CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Pengumuman Pahit


__ADS_3

Fu Yen serahkan semua kepada mereka yang sakit. Mau berobat atau bertahan sampai ajal menjemput itu hak dan pilihan masing-masing. Fu Yen melihat di antara menteri banyak yang menunduk mungkin lagi memikirkan perkataan Ashura.


Ashura menundukkan kepala berbisik sesuatu pada Fu Yen agar laki itu umumkan hal tak kalah penting agar memutuskan mata rantai penyakit yang sedang mewabah dalam istana. Fu Yen angguk-angguk paham keinginan Ashura.


Walau berat hati Fu Yen harus umumkan hal penting ini agar tidak terjadi minus penduduk bila semua terjangkit penyakit ini. Yang paling kasihan adalah anak-anak yang terlahir cacat bila orang tua membawa penyakit ini. Warga belum tahu betapa bahayanya penyakit ini. Satu-satunya jalan adalah kurangi kegiatan lakukan hubungan badan agar tidak menular lebih jauh.


"Aku ada pengumuman yang mesti dipatuhi oleh semua penduduk kerajaan ini tanpa kecuali. Dari dalam istana hingga ke rakyat jelata harus mematuhi semua peraturan ini. Kalau ada yang berani melanggar maka hukumannya adalah hukuman mati."


Semua kasak kusuk setelah mendengar pengumuman yang keluar dari mulut sang raja. Pengumuman apa yang demikian dahsyat bisa menghukum mati orang yang bersangkutan. para pejabat menanti dengan hati dak dik duk apa yang akan dikatakan oleh sang raja. Di dalam hati mereka berdoa semoga tidak menyangkut masalah materi karena sang raja sudah cukup menyusahkan mereka menguras isi peti.


Fu Yen menanti kalau ada yang mau ikut sumbang suara. Namun para pejabat memilih diam maka tepat saatnya Fu Yen to the points.


"Kita sebagai pemimpin rakyat maka peraturan baru ini harus di mulai dari kita. Aku umumkan tidak boleh ada poligami di kerajaan ini. Satu laki hanya boleh satu isteri. Ini untuk menjaga kesehatan pasangan suami isteri dan kesejahteraan anak-anak. Kalau yang sudah terlanjur punya selir maka bebaskan para selir kalau ingin hidup merdeka. tidak ada yang boleh menyimpan banyak selir di dalam istana lagi. Kalau ada yang berani melanggar peraturan baru ini aku tidak akan segan-segan menghukum mereka dengan hukuman yang telah aku tetapkan yakni hukum mim mati."


Wajah para pejabat pucat pasi heran pada peraturan yang menghentikan kesenangan mereka untuk cicipi daun muda. Istri mereka yang pertama tentu saja sudah seumuran dengan mereka dan tidak menarik lagi. Setiap dua tiga bulan mereka akan mengambil wanita muda yang miskin untuk dijadikan selir jadi pemuas nafsu mereka. Kini sang raja telah menghentikan kesenangan mereka otomatis mereka tidak bisa bersenang-senang lagi.


"Yang mulia...dari zaman dulu kita laki berhak memiliki banyak selir untuk membantu anak gadis dari keluarga miskin. Taraf hidup mereka pasti akan lebih baik ketimbang hidup di gubuk." perdana menteri tampil lagi ke depan untuk bela nafsu bejat para laki.


Ashura mendengus ingin merujak mulut Perdana menteri dengan satu bakul cabe rawit. Perkataan Perdana menteri sangat meremehkan nilai seorang wanita. Pak tua itu mengira tanpa pejabat para gadis tidak bisa hidup layak.


Ashura hendak tampil memaki perdana menteri namun ditahan Fu Yen. Fu Yen takkan biarkan Ashura buat onar di ruang rapat. Fu Yen bukannya tak tahu kalau Ashura akan keluarkan kalimat pukul mental sang menteri. Takutnya nanti Ashura akan membangun jembatan konflik dengan perdana menteri. Kini belum saatnya mencari kesalahan perdana menteri.


Ashura buang muka jengkel pada raja yang melarangnya lampiaskan rasa kesal. Tapi Ashura tak bisa lampiaskan rasa kesal itu di depan para pejabat. Ini akan mencoreng wajah Fu Yen sebagai raja. Mana ada raja dimarahi penasehat kerajaan.


"Kurasa kita harus merubah pandangan kita terhadap wanita. Banyak wanita di kerajaan ini jauh lebih pintar dari kita sebagai lelaki. Cuma karena mereka tak dapat kesempatan maka kepintaran mereka hanya bisa mengendap dalam rumah. Terlebih lagi kita telah menutup kesempatan mereka untuk belajar lebih banyak maka aku umumkan semua wanita boleh ikut sekolah setara dengan lelaki. Mereka berhak memilih jalan hidup mereka. Kita harus berpikir lebih moderen agar lebih banyak orang pintar menyumbang pikiran pada negara."


Ashura bersorak gembira Fu Yen telah keluarkan kebijakan jauh dari bayangan dia. Ternyata pikiran Fu Yen telah terbuka setelah lama ngobrol dengan Ashura. Ashura adalah inspirasi Fu Yen untuk beti kebebasan pada wanita untuk berkarya. Ashura ingin sekali beri hadiah kecupan di pipi buat sang raja. Namun kegembiraan itu hanya tersimpan dalam dada.


"Yang mulia...ini akan melukai hati para lelaki. Dari zaman dulu kita lelaki adalah pemimpin. Kita tak boleh biarkan makhluk lemah berdiri sejajar dengan kita. Ini melanggar tradisi leluhur kita. Kita bisa dikutuk oleh Yang maha kuasa." seru perdana menteri berang.

__ADS_1


Di mata para pejabat Fu Yen telah berubah total. Fu Yen bukan raja yang patuh lagi. Fu Yen justru keluarkan kebijakan yang di luar akal sehat mereka. Pertama melarang poligami dan sekarang mau angkat derajat wanita. Kelak wanita pasti akan kuasai kerajaan karena telah punya pendidikan.


"Itu hanya tradisi bukan peraturan. Aku yang menjadi penguasa maka berhak beri keadilan pada seluruh rakyat tanpa beda laki wanita. Semua warga sama di mata aku. Mulai besok kedua peraturan ini berlaku. Kalau ada yang menentang silahkan datang padaku! Aku telah lelah mau istirahat. Rapat kita bubar." Fu Yen langsung bangkit tanpa beti kesempatan pada para penjabat untuk berdebat dengannya. Sakit kepala sang raja dengar sejuta ocehan tidak rasional. Berbincang dengan Ashura lebih rasional karena wanita muda itu telah buka otak Fu Yen untuk lebih maju.


Kasim Du dan Ashura cepat-cepat mengejar langkah sang raja sebelum sang raja menghilang dari pandangan mata. Ashura pingin beri hadiah kepada Fu Yen berani buat gebrakan baru majukan seluruh rakyat tanpa pilih gender. Ashura jamin bakal muncul wonder woman di kerajaan.


Fu Yen kembali ke istananya dengan hati lega. Selama ini dia selalu takut melukai hati para pejabat takut kehilangan dukungan. Tapi dia sudah punya pasukan elite akan kawal dia lebih kuat lagi sebagai raja. Untuk sementara tak ada yang perlu ditakuti oleh sang raja. Fu Yen juga merasa dia harus tegas sebagai pemimpin. Dia yang berkuasa di kerajaan mengapa harus mematuhi para pejabat yang jelas-jelas mementingkan diri sendiri.


Setelah berada di dalam ruang kerja sang raja Ashura segera menuangkan air teh untuk sang majikan. Senyum manis menghiasi wajah cantik Ashura yang puas dengan ketegasan sang raja terhadap para pejabat.


Ashura tak tahu kalau tadi Fu Yen sudah ketar-ketir takut ada bantahan berantai dari pejabat. Untunglah Fu Yen tak beri kesempatan pada mereka untuk banyak utarakan pendapat. Kini tinggal bagaimana pelaksanaan di lapangan.


Ashura acungkan jempol sambil duduk di samping Fu Yen. Dengan manja Ashura mencekal lengan baju Fu Yen lalu goyang-goyang seperti anak kecil minta sesuatu.


Fu Yen melirik ujung bajunya dalam genggaman jemari Ashura. Hati Fu Yen sangat senang Ashura kembali ke sifat nakal seperti dulu mau bermanja padanya lagi. Fu Yen berpikir setelah tahu status Ashura semua akan berubah. Ternyata tidak. Ashura tetap Ashura yang bikin Fu Yen tersenyum sendiri.


Fu Yen mendehem sok jaim. Kalau dia ikutan larut dalam euforia maka Ashura akan besar kepala dan makin bully dia sebagai raja. Mahkotanya tak berarti buat Ashura.


"Apa maumu nona kecil?" akhirnya Fu Yen tak sabar tanya mau Ashura.


"Ngak ada...tak kusangka rajaku demikian keren. Aku salut padamu." Ashura bunyikan decak mulut ntah ngejek atau muji.


"Kamu ini...kamu yang ngasih saran sekarang ngejek. Kau tahu aku ngeri bayangkan rapat tadi terjadi keributan."


"Gitu saja takut...ini baru raja dunia! Harusnya dari dulu yang mulia tegas kayak begini. Kan keren! Omong-omong aku lapar. Ada makanan?"


Kasim Du tersenyum simpul tidak heran Ashura minta makan. Seluruh energi gadis ini sudah tercurah pada acara rapat. Perutnya pasti sedang berontak minta diisi.


Fu Yen beri kode kepada Kasim Du untuk layani penasehat istimewa yang telah bikin hidup raja berubah total. Ashura cuci otak Fu Yen jangan terpaku pada tradisi lama bila ingin kerajaan lebih maju. Hati Ashura lagi bahagia mau luapkan rasa bahagia itu dengan mengisi perut dengan penuh. Tak peduli lemak akan bertimbun di bawah kulit. Sekali-kali mungkin tak jadi soal.

__ADS_1


Fu Yen temani Ashura makan untuk menyenangkan gadis yang telah banyak membantunya membentuk kerajaan solid. Pengetahuan Ashura sangat berguna bagi Fu Yen.


Sedang asyik mereka makan datang laporan kalau ibunda ratu sudah datang hendak jumpa Raja. Begitu dengar nama ratu akan datang Ashura angkat pantat dari bangku sebelah Fu Yen. Dia tak boleh umbar keakraban dengan raja di depan orang lain terutama konconya perdana menteri.


Fu Yen segera keluar menyambut kehadiran wanita paling berkuasa saat ini. Semua perkataan sang ratu harus dipatuhi oleh semua penghuni kerajaan. Fu Yen sudah tahu akal licik sang ratu namun untuk sementara Fu Yen harus tetap pura-pura tak tahu apa-apa. Sampai waktu semua akan terbongkar sendiri.


Sang ibunda dibimbing oleh dua dayang jalan ke arah Fu Yen dengan perlahan. Dari segi kesehatan ibunda ratu kelihatan sudah ada masalah. Jalan saja bertatih-tatih menaiki tangga ruang kerja sang raja. Fu Yen berdiri di atas dengan gaya wibawa seorang raja. Fu Yen tak boleh kalah mop dari ibunda ratu agar tidak ditekan lakukan hal tak disukai.


Ashura intip dari balik pintu tak berani ikutan menyambut kehadiran sang ratu. Di saat begini biarlah sang raja yang melayani ibundanya. Apapun yang akan dikatakan oleh ibunda ratu biarlah menjadi pertimbangan sang raja hendak laksanakan atau menolaknya.


Setelah sekian lama berjalan akhirnya ibunda ratu sampai juga di depan sang raja. Nafas ibunda ratu tersengal tersengal seperti sangat lelah untuk mencapai tanggal akhir di ruang kerja Fu Yen. Ashura tak tahu itu pengaruh kesehatan atau dimakan usia. Ashura bukannya tidak tahu kalau ibunda ratu juga terjangkit penyakit menular dari perdana menteri. Ashura tidak tahu sampai seberapa para penyakit yang diderita oleh ibunda ratu.


"Salam ibunda ratu... kenapa mendadak datang ke sini? Kalau ingin jumpa ananda cukup beri pesan pada dayang biar ananda yang datang ke tempat ibunda." Fu Yen membungkukkan badan disusul pengawal dan Kasim Du.


Ashura masih bersembunyi di balik pintu maka tak perlu repot membungkukkan badan mengikuti jejak para pengawal lain. Ashura juga enggan memberi hormat kepada wanita yang jahat itu. Tunduk kepada wanita itu sama saja mengakui kalau wanita itu adalah segalanya di kerajaan ini.


"Kalau ibunda tidak datang maka kamu akan lebih konyol buat kebijakan. Apa kamu mau kerajaan kita runtuh?" bentak ibunda ratu jelas telah mendapat laporan Fu Yen telah umumkan hal di luar kebiasaan kerajaan. Kalau dilihat dari gelagat amarah sang ratu pastilah kerjaan perdana menteri.


Seharusnya ibunda ratu bangga dengan kebijakan baru Fu Yen yang mengangkat derajat wanita. Kalau wanita disejajarkan dengan pria maka di kerajaan ini akan muncul pejabat wanita yang handal dan lebih bijak daripada lelaki. Bukankah itu suatu kebanggaan buat seluruh wanita yang ada di kerajaan ini.


"Ayok kita masuk ke dalam berbincang! Ibunda tampaknya kurang sehat. Wajah ibunda pucat sekali! Apa selama ini ibunda kekurangan sesuatu?" Fu Yen mengambil alih Ibunda ratu dari tangan para dayang.


Fu Yen dengan telaten membimbing ibunda ratu masuk ke dalam ruang kerjanya. Ashura yang tahu Fu Yen mau ajak Ibunda ratu masuk ke dalam segera menghindar dari pintu samping keluar dari ruang kerja sang raja. Ashura takut ibunda ratu menyalahkan dia gara kebijakan baru Fu Yen. Lebih baik cari aman sebelum kena semprot nenek penyakitan itu.


Fu Yen dengan hati-hati menempatkan ibunda ratu di bangku dekat tempat dia bekerja bila ada tugas negara. Dayang sang ratu ikutan bergeser dekat ratu jaga segala kemungkinan kalau sang ratu terjadi sesuatu.


"Ibunda mau minum teh?" tawar Fu Yen masih berusaha tenang. Dia tak boleh gugup di depan ratu supaya mampu lanjut kebijakan yang baru dia umumkan.


"Ah Yen anakku...kau ini raja yang bijak selama ini. Mengapa mendadak berubah teledor tak mau dengar nasehat perdana menteri lagi?"

__ADS_1


Akhirnya ekor rubah muncul juga. Persis dugaan Fu Yen kalau laporan ini berasal dari perdana menteri merasa wilayah amannya sedang diobrak-abrik Fu Yen. Banyak hal tak bisa dia lakukan lagi bila Fu Yen lakukan larangan poligami. Daun muda penghias malam akan layu semua.


"Ibunda...ibunda tahu kalau kerajaan kita sedang dilanda wabah penyakit kotor. Ini akibat terlalu banyak wanita digilir lelaki. Asal ibunda tahu kalau selir Ning Fei juga terkena penyakit menjijikkan ini. Untunglah kondisinya mulai membaik diobati oleh penasehat kerajaan. Kita harus memutuskan mata rantai penyakit ini dengan cara batasi hubungan intim."


__ADS_2