CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Paman Mata Keranjang


__ADS_3

Tak butuh waktu lama semua barang mereka sudah siap diangkut ke tempat yang dituju Ashura. Barang mereka tak banyak karena istana ini terkenal sangat miskin. Tak ada barang berharga yang menarik maling kecuali penghuninya yang jempolan.


Beriringan mereka masuk istana Fu Yen setelah melapor pada Kasim Du kalau Hwa Lien dan Ashura telah pindah ke belakang istana Fu Yen. Fu Yen tentu saja senang akhirnya gadisnya telah kembali dekat dengannya.


Fu Yen malah memberi bantuan untuk membersihkan tempat yang sudah lama tertinggal. Sedikit banyak pasti tertinggal debu dan sarang laba-laba yang kadang suka menyebalkan. Fu Yen turun tangan sendiri menyambut kehadiran wanita yang dia sayangi. Hwa Lien adalah adik tercinta sedangkan Ashura adalah selir tersayang. Keduanya adalah orang yang telah mengakar di dalam hati Sang Raja.


Kasim Du tak kalah senang sebab putri angkatnya telah kembali dekat. Kasim Du sudah rindu mau ngobrol panjang lebar dengan gadis pintar itu. Ashura pintar menyenangkan laki kesepian itu. Canda tawa Ashura selalu kena di hati.


Fu Yen kerahkan beberapa dayang untuk bantu Hwa Lien dan Ashura berbenah untuk menetap di istana Fu Yen. Berhubung barang mereka tidak terlalu banyak maka dalam sekejap mata semua barang mereka telah tersusun dengan rapi. Fu Yen ingin menempatkan beberapa ada yang baru di istana Ashura namun Ashura menolak. Ashura merasa tidak membutuhkan banyak daya karena mereka juga bukan tuan Putri manja yang selalu mengharapkan orang lain yang bekerja. Hwa Lien dan Ashura merasa lebih nyaman dengan dayang dan pengawal mereka yang sekarang ini. Tidak ramai namun menyenangkan.


Hwa Lien merasa lega berdekatan dengan raja. Pengawalan sekitar istana raja pasti lebih ketat dibanding dengan istana dingin yang tidak memiliki apa-apa. Hwa Lien dan Ashura tetap pilih tidur bersama seperti biasanya. Hwa Lien makin lengket sama Ashura mengingat kalau Ashura mampu mendobrak tradisi membosankan istana.


Raja prihatin lihat kedua wanita kesayangan tinggal di tempat sederhana. Padahal kalau Ashura mau Fu Yen bisa memberinya istana super mewah. Sayang Ashura pilih hidup damai tak ingin ribet.


Hwa Lien dan Ashura lega setelah lihat semua telah rapi sesuai harapan mereka. Kedua wanita muda ini tersenyum puas tidak menghiraukan kehadiran raja yang memantau mereka sejak tadi. Hanya kedua orang ini yang berani mengabaikan raja seolah Raja itu tak ada artinya bagi mereka. Di tempat lain sang raja di elu-elu dan dihormati bak seorang dewa turun dari langit.


Kadang Fu Yen kesal juga tak dianggap penting oleh Ashura. Namun Fu Yen sangat maklum sifat Ashura yang punya jiwa pemberontak sejati.


"Hei..sejak kapan raja dianggap angin lalu?" tegur Fu Yen lihat kedua gadis abaikan dia bercanda di atas ranjang.


Hwa Lien memajukan bibir mengerucut. Bibir mungil Hwa Lien persis bibir tikus sedang cari keju. Ashura malah seenaknya rebahkan badan saking lelah kejaran dengan waktu untuk pindah ke istana sang raja.


"Apa kanda tak tahu kalau Ashura diserang orang nyaris terbunuh. Untunglah datang paman Chen Long datang membantu!" lapor Hwa Lien. Hwa Lien gemas pada Ashura tak mau cerita kalau dia hampir kehilangan nyawa diserang orang. Mungkin Ashura punya nyawa rangkap. Sudah mati bisa bangun lagi maka santai saja hendak dibunuh.


"Ya Tuhan...kenapa sekarang baru cerita? Kau tahu dari kelompok mana berani ganggu orang istana. Dan kau Ashura! Kejadian sebesar ini kau anggap remeh. Apa kamu sudah bosan hidup?" Sang raja dekati Ashura yang tampak sangat tenang seolah tak pernah lalui peristiwa mengerikan.


"Aku juga tak tahu dari mana mereka. Tapi aku merasa pembunuh itu berasal dari kalangan pejabat yang kenyamanan mereka terganggu."


Sang raja duduk di samping Ashura masih tak terima orang yang sangat dia sayangi jadi target pembunuhan. Fu Yen berpikir keras siapa dalang utama rencana keji ini. Sebelum ada penyelidikan Fu Yen tak berani beri kesimpulan. Takut nanti malah salah menuduh orang.


"Kau tak apa Ashura?" tanya sang raja dengan suara yang sangat lembut. Fu Yen memberi perhatian bukan sekedar basa basi. Perhatian ini keluar dari lubuk hati.


"Tak apa yang mulia...untung tadi lewat paman Chen Long namun laki itu datang membawa kabar tak sedap. Dia datang dari jauh untuk halangi yang mulia sahkan rencana anti poligami."


Fu Yen heran kalau pamannya datang untuk hal ini. Pamannya itu terkenal Playboy cak badak yang tak tahu. Di istananya sudah ada berapa wanita menjadi selir dia sendiri juga mungkin tidak tahu. Mungkin puluhan bahkan bisa mencapai ratusan.

__ADS_1


Munculnya peraturan baru ini pasti membuatnya sangat kebingungan. Kebiasaan buruknya harus segera berhenti karena peraturan baru ini. Kalau dia melanjutkan kehidupan mengumpulkan selir maka dia telah melawan perintah raja. Untunglah Ashura duluan melapor maka Fu Yen punya persiapan menghadapi laki hidung pelangi itu.


"Biarkan saja! Aku akan hadapi dia. Sekarang kalian istirahat dan jangan sembarangan keluyuran sebelum ada hasil penyelidikan. Dan kau Ashura untuk sementara tak perlu munculkan wajah penasehat. Cukup kamu jadi putri Shu Rong dan pakai cadar ya! Aku pergi dulu urus penyelidikan."


Ashura mengangguk sadar ini untuk kebaikan dia. Fu Yen tentu tak mau ambil resiko Ashura jadi target selamanya.


Fu Yen tersenyum damai senang kali ini Ashura tak membangkang. Fu Yen tahu ini bukan sifat Ashura namun kali ini Ashura tak menyulitkan Fu Yen.


"Yang mulia jangan cerita apapun tentang peralatan perang kita. Kita belum tahu paman berada di pihak mana. Paman sudah lama berada di luar istana jadi lebih baik kita hati-hati." Ashura berkata sebelum sang raja pergi tinggalkan istana mereka.


Fu Yen agak tertegun mencerna omongan Ashura. Fu Yen belum tahu makna omongan Ashura namun Fu Yen tetap mengiyakan permintaan Ashura. Sekedar berjaga-jaga bukanlah hal jelek. Chen Long sudah lama tak pulang istana utama. Dia nikmati hidup senang di salah distrik jauh. Apa yang dia kerjakan di sana hanya dia yang tahu.


Ashura lega Fu Yen mau patuh padanya. Ashura curiga penyerangan dia ada hubungan dengan Chen Long. Tak mungkin laki itu muncul secara mendadak di tempat yang jarang dikunjungi orang awam. Istana dingin hampir tak ada yang mau datang selain orang yang diperintah oleh raja.


Fu Yen diantar kembali ke istana utama sambil menunggu kehadiran Chen Long yang konon katanya mau jumpa Fu Yen. Sang raja harus ada di tempat bilang dikunjungi oleh pamannya untuk hindari kecurigaan yang lebih besar. Ntah kenapa Fu Yen berpikiran omongan Ashura. Ashura tidak percaya kepada pamannya itu pasti ada alasan tertentu. Fu Yen harus percaya kepada insting tajam Ashura.


Dugaan sang raja sangat tepat karena begitu dia sampai di istana utama tak lama Kasim Du datang melapor kalau pamannya sedang menuju ke tempat sang raja. Fu Yen segera bersiap menyambut adik ayahnya yang datang berkunjung.


Fu Yen duduk di kursi di ruang kerja dengan wibawa. Walau yang dihadapi adalah pamannya namun Fu Yen tetap harus perlihatkan wibawa seorang raja. Posisi Fu Yen di atas Chen Long sebagai pemimpin kerajaan.


"Paman...kapan datang?" Fu Yen duluan menyapa pura-pura belum tahu kehadiran laki hidung belang itu.


Chen Long tertawa renyah lihat Fu Yen sudah tampak lebih dewasa serta lebih keren. Raut wajah Fu Yen terpancar kewibawaan seorang raja sejati. Chen Long harus akui kalau Fu Yen pantas jadi raja.


"Baru saja tiba. Tadi pulang ke istana untuk bersihkan badan. Apa kabar keponakanku yang ganteng? Tapi masih kalah ganteng dari paman kan?" Chen Long melontarkan gurauan segar untuk cairkan kekakuan antara mereka.


"Siapa bisa lawan lelaki terganteng seluruh kerajaan? Ayok silahkan duduk!" Fu Yen mengibaskan tangan persilahkan Chen Long ambil tempat di salah satu kursi tersedia.


Chen Long tak segan duduk walau yang dihadapi adalah raja. Orang lain hanya berani berdiri bila jumpa raja. Chen Long adalah paman maka punya hak duduk setara dengan raja.


"Kudengar kerajaan tambah aman dan makmur. Rakyat hidup dengan damai. Kamu berhasil jadi raja yang bijak."


Chen Long tak tahu semua ini berkat bantuan penasehat kerajaan yang songong. Semua ini jasa Ashura membangkitkan semangat petani serta seluruh lapisan masyarakat untuk hidup sehat. Fu Yen tak mungkin juga cerita pada Chen Long kalau kerajaan kedatangan tamu dari abad masa depan. Biarkan Chen Long anggap semua ini karena kepintaran Fu Yen.


"Ini berkat doa paman. Angin apa bawa langkah paman berkunjung ke sini. Aku merasa terhormat dikunjungi oleh paman."

__ADS_1


Chen Long menganggap ini moments tepat utarakan isi hati keberatan dengan kebijakan sang raja yang melarang poligami. Dia datang dari jauh untuk perjuangkan kehidupan poligami yang selama ini menjadi trend di istananya.


"Ah Yen...kenapa kamu keluarkan dekrit merugikan pamanmu ini? Satu persatu wanita di istanaku minta pulang ke rumah mereka. Gimana hidup pamanmu tanpa para wanita itu?"


Akhirnya muncul juga isi hati Sang paman yang hidung belang itu. Fu Yen tidak kecil hati walau diprotes langsung oleh pamannya. Kalau orang lain tinggal digiring ke tiang pancung karena membangkang titah sang raja.


"Pernahkah paman berpikir mengapa wanita dalam istana paman langsung minta pulang begitu peraturan berlaku? Itu karena mereka tak nyaman hidup seperti ayam dalam kandang. Semua ayam paman kurung dalam satu sangkar menunggu seekor ayam jantan membuahi mereka. Apa hidup mereka bahagia?" Fu Yen kontan sekak Chen Long yang tak tahu derita para wanita dijadikan pemuas nafsu tanpa cinta.


"Tapi mereka tidak pernah protes. Semua tampak senang dan bahagia. Aku banjiri mereka banyak hadiah."


Fu Yen menggeleng mematahkan semua argumentasi pamannya. Chen Long hanya beri perhatian sewaktu para gadis datang, setelah itu nama mereka akan pudar di hati Chen Long. Bahkan Chen Long tak bisa melihat mana selir dan dayang istana. Semua wanita sama di matanya. Punya sesuatu untuk puaskan dia itu sudah cukup.


"Paman beri hadiah sewaktu masuk istana. Setelah itu apa? Paman cari yang baru lagi. Yang sebelumnya tinggal tunggu mati kesepian dalam istanamu. Mungkin untuk menyalurkan nafsu mereka berhubungan dengan para pengawal kamu. Aku beri kebijakan baru demi kebahagiaan seluruh rakyat. Cukup satu laki dan satu wanita. Tak ada banyak biaya juga cemburuan yang datangkan petaka. Baru saja berlaku namun banyak wanita memilih tinggalkan istana serta para pejabat yang simpan segudang wanita. Coba paman pikir ini tanda apa? Artinya para wanita tidak bahagia walau menjadi wanita istana."


Chen Long bungkam seribu bahasa kena pelajaran dari Fu Yen. Chen Long heran dari mana Fu Yen berani ambil kesimpulan bahwa tak semua wanita bahagia dibawa masuk istana. Ternyata dalam kebisuan mereka simpan derita. Dipilih jadi wanita istana belum tentu bahagia. Jadi petani yang hidup apa adanya dengan satu suami isteri justru hidup damai.


Fu Yen lihat pamannya tak bisa jawab langsung lanjut beri ceramah gratis kepada laki hidung belang itu. Ini kesempatan bagus cuci otak laki ini agar mengenal rasa cinta tulus. Bukan cinta semalam saja.


"Paman puas tapi pernahkah paman pikir gimana perasaan mereka yang paman campakkan setelah tak menarik. Cobalah paman pilih satu wanita lalu hidup damai dengan cinta tulus!"


Chen Long angkat kepada berbalik tantang Fu Yen. "Apa kamu punya cinta tulus?"


"Punya...aku cuma mau satu ratu tanpa selir. Aku tak mau ada orang mati konyol karena aku. Apa paman pikir hidup di istana surga bagi wanita? Justru mereka hidup dalam neraka. Yang masih hidup berpikir keras celakai saingan, yang lemah tinggal masuk kuburan. Apa itu sehat? Aku sudah keluarkan ratusan wanita dari istana. Semua berbondong-bondong cari hidup baru di luar istana. Banyak yang pilih hidup tenang bersama lelaki biasa. Tentu saja para pengawal mereka selama kesepian dalam istana. Mereka berselingkuh dengan pengawal."


Chen Long melongo tak pernah berpikir segitu jauh. Mungkinkah selirnya dalam istana juga selingkuh dengan para pengawal cari kehangatan yang tak dia berikan lagi? Mengapa hal ini tak pernah terpikir oleh Chen Long.


"Benarkah demikian?"


"Benar... Bahkan selir Ning Fei pilih keluar setelah kena penyakit kelamin mengerikan. Hampir saja nyawanya melayang."


Chen Long makin termenung tak sangka keadaan demikian gawat memaksa Fu Yen keluarkan dekrit yang dia anggap merugikan kaum lelaki. Kebanggaan lelaki adalah mampu nafkahi banyak wanita. Tak disangka efek dari semua itu luar biasa.


"Apa demikian hebat penyakit kelamin itu?"


"Luar biasa...kencing bernanah serta tubuh makin lemah. Daerah kelamin gatal semua. Apa paman raja mengalami hal itu?"

__ADS_1


Chen Long terhenyak sejenak ingat apa dia pernah rasakan penyakit yang konon memakan alat kelamin laki dan wanita. Dia pernah gatal-gatal daerah vital namun tidak sampai kencing bernanah seperti cerita Fu Yen.


__ADS_2