CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Ceramah Pagi


__ADS_3

Ashura tak tahu apa yang bakal dibahas setelah berhasil bedah senjata. Tugas mereka sekarang adalah jalankan mobil tank biar lebih mahir. Tak cukup sampai situ, mereka harus bisa gunakan semua senjata yang tersimpan dalam mobil tank. Ashura menyesal mengapa dulu dia tak masuk tentara saja biar ngerti soal perang. Namun siap bisa tebak nasib orang ke depannya. Mimpi sejuta kali Ashura tak sangka akan terdampar di waktu tak tepat. Namun ini semua sudah terjadi. Ashura tak berdaya untuk mengulang waktu. Dia hanya bisa jalani saja yang dia lalui hari ini.


Fu Yen, Fu Kuang dan Paman raja duduk di kursi lega sudah mendapat jawaban dari benda aneh dari masa depan. Daya rusak benda tersebut sungguh luar biasa. Tentara kerajaan Tang bukan lawan mereka lagi. Apalagi sekarang mereka punya senjata ampuh yakni mobil baja.


Fu Yen merasa punggungnya telah ada penyanggah kokoh untuk maju lawan kerajaan yang lebih besar. Keberanian Fu Yen bangkit melihat fakta di lapangan. Mereka pasti menang bila mau taklukkan kerajaan manapun.


"Mulai besok kita latih pasukan kita. Pilih yang benar-benar setia agar rahasia kita tidak bocor keluar." ujar Fu Yen seolah dia yang paling ngerti soal perang.


"Kita pecahkan dulu misteri semua senjata baru latih pasukan. Aku sudah pilih beberapa ratus pasukan aku yang setia. Mereka adalah orang kepercayaan yang siap mati. Kurasa makam ini cukup sekian. Kita semua sudah lelah. Kita istirahat." Fu Kuang kembali perlihatkan kewibawaan tidak memerintah tanpa perhitungan. Dia harus pandai mempertimbangkan untung rugi melatih pasukan sementara dia sendiri belum menguasai senjata itu.


Ashura makin kagum kepada kepintaran sang Jenderal. Kalau sudah begini sang raja rasanya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan jenderal. Sang raja hanya tahu bicara di dalam istana sedangkan sang Jenderal langsung terjun ke lokasi melihat kekejaman perang.


"Kurasa apa yang dikatakan jenderal itu benar. Malam ini kita semua sangat lelah. Lebih kita istirahat simpan tenaga untuk esok hari." Ashura setuju pada usul Fu Kuang. Hari ini semua sudah sangat lelah.


"Baiklah! Kita istirahat."


Ashura segera bangkit tinggalkan tempat pertemuan untuk bergabung dengan Hwa Lien menghabiskan malam menyingsing fajar esok. Diteruskan juga tidak ada membawa hasil maksimal karena pikiran sudah pada capek. Hari baru semangat baru.


Malam berlalu begitu saja memanjakan tubuh yang pada penat itu. Fu Kuang yang paling lelah karena semua terpaku pada kepintaran jenderal itu. Ashura harus akui kalau sang Jenderal memiliki talenta yang luar biasa. Andai kata Fu Kuang dilahirkan di zaman moderen pasti akan jadi orang hebat. Dengan peralatan minim saja dia bisa memimpin pasukan berlaga di Medan perang. Apalagi kalau sudah dilengkapi peralatan perang canggih. Laki itu pasti akan jadi juara di Medan laga.


Kicauan burung bersahutan membangunkan Ashura dari tidur nyenyak. Udara pagi yang sejuk berlomba-lomba masuk ke dalam melalui ventilasi udara yang sangat sederhana. Tentu saja belum ada kaca untuk menahan hawa dingin menggigit tulang. Udara sekarang makin dingin karena tak lama lagi akan musim dingin. Dedaunan mulai rontok nyaris botak di musim gugur ini. Bunga-bunga akan layu menunggu musim semi mendatang.


Ashura melirik ke arah samping melihat sosok bandel masih bergulung dalam selimut. Ashura tak tahu jam berapa Hwa Lien tidur. Menurutnya game yang di mainkan makin seru makin tingkat kesulitan makin menanjak tinggi. Hwa Lien makin tertantang untuk memenangkan permainan itu.


Ashura menepuk pantat Hwa Lien agar cepat bangun. Mereka masih punya tanggung jawab harus pergi ke tempat pelatihan senjata. Mereka mesti secepatnya rampungkan pelatihan untuk menahan serangan pasukan kerajaan Tang. Waktu mereka sangat singkat karena cuma ada waktu satu bulan.


"Alien...bangun!" Ashura mengguncang bahu Hwa Lien perlahan supaya gadis itu tidak terkejut. Ashura masih punya perasaan tidak berbuat kasar pada wanita muda ini. Harusnya Ashura keras dikit biar Hwa Lien cepat bangun. Namun Ashura tak tega lakukan hal itu.


"Ayam belum berkokok putri cantik! Masih malam." Hwa Lien menarik selimut tutupi wajahnya ogah menatap Ashura.


"Kokok apa lagi? Suaranya sudah habis bangunkan kamu. Malu tuh sama burung di langit. Mereka saja sudah mencari rezeki untuk sarapan anak mereka. Kamu ini putri raja harus lebih rajin dari yang lain."


"Putri raja apa? Kamu saja jadi putri raja. Aku masih ngantuk." sahut Hwa Lien tanpa menyingkirkan selimut dari wajahnya. Gadis itu masih betah berada di atas ranjang untuk istirahatkan otak. Otaknya agak panas di putar terus main game.

__ADS_1


Ashura menghela nafas hilang akal bangunkan putri bengal ini. Dibilang baik-baik belum tentu mempan maka Ashura keluarkan jurus terakhir sita ponselnya biar Hwa Lien tak bisa main game lagi.


"Ya sudah kamu tidur sampai malam saja. Aku pergi ke lapangan latihan bersama paman raja. Aku bawa ponselnya ya!" Ashura turun dari tempat tidur mencari benda pipih kesayangan Hwa Lien. Benda itu tergeletak di meja terpasang kabel power bank. Kelihatan main game sampai batere kandas baru berhenti.


"Jangan sentuh buah hati aku!" Hwa Lien terloncat bangun begitu Ashura bilang mau ambil ponselnya. Hwa Lien sudah klaim itu miliknya. Layar depan saja sudah terpasang foto wajah Putri nakal itu. Hwa Lien sudah kuasai benda canggih itu.


Ashura terlanjur pegang ponsel sambil tertawa ngakak. Ternyata jurus ini sangat ampuh untuk kerjain Hwa Lien. Gadis manja itu merebut tanpa peduli delikan mata Ashura. Ashura pura-pura marah Hwa Lien merebut benda itu secara brutal seakan tak ingin orang lain sentuh buah cintanya.


Hwa Lien mengelus body ponsel seperti mengelus benda pusaka. Ashura menggeleng paham kegilaan Hwa Lien terhadap ponselnya.


"Ayo bersiap sarapan!" ajak Ashura tidak open Hwa Lien kuasai barangnya. Ashura ikhlas bila benda itu jadi milik Hwa Lien. Di zamannya masih bisa beli puluhan model begitu.


"Aku bersihkan diri dulu. Badanku bau asem." Hwa Lien berlari buka pintu agar para dayang masuk untuk layani dia.


Tiga dayang sudah siaga di depan pintu menanti kedua putri itu bangun. Segala sudah dipersiapkan untuk kebutuhan kedua putri itu. Ashura tak cukup bila cuma cuci muka dan cuci mulut saja. Dia tetap harus mandi besar seperti mandi sore. Ini kebiasaan tak bisa dirubah walau udara masih dingin. Ayin sangat paham kebiasaan sang majikan maka air mandi sudah tersedia. Ashura tak buang waktu biarkan para cowok menunggunya terlalu lama. Hwa Lien hanya mandi pas foto. Bersihkan wajah tanpa mandi lengkap. Itu bukan kebiasaan Ashura hanya sekedar cuci muka. Ashura merasa belum bersih bila seluruh badan belum kena air.


Sarapan sudah tersedia di meja makan menunggu kedua putri ikut gabung makan pagi. Ketiga cowok sudah rapi dan keren siap lanjut bedah senjata. Ketiganya keren dan segar. Tak dapat disangkal kalau mereka pantas jadi keturunan raja punya aura tersendiri bila dibandingkan dengan laki lain.


Ashura melengkungkan bibir bentuk senyum manis sebagai ucapan selamat pagi buat para cowok. Senyum Ashura yang manis akan menambah citra rasa makanan di meja. Hati senang akan membuat semua ikut ceria walau sejuta tantangan masih menanti mereka.


"Harus dong. Makanan pagi ini sangat komplit. Pasti di antar Kasim Du ya?" Ashura maju meneliti setiap hidang di atas meja. Berkat adanya raja mereka bisa makan enak. Kasim Du pasti ingat kalau di istana dingin ini ada majikan beliau maka susah payah antar hidangan lezat. Coba kalau cuma mereka di sini. Satu gerobak sayuran di antar dari dapur istana utama umpan kedua putri itu.


Hwa Lien malas basa-basi langsung ambil sumpit comot makanan untuk manjakan mulutnya. Kepala mungil itu angguk-angguk senang bisa cicipi hidangan sesuai seleranya.


Ashura menelan air ludah terbawa selera melihat Hwa Lien mengunyah makanan seperti sangat enak. Ntah karena lapar atau memang sangat lezat. Rugi kalau tak segera mencobanya.


"Baru hari ini aku merasa punya keluarga. Biasa makan sendiri di temani para dayang. Sekarang bisa dengar kecapan suara makan keponakan sendiri. Rasanya senang bukan main." Chen Yang mengambil makanan ikut jejak Hwa Lien dan Ashura.


"Kita terlalu disibukkan oleh kegiatan masing-masing sampai lupa punya saudara. Untuk hari selanjutnya kita harus punya waktu untuk kumpul keluarga setiap akhir pekan. Semua keluarga kerajaan harus kumpul makan bersama. Semua harus ikut." Fu Yen juga merasakan suasana berbeda bisa kumpul bersama walau dalam kelompok kecil. Dia masih punya saudara lain dalam istana meski jarang bertemu.


"Setuju...Kita bisa ngobrol cerita suka duka selama jadi putri dan pangeran. Maunya kanda dengar semua keluhan kami. Menjadi seorang putri bukanlah hal membanggakan. Kami merasa seperti burung terkurung dalam sangkar. Semua tak boleh dan harus patuh pada perkataan ibunda ratu walaupun kadang jauh dari harapan kita." Hwa Lien ungkap isi hati sebgitu dapat kesempatan bagus. Hwa Lien ingin seperti Ashura punya pendirian sendiri tidak takut pada siapapun selama dia benar. Terbukti sang raja saja tunduk pada dia.


Fu Yen tertegun tak sangka adiknya tak suka menjadi seorang putri. Seorang putri hidup dalam kemewahan namuntak boleh berbuat sesuka hati dalam istana. Semua harus patuh pada perintah raja maupun ibunda ratu. Tragisnya tinggal tunggu waktu dipinang kerajaan tetangga. Ntah lakinya pincang atau buat tetap harus terima.

__ADS_1


Hwa Lien tak mau menerima nasib seperti itu. Dia mau suaminya kelak adalah lelaki pilihan dia sendiri. Tak perlu hidup mewah yang penting hidup bahagia.


"Aku rasa Hwa Lien itu benar. Hapus semua perbedaan wanita pria. Beri wanita kesempatan tunjukkan keahlian tersembunyi. Beri kesempatan mereka belajar seperti pria. Dan satu lagi. Hapus izin beristri banyak. Aku jamin negara kalian akan tenteram tanpa keributan sesama istri."


"Aku sudah berencana hapus poligami. Tapi aku tak tahu harus mulai dari mana?" Fu Yen belum juga makan karena kaget Hwa Lien berani bongkar keluhan dalam dada. Fu Yen kurang perhatian tak tahu kalau para putri tak bahagia kendatipun diberi segala kemewahan.


"Mulai dari atas. Yang Mulia mulai dari diri sendiri barulah merambah ke kalangan istana seterusnya ke pejabat baru turun ke rakyat. Kalau kalian di atas beri contoh buruk wajar kalau rakyat ikutan siksa wanita." Ashura beri pendapat.


Fu Yen angguk-angguk memahami maksud Ashura. Dia pemimpin maka semua harus dimulai dari dia. Kalau raja sudah beri contoh baik siapa berani membangkang.


"Baiklah! Aku akan laksanakan dalam waktu dekat ini setelah kita berhasil kuasai semua senjata."


Ashura dan Hwa Lien saling tukar senyum. Hari baik para wanita akan segera dimulai. Tak ada lagi penyiksaan wanita aku at banyak wanita dalam rumah tangga. Kata selir akan segera terhapus dari kerajaan ini. Raja tak ada selir siapa berani ambil selir lagi.


"Satu lagi yang mulia raja! Yang ketahuan selingkuh harus dipenjara dan dihukum cambuk. Tak peduli itu laki atau perempuan. Sama-sama harus tanggung hukuman. Hukum itu harus merata tak boleh hanya menancap ke bawah." Ashura kembali tegaskan hukum baru untuk mereka para penzina. Dengan berlakunya hukum ini mau lihat siapa berani main gila di belakangan pasangan resmi.


"Baik...aku akan buat peraturan baru untuk kesejahteraan rakyat." janji Fu Yen termakan usul Ashura.


"Satu istri pengeluaran suami jadi irit. Tak perlu pikir harus adil pada semua istri. Bukankah meringankan beban pikiran para laki?"


"Kau benar...sekarang habiskan sarapan kita segera melihat peralatan perang kita. Kita pergi dengan kereta kuda. Aku sudah minta Kasim Du bawa kereta kuda biar kamu nyaman."


"Terimakasih.."


Selanjutnya mereka makan habiskan semua makanan agar punya energi full latihan lagi. Hwa Lien paling rakus embat semua makanan ke perut seakan besok tak ada jatah makan lagi. Ashura tetap bersikap slow walaupun makanan di meja cukup menggoda selera.


Sebelum berangkat Paman raja berbisik pada Ashura untuk bawa ponsel satu lagi untuk dia berfoto ria. Paman raja tak mau kalah dari Hwa Lien menggunakan benda canggih itu. Cuma paman raja tidak segila Hwa Lien main game. Dia lebih suka shooting video dan berselfie ria.


Ashura tak keberatan penuhi harapan paman raja. Benda itu memang hampir jadi milik Paman raja. Cuma paman raja belum tahu pasang gambar dirinya di layar depan seperti Hwa Lien.


Ashura, Fu Yen dan Hwa Lien berangkat dengan kereta kuda sedangkan paman raja dan Fu Kuang mengendarai kuda berjalan di depan. Kali ini Alun dan Kasim Du ikut ke lokasi karena Fu Yen butuh kedua orang setianya itu. Alun yang bawa kereta kuda sedangkan Kasim Du duduk di samping Alun menerobos hutan belantara tempat pelatihan senjata.


Tempat itu sudah berubah dalam tempo semalam. Kini telah terbangun tenda-tenda menyimpan kotak-kotak senjata. Sekilas tempat itu lebih nyaman dan teduh. Hanya tiga buah tank baja masih tampak menyolok di mata. Ketiga benda besar itu sulit untuk disembunyikan.

__ADS_1


Kasim Du dan Akun terpana melihat hal luar biasa pagi ini. Sebelumnya mereka belum pernah melihat benda demikian. Tak sabar keduanya ingin menyentuh benda aneh itu.


__ADS_2