CINTA MENEMBUS WAKTU

CINTA MENEMBUS WAKTU
Raja Pujaan


__ADS_3

Ashura puji ketegasan Fu Yen urus masalah selir yang sangat kusut. Ternyata Fu Yen bukan penjahat cinta seperti dugaan Ashura. Laki ini berani katakan tak pernah gauli para wanita istana di depan umum. Artinya Fu Yen tak main main tangani hal ini.


"Yang Mulia anakku..kau seorang raja mana mungkin tak punya ratu yang akan lahirkan calon raja mendatang." Ibunda ratu mulai lunak karena ketegasan Fu Yen.


"Ananda perlu ratu tapi tidak sekarang. Ibunda lihat kehidupan rakyat kita yang penuh kesedihan. Ananda bersenang pilih ratu di istana penuh kemewahan. Apa ini adil buat rakyatku? Mereka semua adalah anak anakku. Ananda tak berhak larang para wanita cari kehidupan baru di luar istana maka ananda rela lepaskan semua wanita. Tahun depan kalau memang jodoh maka ananda akan pilih ulang selir dan calon ratu." Fu Yen mengedarkan pandangan ke seluruh ruang penuh wanita.


"Lalu bagaimana nasib selirmu yang sudah lama di sini?" tanya Ibunda ratu agak gelisah.


"Mau tinggal boleh mau keluar juga boleh. Ananda tak paksa berhubung mereka sudah lama di sini. Terutama selir Ning Fei. Semua kembali pada kalian cuma ingat hukum berlaku pada semua orang. Tak ada pengeculian."


Ibu Suri mangut mangut setuju omongan Fu Yen. Semua kata Fu Yen mengandung kebenaran. Saat ini adalah masa bagi mereka yang mau hirup udara bebas dari sangkar emas istana.


"Aku setuju semua pemikiranmu cucuku! Sudah saatnya menata para selir istana. Saranmu sangat bagus. Kita berhak lanjutkan hidup walau suami sudah meninggal. Aku ijinkan para wanita keluar istana." Ibu Suri ikut dukung Fu Yen tuntaskan harem harem istana yang hanya bikin bangkrut istana. Pengeluran makin bengkak saking banyaknya wanita minta jatah hidup yang rata dambakan kemewahan.


"Baiklah! Bagi selir ayahanda dan selir kanda lapor pada kasim Du. Dan calon selirku silahkan lapor pada penasehatku! Calon selirku wajib keluar istana sampai tahun depan."


Ashura mendesah bahagia dengar Fu Yen kasih sabda membantu dirinya. Fu Yen melirik Ashura yang senyam senyum senang bayangkan hirup bebas di luar istana.


"Di sini ada seorang calon selirku tak bisa keluar yakni puteri Shu Rong." tambah Fu Yen langsung hapus senyum manis di wajah penasehat raja.


Seluruh wanita istana langsung menatap Ayin yang menyamar jadi Shu Rong. Mengapa puteri dari kerajaan Chau ini ditinggalkan. Apa puteri ini akan jadi calon ratu mendatang?


Ashura ingin sekali ketok kepala Fu Yen yang semena mena kasih perintah. Di mana keadilan bagi seluruh wanita istana.


"Mengapa puteri Shu Rong tak boleh keluar istana?" terdengar suara tak puas dari sudut ruang.


Fu Yen menatap Ning Fei yang keluarkan kalimat pertanyaan itu. Wajar selirnya tak puas karena Fu Yen tak ijinkan Shu Rong pergi.


"Bukan tak boleh pergi tapi kita harus kirim berita pada kerajaan Chau biar jelas. Mungkin mereka akan jeput puteri mereka atau ijinkan puteri Shu Rong tunggu sampai tahun depan. Puteri Shu Rong adalah lambang perdamaian dua kerajaan jadi tak gampang biarkan puteri pulang ke negara Chau sendirian."


"Kau sangat bijak cucuku! Puteri Shu Rong tak boleh keluar istana sembarangan. Dia adalah aset kerajaan. Salah salah bisa terjadi perang dua kerajaan. Cukup sekian saja. Tak perlu perpanjang masalah lagi. Raja muda sudah bijaksana dan adil bagi selir selir istana. Semoga kalian semua berpikir jernih terhadap kebijaksanaan raja kalian. Lanjutkan hidup kalian dengan baik!" Ibu Suri perkuat kata kata Fu Yen. Ibu Suri sudah keluarkan kata siapa berani membantah lagi.


"Terima kasih pada pengabdian kalian semua. Istana bukan tempat cari aman tapi tempat bertanggung jawab pada rakyat. Menyandang gelar ratuku bukan untuk hidup mewah tapi hidup untuk rakyat. Semua pengeluaran tak penting akan dihentikan. Tak ada permintaan barang mewah lagi. Setiap orang akan dijatah berapa biaya hidup sebulan. Silahkan pikir sendiri jalan hidup kalian." lanjut Fu Yen langsung knock down mental pendamba hidup mewah.


"Anakku..kenapa kau berubah pelit? Wajar wanita damba barang mahal. Wanita itu sama saja dengan kemewahan dan keagungan raja." Ibunda Ratu mematahkan kata Fu Yen.


"Bunda..negara sedang kekurangan dana. Kalian foya foya uang negara bukankah sangat menyiksa rakyat kecil? Ananda takkan merubah kebijaksanaan hanya demi nama kosong. Cukup sekian. Kalian boleh bubar dan persiapkan diri untuk esok hari. Semua pilihan tergantung kalian."


Para selir bubar tanpa ada yang berani berkata. Masing masing pasti ada pilihan sendiri. Khusus selir Fu Yen harga mati harus keluar istana. Ini membuat beberapa puteri pejabat frustasi. Mereka sudah harap dipilih Fu Yen jadi ratu beberapa bulan ke depan. Siapa sangka Fu Yen berubah pikiran batalkan pemilihan ini.


Dalam sekejab ruang rapat jadi kosong. Tinggallah Ibu Suri serta beberapa dayang istana. Ibunda Ratu ikut pergi dengan hati kesal segunung. Rencana naikkan salah satu keponakannya jadi ratu gatot alias gagal total. Di mata ratu Fu Yen sudah gila gara gara bencana melanda negara.


"Ayen..apa kau rasa kebijaksanaan ini tak pengaruhi kedudukanmu di mata pejabat?" tanya ibu suri lembut.


"Nek..negara sedang perlu dana. Bertahun kita buang ribuan tael emas hanya biayai wanita istana. Mereka hidup mewah sementara rakyat hidup sengsara. Cucumu sudah langsung turun ke jalan lihat kondisi rakyat. Tak sebagus laporan para pejabat. Dan yang bantu cucumu adalah penasehat baru ini. Ayok kasih salam sama nenek!" Fu Yen menarik tangan Ashura turun dari mimbar agar beri salam pada ibu suri.


Ashura tahu diri cepat cepat membungkuk beri hormat. Ibu Suri menatap Ashura lekat lekat merasa heran mengapa bisa ada laki secantik Ashura. Ternyata Ibu Suri tak dapat lihat kalau Ashura bukan laki tapi gadis.


"Salam Yang Mulia Ibu Suri."

__ADS_1


"Bangunlah! Kau sangat manis enak dipandang. Dari mana asalmu?"


"Hamba.." Ashura tak dapat melanjutkan kalimat malah menatap Fu Yen minta bantuan jelaskan statusnya.


"Kalian semua keluar! Kasim Du jaga di pintu. Tutup pintu besar." perintah Fu Yen sebelum bantu Ashura menjawab. Fu Yen tak mau rahasia Ashura bocor dari mulut pelayan yang kadang tak bisa dipercaya.


Kini ruangan tinggal mereka bertiga. Fu Yen turun dari bangku raja langsung berlutut di hadapan Ibu Suri.


"Maafkan cucumu ini nek!"


"Ada apa nak? Kenapa takut pada nenekmu?"


"Ini adalah puteri Shu Rong yang sebenarnya! Cucu tak mau rahasia ini tersebar takut pihak lain celakai puteri Shu Rong. Maka cucu meminta Shu Rong nyamar jadi penasehat. Shu Ronglah yang bantu cucumu selesaikan masalah kemarau juga soal pajak negara. Dia anak pinter maka cucu biarkan dia berada di sisi cucu." Fu Yen berterus terang siapa sosok penasehatnya.


Ibu Suri agak kaget namun cepat kuasai diri. Tak disangka pria cantik ini adalah seorang puteri kerajaan Chau. Pantas sangat cantik. Dulu jumpa Ashura masih cadar sekarang Ibu Suri bisa saksikan wajah puteri cantik ini secara langsung.


"Kau cantik nak! Aku ini nenekmu! Aku suka padamu. Mulai sekarang panggil nenek seperti Ayen."


"Mana boleh panggil nenek!" kata Ashura sedikit lancang.


Fu Yen kaget dengar Ashura begitu berani melawan Ibu Suri. Nyali apa dipakai berani melawan orang teragung di istana. Raja saja segan pada ibu suri apalagi seorang gadis kecil.


"Oh?? Apa aku tak pantas jadi nenekmu?"


"Yang Mulia begitu cantik dan masih muda. Belum cocok dipanggil nenek." ujar Ashura pelan takut Ibu Suri marah.


"Lalu?"


Di luar dugaan Ibu Suri tak marah malah tertawa renyah. Tawa Ibu Suri lepas tanpa beban bikin Fu Yen menarik nafas lega. Tak disangka kata Ashura mampu buat Ibu Suri bahagia.


"Ya ampun cucuku! Baru kali ini ada orang berani bicara begitu padaku. Mulutmu sungguh manis. Aku suka padamu."


"Hamba hanya bicara jujur. Hamba tak rela Ibunda Suri yang maha cantik dianggap orang tua."


"Begitukah penilaianmu terhadap aku?"


Ashura mengangguk tanpa takut. Wajah lugu Ashura bikin Ibu Suri makin percaya diri bahwa dia masih muda. Ashura memang pinter ambil hati orang. Gaya dan kelakuan Ashura menyakinkan orang semua katanya tulus.


"Maafkan ketololan Shu Rong nenek!" Fu Yen memohon maaf atas nama Shu Rong.


"Tak ada yang perlu dimaafkan! Nenek janji akan rahasiakan siapa penasehatmu. Kalian tenanglah! Lanjutkan kerja sama kalian."


"Terima kasih nek! Kau keluar dulu Shu Rong. Ada yang ingin kukatakan pada nenek."


"Iya Yang Mulia..hamba permisi." Ashura bungkukkan badan permisi keluar dari ruang rapat istana.


Ashura tak mau kepo ikutan nguping hal yang tak ada hubungan dengannya. Yang penting sekarang pikir cara agar terbebas dari penjara Fu Yen. Laki itu pinter ikat Ashura dalam rengkuhan. Tak ada sela bagi Ashura melangkah lebih jauh dari laki ini. Namun Ashura bangga sang raja berani tolak semua wanita yang ingin jual diri demi kemewahan. Cerita soal cinta mungkin itu kata yang hanya ada dalam kiasan bibir.


Dari mana Fu Yen begitu banyak cinta disedekahkan pada semua selir. Ashura tak tahu terbuat dari apa hati seorang raja. Betulkah tak ada cinta suci? Raja cinta semua selirnya? Mungkin cuma satu yang kena di hati Fu Yen yakni selir Ning Fei.

__ADS_1


Ntah kenapa Ashura tak suka selir itu. Wanita itu terlalu licik sampai tega bunuh orang demi kekuasaan.


"Pengawal Shu.." panggil seseorang buat Ashura menoleh.


Hwa Lien menghampiri Ashura sambil tertawa lebar. Puteri raja ini kelihatan suka melihat Ashura melamun sendirian di teras istana. Pria cantik macam Ashura pasti menarik perhatian semua gadis.


"Tuan Puteri.." Ashura membungkuk sopan.


"Aku melihatmu bersama kandaku. Kau makin tampan. Ayo main ke istanaku!"


"Hamba dalam tugas tak boleh pergi sembarangan. Nanti dihukum Yang Mulia raja." Ashura masih pertahankan suasana resmi. Sebagai sahaya Ashura harus jaga sikap terhadap adik kandung sang raja. Kalau dilapor kepala juga tak bisa dipertahankan.


"Tenang saja. Kanda takkan marah bila kau pergi bersamaku. Ayoklah!" Hwa Lien menarik tangan Ashura agar ikuti dia pergi.


Ashura meringis tak tahu harus buat apa. Dia tak boleh harapan kosong pada sang puteri. Kasihan sang puteri bila jatuh cinta padanya. Tentu akan sakit hati bila tahu Ashura seorang gadis macam dia.


"Pengawal Shu..anda mau ke mana?" tiba tiba kasim Du sudah ada di depan mata. Dalm hati Ashura bersorak. Bantuan dadakan sudah tiba.


"Hamba diajak tuan puteri tapi hamba dalam tugas." Ashura pura pura tak berdaya.


Kasim Du membungkuk hormat pada sang puteri. Bikin masalah sama adik kesayangan Fu Yen juga bukan ide bagus. Mereka harus pandai jaga sikap agar alasan bisa diterima sang puteri.


"Maaf tuan puteri! Pengawal Shu tak diijinkan ke manapun selama masih kawal raja. Lain kali kalian bisa minum teh bersama. Sebentar lagi kita harus balik ke istana lanjutkan kerja." Kasim Du bantu Ashura menolak tuan puteri manja itu.


Hwa Lien merengut tak suka dibantah. Namun gadis ini juga takut pada abangnya. Saat ini memang mereka sedang dalam kerja. Ke istana kerajaan untuk selesaikan masalah bukan untuk main main.


Tak lama Fu Yen dan Ibu Suri keluar dari ruang rapat. Para dayang segera sambut sang mantan ratu yang baik hati itu.


Ibu Suri melempar senyum manis pada Ashura tanda sayang. Mata wanita parobaya ini memancarkan kasih mendalam pada Ashura. Ntah apa yang dikatakan Fu Yen pada Ibu Suri. Tatapan Ibu Suri makin pancarkan kasih sayang tulus.


Semua membungkuk hormat pada Ibu Suri sebelum tinggalkan istana besar. Keanggunan Ibu Suri masih tersisa walau umurnya sudah cukup banyak. Sisa kecantikan waktu muda masih jelas melekat di wajah tua itu.


"Penasehat Shu harus datang ke tempat nenek ya! Nenek undang kamu makan malam." Ibu Suri memberi undangan secara langsung pada gadis yang dipuja cucunya.


"Terima kasih Yang Mulia. Hamba pasti datang." Ashura membungkuk sopan.


"Besok malam nenek tunggu kamu. Jaga diri! Jangan lupa beri dikit minuman hangat pada rajamu ya!"


"Iya Yang Mulia." Ashura hanya bisa membeo belum ngeh apa arti kalimat Ibu Suri. Terhadap orang besar tentu hanya bisa angguk.


Ibu Suri tertawa kecil lalu melangkah pergi diiringi para dayang istana.


"Kita balik ke istanaku! Dan kau kerja lagi di ruang kerjaku. Selesaikan tugasmu sebelum malam tiba." Fu Yen memberi perintah pada Ashura tanpa beri kesempatan pada Ashura buka mulut.


Ashura melirik Hwa Lien mohon pengertian tak bisa ikut dengan puteri itu karena tugas diberi raja iblis lumayan banyak.


Hwa Lien maklum posisi Ashura sebagai penasehat raja. Setiap saat harus ada di tempat kalau diperlukan sang raja.


"Pergilah! Aku akan sabar menantimu bebas dari tugasmu. Aku suka padamu." Hwa Lien kontan utarakan perasaan pada Ashura.

__ADS_1


Fu Yen mendehem keras tidak suka sang adik utarakan rasa suka pada gadisnya. Fu Yen tetap tak suka walau Hwa Lien seorang gadis macam Ashura. Ashura hanya boleh milik Fu Yen seorang diri. Tak boleh dibagi pada siapapun.


__ADS_2