurut Hwa Lien hanya orang berbudi luhur boleh berada di sekitarnya.


Tinggallah Fu Kuang dan Puteri Tang bengong karena kedua gadis itu sudah melaju tinggalkan mereka dengan langkah cepat. Ntah apa yang dikejar oleh kedua gadis itu. Yang penting mereka tak mau ada orang ikuti mereka.


Di dalam istana Fu Yen sedang membaca semua laporan harian apar pejabat mengenai perputaran roda pemerintahan. Laporannya semua baik saja seolah kerajaan dalam keadaan aman sentosa. Mereka tak tahu Fu Yen sudah banyak dari Ashura tenang kelicikan para pejabat hanya lapor yang baik saja biar Fu Yen terlena tak ingin keluar istana cari tahu kondisi rakyat jelata.


Kasim Du mengetok pintu ruang kerja Fu Yen dengan wajah cemas. Kasim ini baru saja dapat kabar kalau Puteri Tang berselisih paham dengan Hwa Lien di pusat kota.

__ADS_1


__ADS_2