
Ashura membenarkan perkataan selir Ning Fei yang telah putus asa menanti waktu diangkat menjadi ratu sang raja. Bukannya mendapat posisi sebagai ratu malahan mendapat penyakit yang mematikan. Ning Fei sudah kapok untuk urusan dengan masalah kerajaan. Dia ingin segera pergi dari istana mulai hidup baru tanpa tekanan. Istana hanya tampak megah dari luar namun dalamnya penuh borok. Segala trik jahat bertebaran sana sini untuk pertahankan posisi aman di istana.
Untunglah Ning Fei jumpa Ashura mengetok kepalanya agar sadar bahwa istana bukan tempat teraman untuk berlindung. Segala kemewahan tak ada arti lagi bila harus menderita tekanan lahir dan batin.
Dayang Ning Fei menghidangkan teh untuk Ashura. Ashura tak tahu itu ada racunnya atau tidak. Yang penting niatnya baik pada selir Fu Yen itu kalau Ning Fei mau balas dengan kejahatan itu berpulang pada hati kecil wanita itu.
"Aku akan minta orang antar obat untukmu agar puluh tuntas. Kau bisa bawa obat itu untuk minum di luar istana nanti. Kau harus ingat kalau terkena penyakit ini lagi sudah tak ada obat." Ashura terpaksa mena menakut di seluruh itu agar menjaga diri di kemudian hari. Tidak sembarangan berhubung dengan badan dengan lelaki yang bukan pasangan resmi.
"Akan kuingat...terima kasih sudah mau bantu aku. Aku akan kirim undangan bila sudah kembali pada keluarga. Aku akan menceritakan semua kebejatan Perdana menteri kepada kedua orang tua aku. Aku tak sanggup lagi hidup begini menjadi budak dari lelaki tua itu."
Ashura angguk-angguk mendukung keinginan Ning Fei untuk terlepas dari tekanan perdana menteri. mungkin itu jalan terbaik untuk Ning Fei yang selama ini menjadi boneka dari ibunda ratu dan perdana menteri.
"Apa ibunda ratu tidak larang kamu keluar dari istana?" pancing Ashura mau tahu apa rencana ibunda ratu saat ini.
Ning Fei tertawa sinis dengar ibunda ratu disebut dalam obrolan mereka. Wanita penuh ambisi itu yang telah hancurkan hidupnya. Ning Fei tak mau bodoh tergiur nama besar berakhir sengsara.
"Dia juga pingin kabur karena begitu banyak dosa yang dia perbuat. Semua ini ulah ratu dan perdana menteri. Harusnya dia manusia itu dipenjara tanpa diberi makan biar tahu sengsara. Hukuman mati terlalu enak buat mereka." ujar Ning Fei penuh kebencian pada ibunda ratu.
"Orang yang berbuat dosa pasti akan mendapat hukuman setimpal. Kita lihat saja apa yang akan terjadi di kemudian hari. Yang penting sekarang adalah kamu menjaga kesehatan dan jangan terulang lagi kejadian yang tidak menyenangkan ini. Aku harus segera pergi karena ada janji dengan seseorang untuk melihat hasil pertanian. Semoga harimu bertambah baik dan kamu bertambah sehat." Ashura bangkit tanpa menyentuh minuman yang disuguhkan dayang Ning Fei. Ashura harus hati-hati karena belum mengetahui sampai di mana ketulusan selir itu. Bisa jadi selir itu dimanfaatkan oleh orang lain untuk mencelakai Ashura.
Ning Fei ikutan bangun mengantar Ashura sampai ke pintu gerbang istananya. Tatapan Ning Fei demikian sayu seakan minta tolong ingin terbebas dari tekanan orang yang mencari keuntungan dari kesengsaraan dia.
Ashura harus jumpai Shu Rong untuk mengabarkan perubahan cerita. Ning Fei memang terlibat dalam rencana pembunuhan Putri Shu Rong. Tak disangka kalau Ning Fei juga diperalat oleh ibunda ratu. Secara tak langsung Ning Fei juga korban kejahatan perdana menteri dan ibunda ratu.
Ashura segera balik ke istana dingin untuk jumpai Hwa Lien. Putri itu hanya tahu main game tak mau tahu apa yang sedang bergejolak dalam istana. Kadang Ashura menyesal telah perkenalkan teknologi canggih pada Hwa Lien. Ashura balik ke istana dingin diantar kereta kuda. Hanya ada dua pengawal kawal Ashura kembali ke istana dingin. Jalan ke arah Istana dingin agak jauh dari istana utama kerajaan. Tempat selir Ning Fei termasuk dalam lingkungan istana sedangkan Ashura selir buangan yang di tempatkan di daerah terasing.
Mendekati istana dingin yang sepi tiba-tiba muncul beberapa orang berpakaian serba hitam menghadang laju kereta kuda. Mereka menutup wajah dengan kain hitam untuk menutupi identitas mereka. Jelas sekali tujuan mereka adalah Ashura.
Kereta kuda terhenti secara tiba-tiba membuat kuda meringkik kencang. Kuda menaikkan kaki menyebabkan kereta berguncang hebat. Ashura yang berada dalam kereta kuda agak kaget karena guncangan hebat membuatnya nyaris terbanting ke lantai kayu kereta. Untung Ashura berpegangan pada tiang dinding kereta sehingga tidak terjatuh.
Perlahan Ashura intip apa yang terjadi di luar. Dari balik tirai kain penutup pintu kereta Ashura melihat di depan kereta ada beberapa orang serba hitam memegang pedang arahkan ke pengawal. Kedua pengawal Ashura tak mau kalah hunuskan pedang untuk lindungi penasehat kerajaan.
__ADS_1
Hati Ashura tercekat melihat ada tangan jahil ingin melenyapkan dia. Kalau disuruh bertarung lawan para pendekar Ashura mungkin akan kalah. Dia hanya bertarung lawan orang setara. Andai orang itu berilmu tinggi Ashura takkan mampu melawan. Cuma Ashura tak mau menyerah begitu saja jadi sapi siap dibantai. Sapi juga punya tanduk untuk bela diri.
Ashura mencari sesuatu untuk melindungi diri. Sesuatu yang bisa dijadikan senjata pelindung badan. Tak mungkin juga Ashura terima nasib mati konyol. Kalau dia mati di sini mana bisa kembali ke abad dia lagi. Gimana perasaan orang tuanya kehilangan anak kesayangan selamanya.
Ashura tidak menemukan apa-apa selain sebilah kayu yang menjadi penyanggah tempat duduk. Ashura tak ragu meraih kayu itu untuk jadi senjata. Ashura tak boleh berdiam diri menunggu ajal. Orang-orang itu pasti suruhan orang yang tak puas Ashura telah beri masukan pada sang raja. Mereka tentu ingin melenyapkan Ashura agar Fu Yen seperti dulu bisa diperintah lakukan hal sesuai keinginan para menteri.
Suara orang adu pedang terdengar sampai ke kuping Ashura. Nyali Ashura sedikit menciut tak yakin bisa lolos dari sergapan kali ini. Namun Ashura tak boleh berdiam diri menanti ajal tiba. Dia harus berusaha melawan sampai titik darah terakhir. Orang Indonesia pantang menyerah walau maut sedang mengintai.
Ashura memegang bilah kayu menanti kalau penyerang itu menerobos masuk ke dalam kereta. Ashura siaga lindungi diri sendiri. Coba kalau ada Fu Kuang di sini. Semua cepat teratasi. Fu Kuang berilmu tinggi bisa melampaui para penyerang. Laki itu pasti sedang repot melatih pasukan untuk berperang. Laki itu mana teringat pada penasehat yang sedang bercanda dengan maut.
Sebilah pedang tajam menerobos masuk dari balik kain membuat Ashura menjerit kecil. Sumpah mati Ashura kaget bukan main diserang dari luar. Reflek Ashura menghadang pedang dengan bilah kayu. Suara dua benda saling berbentur menimbulkan suara detak bukan Ting. Yang berbentur kayu dan besi tidak begitu keras. Ashura terpukul ke belakang tak sanggup hadang tenaga yang jauh lebih besar dari kekuatan dia.
Kalau begini terus Ashura bisa mati konyol. Gadis ini mencari jalan agar tidak terdesak tak bisa terlepas dari ancaman. Pedang yang kena tangkis kayu berusaha mendesak masuk lagi. Ashura tak punya jalan selain melompat dari jendela agar bisa cari cara lari atupun melawan. Berkat keahlian sebagai atlet Taekwondo dan wushu yang lentur Ashura berhasil keluar.
Pengawal Ashura tinggal satu karena yang satu sudah K O kena sabetan pedang tajam para penyergap. Ashura melihat pengawalnya tinggal satu berusaha menahan serangan penyergap yang terusan mendesak. Pengawal itu mulai tampak kelelahan menghadapi beberapa orang sekaligus. Ashura tidak bisa tinggal dia membiarkan pengawal itu berjuang sendirian.
Ashura sudah menduga kalaupun dia tidak berusaha dia tetap akan menjadi korban. Walaupun harus mati konyol tetapi dia telah berusaha. Ashura berlari kecil mendekati pengawal yang telah k o dan mengambil pedangnya untuk melawan para penyergap itu. Ashura angkat senjata meleburkan diri bersama sang pengawal.
Pengawal itu menjadi kaget melihat orang yang mestinya dia lindungi ikut terjun ke dalam kancah perkelahian. Konsentrasi pengawal itu menjadi terpecah karena harus melindungi Ashura yang tiba-tiba masuk ke dalam arena perkelahian.
Ashura bukannya ambil langkah seribu melainkan menyerang para penyergap itu. Untunglah Ashura memiliki dasar ilmu bela diri walaupun tidak sehebat para penyerang. Perkelahian tak seimbang itu berlangsung cukup sengit diwarnai dengan jatuh bangunnya Ashura menangkis senjata yang dihunuskan oleh para penyerang. Beberapa kali Ashura hampir terkena sabetan senjata tajam melewati leher dan tangannya. Masih untung Ashura lincah bisa menghindari sabetan senjata tajam itu.
Pengawal Ashura telah berkali-kali kena pedang lawan sehingga terluka sana sini. Ashura sakit hati melihat kesetiaan pengawal lindungi dia harus menerima luka lumayan parah. Di dalam keputusasaan Ashura ayunkan pedang babi buta tak mau tahu ada yang terluka. Ashura ingat kembali semua ilmu yang diajarkan oleh suhu Ashura. Di sini Ashura praktek sekuat tenaga sambil lindungi pengawal yang makin melemah.
"Pergilah tuan penasehat! Jangan hiraukan aku!" ujar si pengawal dengan suara yang makin melemah.
Ashura menggeleng dan memberinya senyum semangat agar tidak menyerah. Selama masih ada setitik nafas maka mereka tak boleh menyerah kepada kejahatan. Tuhan itu Maha adil pasti akan memberi mereka kekuatan untuk melawan para penyerang itu.
"Kita lawan bersama ya!" kata Ashura lembut sambil memapah pengawal itu.
Pengawal itu seperti mendapat doping dari perkataan Ashura dan berusaha bangkit kembali menghadap para penyerang. Keduanya saling melindungi melawan orang berbaju hitam itu.
__ADS_1
Para penyerang kembali bergerak maju ingin membacok Ashura dan pengawalnya. Mereka bergerak dengan cepat sambil mengeluarkan suara teriakan memekakkan telinga. Ashura sendiri sudah siap dengan pedang di tangan melawan sampai titik penghabisan.
Belum sempat para penyerang itu mendekati Ashura dan pengawalnya tiba-tiba muncul satu sosok bayangan putih langsung menyerang para penyerang sehingga terkapar di tanah. Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya bayangan itu mampu merobohkan beberapa orang sekaligus dalam satu gerakan.
Ashura dan pengawalnya melongo dan bersyukur tiba-tiba muncul orang membantu mereka. Siapapun orangnya pastilah orang yang membela kebenaran. Tidak hanya sampai di situ bayangan putih itu kembali menyerang para penyergap sampai mereka tidak mampu berdiri lagi. Bahkan ada yang tidak bergerak sama sekali kena sabetan sesuatu yang berada di tangan bayangan putih itu.
Mata Ashura menangkap kalau senjata yang digunakan oleh bayangan putih itu adalah sebuah seruling warna hijau. Ashura tak tahu ilmu apa yang digunakan oleh orang itu mampu menggunakan sepotong seruling untuk menyerang orang. Harusnya seruling itu patah-patah beradu dengan pedang yang tajam.
Para penyerang langsung kabur setelah bantuan Ashura tiba. Ada beberapa yang tertinggal tidak bisa berlari karena tak bergerak lagi. Ashura tak tahu orang itu sudah mati atau hanya pingsan. Ashura tidak terpikir sampai ke situ karena orang itu juga bukan orang baik-baik. Sedikitpun tidak pantas mendapat perhatian.
Bayangan putih bergerak lembut membalikkan badan ke arah Ashura dan pengawalnya. Kini Ashura bisa melihat bayangan itu dengan jelas. Ternyata bayangan itu adalah satu sosok pria sangat ganteng mirip oppa-oppanya Korea. Kulitnya putih bersih dan halus. Wajahnya bebas noda hitam dengan bibir merah segar.
Ashura yang cewek saja masih kalah total dengan lelaki itu. Lelaki itu sungguh luar biasa mampu membius orang dengan ketampanannya yang luar biasa. Ashura tak pungkiri terpesona oleh lelaki ganteng itu. Otak Ashura berputar ingat cerita film klasik zaman kerajaan yan sering dia nonton. Lelaki model begini adalah keturunan dewa langit yang dilempar ke bumi karena telah bersalah di kayangan.
"Nona...anda baik-baik saja?" tegur laki itu kalem menerobos relung hati Ashura.
Harusnya Ashura terlena mendengar suara yang sangat merdu itu. Namun Ashura terhenyak karena lelaki itu mengetahui dirinya seorang gadis bukan seorang pria. Saat ini Ashura berpakaian sebagai seorang penasehat yang tentu saja dianggap lelaki.
"Maaf...aku seorang pria. Apakah aku mirip seorang gadis?" Ashura tegakkan badan berlagak lelaki sejati.
Lelaki itu tidak membantah cuma tersenyum membuat hati Ashura meleleh. Gadis muda macam Ashura tentu saja terpesona bila melihat barang bagus yang memiliki kekuatan hebat.
"Oh...lelaki ya? Baiklah nona laki...apa anda tak apa?"
Ashura mendelik karena lelaki itu seolah sedang menggodanya karena menyelipkan kata Nona di dalam kata lelaki. itu sama saja lelaki itu tidak mengakui kalau Ashura itu seorang lelaki.
"Aku tak apa. Terimakasih pertolongan tuan pendekar. Suatu saat aku pasti akan balas jasa tuan pendekar."
"Aku menolong tanpa mengharapkan balasan jasa dari kalian. Kalian ini mau ke mana biar ku antar sampai ke tempat. Kelihatannya kalian ini berasal dari keluarga yang mempunyai kedudukan. Kereta kuda kalian seperti berasal dari istana raja. Apakah kalian termasuk kerabat kerajaan?"
Ashura memuji kejelian mata lelaki itu namun Ashura tak mungkin mengaku kalau dia termasuk anggota keluarga Kerajaan. Mereka baru kenalan dan belum mengetahui siapa lelaki ini sesungguhnya. Bisa jadi lelaki ini termasuk orang jahat yang ingin mengambil keuntungan daripada orang-orang dalam istana.
__ADS_1
"Aku bukan siapa-siapa istana raja. Kereta kuda di mana saja sama. Ada roda dan kuda. Memangnya ada kereta kuda tanpa kuda?"
Laki itu tertawa terbahak-bahak terbahak-bahak menanggapi perkataan Ashura yang dianggap lucu.