CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Jenderal Kancil


__ADS_3

Fu Kuang menuntun Ashura masuk ke dalam istana setelah beri salam pada Fu Yen. Fu Yen urut dada tak bisa berbuat apa karena Fu Kuang hanya sekedar beri perhatian pada calon ratunya.


Sebelum masuk ke pintu gerbang Ashura balik badan kembali ke kereta teringat ransel dan hadiah dari pak tua belum terambil. Ransel Ashura adalah barang paling berharga karena di situ tersimpan semua surat ijin dan pasport untuk pulang ke kampung halaman di Indonesia.


Fu Yen dan Fu Kuang hanya bisa berdiam diri lihat apa yang akan dilakukan gadis lincah ini. Ashura loncat loncat senang setelah dapat barangnya. Gadis ini berlari lari masuk istana tanpa open pada kedua penguasa kerajaan.


Ashura sudah rindu pada Ayin dan Amuk. Dua hari tak jumpa serasa dua tahun. Ashura sadar ini terlalu lebay unjuk perasaan rindu hanya tak jumpa beberapa hari. Tapi fakta Ashura memang rindu pada Ayin.


Fu Yen mengajak Fu Kuang ke ruang kerjanya untuk bahas masalah kerajaan. Fu Yen tak biarkan Fu Kuang kuasai Ashura. Lebih bagus Ashura menghilang dari pandangan mata Fu Kuang. Fu Yen sangat tidak nyaman Fu Kuang hadir ke istananya. Sang raja yakin adeknya datang bukan untuk dirinya tapi gadis bengal mengiringi langkah Sang Jenderal ke sana.


Dalam ruang kerja suasana berubah resmi antara atasan dengan bawahan. Jalinan saudara untuk sementara ini terabaikan karena ada yang lebih penting dari sekedar basa basi. Kini yang dibahas adalah masalah bencana melanda kerajaan. Walau hujan sudah turun tapi rakyat tetap harus dapat bantuan untuk kelanjutan hidup.


"Silahkan duduk Jenderal!" Fu Yen persilahkan Fu Kuang duduk di bangku terbuat dari bati marmer. Ukiran batu sangat indah gambarkan sepasang naga sedang terbang mengejar bola api.


Naga adalah binatang lambang kemegahan orang Tiongkok. Setiap yang menyangkut naga pasti ada hubungan dengan negara yang mulai unjuk gigi di mata dunia. Kini Tiongkok menguasai pasaran dunia menyingkirkan negara adi daya Amerika. Hubungan Amerika dan Tiongkok cukup menguatirkan akhir akhir ini. Kedua negara super power siap berperang bila tak ada kesepakatan antara dua negara besar itu.


Kembali pada Fu Yen dan Fu Kuang. Keduanya diskusi tentang penanganan bencana. Fu Yen tugaskan Fu Kuang urus masalah pangan dan bantuan materi. Besok Fu Yen akan tekan semua jajaran pejabat untuk salurkan bantuan bagi tempat yang tertimpa bencana. Pejabat akan pura pura bodoh bila tak ditegur. Kekayaan ditimbun untuk perkaya diri sendiri.


"Kamu pantau gubenur Sinciang. Dia menekan rakyat dengan pinjaman bunga mencekik. Aku akan selidiki hal ini. Jika perlu copot saja dia. Kau keberi kuasa untuk hal ini." kata Fu Yen pada Fu Kuang sebelum jenderal meninggalkan ruang kerja sang raja.


"Baik Yang Mulia.." Fu Kuang menjaga suasana formal karena masih dalam tugas. Mereka harus memisahkan antara tugas dan masalah pribadi. Tugas negara lebih penting dari apapun. Sebagai keluarga kerajaan keduanya harus saling membahu majukan kerajaan.


"Kau sudah makan malam?" tanya Fu Yen lembut kini tampil sebagai abang pada adik.


"Belum..tadi rencana mau ajak Puteri Shu Rong makan bersama! Sudah berapa hari aku tak jumpa dia. Apa dia tak bikin ulah?"


"Kau kenal baik Shu Rong?" selidik Fu Yen mau tahu reaksi Fu Kuang. Ada desiran halus berbau asam dalam hati sang raja. Namun sebagai raja Fu Yen tak mungkin terangan tumpahkan rasa cemburu.


"Kenal..Shu Rong nakal tapi pinter. Jangan kau siakan dia di istana jadi wanita hanya tahu berdandan! Otaknya sangat bagus dibuat bantu cari solusi menyelesaikan masalah." Fu Kuang utarakan isi hati jujur cara memandang Ashura. Fu Kuang tak mau Ashura tamat jadi penghuni istana bodoh.


"Aku tahu..dia berani dan cerdas. Hujan turun berkat kegigihan Shu Rong mengajakku berdoa bersama. Aku terjun ke lokasi bencana juga berkat dia. Aku akan jadikan dia penasehatku." Fu Yen tak malu akui kehebatan Ashura.


Fu Kuang tertawa puas. Kalau Rajan mau angkat Ashura jadi penasehat artinya Ashura menolak jadi wanita sang raja. Hati Fu Kuang lega karena jalan meraih Ashura ke pelukan masih terbuka.


"Kenapa kau tertawa?" Fu Yen mengerut kening tak paham arti tawa Fu Kuang.


"Kau akan pusing oleh kenakalannya. Orangnya tak takut apapun tapi sangat lindungi orang yang dia sayangi. Kau tak jamu adikmu makan malam?"


"O iya..Kasim Du..sediakan makan malam. Ajak pengawal Shu sekalian. Anak itu pasti sedang kelaparan. Tukang makan dan tukang tidur." omel Fu Yen namun hati senang mengenang gadis bengal ini.


"Siap Yang Mulia." Kasim Du beranjak dari tempat menuju ke belakang.


"Abang tak berniat angkat Shu Rong jadi selir bukan?"


"Dia adalah gadis yang diantar ke sini untuk jadi ratu tapi dia menolak keras. Dia tak mau aku punya banyak wanita. Dia mau jadi ratu kalau kubebaskan semua selir. Ini mana mungkin.." keluh Sang Raja tak sembunyikan perasaan pada Fu Kuang.


"Apa rencanamu? Bebaskan dia pulang ke Chau atau biarkan dia memilih calon suami sendiri. Semua tergantung abang."

__ADS_1


"Aku belum tahu..untuk sementara aku akan biarkan dia berada di sisiku. Mana tahu dia berubah pikiran mau menerima para wanitaku. Dia selalu jijik padaku. Aku ini seperti bibit penyakit di mata Shu Rong." keluh Fu Yen sedih juga kesal.


"Ada kala seorang wanita memandang cinta kasih sangat tinggi. Cinta yang terbagi tak ada ketulusan. Yang Mulia harus bagi perhatian pada beberapa wanita hingga tak tahu yang mana betul betul ada di hati. Shu Rong merasa tak mampu bagi laki pada wanita lain itu wajar. Shu Rong orangnya sangat tulus."


"Kau benar..Beberapa bulan aku sudah harus pilih ratu. Aku bingung hadapi hal ini. Shu Rong terangan menolak jadi ratu malah lebih ikhlas jadi pelayan dari pada jadi wanita nomor satu di negara ini."


"Shu Rong bukan wanita istana yang gila nama dan materi. Dia sederhana tak banyak menuntut. Otak pinter dan berilmu. Waktu dia tak diberi jatah makan dari dapur istana tak mengeluh malah cari makan seniri. Dia ajak abdinya tangkap ikan di sungai. Hatinya terbuat dari emas." Fu Kuang sengaja omong gitu agar Fu Yen sadar tak semua wanita gila nama besar seperti wanitanya yang lain


Fu Yen teringat dia pernah larang dapur istana beri makanan pada istana dingin karena Ashura menolak jadi wanitanya. Ternyata hukuman itu tak berarti bagi Ashura. Dia mampu lewati tantangan tanpa heboh. Fu Yen makin yakin rebut perhatian Ashura.


Kasim Du dan beberapa pelayan bawa makanan untuk makan malam raja dan adiknya. Cuma pelayan yang datang tanpa gadis bengal.


"Mana pengawal Shu?"


"Katanya dia kurang enak badan. Dia sudah istirahat. Dia titip salam untuk Jenderal dan minta maaf tak dapat makan malam bersama." lapor Kasim Du sopan.


Fu Yen menghela nafas. Lagi lagi penolakan yang datang. Mengapa ada gadis sekeras batu di dunia ini. Di beri kemewahan malah nolak.


"Terserah dia saja! Ayok kita mulai adikku!" cetus Fu Yen berusaha menahan diri tak terpancing emosi di depan Fu Kuang. Andai Fu Kuang tahu dia sering persulit Ashura maka akan timbulkan gap antara abang adik ini. Fu Yen bukan tak tahu Fu Kuang inginkan Ashura juga. Malah kesempatan Fu Kuang lebih besar karena sang adik tak tertarik simpan banyak wanita sesuai harapan Ashura.


"Terima kasih kanda." Fu Kuang tak dapat berbuat apa apa karena ini di istana raja. Fu Kuang tak berhak melakukan sesuatu melawan hukum Kalau Fu Kuang hendak jenguk Ashura itu tak mungkin. Saat ini Ashura di bawah kendali sang raja.


Kedua abang adik makan tanpa suara. Mereka sibuk dengan pemikiran masing masing. Otak keduanya pasti sedang memikirkan Ashura yang tak mau ikut makan malam. Apa benar si bengal sakit atau hanya jual akal bulus lagi.


Seusai makan Fu Kuang minta diri. Jenderal ini langsung balik ke istananya jauh dikit dari istana utama. Sebagai seorang jenderal jarak segitu tak jadi soal. Jaga perbatasan yang lebih jauh tak masalah apalagi hanya jark beberapa mil. Fu Kuang janji besok akan datang jumpai Ashura.


Fu Yen tidak tenang dengar Ashura kurang sehat. Raja muda ingin lihat kondisi Ashura secara langsung tanpa perantara. Ashura baru basahan kena hujan besar. Mungkin saja gadis ini demam ataupun pilek.


"Kasim Du..kita lihat keadaan pengawal Shu!" perintah Fu Yen. Tanpa menunggu jawaban Kasim Du Fu Yen melangkah menuju ke kamar Ashura.


Kasim Du hanya bisa ikuti langkah Fu Yen tanpa daya. Kasim Du laksana bayangan Fu Yen. Ke mana sang raja berjalan di situlah dia.


Kamar Ashura sepi tanpa kegaduhan. Ayin juga tak tampak berjaga di depan kamar Ashura. Ashura mana mungkin minta abdinya bercanda dengan angin malam. Kesehatan kedua abdinya merupakan prioritas utama bagi Ashura. Pelayan juga manusia.


"Mana penjaga pengawal Shu?" bentak Fu Yen lihat depan kamar Ashura tanpa pengawalan.


"Maaf Yang Mulia..puteri Shu Rong melarang ada orang berjaga di depan kamarnya."


Fu Yen belalakan mata menahan amarah. Kasim Du cepat cepat membungkuk mohon ampun.


"Kau tahu dia puteri kenapa tak kawal baik?"


"Puteri Shu Rong usir semua penjaga. Ayin ada di dalam bersamanya."


"Dasar gadis bengal..Shu Rong..kau sehat?" seru Fu Yen tak peduli Ashura sudah tidur atau tidak.


Pintu kamar Ashura dibuka. Ayin muncul memberi hormat pada sang raja. Fu Yen mendengus angkuh sambil lirik ke dalam kamar cari sosok tengil itu.

__ADS_1


"Maaf Yang Mulia..tuan puteri sudah tidur. Badannya agak hangat jadi dia minta cepat istirahat." Ayin membungkuk sopan seperti biasa.


Fu Yen tak peduli sopan santun lagi begitu tahu Ashura memang kurang sehat. Fu Yen belum puas kalau belum lihat langsung kondisi Ashura. Fu Yen kuatir keadaan gadis yang telah menoreh kesan indah di hati.


Fu Yen menerobos masuk kamar Ashura tanpa ragu. Kesehatan Ashura sangat penting. Fu Yen masih membutuhkan saran Ashura untuk tangani masalah bencana alam. Gadis ini harus tetap sehat. Hati kecil Fu Yen juga tak rela gadis tersayang sakit.


Ashura meringkuk dalam selimut dengan mata terpejam. Nafasnya dikit berburu mungkin karena demam. Wajah cantik itu agak suram kusam. Mungkin karena cahaya lentera kurang terang atau memang Ashura lagi kurang Fit.


Fu Yen duduk di pinggir ranjang Ashura lalu menyentuh kepala Ashura. Fu Yen kaget karena badan Ashura memang panas membara.


"Panggil tabib!" seru Fu Yen panik. Tak disangka Ashura memang demam tinggi. Ini pasti terlalu lama kena air hujan. Daya tahan tubuh Ashura tidak kokoh hingga tumbang.


Kasim Du cepat cepat melaksanakan perintah raja. Andai terjadi sesuatu pada gadis kesayangan raja itu tak dapat dibayangkan bagaimana akibatnya.


"Shu Rong.." panggil Fu Yen lembut. Ashura buka mata lalu berusaha bangun. Fu Yen menahan Ashura untuk bangun. "Tak usah banyak adat. Kau sedang sakit."


Ashura tertawa kecil berusaha tegar. Ashura tak mau terlihat lemah di depan raja. Bermanja dengan alasan sakit bukan gaya Ashura.


"Tuanku sudah datang? Jenderal kancil sudah pulang?"


Dada Fu Yen serasa mau meledak. Ashura bukan kuatir penyakit sendiri malah tanya laki lain. Berhubung Ashura kurang sehat maka Fu Yen tak ambil peduli. Coba kalau Ashura sehat bisa bisa mengancamnya akan dipancung.


"Sudah pulang..kenapa kau tak lapor kalau sakit?"


"Sakit dikit lapor..hamba bukan model anak kelinci lemah. Tuanku tak usah kuatir. Shu Rong takkan mati sebelum mendapatkan keadilan."


Fu Yen termenung sesaat dengar kata kata Ashura. Apa maksud gadis ini tuntut keadilan. Apa yang telah terjadi pada gadis ini? Berbagai pertanyaan bermain di otak Fu Yen.


Sebelum Fu Yen hendak bertanya lebih lanjut Kasim Du sudah datang membawa tabib istana. Tabib langsung beri salam pada Fu Yen sebagai raja juga minta maaf harus menyentuh wanita raja. Adalah tabu lelaki menyentuh wanita raja. Bisa kena pasal berlapis, ujung ujung dipenggal.


Tabib memeriksa Ashura dengan teliti. Tabib itu memeriksa Ashura lewat sentuhan nadi. Tak ada yang dikuatirkan selain demam biasa. Mungkin Ashura kelewat lelah ditambah kena hujan cukup lama. Jadilah penyakit kambuhan.


"Tuan puteri hanya demam biasa. Minum obat juga sembuh. Hamba akan beri obat untuk tuan puteri."


"Kau yakin?" tanya Fu Yen tajam takut tabib salah analisa sakit gadis pujaan hati.


"Hamba yakin Yang Mulia. Istirahat sebentar takkan apa apa lagi."


"Baiklah! Kau bikin obat untuk tuan puteri. Obat terbaik."


"Siap laksanakan! Hamba permisi Yang Mulia." tabib mengundurkan diri bersama Kasim Du.


"Kau tak apa kan?" tanya Fu Yen masih kuatir


"Aduh nih raja! Cerewet amat! Tuh tabib sudah bilang hamba tak apa apa. Cuma masuk angin."


Ayin kaget Ashura berani sekali membantah kata kata Fu Yen. Lebih hebat Fu Yen tak marah pada Ashura. Fu Yen malah tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2