CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
GALI CERITA MASA LALU


__ADS_3

Ibunda ratu terdiam tak bisa omong apa-apa karena dia sendiri juga dalam masalah. Fu Yen sudah tahu kalau selir Ning Fei menderita penyakit menjijikkan ini maka pupuslah sudah harapannya untuk menjadi calon ratu masa depan. Satu lagi rencana ibunda ratu buyar. Fu Yen tentu tak mau calon ratu masa depan memiliki riwayat berpenyakit kelamin.


Ibunda ratu tak bisa menyalahkan Fu Yen bila menolak Ning Fei masuk jajaran calon ratu. Itu hak Fu Yen mengingat betapa bahaya penyakit kelamin.


"Anakku...kamu tak bisa cuma satu isteri. Siapa yang akan membantumu mengatur kerajaan bila kau sedang sibuk. Mesti ada beberapa wanita dampingi kamu. Ibunda rasa kau harus tarik kembali pengumuman yang telah kau sebar."


Fu Yen tersenyum kalem tak ingin menarik apa yang sudah dia umumkan. Kalau dia menarik apa yang sudah terludah maka Fu Yen akan kehilangan muka. Seorang raja mana mungkin bicara bolak-balik hanya karena tekanan dari seorang ibunda. Raja tetap harus konsisten meneruskan apa yang telah dia umumkan.


"Bunda....aku tak bisa bagi cinta kepada banyak wanita. Aku tak bisa adil maka aku pilih satu ratu tanpa selir. Kalau cuma satu wanita di dalam hidupku maka tidak akan terjadi perselisihan antara sesama wanita. Ibunda harus tahu kalau aku yang menyebabkan mereka berselisih maka aku ini sangat berdosa. Maafkan Ananda tak bisa menarik kembali pengumuman yang telah anda buat." tegas Fu Yen membuat seluruh otot ibunda ratu kontan menjadi lemas. Dasarnya dia sedang kurang sehat kini makin memburuk karena tak mendapat respon positif dari sang raja.


Ibunda ratu pasang wajah memelas seperti pengemis jalan tak makan seratus tahun. Mungkin sudah jadi mumi busuk kali seratus tahun tak makan. Bukan ibunda ratu namanya kalau tak desak Fu Yen lakukan apa yang dia inginkan. Semakin banyak selir di samping Fu Yen maka makin luas jaringan dia dalam istana. Ibunda ratu akan sodorkan saudaranya untuk duduk di barisan selir kelas atas. Jadi ratu mau pun selir agung.


"Kau rencana ambil siapa untuk dipersiapkan jadi ratu? Ibunda akan siapkan beberapa wanita untuk jadi selir bantu ratu kamu nanti." Ibunda pura-pura tak dengar penolakan Fu Yen tak mau angkat selir. Dia tetap berpendapat kalau sudah wanitanya Fu Yen mana mungkin menolak.


"Ananda belum terpikir mau ambil siapa. Sekarang kerajaan Tang kirim putri mereka untuk ikut dalam pemilihan calon ratu. Aku juga bingung. Dan lagi kita punya putri kerajaan Chau. Aku cuma mau ambil satu wanita temani aku hingga hari tua. Wanita dalam istana ini terlalu mengerikan. Ibunda harus tahu kalau mereka rata-rata kena penyakit menjijikkan. Untunglah aku tak pernah datangi mereka. Kalau tidak aku juga sudah tertular penyakit menjijikkan itu." Fu Yen sengaja berkata terus terang biar ibunda ratu kalau Fu Yen sudah tahu permainan menteri gilir wanita muda dalam istananya.


"Kau dengar dari siapa mereka kena penyakit kelamin. Mereka selir kamu mana mungkin tidur dengan laki lain." tukas ibunda ratu masih ngotot tak mau putri dalam istana dianggap pembawa bibit penyakit.


"Ibunda pikir aku tak punya mata melihat dan kuping mendengar? Contoh Ning Fei... penyakitnya sudah parah sampai mengeluarkan bau busuk. Dari mana sumber penyakit sedangkan aku sehat. Dia itu main gila dengan pejabat istana. Hampir semua selir ku itu kena penyakit kelamin dan sumbernya dari tempat sama. Ibunda harus tahu kenapa aku tak mau datangi mereka. Mereka itu seperti perempuan murahan jadi selimut pejabat. Ibunda pikir aku buta tak lihat apa-apa? Besok mereka semua harus keluar dari istana jangan ada sisa." ujar Fu Yen wibawa tak mau tunduk pada ibunda yang menyesatkan dia saja. Sodorkan wanita penuh penyakit sama saja antar Fu Yen ke kurang kehancuran.


Ibunda ratu tergugu tak bisa jawab. Mau bela Ning Fei tak ada celah karena sudah terbukti Ning Fei mengidap penyakit menjijikkan itu. Ibunda ratu sendiri tak luput dari penyakit itu namun dia masih bisa bertahan karena masih minum obat walau tak ada gelagat membaik. Paling tidak dia bisa bertahan.


"Selama ini aku tak melihat kalau istana adalah sumber masalah. Aku mulai selidiki banyak hal menyimpang termasuk rencana pembunuhan putri Chau dan lagi kematian ibuku serta yang mulai raja terdahulu. Aku sudah temukan Kasim yang rawat yang mulia raja. Dia banyak cerita konspirasi dalam istana singkirkan raja yang berkuasa."


"Kasim Ang..bukankah dia sudah meninggal?" ibunda ratu tanpa sadar mengakui kalau Kasim yang layani raja terdahulu sudah meninggal padahal tak ada yang tahu ke mana Kasim itu menghilang.


"Kenapa bunda ratu tahu dia sudah meninggal? Apa ibunda tahu penyebab kematian ayahanda?" Fu Yen menyipitkan mata tak segan curigai ibundanya termasuk dalang kematian kedua orang tuanya.


"Aku tak tahu...aku tak tahu apa-apa." wajah ibunda ratu perlahan memutih saking kaget Fu Yen mulai ungkit kisah lama. Kisah yang telah berpuluh tahun berlalu.

__ADS_1


Ibunda ratu pikir Fu Yen masih seperti dulu tunduk semua perkataan ibunda ratu. Wanita paro baya ini tak tahu kalau Fu Yen telah kena cuci otak oleh Ashura. Otak Fu Yen sudah kena percikan moderenisasi dari Ashura.


"Aku akan selidiki sampai tuntas. Aku akan hukum semua yang terlibat kejahatan dalam istana. Tak ada pengecualian tak peduli itu siapa termasuk keluarga aku sendiri. Aku akan sayat daging mereka selembar demi selembar untuk umpan serigala hutan yang sekarang sedang mengamuk di hutan sana." Fu Yen menggeram bikin ibunda ratu makin pucat. Dunia wanita ini sedang rasa berhenti berputar Fu Yen buka kisah lama serta minta bayaran dari penjahat. Ibunda ratu termasuk dalang utama bersama perdana menteri maka tak heran dia takut setengah mati.


"Kamu omong apa? Bunda tidak ngerti." ujar ibunda ratu terbata-bata dihinggapi rasa takut tak terhingga. Tak terpikir sedikitpun kalau Fu Yen akan berontak berdikari di atas kaki sendiri.


Fu Yen tertawa pahit melihat ibunda ratu masih pura-pura tak tahu masalah. Dari gelagat wanita itu sudah buat pengakuan dia terlibat cukup dalam rencana besar dalam istana.


"Nanti bunda akan tahu. Dan satu lagi. Ibunda tak perlu bawakan aku wanita lagi. Aku akan pilih sendiri calon ratu aku. Dan yang sekarang sisa selir aku harus keluar istana besok pagi. Aku akan bekali mereka dengan sedikit harta agar bisa hidup layak. Tak ada yang perlu kita bahas soal pengumuman yang telah tersebar."


Ibunda ratu tak mau berkomentar lagi takut kesalahan dia akan makin terbongkar. Ibunda ratu harus pikir cara menyelamatkan diri sebelum disayat oleh Fu Yen sampai tingga tulang.


"Ah Yen...ibunda akan berdoa di kelenteng untuk keselamatan kamu sekalian antar semua wanitamu keluar istana. Ibunda hanya bisa berdoa untuk anak agar dilindungi oleh Dewata. Ibunda mohon pamit dulu." Ibunda ratu berjalan lunglai disambut para dayang yang sigap melayani sang ratu.


"Salam ibunda ratu... hati-hati di jalan! Aku akan atur semua selir bersiap pulang ke rumah masing-masing. Aku mau hidup tenang bersama orang yang kupilih." Fu Yen ikut bangkit antar ibunda ratu sampai di pintu istana.


"Jaga diri nak!" kata ibunda ratus sebelum menuruni tangga menuju ke kereta kuda yang sudah menanti. Hati ibunda ratu bagai diaduk centong gede. Tak karuan juga dilanda rasa takut Fu Yen akan melakukan sesuatu yang mengerikan bila ketahuan dia ikut terlibat dalam konspirasi menjatuhkan Raja terdahulu bahkan telah merenggut nyawa raja sebelumnya. Ibunda ratu terlibat dalam kematian ratu terdahulu.


Kehadiran Ashura mengubah takdir sang raja menjadi seorang raja yang berdiri di atas kaki sendiri. Kini Fu Yen telah menjadi seorang raja yang kuat dan kokoh berkat bimbingan Ashura.


Setelah kepergian ibunda ratu Ashura muncul kembali berdiri di belakang sang raja ikut melihat kereta kuda perlahan melaju pergi. Para dayang ikut dari belakang kereta kuda untuk kembali ke istana ibunda ratu. Selanjutnya ntah apa yang akan dilakukan oleh sang ratu untuk melindungi diri dari ancaman hukuman mati.


Fu Yen berdiri di depan pintu istana menatap kepergian ibunda ratu dengan mata kosong. Orang yang dia anggap pahlawan dalam hidup ternyata seorang perempuan licik halalkan segala cara untuk bertahan di istana. Apa yang mau dia kejar karena semewah apapun hidupnya tetap berujung kematian.


Angin bertiup kencang seolah ikut merasakan kesedihan Fu Yen bakal kehilangan seorang ibu lagi. Ibunda ratu jelas sedang bercanda dengan maut. Hukuman berat sedang menantinya bila terbukti ikut dalam konspirasi menjatuhkan kedua orang tuanya.


Ashura tak berani keluarkan suara ngerti Fu Yen berduka mendapat ibunda yang dia hormati tak lebih seorang pecundang. Kasim Du juga ikutan mematung menanti sang raja mengatakan sesuatu ataupun perintah. Acara lomba mematung berlangsung cukup lama sampai Fu Yen tersadar tatkala ada suara gemuruh di langit tanda akan turun hujan.


Langit turut bahagia berduka rasakan kesedihan penguasa kerajaan itu. Sebentar hujan akan basahi bumi memberi kesegaran pada tanaman mengisap air dari langit sebanyak mungkin. Tanaman akan berbahagia menikmati suguhan Tuhan penghilang dahaga tanaman.

__ADS_1


"Mau hujan ..." gumam Fu Yen balik badan mau masuk ke dalam ruangan. Begitu laki ini putar badan ternyata di belakang sudah ada penasehat konyol ikut mematung bersamanya.


Ashura kontan beri seulas senyum manis sebagai pelipur lara sang raja. Orang sedih diberi yang manis-manis akan hilang sebagian kesedihan dalam dada.


Fu Yen terpaku sesaat lantas balas senyum Ashura seraya menyentil kening gadis itu. Perasaan Fu Yen sedikit lebih baik dapat hadiah tak terduga dari penasehat konyol itu.


"Sakit tau.." Ashura meraba keningnya. Itu hanya kiasan ,ulit Ashura cari perhatian Fu Yen. Laki mana tega turun tangan kejam pada gadis pujaan.


"Masuk! Hari ini kita tak bisa latihan. Sebentar lagi mau hujan."


Ashura menatap langit yang bergelantungan awan hitam. Tak perlu pakai ramalan cuaca semua akan tahu sebentar lagi akan turun hujan lebat. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya menerpa orang yang dia lewati. Ashura merasa pipinya dingin kena sentuhan sang Bayu.


"Kita di rumah saja. Aku mau balik istana dingin." Ashura berniat angkat kaki dari istana Fu Yen mengingat Hwa Lien masih dalam istananya. Gadis itu jamin merepeti Ashura terlalu lama berada di luar istana mereka.


"Temani aku ngobrol dulu. Tunggu hujan reda baru kamu pulang. Aku takkan menahan kamu." Fu Yen menggandeng tangan Ashura masuk ke dalam ruang kerjanya. Ashura tak tahu kapan hujan reda karena hujan belum juga turun walau awan hitam telah tutupi langit.


"Hujan saja belum kapan redanya?" sungut Ashura memancing senyum Fu Yen. Kalau begini hilang sudah wibawa penasehat pintar. Yang ada hanya seorang gadis imut dan lucu.


"Tak sabar amat. Makan kamu kan belum selesai. Mau dilanjut?"


Ashura menggeleng tak berselera lagi. Makan sudah dingin mana enak disantap lagi. Fu Yen beri kode pada Kasim Du ganti makanan dengan kudapan ringan untuk menyenangkan Ashura. Gadis ini sudah sangat berjasa membantunya bangun dari mimpi buruk.


Kasim Du bungkukkan badan menerima titah sang raja. Laki jadian itu berlalu dari hadapan Ashura dan Fu Yen. Kini mereka cuma berdua dalam rumah. Para pengawal berdiri di luar ruangan mengawal sang raja dari luar. Ah Lun tak tampak di antara para pengawal. Ashura baru sadar kalau dari tadi Ah Lun tak ada bersama mereka.


"Eh...mana Ah Lun?" tanya Ashura begitu sadar minus pengawal raja.


"Ah Lun sudah minta izin ikut pasukan Fu Kuang. Dia seorang petarung hebat maka maka kuizinkan dia bergabung di sana. Kenapa? Terkesan pada pengawal aku itu?"


Ashura menangkap nada cemburu dalam suara Fu Yen. Raja bisa juga punya rasa cemburu padahal dia banyak wanita. Semua memuja sang raja sebagai dewa hidup. Fu Yen mana teringat seberapa banyak selir tersimpan dalam istana. Mungkin nama mereka saja dia tak hafal.

__ADS_1


"Sembarangan menuduh itu bisa dihukum pancung. Kita harus godok UU mengenai fitnah orang. Apalagi yang tukang fitnah itu penguasa tanah leluhur. Tidak cukup dipancung kepala, semua burung harus ikut dipenggal biar tak sembarangan berkicau." omel Ashura menyebabkan tawa Fu Yen meledak bahana dalam ruangan. Fu Yen telah mendapatkan kembali kebahagiaan seperti pertama jumpa Ashura. Ashura jadi penghibur di kala suntuk. Sayang mereka agak renggang karena status Ashura bukan sebagai putri Shu Rong lagi melainkan wanita pintar dari abad jauh ke depan.


"Kalau burung ajaib ikut dipancung punah keturunan aku. Tak ada penerus tahta kerajaan." Fu Yen kembali menyentil kening Ashura untuk hibur diri. Laki itu mendapat delikan tajam dari wanita muda pencuri hati.


__ADS_2