
Ashura tidak pelit segera ajak Hwa Lien ke kamarnya untuk main game yang dia incar dari pagi tadi. Hwa Lien pergi ke istana belakang Fu Yen tak temukan Ashura. Dari para pengawal Hwa Lien dapat kabar kalau Ashura sudah balik ke istana dingin. Maka itu Hwa Lien bergegas ke istana dingin namun sayang Ashura tak ditempat. Hwa Lien sabar menanti demi permainan baru yang tak pernah dia temui di masa kini.
Ashura dan Hwa Lien berduaan dalam kamar setelah Ayin suguhkan teh dan langsung pergi sesuai perintah Ashura. Ashura masih harus rahasiakan jati diri sampai kasus Shu Rong terungkap jelas.
Ashura berikan ponsel pada Hwa Lien untuk ajar gadis itu gunakan ponsel untuk merekam gerak gerik ratu dan selir Ning Fei. Pertama Ashura pancing Hwa Lien dengan foto selfie agar gadis itu takjub dan mau belajar lebih banyak ketimbang main game.
"Ini alat komunikasi kami di abad moderen. Kita bisa bicara dengan orang di seluruh dunia asal ada jaringan serta nomor ponsel orang yang kita tuju. Selain itu kita bisa merekam semua gerak gerik kita dan berfoto!" Ashura tunjukkan ponsel yang lebih kecil dari Laptop.
Hwa Lien perhatikan seksama karena didorong rasa penasaran besar. Ashura terangkan dengan sabar cara kerja ponsel serta ajar Hwa Lien perhatikan setiap simbol di ponsel agar tahu cara kerja benda ajaib buat Hwa Lien.
"Sini aku foto kamu!" Ashura aktifkan kamera lalu arahkan ke wajah Hwa Lien untuk tangkap sosok itu dalam kamera cantik.
Hwa Lien agak kaget kena cahaya flash. Lampu flash menyala karena ruangan Ashura minim cahaya. Lampu flash akan otomatis menyala bila pencahayaan kurang terang.
Ashura tunjukkan foto Hwa Lien dalam pose sedang kaget sampai buka mulut. Gaya alami orang kaget jumpa benda baru. Hwa Lien tak bisa berkata apa-apa saking takjub pada kotak kecil bisa menyimpan gambarnya. Tanpa sadar Hwa Lien menyentuh layar ponsel sehingga layarnya berpindah, foto Hwa Lien hilang seketika.
"Eh aku hilang..." Hwa Lien menunjuk ponsel di tangan Ashura dengan raut wajah sedih.
"Bukan hilang tapi tak sengaja kau sentuh maka dia menghilang. Bisa kembali kok!" Ashura geser layar dengan jari mencari foto Hwa Lien di galeri foto. Seketika foto jelek Hwa Lien muncul lagi. Ashura tunjukkan juga foto dia dengan paman raja Chen Yang di mana mereka berfoto kemarin. Hwa Lien langsung jatuh cinta pada benda ini. Menurut Hwa Lien ponsel jauh lebih menarik daripada laptop.
"Aku main ini saja!"
"Ok tapi kamu harus merekam semua kegiatan ratu dan selir Ning Fei tanpa sepengetahuan mereka. Di dalam ponsel ini ada game juga. Kau bisa main sampai batere kandas. Nanti bawa sini lagi untuk diisi ulang baterenya. Mari kuajar agar kau paham semuanya."
"Aku janji tapi aku boleh bawa benda ini kan?"
Ashura mengangguk izinkan Hwa Lien bawa ponselnya. Ashura mau Hwa Lien lebih aktif lagi kejar semua gerakan para penjahat di dalam istana.
"Kita mulai dulu cara buka ponsel ini."
"Aku mau tidur sini saja! Sekarang kamu Puteri Shu Rong bukan penasehat istana. Aku boleh nginap sini kan?"
"Boleh tapi dayangmu cuma dua ya! Pengawal lain tak boleh ada di sini. Suruh mereka balik ke istanamu saja!"
"Baik nona ratu! Aku tahu kamu tak suka keramaian. Sebenarnya aku juga gitu namun aku sangat kesepian berada dalam istana ini. Semua orang hormat pada kita karena kita ini keturunan raja. Tak ada yang tulus." ujar Hwa Lien dengan muka muram.
__ADS_1
Gina tak menampik apa yang dikatakan oleh Hwa Lien. Semua yang ada di istana tak ada yang tulus. Rasa hormat berlebihan hanyalah penampilan dari luar sekedar setor muka.
"Kau tahu hal ini maka itu aku tak mau jadi ratu. Aku bukan orang bisa terima pasangan kita berselingkuh. Kau lihat abangmu! Dia cari aku sewaktu perlu saja. Sekarang dia sibuk dengan Puteri dari kerajaan lain." timpal Ashura dengan muka tak kalah muram. Ashura bukan sedih tak bisa mencuri perhatian Fu Yen namun sedih tak dihargai. Dia tetap bidak yang dipakai untuk menahan serangan. Sudah terlepas dari musuh dia lenggang santai menuju ke depan nikmati kemenangan.
"Kau marah pada abangku?"
"Untuk apa marah karena aku sadar menjadi raja memang begitu kehidupannya. Kusarankan kamu cari suami dari kalangan biasa saja. Tak perlu pejabat istana tapi orang yang ngerti arti kesetiaan."
Hwa Lien termakan nasehat Ashura. Apa yang dikatakan Ashura adalah fakta terjadi dalam istana. Semua berlomba cari keuntungan pribadi tanpa takut akan dosa. Semua mulut manis hanyalah kedok tutupi isi hati mereka yang sesungguhnya.
"Apa rencana mu?" Hwa Lien ikut rasakan derita Ashura yang selama ini dekat dengan raja tiba-tiba diabaikan karena munculnya perempuan baru dalam hidup Fu Yen.
"Setelah bongkar kejahatan ratu dan selir Ning Fei aku akan minta keluar istana cari jalan pulang ke abad aku. Tempat aku bukan di sini."
"Bawa aku ya! Aku mau lihat kehidupan moderen walau sehari saja." Hwa Lien mengiba agar Ashura mau bawa dia abad atom.
Ashura mana bisa jawab karena dia sendiri belum tahu bagaimana cara dia pulang ke abadnya. Semua tergantung pada Shu Rong yang sengaja bawa dia ke abad kuno ini. Ashura hanya berharap Shu Rong penuhi janji kembalikan semua seperti awal semula.
"Kita lihat nanti. Ayok aku ajar kamu agar lebih cerdas! Kau bisa meneruskan semua usaha aku memajukan kerajaan ini."
Hwa Lien meragukan kemampuan sendiri untuk memberi sumbangan pada kerajaan dengan pikiran maju seperti Ashura. Hwa Lien sudah tahu Ashura datang dari abad moderen dengan pola pikir lebih maju dari mereka. Apa mungkin dia adopsi semua kepintaran Ashura?
Ashura menepuk bahu Hwa Lien beri semangat. Kalau tidak dicoba mana tahu sampai dimana kemampuan Hwa Lien menyerap ilmu dari Ashura.
"Kita usaha bersama. Ayok kita mulai dari ponsel ini! Ponsel ini akan mendidik kamu lebih pintar. Kalau kau bisa kuasai alat ini artinya kamu termasuk anak pintar. Aku ini juga masih belajar di salah satu perguruan tinggi di kota aku. Di zaman aku tak ada beda laki dan wanita. Semua bisa belajar asal ada kemauan. Kamu juga bisa mulai mendidik para wanita sini agar lebih cerdas jangan mau diperbudak suami. Kau juga gitu ya! Kita ini punya kelebihan dibanding lelaki. Kita bisa beri keturunan pada keluarga sedang laki tak bisa. Di zaman kami punya anak tak perlu laki lagi. Wanita bisa hamil tanpa suami dengan donor bibit lelaki melalui mesin." Ashura bercerita pada Hwa Lien canggihnya teknologi zamannya. Hamil tak perlu adanya suami asal ada dapat pendonor bibit lelaki.
Hwa Lien terperangah dengar semua omongan Ashura. Di zaman ini semua itu hanya mimpi kosong. Mana ada alat bisa membuat cewek hamil tanpa lelaki. Hwa Lien merasa Ashura sedang karang cerita bohong untuk membodohi dirinya. Apa mungkin manusia ciptakan manusia di zaman kini?
Ashura tidak marah lihat ekspresi Hwa Lien anggap remeh ceritanya. Mungkin pikiran orang-orang sini masih dangkal untuk menyerap teknologi maju di zaman moderen. Wajar Hwa Lien meragukan cerita Ashura yang tak masuk akal sehat. Ashura masih perlu waktu mencuci otak Hwa Lien dengan kecanggihan zamannya.
"Hwa Lien...kau boleh tak percaya. Contoh benda di tangan kamu ini! Dari bisa simpan gambar kamu juga rekam semua kegiatan kita. Ini bukan hal luar biasa di zaman kami. Ada yang lebih hebat lagi! Kau mau tahu kalau di zaman kami sudah ada manusia mendarat di bulan yang kalian anggap suci itu."
Hwa Lien makin terpesona dengar cerita Ashura. Mereka sungguh ketinggalan zaman tak tahu di masa datang manusia demikian hebat bisa terbang ke bulan yang dianggap benda suci di zamannya. Bahkan ada ritual menyembah Dewi bulan di waktu tertentu. Kalau ada orang sudah menginjak permukaan bulan apa yang mau disembah lagi.
"Di bulan tak bisa tinggal manusia karena tak ada gaya gravitasi. Gaya gravitasi itu adalah seperti magnet membuat kita bisa berdiri di atas tanah." Ashura menerangkan pakai bahasa paling sederhana agar Hwa Lien tidak bingung dengan nama ilmiah yang sulit ditangkap oleh otak anak gadis ini.
__ADS_1
"Apa yang kamu cerita itu bukan cerita bohong?"
"Tentu saja tidak...rentang waktu kau dan aku mencapai ribuan tahun. Manusia sudah banyak berubah. Aku akan perlihatkan kepadamu ceritaku tidak bohong. Ayo simak gambar dalam laptop aku!"
"Awas kalau kau bohong!" ancam Hwa Lien mengerling tajam takut dibodohi Ashura. Ashura hanya tertawa kecil menanggapi semua kecurigaan Hwa Lien. Reaksi Hwa Lien sangat normal karena mereka datang dari kultur berbeda.
Ashura dengan sabar menerangkan kecanggihan zamannya. Hwa Lien dibuat tercengang oleh kemajuan teknologi zaman Ashura. Lampu aneka warna hiasi malam, tak ada istilah malam hari karena langit gelap namun sekitar tetap terang benderang oleh cahaya lampu listrik. Ashura mampu membuktikan semua omongannya membuat Hwa Lien percaya kalau Ashura adalah makhluk dari zaman berbeda. Hwa Lien iri pada Ashura yang lahir di zaman serba canggih. Hwa Lien ingin bisa rasakan kehidupan manusia di zaman Ashura sampai punya nazar bila meninggal kelak ingin terlahir sebagai manusia di abad atom.
"Kalau kau pulang bawa aku ya!" Hwa Lien utarakan hasrat pergi ke zaman Ashura sekali lagi. Apa Ashura punya kemampuan itu. Dia pulang ke sana saja masih jadi tanda tanya.
"Kau belajar yang rajin saja. Kalau kau bisa ke sana nanti tidak terkejut lagi." Ashura hanya bisa menghibur tanpa janji pasti. Semoga Hwa Lien bisa menyerap semua ajaran dia. Ashura mau Hwa Lien gantiin dia bila dia kembali ke zaman moderen kelak.
"Iya..."
"Besok kita keluar istana! Jangan bawa pelayan biar kita tak dicurigai sebagai Puteri kerajaan! Berpakaian sederhana saja!"
"Kau mau dihukum kanda raja? Kita bisa dikurung bila ketahuan kabur tanpa izin."
"Ya jangan ketahuan! Serahkan padaku saja! Kau mau ikut jalan-jalan kan?"
Hwa Lien tentu saja mengangguk. Dia ingin sekali berjalan bebas sepanjang jalan tanpa ada yang kawal. Tak perlu jadi pusat perhatian orang sebagai Puteri kerajaan. Kapan masa itu akan datang padanya.
"Aku tak tanggung jawab bila ketahuan ya!"
Ashura acung jempol sambil tertawa lepas. Ini keahlian Ashura kabur tanpa ketahuan pengawal istana. Dia akan bawa Hwa Lien lihat betapa ceritanya rakyat kecil akibat ketamakan para pembesar. Ashura mau ketok pintu hati Hwa Lien biar punya empati pada rakyat yang hidup dalam keterbatasan.
Waktu selanjutnya mereka habiskan dengan belajar. Keduanya asyik dalam kamar membuat para pelayan bingung. Hwa Lien yang reseh kok bisa anteng bersama Puteri Shu Rong yang tak disayang raja. Puteri buangan penghuni istana dingin. Namun tak ada yang berani usik mereka berdua. Satu Puteri kerajaan seberang dan satu lagi tuan puteri kerajaan. Siapa berani cari masalah dengan kedua orang ini.
Pagi sekali kedua gadis ini bangun untuk persiapkan diri melaksanakan niat mereka memantau langsung kehidupan kalangan rakyat jelata. Ashura dan Hwa Lien sengaja berdandan seperti seorang pelayan dari keluarga orang kaya. Kalau bilang mereka rakyat jelata tentu tak ada Yanga percaya karena mereka tampak sehat dan cantik. Siapa percaya Ashura itu rakyat miskin dilihat dari aura penuh wibawa.
Hwa Lien memanggil kedua pelayannya agar ikut kerjasama berbuat seolah dia ada dalam istana dingin. Mereka tak boleh bocorkan ke mana kedua tuan Puteri itu pergi agar mereka semua tidak kena hukuman. Kalau Ayin sudah biasa hadapi nonanya yang pemberani. Raja saja dia lawan apalagi hanya peraturan istana batasi gerak gerik wanita istana.
Singkatnya kedua Puteri itu keluar dari istana dengan mulusnya. Hwa Lien sengaja bawa plakat pelayan istana agar lebih mudah keluar masuk pemeriksaan yang kadang terjadi bila ada yang dicurigai. Mereka nyamar sebagai pelayan Puteri Hwa Lien untuk pergi berbelanja atas perintah tuan puteri.
Hwa Lien terkagum-kagum lihat suasana pasar sangat ramai oleh masyarakat saling berbaur. Ada pedagang ada juga pembeli. Suara bising pedagang jajak dagangan mereka bersahutan sana sini. Hwa Lien sangat senang bisa melihat langsung kehidupan kalangan bawah tanpa dikekang oleh tatapan tajam para pengawal. Ashura jauh lebih tenang dari Hwa Lien karena yang lebih dari ini sudah di saksikan. Mereka berjalan santai sambil melihat-lihat kalau ada yang cocok di hati.
__ADS_1
Hwa Lien tertarik pada jepitan rambut dari perak berbentuk penduduk konde di zaman Ashura. Wanita sini suka hiasi rambut dengan aneka perhiasan aneka bentuk. Ada gambar binatang, dedaunan bahkan bunga-bunga indah. Ashura bantu Hwa Lien memilih hiasan rambut yang sesuai dengan gadis ini.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ribut-ribut tak jauh dari tempat mereka memilih perhiasan. Ashura dan Hwa Lien kontan berhenti memilih hiasan itu melihat apa yang sedang terjadi. Ashura berjalan di depan mau tahu penyebab keributan.